Chapter 22 (Surat)

1436 Kata
Rania masih melamun di dalam kereta. Pandangannya ia lemparkan ke jendela. Melihat alam dan keadaan sekitar. Pandangannya kosong. Ia tidak tahu apa yang sedang di pikirkan olehnya. Kluntuing! Klunting! Klunting! Sebuah pesan w******p mendarat di ponselnya. Ternyata pesan dari Faris. Suara notifikasi tersebut berhasil menyadarkan akan lamunannya. ‘Assalamu’alaikum..’ ‘Rania.. Aku minta maaf, ayah ibuku sudah tidak merestui hubungan kita. Aku sudah membujuknya namun tidak berhasil.’ ‘Mereka tetap kekeh pada pendiriannya’ ‘Maaf’ Rania menarik nafas panjang. Untung ia tidak begitu berharap pada Faris. Jika memang keadaannya demikian, ia tidak bisa melakukan apa pun. Ia sudah siap menerima keadaan ini. Lagi pula ini bukan yang pertama ia rasakan. Sebab itulah ia tidak begitu mengharapkannya sebelum benar benar ijab kobul terlaksana. ‘Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh’ ‘Tidak mengapa, aku paham keadaannya’ Rania memasukan kembali ponselnya pada saku jaket yang ia kenakan. Ia kembali melihat jalan yang dilalui kereta. Ia bersandar pada jendela. Tidak lama kemudian ia terlelap dalam tidur. *** Di lingkungan pesantren Al Iman, Ning Nisa masih merasa sangat terpukul. Kabar kunjungan keluarga Faris ke rumah Rania benar benar membuatnya sedih dan tidak berdaya. Badannya lemas dan tidak ada semangat hidup. Cintanya patah. Harapannya pupus. Tok! Tok! Tok! Pintu kamarnya di ketuk. Dengan malas ia bangkit dan membuka pintunya. Seorang santri putri sudah berada di depan pintunya. “Assalamu’alaikum..” “Maaf Ning..” “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” “Iya, ada perlu apa ya” “Maaf, ini ada surat untuk ukti Rania ning. Sudah satu minggu surat ini ada di saya. Ada seorang ikhwan yang menitipkannya kepada saya. Tapi ukti Rania lama tidak kembali juga ke pesantren. Jadi saya memberikannya ke Ning Nisa saja. Mohon untuk disampaikan ke ukti Rania ya Ning.” perempuan itu menyodorkan surat dan memberikannya kepada Ning Nisa. “Oh iya, nanti saya sampaikan ke Rania” “Terima kasih banyak ya” sambung Ning Nisa sambil menerima surat itu. “Saya juga berterima kasih Ning. Saya pamit ya Ning..” “Assalamau’alaikum Ning” “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” Ning Nisa melemparkan surat itu ke meja kerjanya. Ia kembali melemparkan badannya ke ranjang. Ngapain juga Faris mengirim surat kembali kepada Rania. Bukannya ia sudah berkunjung ke rumahnya. Kenapa tidak menghubungi lewat w******p saja. Gerutu Ning Nisa. Kehadiran benda itu sedikit membuatnya jengkel. Kenapa di saat ia merasakan sakit dan ingin segera melupakan Faris, satu demi satu informasi mengenai mereka berdua harus datang melalui perantara nya. Sedikit timbul penasaran juga apa isi dari surat tersebut. Ning Nisa bangkit dan mengambil surat yang sebelumnya ia lemparkan. Penasaran sekali rasanya dengan pesan yang tersembunyi di dalamnya. Ning Nisa sangat ingin mengetahui goresan yang tertulis di dalamnya. Perlahan ia memegang surat itu. Keinginannya untuk membuka amplop dan membaca isinya semakin kuat. ‘Tidak, tidak aku tidak boleh melakukannya’ Ning Nisa meletakan kembali suratnya. Hatinya menolak untuk membuka walau ia sangat ingin untuk membukanya. Ning Nisa sadar, ini bukan hak nya untuk membuka. Surat itu bukan ditujukan untuknya. Rania lah yang berhak mengetahui isinya. Rasa malas sebenarnya menghampiri Ning Nisa untuk bertemu Rania. Setiap bertemu Rania ia selalu ingat dengan sosok Faris. Ia sebenarnya tidak menginginkan untuk membenci Rania. Namun tidak tahu mengapa, rasa sakit selalu muncul kala ia bertemu dengan Rania. Sepertinya hal ini ditimbulkan karena rasa cemburunya. Rania susah tiba di pesantren sejak ashar. Kini ia masih terlihat duduk di masjid. Sholat isya telah lewat. Ia belum kembali juga ke kobongnya. Sepertinya ia sedang menenangkan dirinya. Terlihat khusu dalam doanya. Ning Nisa menyadari Rania tidak langsung beranjak ketika sholat isya selesai. Kebetulan juga malam ini tidak ada kajian kitab karena ustadzahnya berhalangan untuk hadir. Ning Nisa sedikit melirik ke Rania ketika ia hendak kembali. Kebetulan Ning Nisa berada di shaf sholat di depan Rania. Sehingga ketika ia keluar dari masjid ia dapat melihat Rania. Surat untuk Rania yang dititipkan kepadanya merasa menjadi beban. Bagaimana pun juga ia harus segera memberikan surat itu kepada pemiliknya. Ia ingin lepas dari rasa di hantui ini. Pukul sembilan lewat. Ning Nisa mencari Rania ke kobongnya. Ternyata ia belum kembali. Itu yang teman teman kobongnya katakan. Ning Nisa pun segera beranjak ke masjid untuk memberikan surat yang sudah di titipkan kepadanya. “Ran..” “Eh” Rania menoleh. Ia masih mengenakan mukena dan duduk di atas sajadah. “Ning Nisa..” ucap Rania menyadari yang datang adalah Ning Nisa. Ia tersenyum seperti tidak memiliki beban. “Belum balik ke kobong Ran?” “Ini baru mau kembali Ning..” “Bagaimana pertemuan dengan keluarga Faris kemarin, Lancar?” “Alhamdulillah lancar. Tapi mungkin bukan jodoh Ning. Beberapa hari kemudian orang tuanya berubah pikiran.” Rania tersenyum. Pada wajahnya tidak tampak sedikit pun beban yang ia rasakan. Sepertinya ia benar benar ikhlas. “Ya allah..” Ning Nisa terkejut mendengar pernyataan Rania. Namun ia tidak bisa munafik pada dirinya. Ia merasa iba dengan hal yang menimpa Rania. Namun ia sedikit lega. Mungkin saja masih ada kesempatan dirinya untuk bisa bersama Faris. Jujur saja ia masih mengharapkan sosoknya. “Tidak mengapa Ning, ini baru pertemuan pertama. Alhamdulillah khitbah juga belum di laksanakan.” Rania menjawabnya dengan tenang. Senyuman tipis pun menghiasi wajahnya. Sungguh terlihat seperti tidak terjadi apapun. Mungkin bisa demikian karena Rania memang tidak ada rasa dengan Faris. Benar, Rania memang tidak tergetar sedikit pun hatinya dengan Faris. Namun ia tidak berani menolak karena bisa saja ia adalah jawaban dari doanya selama ini yang mengidam idamkan sosok yang datang kepadanya dengan serius untuk menghalalkannya. Oleh karena itu, ia menyerahkan jawabannya kepada keluarganya. “Eh hampir kelupaan.. Ran ini saya mau memberikan surat. Ada santri putri yang memberikan kepadaku. Katanya seorang ikhwan yang memberikannya beberapa hari lalu” “Loh kenapa ada surat lagi?” “Brarti bukan Faris yang mengirim surat tempo hari?” lanjut Rania. Ia tampak bingung dan sedikit terkejut. Tidak pernah ia duga akan ada surat yang melayang kepadanya kembali. “Aku juga bingung Ran... Ini..” Ning Nisa memberikan kepada Rania. Ia juga tampak kelihatan penasaran. “Katanya surat ini sudah satu minggu di santri putri” lanjut Ning Nisa Rania menerimanya dan langsung membuka. Ia melihat ke arah Ning Nisa. Sepertinya ia juga penasaran. Rania mencegah ketika Ning Nisa akan pergi. “Ning, kalau tidak keberatan kita baca bareng bareng..” “Kamu serius Ran? Siapa tahu surat itu berisi sesuatu yang privasi Ran..” “Tidak mengapa Ning..” Rania tersenyum. “Ning Nisa adalah orang terdekatku. Tidak ada salahnya Ning kita mengetahui isi surat bersama” Ning Nisa berpindah posisi. Kini ia duduk di samping Rania. Mereka sama sama dibuat penasaran dengan surat itu. Rania membuka perlahan. Tampak tulisan yang tergores memenuhi secarik kertas yang ia pegang. ‘Assalamu’alaikum ukhti.. Bagaimana jawaban anda. Mohon maaf aku sudah menunggu sejak beberapa hari. Segeralah untuk menjawab. Apa pun jawabannya akan aku terima. Jika engkau ragu dengan sosokku, datanglah ke Taman belajar Al-Qur’an Al ‘ilmi pada minggu setelah dhuhur. Datanglah ketika ukhti siap. In Syaa Allah setiap hari minggu selepas dhuhur saya ada di sana. Datanglah bersama dengan temanmu untuk menghindari fitnah. Mohon hadirlah ke sana. Aku benar benar serius dengan ukhti. Mohon maaf aku meminta ukhti untuk datang ke sana bukan aku yang datang bertemu ukhti. Ada alasan tertentu yang tidak bisa saya jelaskan langsung.’ Rania memasang wajah bingung. Ning Nisa pun demikian. Di luar pikiran mereka. Mereka sudah beranggapan jika pengirim surat kala itu adalah Faris. Namun datangnya surat ini membuat tanda tanya besar. Tanda tanya besar yang baru yang tentunya membuat Rania makin penasaran. Benarkah pengirim surat itu serius kepadanya? Rania merasa ragu untuk pergi ke Taman Belajar Al-qur’an Al ‘ilmi. Kebetulan sekali esok adalah hari minggu. Tidak perlu waktu lama jika ingin mendapat jawabannya. Rania menyampaikan pada Ning Nisa kalau ia tidak akan pergi. Ning Nisa yang ikut membaca surat itu menawarkan diri untuk menemani Rania. Ia juga merasa penasaran. Penasaran akan pengirim surat itu dan penasaran dengan alasannya kenapa ia tidak menemui abah untuk menyampaikan niat baiknya seperti yang dilakukan Faris sebelumnya. “Ran.. aku mau menemani kamu datang ke sana. Kita ke sana ya..” “Bagaimana ya Ning, sebenarnya aku tidak begitu merespon surat ini” “Ran.. dengarkan aku. Kalau kamu tidak menemuinya, nanti akan tetap menimbulkan rasa penasaran. Tidak ada salahnya kan kita ke sana untuk mencari jawaban.” “Siapa tau ia memang benar benar serius Ran.. Mungkin juga benar ada hal yang tidak bisa ia bicarakan melalui surat..” “Baiklah Ning kalau Ning yang meminta saya bersedia..” “Terima kasih banyak ya Ning..” “Sama sama Ran..” Mereka berjalan berdampingan keluar dari masjid. Rania kembali ke kobongnya dan Ning Nisa kembali ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN