Gelisah masih menyelimuti Ning Nisa. Keputusannya untuk menyembunyikan siapa pengirim surat untuk Rania ini ternyata membuatnya terus dihantui rasa bersalah. Dari awal ia sudah bertekad untuk ikut mencari tahu siapa pengirim surat itu. Namun menyembunyikan jawab setelah ia mengetahuinya sungguh membuat ia tidak tenang. Ingin rasanya segera memberi tahu Rania. Hatinya masih tetap berkata lain. Hatinya terus membrontak. Tidak rela dan sakit.
Setiap kali ia bertemu dengan Rania, ia merasa tidak enak. Rasa bersalahnya tetap memaksa muncul walau ia sudah berusaha untuk menguburnya. Mungkin ia memang harus merelakan Faris. Seorang pemuda yang sudah berhasil mencuri hatinya tanpa ia minta. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Rasa cinta tidak bisa juga dipaksa untuk pergi. Mungkin benar, mengikhlaskan adalah cara terbaik Ning Nisa untuk mencintai Faris. Ning Nisa bahagia jiks Faris bersama dengan orang yang ia suka, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, Rania.
“Ning, apa ning sudah mengetahui siapa pengirim surat itu ning” Rania melontarkan pertanyaan yang sangat tidak ingin Ning Nisa dengar. Namun mau tidak mau ia harus mendengar. Tidak mungkin Rania akan melupakan penasaran yang tengah melandanya.
“Belum. Masih belum ada orang yang menghubungiku” Ning Nisa berusaha menutupi apa yang ia tahu. Memang belum ada orang yang menghubunginya untuk masalah ini. Namun sesungguhnya ia sudah mengetahui tanpa sengaja. Obrolan di rumahnya di ruang tamu yang ia dengar telah menunjukkan jawaban kepadanya.
“Iya Ning, saya juga belum tahu pengirim misterius itu.”
“Lantas apa jawabanmu untuk surat itu Ran, mungkin saja pengirim surat itu menunggu jawabannya kan ?”
“Ee.. Aku belum punya jawaban. Aku juga belum tau siapa pengirim surat itu. Aku masih bingung. Jujur aku belum bisa melupakan Ahmad. Tapi bagaimana pun juga aku harus berusaha bangkit dan mencoba untuk membuka hati kembali”
Ning Nisa sedikit kecewa dengan jawaban yang didengarnya. Bisa saja Rania akan menjawab surat itu dengan jawaban IYA. Namun bagaimana lagi. Terbesit harapan pada Ning Nisa kalau Rania akan langsung menolak. Ning Nisa sudah mencinta Faris sedari lama. Namun ia tidak mungkin mengungkapkannya. Ia menunggu saat yang tepat untuk membicarakan dengan abah umminya. Namun sekarang sudah terlambat. Ia tidak mungkin memberi tahu apa yang ada di hatinya itu. Sosok itu sudah menyampaikan pada abah terlebih dahulu kalau ia mencintai soosk lain. Abah pun sudah setuju dengan keputusannya. Harapannya telah sirna. Kini harapan itu harus segera ia kubur rapat rapat.
***
Tok Tok Tok !
“Nak...”
Tok Tok Tok !
“Sebentar bah..” Ning Nisa tahu pintu kamarnya di ketuk oleh abah. Ning Nisa yang sedang mengerjakan di laptopnya segera bangkit. Ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh abah kepadanya. Sudah pasti abah akan membahas niat baik Faris kepada Rania. Hati Ning Nisa bergejolak hebat. Apa ia akan kuat mendengar apa yang akan abah bicarakan? Kini hatinya sudah sedikit sakit. Bagaimana pun juga ia harus bisa memendamnya supaya abah tidak mengetahuinya.
“Nak..” abah memanggil Ning Nisa kembali. Ning Nisa lama tidak keluar keluar dari kamarnya.
“Iya bah..” Ning Nisa mengusap tetesan air mata yang berhasil jatuh. Ia menarik nafas untuk menambah ketenangan hatinya. Ia harus siap dengan apa yang akan abah bicarakan.
Ning Nisa mulai berjalan keluar kamar. Langkahnya terasa begitu berat. Kaki nya seakan mengetahui apa yang akan hatinya rasakan. Kakinya seperti tidak rela jika hati akan sakit. Demi kepatuhan pada Abah, Ning Nisa harus tetap menemuinya.
Abah mengajak Ning Nisa untuk duduk di ruang tengah. Ummi sudah tampak terduduk di sana. Ning nisa mengambil tempat duduk di dekat uminya.
“Abah mau berbicara hal yang penting. Ini masalah Rania” deg. Jantung Ning Nisa seakan berhenti. Ning sedikit mematung, walau sebelumnya ia sudah tahu kalau abah akan membicarakan ini.
Ummi dan Ning Nisa masih terduduk diam. Menunggu apa yang akan abah katakan.
“Begini, abah ingin membicarakan mengenai Rania. Kemarin salah satu santri sowan ke abah dan menyampaikan niat baiknya untuk menghalalkan Rania. Bagaimana menurut ummi dan abah?”
“Alhamdulillah bah kalau ada yang berniat baik” Ummi menjawab sambil tersenyum.
Kini giliran Ning Nisa untuk menjawab. Bagaimana ia akan menjawabnya. Tidak mungkin juga ia menjawab tidak setuju. Namun rasanya untuk mengatakan setuju saja terasa berat sekali.
Abah sudah menatap ke Rania. Umi pun demikian. Mungkin mereka menunggu jawaban Ning yang tidak kunjung memberikan jawabannya.
“Nisa juga setuju bah. Alhamdulilah” Ning Nisa menjawab dengan berusaha tetap tenang. Ia memaksakan senyum. Wajahnya tersenyum dan hatinya menangis. Itu lah yang di rasakan Ning Nisa.
“Alhamdulillah..” abah mengucapkan syukur.
“Nduk tolong tanyakan pada Rania. Ikhwan itu sudah menunggu jawabannya. Katakanlah juga siapa pria itu. Supaya Rania benar benar memutuskan jawabannya.”
“Baik bah”
Abah dan umi pergi menuju kamar. Rania yang sedari tadi menahan tangisnya segera masuk ke kamarnya. Rasanya tangisannya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Benar memang, tangisannya langsung terpecah seketika.
Di bawah bantal Ning Nisa melampiaskan kesedihannya lewat aliran air mata yang membasahi pipi. Air matanya juga mengenai bantal yang di gunakan untuk menutup wajahnya. Teredengar suara isakan. Sebisa mungkin Ning Nisa memelankan tangisannya, namun ikana itu gagal ia sembunyikan semuanya.
Hatinya patah. Ratinya rapuh dan hancur. Ikhwan yang selama ini ia cintai diam diam ternyata menaruh hati pada wanita lain dan bermaksud baik untuk menghalalkannya. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Apalah daya cinta memang tidak bisa di minta dan di paksa pergi.
Ning Nisa paham betul kalau jodoh itu di tangan tuhan. Usaha apapun yang dilakukan kalau bukan jodoh dan allah tetap tidak berkehendak tidak akan bersatu. Namun rasa cintanya tetap membuat hatinya patah.
Besok Ning Rania harus menjalankan amanat yang abah berikan kepadanya. Ning Nisa tidak bisa membayangkan bagaimana caranya ia bertanya kepada Rania. Ia takut air matanya tidak dapat ia sembunyikan. Ia tidak mau membuat keptusan Rania goyah nantinya karena melihat dirinya. Sungguh sesuatu yang sangat sulit untk Ning Nisa lakukan.
***
Mata Ning Nisa sembab. Hal ini sangat wajar mengingat tangisannya yang terus menghiasi sepanjang malam. Pagi hari Ning Nisa sengaja tidak berjamaah. Ia tidak mau santri putri melihat matanya itu. Pasti akan menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Ning Nisa tidak mau hal itu terjadi.
Hari semakin siang. Malam hari, ia harus bertemu abah untuk menyampaikan apa yang Rania katakan. Abah meminta malam hari ini juga ia menyampaikan appaun yang Rania katakan. Ning Nisa merasa bingung. Hari semakin siang. Matanya masih sedikit sembab.
Tidak ada cara lain. Ning Nisa mengambil make up nya. Ning Nisa mengoleskan foundation dan menaburkan beberapa bedak di wajahnya. Fokus utamanya adalah di bawah matanya. Ia akan menuutupinya menggunakan itu. Ning Nisa sedikit paham mengenai dunia kecantikan. Ia pernah mengikuti ekstra di sekolahnya dulu. Akhirnya ilmu yang pernah ia pelajari dulu berguna.
“Rania... ”
“Eh Ning Nisa.. apa kabar Ning ?” Ning Nisa langsung disambut Rania ketika ia memasuki kobong Rania.
“Alhamdulillah sehat, Ran bisa bicara sebentar ngga?”
“Bisa banget Ning, lama juga ngga apa, lagi ngga ada kegiatan juga ini Rania”
“Tapi jangan di sini ya ngobrolnya.”
“Loh kenapa Ning?”
“Ngga enak sama yang lain. Kita keluar saja ya .. biar kita ngobrol di luar”
“Iya terserah Ning saja enaknya bagaimana”
Rania mengambil jaket dan memakainya. Ning Nisa keluar kobong. Rania mengikutinya. Sepertinya Ning Nisa akan membicarakan hal yang cukup penting sampai sampai ia meminta membicarakannya di luar.