Chapter 18 (Keputusan)

1179 Kata
Ning Nisa langsung menghapus make up nya kala sampai di rumah. Make up yang menempel di mukanya terasa berat. Sejujurnya Ning Nisa tidak suka menggunakan make up. Namun demi menutupi kesedihannya, tidak masalah benda yang memberatkan wajahnya itu bersarang di mukanya. Gerericik air yang jatuh setelah mengenai wajah Ning Nisa terdengar nyaring jatuh ke lantai. Suaranya memenuhi sisi kamar mandi. Ning Nisa berharap dengan hilangnya make up akan menghilangkan kesedihan juga yang sebelumnya tertutup make up. Berharap semua yang menempel di wajahnya akan hilang. Ning Nisa malam ini juga harus menghadap abah. Ia harus menyampaikan apa yang Rania katakan kepadanya. Ning Nisa harus menyiapkan mental kembali. Seharian menahan kesedihan yang tertutup make up, kini ia harus bergelut kembali dengan kesedihan. Ia harus kuat berbicara kepada abah tanpa memunculkan kesedihan. Tentu saja ini hal yang berat bagi Rania. Sore mulai tiba. Waktu untuk berbicara dengan abah semakin dekat. Ning Nisa menyiapkan mental kembali. Syukurlah Rania meminta waktu selama tiga hari. Setidaknya ia tidak mengatakan “IYA” secara langsung walaupun akhirnya ia akan mengatakan “IYA”. Sholat Isya telah lewat. Ning Nisa sesegera mungkin duduk di tempat ruang keluarga. Ning Nisa menunggu abah datang. Ning Nisa sudah menyiapkan mental beribu ribu. Abah datang. Rania menarik nafas. “Bagaimana nduk jawaban Rania?” ucap abah ketika ia terduduk. Rania yang sudah menyiapkan beribu ribu mentalnya mulai menjawab. “Rania meminta waktu tiga hari bah..” akhirnya Ning Nisa berhasil melontarkan jawaban dengan lantang. Tanpa terbata bata. “Baiklah kalau begitu. Jangan lupa tanyakan ke Rania lagi tiga hari ke depan ya..” “Iya abah.. baik bah..” “Baiklah, sudah tidak ada yang ingin abah katakan. Apa Nisa mau mengatakan sesuatu nduk?” “Tidak bah...” “Iya sudah kalau tidak ada yang di obrolkan lagi...” “Iya bah, Nisa izin balik ke kamar dulu ya bah, ada yang mau Nisa kerjakan bah..” “Iya sudah nduk. Yang penting jangan lupa untuk istirahat” “Baik bah” Abah menyalakan televisi. Siaran berita menjadi pilihannya untuk menemani memnimun kopi hangat yang di seduh Ummi. Ning Nisa beranjak. Bermaksud untuk menghilangkan penat. Melepaskan rasa yang tertahan di hati. Rasa sedih menghadapi kenyataan. Urusannya yang berkaitan dengan Faris tidak selesai selesai. Sungguh Ning Nisa sudah sangat ingin untuk melupakan sosok itu yang tidak dapat ia gapai. Walau banyak kerjaan yang harus Ning Nisa kerjakan sebagai pengajar, daya tarik kasur lebih berat menariknya untuk rebahan. Ia tidak ada semangat dan motivasi untuk mengerjakan tuntutan tanggung jawabnya. Rasanya hati ini memaksanya untuk bermalas malasan. Rebahan dan berharap dapat menghilangkan luka yang tidak kunjung hilang. *** Di atas sajadah, Rania sujud. Pada sepertiga malam terakhir ini Rania bermaksud menenangkan hatinya dengan menceritakan apa yang ia alami kepada yang maha kuasa. Rania meminta petunjuknya. Bulir bulir air mata jika tidak luput membasahi wajahnya yang semu. Rania bangkit dari sujud. Sholatnya telah usai. Kini ia mengangkat kedua tangannya sambil terus menangis. Berharap ia akan mendapat jawaban dari apa yang menimpanya. Rania merasa bimbang dengan pilihannya. Faris. Sebuah nama yang tiba tiba hadir tanpa sosok dan raga. Hanya sebuah nama. Rania juga memikirkan siapa pengirim surat yang ia terima. Apakah pengirim surat itu juga Faris? Mengapa Rania merasa pengirim surat itu adalah orang yang berbeda? Mengapa Rania merasa pengirim surat itu bukan Faris? Rania merasa demikian bukan tanpa sebab. Sebab pertama, jika Faris yang mengirim surat lantas kenapa ia menemui abah? Bukankah ia cukup menemui abah tanpa mengirim surat padanya? Sebab kedua, pesan yang tertera pada surat menginginkan Rania menjawab pada Ning Nisa. Sedangkan tidak ada yang menghubungi Ning Nisa secara langsung. Rania paham mengapa Ning Nisa menanyakan jawabannya mengenai Faris. Pasti ini juga bukan keinginan dari Faris mengingat Faris meminta izin kepada abah. Abah yang meminta Ning Nisa untuk menanyakan jawaban pada Rania. Mungkin saja maksud dari hal ini karena Ning Nisa dekat dengannya. Pasti akan canggung jika ummi yang akan menyampaikan dan menanyakan jawabannya mengenai Faris. Tapi tidak menutup kemungkinan juga kalau pengirim surat itu adalah Faris? Semua kemungkinan bisa terjadi. Itulah yang menyebabkan Rania semakin bingung. Rania menyerahkan semuanya kepada yang mengatur jodoh. Rania meminta di beri petunjuk. Karena keseriusannya itu air matanya tidak kuasa ia tahan. *** Pagi pagi buta Rania ikut ukhti Dina untuk ke pasar. Ukti Dina ini adalah salah satu abdi dalem yang bertugas untuk memasak menyiapkan makanan untuk para santri Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Ukhti Nefa yang memiliki tugas yang sama dengan ukhti Dina tengah terbaring sakit. Ia demam. Sepertinya ia kelelahan. Rania yang dekat dengan ukhti Dina merasa tidak tega jika ia harus mengurus semuanya sendiri. Lagi pula ia tidak berkuliah seperti mahasiswa lainnya. Waktunya banyak memiliki kelonggaran. Berbagai sayur mereka beli. Daftarnya cukup banyak. Ia mereka akan membeli sayur dan keperluan memasak untuk tiga hari. Hal ini di maksudkan supaya tidak terlalu sering bolak balik menuju pasar. Sayur yang mereka beli pun cukup banyak. Hal ini menyesuaikan dengan jumlah santri. Tidak mungkin juga jika santri yang banyak namun belanjaan mereka sedikit. Kembali dari pasar, Tampak seorang ikhwan di gerbang sedang mendorong motornya. Aturan di pondok pesantren ini, mereka tidak boleh menyalakan mesin motor kecuali sudah di luar gerbang. Tampak ikhwan itu menatap ke kedatangan Rania dan ukhti Dina. Rania yang baru melihatnya tampak aneh. Ikhwan itu menatap tidak biasa ke Rania yang membuat Rania tidak nyaman. “Ukh..” ucap ikhwan itu kala Rania dan ukti Dina lewat di depannya. Ukti Dina dan Rania hanya menunduk. Mereka tidak mengenal ikhwan itu. Ukti Dina dan Rania terus berjalan. Rania menoleh kebelakang. Ikhwan itu tetap melihat kearahnya. Mendapat kenyataan demikian Rania memberi kode pada ukhti Din auntuk mempercepat langkahnya. *** Dua hari sudah berlalu. Kini saatnya Rania harus menjawab akan apa yang sudah ia janjikan kepada Ning Nisa. Rania mendatangi Ning Nisa untuk memberikannya. “Assalamu’alaikum Ning..” ucap Rania dari depan pintu kamar Ning Nisa yang kebetulan berada dekat dengan pintu menuju ke dapur dari dalem. “Assalamu’alaikum..” Masih tanpa jawaban. Rania pikir Ning Nisa sedang tidak berada di kamarnya. Rania hendak kembali ke dapur. Jawaban salam dari dalam membuat Rania mengurungkan niatnya. “Wa’alaikumsalam..” KREKK!! Suara pintu terbuka. Rania medapati Ning Nisa yang tampak sembab matanya. Mukanya juga terlihat sedikit murung. Sepertinya Ning Nisa sedang ada masalah. Rania tidak berani menanyakannya karena menurutnya itu adalah hal privat. Semua orang punya privasi masing masing yang ingin disembunyikan dengan orang lain dan tidak ingin diceritakan. “Ning, saya mau menjawab pertanyaan tempo hari” Ning Nisa menghadap ke arahnya. Tampak Ning Nisa menunggu jawabannya. Tanpa berlama lama Rania langsung melanjutkan niatnya. “Ning.. Insyaallah, Jika ikhwan itu serius dengan saya untuk jawabannya saya serahkan ke orang tua saya.” “Oh iya nanti saya sampaikan ke abah ya..” “Iya Ning, terima kasih banyak Ning, Rania kembali dulu. Maaf sudah menggangu waktunya.” Ning Nisa mengangguk. Rania berjalan kembali ke dapur. Ning Nisa juga tampak langsung memasuki kamarnya. Rania menuju ke kobongnya di gedung pesantren. Semoga saja jawabannya benar. Rania sebenarnya masih belum bisa memutuskan. Namun waktunya untuk menjawab sudah habis. Rania yakin apapun keputusannya itulah yang terbaik untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN