Sebuah surat ditunjukan untuknya. Rania merasa bingung. Santri putri kobong sebelah yang memberikannya. Rania merasa tidak percaya. Hal ini membuatnya bertanya tanya. Bukankah mamah sudah diberi nomer ponselnya? Apa iya mamah yang mengirim surat untuknya? Bukannya beberapa waktu lalu mamah juga sudah menghubunginya lewat w******p ?
Rania sangat ragu untuk membuka. Di sisi lain ia merasa sangat penasaran dengan isinya, dan yang membuat lebih penasaran siapa pengirim dari surat itu. Perlahan ia mulai membuka. Berharap rasa penasarannya akan terpecah. Rasa takut masih terbesit dalam hatinya.
‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, untuk Rania, salam silaturahmi dari saya. Maaf dengan ini saya ingin menyampaikan sesuatu kepada ukhti. Saya ingin menghalalkan ukhti untuk menjadi istri saya. Sejak lama saya selalu mencari tahu siapa ukhti. Sekarang saya benar benar mantap ingin mengajak ukhti untuk menjalin hubungan yang sah dengan saya. Dalam ikatan pernikahan yang di ridhai oleh yang mencipta. Ukhti tidak perlu membalas surat dari saya ini, berpikirlah terlebih dahulu. Tolong sampaikan jawaban ukhti ke Ning Nisa. Saya sangat menunggu jawaban ukhti. Apapun jawabannya akan saya terima, terima kasih banyak. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.’
Membacanya seakan tidak percaya. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba seorang ikhwan tidak dikenal mengajaknya untuk menikah. Sosoknya saja ia tidak tahu. Bahkan sekedar nama saja tidak ia ketahui. Tidak pernah ada bayangan pada ia akan mendapat surat seperti itu. Terlebih pengirimnya masih teka teki. Tersembunyi tanpa pasti. Identitasnya tidak ia ketahui.
Terus apa hubungannya dengan Ning Nisa? Ataukah mungkin Ning Nisa yang memberi tahu mengenai dirinya pada pengirim surat? atau? Atau pengirim surat itu kerabat dekat dari Ning Nisa? Mengapa harus melalui Ning Nisa? Ah berbagai pertanyaan berputar putar di kepalanya.
Rania terus memikirkan mengenai surat itu. Apakah selama ini kehidupannya selalu di intai oleh seseorang? Rania kehilangan fokus. Parahnya, kehilangan fokusnya itu juga membuatnya tidak sadar jika dipanggil oleh ustadzah ketika mengaji di madrasah. Sungguh memalukan sekali. Rania sampai terhanyut pada lamunan di tengah majlis.
Rania tidak dapat mengatasi ini sendiri. Ia harus segera menemui Ning Nisa. Barangkali Ning Nisa mengetahui siapa pengirim surat misterius itu. Tidak mungkin pula jika pengirim surat itu meminta kepadanya untuk menjawab surat ke Ning Nisa. Ning Nisa salah satu penyelesaian kebingungan Rania ini.
“Assalamu’alaikum Ning.” Rania masuk ke dapur ndalem. Kebetulan pintu kamar Ning Nisa tidak jauh dari dapur. Kamar Ning Nisa berada persis di sebelah dapur. Apa pintu yang menghubungkan keduanya.
“Wa’alaikumsalam Rania, langsung masuk saja” Ning Nisa yang sudah sangat paham dengan pemilik suara itu mempersilahkan untuk masuk ke kamarnya. Ia masih terduduk di depan laptopnya.
“Misi Ning..”
“Eh iya Rania, santai saja hehe.. gimana sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan”
“Iya Ning. Begini Ning tahu masalah surat?”
“Hah, surat apaan?”
“Ning benar benar tidak tahu masalah surat?”
“Aku saja tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan Ran..”
Rania bingung. Kenapa Ning Nisa justru tidak mengetahui apa pun mengenai surat. Sementara yang tertulis di surat ia diminta untuk menjawab lewat Ning Nisa.
“Begini Ning, ini ada surat. Dan Rania suruh menjawabnya ke Ning” Rania mengambil surat dalam sakunya dan memberikan kepada Ning Nisa. Ning Nisa menerima surat itu. Dari raut wajahnya, memang terlukis jika Ning Nisa sepertinya memang benar benar tidak mengetahui mengenai surat itu.
“Isinya apa Ran, dan surat dari siapa ini. Kok di kasih ke saya”
“Rania juga tidak tahu Ning. Nah masalahnya di dalam surat itu Rania disuruh untuk menjawab ke Ning Nisa saja”
“Hah?” Ning Nisa seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rania. Mengapa Rania mengatakan demikian? untuk membuktikan kebenaran yang Rania ucapkan, ia segera membuka surat yang sudah berada di tangannya itu. Namanya yang di sebut sebut juga menimbulkan tanda tanya pada benaknya.
“Rania, aku juga benar benar tidak tahu siapa pengirim surat ini. Mengapa namaku ikut disebut?” Ning Nisa menjelaskan kebingungannya. Ia juga tidak menyangka jika Rania akan mendapat surat seperti itu. Lantas apa hubungannya antara surat itu, pengirim surat, Rania dan dirinya?
“Aku juga bingung Ning. Saya kira pengirim surat itu kerabat dekat dari Ning” raut wajah Rania tampak kecewa. Ia mengira akan mendapat jawaban dari surat itu. Namun nyatanya Ning Nisa yang namanya turut tertulis dalam surat itu juga tidak mengetahui apa apa.
“Biar nanti aku ikut mencari jawaban surat ini Ran..”
“Terima kasih banyak Ning..”
***
Nisa yang mengetahui masalah Rania juga mengalami kebuntuan. Tidak ada juga laki laki yang datang menemuinya. Atau perantara siapa yang mengatakan siapa pengirim surat ke Rania. Namun Ning Nisa yakin, berapa pun waktunya ia akan segera mengetahui siapa pengirim surat kepada Rania itu. Karena jawaban Rania akan sampai kepada pengirim lewat dirinya.
Di tengah kebuntuan justru Ning Nisa mengalami dilema. Keinginan Ning Nisa untuk membina rumah tangga menggebu kembali. Sementara Rania yang belum memikirkan jodoh, jodoh seakan mendekat kepadanya. Seperti inikah cara pencipta untuk menguji hambanya mengenai pasangan hidup?
Terbesit rasa sedikit rasa iri pada Rania. Mengapa tanda tanda jodoh untuknya tidak kunjung datang. Bisikan setan memang selalu manis. Ning Nisa yang menyadarinya segera beristighfar. Ia tidak boleh memiliki sifat tercela seperti ini. Pasti yang pencipta akan segera mempertemukannya dengan pasangan hidup. Hanya saja ia sedang di uji dalam kesabaran.
***
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh..”
Dua orang santri masuk ke ruang tamu pengurus pondok dengan penuh kesopanan dan menjaga etika. Mereka menunduk sebagai tanda menghormati gurunya. Mereka duduk di bawah. Abbah duduk di depannya menunggu santrinya itu menyampaikan tujuannya.
“Punten sebelumnya abbah...”
“Saya Faris Abdul Hamid, maksud kedatangan saya kemari ingin menyampaikan jika saya memiliki niat serius untuk menikah dengan salah satu santri putri di pondok pesantren ini. Apakah abah guru ridho?”
“Siapa gerangan santri putri yang engkau inginkan nak..”
“Punten, Rania bah.. kalau abah merestui saya akan bertemu dengan keluarganya bah”
Abah mengingat ingat siapa itu Rania. Banyak sekali santri putri di pondok ini. Tanpa waktu yang lama abbah sudah mengetahui siapa yang dimaksud Faris santrinya tersebut. Rania teman putrinya yang masuk pesantren ini belum begitu lama, namun ibadahnya sudah membuat banyak santri putri kagum. Bahkan namanya sangat tidak asing di pesantren ini. Hampir semua santri mengetahuinya. Sedikit mengenai Faris, ia adalah putra dari kyai yang berada di Jawa Barat. Anak dari salah satu teman abbah ketika menimba ilmu di mesir. Abbahnya Faris sangat menghormati Abbah sebagai orang yang ia idolakan.
“Abah merestui pilihanmu nak, tapi ingat. Bicarakan terlebih dahulu dengan abah dan ummimu. Bagaimana jawaban mereka. Jika mereka menyetujui, ajaklah mereka untuk segera berkunjung ke orang tua Rania untuk menyampaikan maksud baikmu nak..”
“Alhamdulillah terima kasih banyak abah”
“Alhamdulillah..”
Faris dan ilham saling pandang. Ekspresi mereka cerah. Jawaban baik menyertai Faris.
Ning Nisa yang tidak sengaja mendengar pembicaraan, terkejut. Akhirnya ia mendapat jawaban siapa pengirim surat kepada Rania. Mendengar suaranya, ia paham siapa pemilik suara itu. Ya Faris, salah satu santri yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta diam diam. Ning Nisa gemetar. Tidak siap mendapat jawaban ini. Segera ia menuju kamar.
Ning Nisa merasa sangat dilema. Ia akhirnya bisa mengetahui pengirim surat Rania yang turut membuatnya penasaran juga. Namun kenapa dadanya justru merasa sesak? Sungguh Ning Nisa sedang terjebak dalam dua pilihan yang sangat menyulitkan. Antara ia akan memberi tahu Rania dan tidak. Satu sisi, ia tidak mungkin menyembunyikan ini dari Rania. Di sisi lain terdapat sedikit rasa ketidakrelaan. Mengapa rasa cinta serumit ini? Bukankah cinta itu anugerah?