“Mah, Rania kembali ke pesantren dulu ya mah”
“Hati hati ya nak, mamah selalu merindukanmu”
“Rania minta maaf ya mah,”
“Iya nak, mamah juga minta maaf. Jaga diri baik baik nak”
Rania mengecup tangan wanita yang telah melahirkannya. Rasa tidak ingin berpisah kembali terbesit pada diri Rania. Namun bagaimana lagi. Keinginan menjadi versi yang lebih baik sudah menyelimutinya. Ia akan memperjuangkannya. Menuntut ilmu sehingga tidak salah dan keliru dalam bertindak.
Pagi yang sedikit mendung. Seakan menggambarkan batin Ibu Vinda yang tidak ingin berpisah kembali dengan anaknya. Tapi ia sadar. Anaknya butuh pendidikan agama dan ia tidak pernah memberikannya selama kecil. Bahkan sepertinya ia juga harus belajar ilmu yang sama dengan anaknya, untuk memperbaiki kualitas hidupnya dalam versi agama.
“Mamah anter Rania sampai stasiun ya?” mamah terlihat sangat senang. Ia sepertinya ingin menghabiskan waktunya dengan Rania. Bahkan pada detik detik sebelum ia sampai di pesantren.
“Boleh mah..” Rania tidak berani menolak. Ekspresi yang terlukis di wajah mamahnya menggambarkan penuh harapan.
“Hati hati di jalan nak” ucap mamah. Suasana stasiun tampak ramai. Sepertinya banyak dari mereka yang mempunyai urusan dekat dekat ini. Hari libur juga yang menyebabkan stasiun lebih ramai dari biasanya, kemungkinan banyak dari mereka yang akan pergi berlibur.
“Iya mah. Mamah hati hati juga ya, jangan lupa buat makan dan istirahat”
Rania memeluk mamahnya. Rania mulai berjalan untuk melakukan cek in. Ia melihat ke arah mamahnya yang sedang melambaikan tangan. Rania membalasnya dan segera cek in karena kereta tidak lama lagi akan berjalan.
Kereta yang mengantar Rania terasa melesat begitu cepat. Mungkin hanya ia yang merasakan. Mungkin saja hal ini terasa karena sebenarnya Rania masih ingin berada di rumah. Menemani mamah untuk menjalani hari.
***
Rania memasuki gedung pesantren. Rasanya ia sudah rindu sekali pada tempat ini. Sebulan saja tidak berada di sini membuatnya begitu rindu segalanya. Mulai dari teman temannya, bacaan Al-Qur’an yang dapat ia dengar setiap waktu, hingga pengajian dari para ustadz ustadzah di sana.
Ning Nisa yang tidak menyadari Rania akan kembali menyambutnya tanpa persiapan. Ning Nisa bahkan memaksa untuk membawakan salah satu kardus di tangannya. Rania terlihat repot. Ransel bersarang di punggungnya. Bukan hanya itu, kedua tangannya pun membawa kardus. Rania terus menolak dengan penawaran Ning Nisa. Namun ia terus memaksa. Akhirnya Rania menyerahkan salah satu kardus padanya.
Rania juga sowan ke ndalem (Berkunjung ke rumah pengasuh untuk bersilaturahmi dengan Ummi Halimah). Hal ini dilakukan setiap santri apabila ia hendak izin meninggalkan pondok sementara atau baru saja menginjakkan kaki kembali di pesantren. Sowan itu hanya dilakukan oleh santri mahasiswa. Hal ini mengingat banyaknya santri yang menuntut ilmu di sana. Hal serupa juga banyak diterapkan di pondok pesantren lainnya. Bahkan ada juga yang setiap santrinya harus sowan. Terutama untuk pondok pesantren yang tidak begitu banyak santrinya.
Teman teman Rania yang kembali pun sedang. Mereka tak kalah merindukan Rania. Rania adalah sosok yang sangat baik. Ia selalu membantu dengan inisiatif, sering selain ia membantu apa yang bisa ia kerjakan tanpa di minta. Rania juga yang selalu membuat kamar hidup. Obrolan obrolan Rania nyambung dengan mereka. Kembalinya Rania membuat kamar yang sepat sepi kembali hidup.
***
Sebentar lagi harlah akhirusanah akan di adakan di pondok pesantren Al-Iman. Semua persiapan harus dilakukan. Biasanya, ia akhirusanah ini juga diadakan juga khotmil qur’an untuk mereka yang khatam al-qur’an. Kini peserta khotmil qur’an sudah di data. Serangkaian acara segera di persiapkan.
Di aula utama mereka berkumpul. Pada aula inilah santri putri dan santri putra dapat bertemu. Hanya sekedar bertemu tanpa saling sapa. Satu dua komunikasi hanya dilakukan ketika mereka sama sama memiliki urusan. Misalnya saja panitia. Mereka akan berkomunikasi ketika berkoordinasi dan melaporkan progres dalam rapat. Kekurangan kekurangan yang belum di persiapkan juga tidak luput untuk dibicarakan.
Rania di masukan dalam panitia acara. Ia akan ditugaskan untuk menjadi pembawa acara. Ternyata dalang di belakang ini adalah Ning Nisa. Ning Nisa mengetahui kalau Rania ketika sekolah Menengah Atas dulu sering diminta untuk membawakan acara yang diadakan di sekolahnya.
Rania di temani oleh ukhti Dina. Salah satu santri mahasiswa yang lebih senior darinya. Tahun lalu, ukhti Dina lah yang ditugaskan untuk menjadi pembawa acara. Kini tugasnya adalah untuk melatih pembawa acara yang baru. Setiap tahun, yang bertugas selalu berbeda. Hal ini supaya semua santri dapat merasakan pengalaman. Tidak hanya satu orang yang terus terusan yang bertugas. Begitu juga untuk petugas yang lain. Setiap tahun selalu berganti.
Tidak butuh waktu lama, Rania sudah dapat menyerap ilmu yang diberikan oleh ukhti Dina. Pengalamannya dulu yang sering membawakan berbagai acara sangat menguntungkannya. Bahkan kini ukhti Dina tinggal mendampingi Rania saja. Ia cepat sekali dalam belajar.
Salah seorang santri di seberang tampak memperhatikan Rania. Rania yang menyadari seperti diawasi, ia melihat ke depan.
Pandangan matanya menatap laki laki yang tengah melihatnya. Kedua mata mereka saling saling tatap. Rania yang menyadari beberapa detik kemudian langsung menunduk dan merasa sangat malu.
“Astoghfirullah..” Rania langsung memunduk.
***
Hari yang dipersiapkan sejak lama akhirnya tiba. Malam ini juga harlah akhirusanah akan dilaksanakan. Beberapa warga sekitar mulai berdatangan. Orang tua santri khotmil qur’an dan beberapa orang tua santri lainnya juga tampak hadir. Persiapan sudah matang. Para santri khotmil qur’an terlihat seragam. Mereka mengenakan baju yang sama yang sudah di persiapkan sejak jauh jauh hari lamanya. Panitia pun juga mengenakan seragam. Tentu saja seragam yang berbeda dengan peserta khotiml qur’an. Penggunaan seragam pada panitia di maksudkan untuk mempermudahkan membedakan panita. Siapa tahu saja ada jamaah yang membutuhkan panitia.
Kerudung merah marun yang di padukan dengan kemeja putih serta sarung hitam, perpaduan yang cukup untuk dipandang, tidak begitu mencolok dan tidak begitu suram. Sementara para peserta khotmil qur’an mengenakan seragam coklat muda yang dipadukan dengan warna putih. Tampak juga leres batik pada bagian depan lengan. Ditambah dengan kerudung moca untuk santri putri.
Acara khotmil qur’an telah usai dan dilanjutkan dengan serangkaian acara yang sudah tersusun dalam daftar. Sepasang mata seorang laki laki sesekali mengamati Rania dalam kebisuan. Pemiliknya adalah salah seorang peserta khotmil qur’an. Rania masih saja fokus menjalankan tugasnya sehingga ia tidak mengetahui jika sepasang mata telah mengamatiya.
Ning Nisa yang duduk di samping Rania, merasakan hal itu. Ia ditugaskan untuk melantunkan ayat suci al qur’an dan melantuntan beberaoa sholawat. Salah satunya sholawat untuk mengiringi peserta khotmil qur’an. Ning Nisa memberi tahu ke Rania dengan menggunakan kode ketika Rania sedang menunggu memandu untuk acara selanjutnya. Rania yang menyadari itu merasa risih. Ingin sekali Rania pergi dari sini. Namun apa daya Rangkaian acara masih harus ia pandu hingga akhir.
Fokus Rania semakin turun karena ketidaknyamanan. Tidak ada cara lain. Dengan sedikit tidak enak iya meminta bertukar kursi dengan Ning Nisa. Hal ini bukanlah masalah besar bagi Ning Nisa. Ia menerima ajakan Rania itu.
“Maaf Ning, boleh tidak kita bertukar tempat. Aku merasa sangat tidak nyaman”
“Iya sini sini, kita tukar tempat”
Rania dan Ning Nisa sama sama berdiri untuk bertukar tempat duduk. Kini Rania sedikit lega. Ning Nisa sedikit menutupinya dari pandangan laki laki itu. Hanya saja mau tidak mau ia tetap terlihat ketika ia berdiri membacakan acara selanjutnya.