Keluarga Faris sangat suka dengan Rania. Rania terlihat anggun dan sangat sopan. Mereka juga merasa Rania sangat cocok untuk disandingkan dengan Faris. Mereka mulai melakukan persiapan kecil untuk menghitbah Rania. Faris beruntung bisa menemukan calon seanggun dan semanis Rania. Kebahagiaan yang dirasakan ibunya Faris sungguh luar biasa. Ia sangat menyukai Rania. Ia sangat tidak sabar menunggu Rania untuk menjadi menantunya.
Faris sibuk mencari baju di sebuah toko. Ia akan mengenakan pakaian itu ketika menghitbah Rania. Seorang pria sebaya tiba tiba datang kepadanya dan mengatakan kalau ia adalah calon dari Rania.
Faris tidak langsung percaya begitu saja. Bagaimana bisa ia adalah calon Rania. Rambutnya yang di semir merah dan celananya yang sobek di sisi depannya. Penampilannya sangat mirip dengan preman jalanan. Bagaimana mungkin kalau ia adalah calon dari Rania, seorang santriwati idaman pada ikhwan pesantren Al Iman?
Ternyata Pria itu tidak tinggal diam. Ia mengatakan kalau ia adalah mantan dari Rania. Dan Rania sangat mencintanya. Faris tidak langsung percaya. Bagaimana ada orang asing yang tiba tiba datang kepadanya dan mengatakan demikian.
Pria itu mengeluarkan beberapa lembar foto dari sakunya. Tampak foto Rania bersama pria itu. Tampak juga foto Rania di klub malam bersama dengan beberapa orang. Faris kaget bukan main. Mana mungkin itu Rania? mana mungkin sosok yang sangat taat beragama mempunyai masa lalu sekelam itu?
Ibunya Faris yang sedang mencari gamis di sisi yang lain memperhatikan anaknya yang tengah bersama orang asing. Ia pun segera mendekati Faris. Ia mengkhawatirkan jika anaknya akan di lukai oleh orang tersebut. Faris adalah putra satu satunya mereka.
Ibu Faris sungguh terkejut. Ia melihat foto yang tengah dipegang oleh Faris. Wanita itu tampak seperti Rania. Namun pakaian yang dikenakannya sungguh tidak sopan.
“Faris, siapa dia ? kenapa mirip dengan Rania?” sambil melihat ke arah anaknya.
Faris mematung. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Hal ini membuat wajah ibunya merah.
“Tante, itu Rania pacar saya. Calon istri saya juga tante.”
“Heh Jangan ngawur kamu loh ya. Rania tidak seperti itu”
“Tante, jadi orang jangan polos polos amat mau dibohongin orang. Tanya saja pada Rania langsung biar tante percaya”
Pria itu segera pergi meninggalkan Faris dan ibunya yang masih terlihat sangat syok. Mereka seakan masih tidak percaya kalau wanita itu adalah Rania. Rania yang mereka kenal memiliki kepribadian yang sangat baik. Pakaian yang ia kenakan juga selalu menutup aurat.
Ibu nya Faris meletakan dengan asal gamis yang sudah ia pegang. Ia mengajak Faris untuk pulang dan membatalkan rencana mengkhitbah Rania. Faris menuruti perkataan ibunya. Namun ia tidak yakin kalau wanita dalam foto itu adalah Rania walau wajah dan posturnya mirip sekali dengan Rania.
“Mah, belum tentu ini Rania mah..” Faris berusaha untuk berargumen. Ia terus berjalan mengikuti ibunya yang sudah berjalan di depan.
“Orang jelas jelas wajahnya sama persis kok. Sudah lupakan saja dia”
“Mah kita cari tahu terlebih dahulu. Jangan asal percaya seperti ini” Faris masih berusaha membela Rania.
“Orang sudah jelas jelas itu dia. Apa yang mau di cari tahu lagi. Semuanya sudah jelas.”
“Sudah lupakan dia” lanjut ibunya.
Faris tidak bisa berbuat apa apa lagi. Faris menuruti ibunya untuk pulang. Dalam hati Faris terbesit, kalau pun itu Rania sekarang ia sudah berubah. Bukankah setiap orang memiki kesalahan masing masing tempo dulu?
Keesokan harinya, Faris menghubungi Rania lewat chat w******p. Ia mengirimkan gambar yang ia dapat sebelumnya. Faris menanyakan mengenai foto tersebut. Ia ingin memastikan kalau wanita dalam foto itu bukanlah Rania.
“Assalamu’alaikum Rania” sebuah pesan yang Faris tulis untuk mengawali pembicaraan dengan Rania. Aplikasi w******p yang Faris pilih.
Hening. Lama. Tidak ada balasan. Lima belas menit sudah berlalu. Sepertinya Rania sedang tidak memegang ponselnya. Faris terus menunggu balasan dari Rania.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” sebuah jawaban masuk ke ponsel Faris.
“Apa benar ini kamu Ran?”
Hanya terlihat centang biru. Tidak lama kemudian terlihat tulisan mengetik yang menandakan kalau Rania sedanng mengetik pesan untuk membalas pesannya.
“Dari mana kamu dapat itu semua?”
“Itu tidak penting. Yang aku tanyakan ini kamu atau bukan”
“Iya itu aku. Itu masa laluku yang kelam. Maaf masa lalu yang aku alami tidak sebaik yang kamu kira. Aku wanita hina. Aku wanita kotor”
“Maaf, bukan maksud ingin membuat luka pada hatimu. Aku tidak mempermasalahkan masa lalu kamu. Semua orang punya kesalahan”
“Maaf, tinggalkan aku saja. Aku tidak pantas untukmu”
“Tidak. Tidak seperti itu. Aku akan membawa kamu ke jalan yang benar. Aku akan menuntun kamu”
“Tidak, aku mohon. Tinggalkan aku”
“Percayalah, aku akan membimbing kamu”
Hanya tampak tanda centang satu. Sepertinya Rania sudah mematikan koneksi internetnya.
***
Rania meletakan ponselnya. Ia masih memikirkan siapa yang sudah memberi tahu Faris akan masa lalunya itu. Bukankah hanya sedikit sekali yang mengetahui dirinya ketika berada di Amerika.
Mengapa di saat ia ingin bangkit kembali, mencoba membuka hati selalu ada masalah. Di saat ia ingin benar benar berubah menjadi lebih baik, ada saja yang membuatnya ingin menyerah. Sesulit inikah untuk berhijrah? Rania menyesal pernah terjebak dalam kehidupan yang begitu kelam. Kegagalan demi kegagalan dalam mencari cinta sejati selalu ia rasakan. Apakah ini balasan dari apa yang sudah ia lakukan? Balasan untuk dosa dosanya yang sangat besar itu?
Rania tidak mau menyerah. Ia yakin ini adalah proses yang harus ia lalui untuk benar benar bisa berhijrah. Pasti ini ujian yang harus ia lalui. Berat memang yang Rania rasakan. Tapi Rania yakin akan ada hal manis yang menantinya. Bukankah tuhan selalu baik kepada hambanya walau ia banyak memiliki dosa asal ia mau bertaubat? Iya kali ini Rania tidak boleh menyerah.
***
Faris terpukul mengetahui kalau wanita itu benar benar Rania. Ia bisa menerima masa lalu Rania. Faris sangat yakin kalau Rania adalah wanita yang baik. Hanya saja ia tidak beruntung pernah berada pada lingkungan yang salah. Andai saja Rania sedari kecil sudah berada di lingkungan yang baik, pasti kini ia akan lebih baik dari yang sekarang. Keimanan dan ketaatan Rania yang membuat Faris yakin akan hal itu. Ia sangat yakin kalau sebenarnya Rania memiliki hati yang baik.
Kini Faris harus meyakinkan orang tuanya. Ia harus meyakinkan ayah dan ibunya yang ternyata sudah tidak mengharapkan Rania. Ketertarikannya pada Rania sudah digantikan dengan rasa jijik. Mereka tidak mau memiliki menantu yang masa lalunya sangat buruk. Bagaimana nanti kalau tetangganya tahu. Citra baik keluarganya pasti akan langsung hilang dan luntur.
“Ayah, ibu.. bukankah setiap orang bisa berubah?” Faris mencecar ayah dan ibunya. Berharap mereka mau menerima Rania kembali.
“Maaf ayah tidak sudi memiliki menantu seperti itu” ayahnya menjawab dengan membuang muka.
“Ibu juga tidak akan mau. Ibu tidak menyukainya lagi ”
“Ayah ibu bukankah kalian paham semua orang punya kesalahan? ”
Mereka hanya terdiam dan saling pandang. Faris tau mereka sudah tahu ilmunya. Namun ntah apa yang membuat mereka keras dan kekeh tidak mau menerima Rania.
“Sekalinya tidak ya tidak!”