Rania memutuskan untuk kembali kembali ke pondok pesantren. Hatinya kini terluka. Ia sudah membuka harapan kalau Faris benar benar akan menjadi imam yang akan menuntunnya. Namun Rania sadar. Faris memang tidak cocok untuknya. Orang tuanya benar. Dari postur tubuh dan wajahnya ia lebih cocok jadi artis. Anggun dan menawan. Selain fisiknya, intelektualnya juga sangat tinggi. Ditambah dengan iman yang ia miliki. Seakan menjadi paket komplit.
Sedang Rania? wanita dengan masa lalu kelam yang mengharapkan sosok imam. Namun sepertinya lingkungan pesantren bukan tempat ia akan mendapatkan dambaan hati, memiliki hatinya yang sesungguhnya, seorang imam yang akan menuntunnya untuk menuju jalan kebaikan.
Transportasi alternatif yang bisa ia gunakan adalah kereta seperti biasa. Selain waktunya yang relatif cepat harganya juga tidak setinggi pesawat. Masih bisa di jangkau oleh kantong Rania.
“Rania! Oh Rania?”
Rania terkejut. Ia menoleh ke samping. Ternyata Mycel berada di sampingnya. Bagaimanna mungkin ia berada di Indonesia? Kenapa ia berada di stasiun juga. Ntah kemana tujuannya tidak begitu Rania pikirkan.
“Hey ngapain kau ada di sini!”
“Bukankah ini tempat umum cantik, Kau terkejut?”
“Gue tanya serius. Ngapain ada di sini?”
“Terserah guee dong...”
“Eh lo ya yang ngasih tau foto foto gue?”
“Kalau iya kenapa ?”
“Gue penasaran aja siapa yang nglakuin itu”
“Iya itu gue. Gue ngga rela lo sama orang lain. Lo milik gue dan harus sama gue”
“Sembarangan kalau ngomong. Ngapain lo ngejar ngejar gue. Mana si Cassy?”
“Gue udah ngga mau berurusan sama dia”
Rania sudah menghapus ingatannya dalam dalam mengenai Mycel. Sosok yang sangat ia cintai kala itu namun memilih meninggalkannya. Ia bersatu dengan wanita lain. Sangat berat menerima kenyataan waktu itu. Kini Rania sudah benar benar tidak ada rasa kepadanya. Rasa kecewa yang menimpanya kala itu sudah berhasil mengubah rasa ia kepadanya.
Rania kini mengerti. Mycel lah pelakunya. Mau marah juga tidak bisa Rania lakukan. Rania mengakui itu kesalahannya. Tanpa Mycel memberi tahu Faris pun tidak menutup kemungkinan kalau Faris akan mengetahuinya. Bukankah bangkai yang ditutup rapat lama lama akan tercium juga baunya.
Untunglah Rania tidak begitu menggantungkan harapan pada Faris. Ia juga belum menaruh ati padanya walau awalnya ia akan menghitbahnya. Rania sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk. Belum lagi masa lalunya yang kelam masih saja menghantuinya. Masa lalunya itu sepertinya juga tidak bisa ia lupakan. Selalu membekas dalam ingatan.
Hati Rania sudah terbiasa merasa hancur. Kini ia tidak begitu mengharapkan hadirnya sosok laki laki dalam hidupnya. Hanya sosok laki laki yang mau menjadi imamlah yang ia harapkan kehadirannya. Tentunya ia juga mau menerima masa lalu Rania yang sudah terjadi, dan tidak mungkin Rania bisa mengubahnya.
Rania bergegas menuju kereta yang akan membawanya ke pesantren. Mycel mencegahnya. Ia berniat akan membawa Rania dengannya. Setelah Cassy meninggalkannya, Mycel baru menyadari hanya Rania lah yang tulus mencintainya.
“Plis Ran. Ikut denganku. Aku mencintaimu”
“Maaf. Duniaku sekarang tidak seperti dulu. Aku harus kembali ke pesantren”
“Plis Rania..”
“Maaf aku tidak bisa”
Rania langsung melangkahkan kaki. Tangannya di tahan dengan keras oleh Mycel. Kereta tidak lama lagi akan berangkat. Tidak ada cara lain. Rania harus melakukan cara ini.
“Tolong Tolong Tolong!”
“Tolong Tolong Tolong! Orang ini jahat kepada saya”
Orang orang di sekelilingnya menatap ke arah Rania. Rania membrontak dengan maksud bisa melepaskan tangannya yang terus di pegang erat oleh Mycel. Beruntung, petugas keamanan datang ke arah mereka. Tanpa waktu lama Mycel pun melepaskan tangan Rania. Rania segera berlari menuju menuju kereta yang sedang menunggu waktu keberangkatan sedari tadi.
***
Kereta berjalan membawa pergi Rania dari tempat asalnya. Sementara Mycel sedang di usir pergi oleh petugas keamanan di stasiun. Bertemu dengan Mycel membuat masa lalu Rania terbuka lagi. Penyesalan penyesalan dalam hidupnya mulai muncul kembali.
Ah sudah lah. Tidak baik berlarut larut dalam masa lalu yang suram. Kini ia harus melanjutkan hidup kembali. Masa depannya masih panjang. Banyak yang harus ia perjuangkan. Kini Rania juga sudah tidak memikirkan jodoh. Berkali kali ia jatuh akan rasa yang berujung sakit. Ia akan menunggu keputusan terbaik dari yang maha tahu.
Di Pesantren Al Iman lah ia memilih tempat untuk menenangkan hatinya. Di sana juga ia merasa aman dari orang orang yang hadir pada masa lalunya yang kini sangat tidak ingin ia ingat ingat. Nasihat nasihat dan ilmu yang ia peroleh setiap harinya membuat hatinya tenang dan membuatnya belajar banyak hal akan kehidupan.
***
Di sisi lain Mycel menggerutu. Ia berjalan luntang lantung tanpa tujuan. Ia baru menyadari kalau Rania orang yang sangat berharga untuknya. Satu satunya orang yang mencintainya namun malah ia meninggalkannya kala itu. Kini waktu sudah berjalan lama. Keadaan sudah berputar. Rania sudah tidak ingin bersamanya kembali.
Kehidupannya pun kini sudah berubah. Orang tuanya jatuh miskin. Mycel pergi dari mereka berharap dapat kehidupan yang lebih layak. Namun nyatanya ia malah semakin tidak jelas hidupnya di jalanan.
Badannya kini sudah tidak ia urus. Penampilannya tidak karuan. Ia berjalan tanpa arah dan tujuan.
“Mycel?” sapa gadis cantik yang melintas di depannya.
“Siapa anda?” Mycel kebingungan. Ia juga merasa malu di sapa perempuan dengan pakaian menutup aurat dan terlihat sangat cantik dan sejuk di pandang.
“Loh lupa? Ini Asma. Teman Rania ketika di Amerika. Adik dari pemilik Kurya Bakery.”
“Asma?” Mycel kaget. Ia tidak menyangka kalau Asma kini makin cantik dari sebelumnya. Mungkin saja karena ia yang tidak pernah memperhatikan Asma.
“Iya. Asma. Kapan kamu pulang ke Indonesia?”
“Sudah satu bulan lebih”
“Lantas apa yang terjadi. Maaf apa yang terjadi hingga hidupmu menjadi seperti ini?”
“Ceritanya panjang. Dan sepertinya aku tidak akan menceritakan kepada siapapun.”
“Hey. Ceritalah..”
“Maaf..”
Mycel langsung berlari menjauhi Asma. Sekuat tenaga ia pergi dari hadapan Asma. Ia merasa sangat tidak pantas untuk berbicara dengannya. Ada rasa aneh yang timbul kala ia berhadapan dengan Asma. Apa mungkin itu yang namanya cinta? Mycel tidak mengetahui itu apa. Yang jelas ia merasa tidak pantas dekat dekat dengannya.
Asma terkejut. Mengapa Mycel lari darinya? Apa penampilannya menakutkan? Asma dipenuhi rasa tanda tanya. Ia terus memperhatikan kemana arah Mycel pergi. Ia terus memandangnya dari kejauhan yang semakin lama kian menghilang.
Asma merasa ada sesuatu yang menimpa Mycel. Yang ia tahu, penampilan Mycel sangat modis dan mengikuti gaya. Kenapa kini penampilannya berubah sangat drastis? itulah salah satu pertanyaan yang terbesit pada hati Asma.
Asma memang tidak mengenal Mycel. Namun ia mengetahui Mycel dari cerita cerita yang Rania lontarkan kepadanya. Ia juga bertemu Mycel hanya beberapa kali. Salah satunya ketika Cassy dan Mycel datang ke Kurya Bakery dan membuat keributan. Hanya itu saja yang Asma tahu mengenai Mycel. Ia hanya paham sosoknya dan tidak saling kenal sebelumnya. Bahkan hari ini adalah obrolan pertama dengannya. Saat melihat sosoknya, ia merasa sosok tersebut tidak asing di pikirannya. Hingga ingatannya berhasil menjawab bahwa itu Mycel.