Ning Nisa membawa Rania ke sebuah cafe. Cafe ini menjadi tujuan Ning Nisa karena ia sering menghabiskan waktu di sini sendiri kala ia merasa sedih. Tempat ini yang selalu memberikan ketenangan di saat masalah masalah yang menghantam dirinya. Bahkan Pelayan di sini sampai paham dengan Ning Nisa. Sebuah tempat duduk di pojok dekat dengan jendela yang menghadap ke taman. Itulah tempat biasa Ning Nisa. Ning Nisa berharap, ia bisa tetap tenang ketika berbicara dengan Rania di tempat ini. Tempat ini seakan menjadi saksi bisu Ning Rania untuk menenangkan diri.
“Ran..”
“Iya ning..” Rania sedikit merasa deg degan. Tumben sekali Ning Nisa seserius ini. Sepertinya Ning Nisa memang akan membicarakan hal yang benar benar serius.
“ Ada seorang ikhwan yang datang ke abah, ia bermaksud baik dengan Rania. Ia ingin menghalalkan Rania untuk menjadi istrinya..” sekuat tenaga Ning Nisa menyampaikan apa yang harus ia sampaikan. Ning Nisa berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
“Siapa ikhwan itu, apa ia yang mengirim surat waktu itu” Rania kaget dengan apa yang barusan di katakan Ning Nisa. Benarkan ikhwan itu yang mengirim surat kepadanya?
“Aku kurang tau Ran. Ikhwan itu atau bukan yang mengirim surat ke kamu. Tapi ada seorang ikhwan yang datang ke abah, kata abah ikhwan itu datang dengan maksud yang sudah aku jelaskan tadi. Gimana Ran?”
“Maaf aku masih belum tau jawabannya Ning.” Rania masih merasa kaget dan tidak menduga. Ternyata Ning Nisa akan membicarakan hal sebesar ini. Rania melum memikirkan untuk menikah. Surat yang datang waktu itu sudah cukup membuatnya bingung. Di tambah kedatangan ikhwan ke abah untuk meminta izin menghalalkan Rania. Dihajar pertanyaan seperti ini Rania sungguh tidak menyangka. Ternyata surat yang ia terima tempo hari benar benar serius.
“Ikhwan yang bertemu dengan abah namanya Faris. Kamu mungkin bisa cari tahu sedikit mengenainya.”
“Secepatnya ya Ran.. abah menunggu jawabannya soalnya.” sambung Ning Nisa.
“Iya Ning sampaikan pada abah, tiga hari lagi Rania akan sampaikan jawaban Rania.” tidak ada pilihan, Rania harus segera memikirkan keputusannya.
“Iya Ran.. kamu pikirkan baik baik dulu. Menikah hal yang serius”
“Iya Ning..”
“Eh pesan makanan gih Ran.. Mumpung kita diluar”Ning Nisa mengambil daftar menu yang ada di meja dan terlihat fokus membaca tulisan yang tertera satu per satu.
“Eh iya Ning.. ” Rania juga mengambil daftar menu yang yang ada di meja. Kebetulan di meja itu terdapat dua menu.
Ning Nisa mengangkat tangannya. Tidak beberapa lama pelayan perempuan datang menghampirinya dan menanyakan pesanannya.
“Nasi goreng spesial sama coklat creamy..” kata Ning Nisa menyampaikan apa yang akan ia pesan kepada pelayan cafe di depannya.
Mba pelayan terlihat mencatat pesanan dari Ning Nisa. Ning Nisa melihat ke arah Rania seakan memberi kode makanan apa yang akan Rania pesan.
“Nasi Chiken dan Stroberry latte”
“Siap kak mohon ditunggu sebentar ya..”
“Iya mba terima kasih..” ucap Rania.
“Ran sebentar ya aku mau ke belakang dulu” Ning Nisa segera bangkit terburu buru menuju kamar mandi. Memang di cafe sedikit dingin. Hal ini efek dari ac yang menempel di atas.
“Eh iya Ning, hati hati” jawab Rania dan Ning Nisa sudah beranjak pergi.
Pantas saja Ning Nisa memintanya untuk membicarakan di luar. Ternyata obrolannya cukup serius. Sebenarnya Rania masih tidak percaya dengan apa yang Ning Nisa katakan. Tapi Ning Nisa tidak pernah berbohong. Itulah yang membuat Rania percaya. Tidak ada hujan tidak ada angin, sebuah kenyataan kembali menghantam Rania.
Di tempat lain. Di kamar mandi, Ning Nisa menitikkan air mata. Beberapa tetes bulir air matanya berhasil keluar. Ia segera mengusapnya dengan tisu yang ia ambil dari tas selempangnya. Ia menarik nafas pelan pelan dan membuangnya perlahan. Berharap rasa sakit yang ia rasakan dapat dikendalikan dan tidak memaksanya untuk mengeluarkan air mata lebih banyak.
Ning Rania bersyukur. Akhirnya ia bisa menhana air matanya selama berbicara dengan Rania. Make up yang ia gunakan di wajahnya cukup membantunya untuk menyembunyikan kesedihannya. Ditambah dengan kacamata hitam yang ia kenakan. Syukurnya Rania tidak menyadari dan tidak merasa curiga Ning Nisa memakai kaca mata gelap. Hal ini mungkin karena Rania sempat melihatnya memakain kacamata hitam beberapa kali ketika di luar.
***
Matahari sudah semakin terang. Terasa sudah semakin panas jika mengenai kulit. Ning Nisa mengajak Rania untuk kembali ke pondok pesantren. Mereka sudah lumayan lama menghabiskan waktu di luar.
“Ran.. balik yuk .. udah lumayan siang nih, takut kesorean”
“Ayo Ning.. ”
“Ran.. kamu ada agenda ngga nih?” tanya Ning Nisa sambil mengemudi mobilnya.
“Ngga ada si Ning..”
“Kita mampir sebentar ke toko alat jahit ya.. ada yang mau di beli nih..”
“Siap Ning..”
Ning Nisa menambah kecepatan mobilnya. Siang hari jalanan tidak terlalu ramai. Tidak butuh waktu lama, Mobil Ning Nisa pun sudah tampak terparkir di parkiran toko alat jahit. Tempat parkirnya lumayan sesak. Sepertinya pengunjung toko itu sedang banyak. Memang toko ini tidak pernah sepi. Toko ini menjadi tujuan pelanggan karena harganya yang miring dan lengkap. Begitu juga dengan Ning Nisa yang selalu berlangganan di sini karena puas.
“Mau nyari apa nih Ning...” tanya Rania ketika mereka memasuki toko itu.
“Ini Ning mau membuat bunga. Nyari kain flanen dan sejenisnya. Biasa buat menghias kamar.”
“Eh suka bikin bunga juga Ning? Rania juga lumayan suka..”
“Nah kebetulan mumpung di sini. Sekalian saja nyari apa yang kamu butuhkan...” ning Nisa menawarkan.
“iya Ning” jawab Rania sambil melihat lihat sekeliling yang dipenuhi dengan manik manik dan bahan bahan kerajinan tangan lainnya.
Rania baru pertama kali ke sini. Tokonya tampak megah. Tidak hanya lantai satu, toko ini memiliki dua lantai dan dipenuhi dengan peralatan jahit dan bahan bahan kerajinan. Rania yang menyukai kerajinan tangan sangat antusias berada di sini. Sementara Ning Nisa tidak demikian. Ia terlihat biasa saja. Hal ini mungkin karena ia sudah terbiasa berada di sini.
Rania sedikit merasa ada yang tidak beres dengan Ning Nisa. Sepertinya Ning Nisa sedang memiliki masalah. Namun ia tidak berani untuk menanyakan kepadanya. Rania merasa Ning Nisa lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya yang selalu mengajak bicara Rania. Mungkin benar Ning Nisa sedang memiliki masalah.
Hari sudah semakin sore. Ning Nisa mengajak Rania kembali. Ia sudah menemukan apa yang ia cari. Selain itu badannya juga terasa sedikit tidak enak. Ditambah keadaan hatinya yang terus menahan rasa cemburu dengan Rania. Ia merasa tidak bisa terlalu lama lagi untuk bersama Rania. Ia takut cemburunya tidak bisa ia kendalikan kembali.