Kini Ning Nisa telah bersiap. Ia sudah mengenakan pakaian gamisnya yang di lapisi dengan sweater di luarnya. Gamis coklat muda dengan sweater merah marun ia padukan dengan pasmina berwarna moka.
Berbeda sekali dengan sebelumnya, Ning Nisa hari ini merasa bersemangat. Faris yang membatalkan lamarannya untuk Rania sedikit melegakan hatinya. Ia memiliki harapan. Setidaknya ada seberkas cahaya terang untuknya. Walau ia tidak tahu akhirnya. Apakah Faris di takdirkan untuknya atau bukan.
Ning Nisa sudah berada di motornya. Kini ia menunggu Rania keluar dari kobongnya. Menurut perjanjian, pukul sebelas mereka akan pergi ke Taman Pendidikan Al-Qur’an Al’ilmi. Lima belas menit menuju waktu perjanjian. Pasti Rania tidak akan lama untuk menghampirinya.
“Ning.. sudah lama menunggu”
“Belum Ran, baru saja beberapa menit aku tiba di sini..”
“Berangkat sekarang?” lanjut Ning Nisa sembari menanyakan pada Rania. Rania sudah memasang helmnya pada kepalanya. Rania mengenakan gamis biru muda yang ia padukan dengan pasmina coklat muda. Terlihat cukup anggun.
“Boleh Ning..”
Ning Nisa langsung menaiki sepeda motornya. Ning Nisa sengaja menggunakan sepeda motornya supaya mereka lebih mudah untuk menemukan masjid itu. Sekain itu, menggunakan sepeda motor tidak begitu terjebak dalam kemacetan. Dengan kelihaiannya pun ia bisa menerobos cela cela arus kendaraan yang padat.
Beruntung, jalanan tidak begitu macet. Mungkin karena bukan jadwal orang berangkat kerja. Hal ini memudahkan perjalanan mereka. Mereka juga sampai di masjid tujuan lebih cepat dari pada waktu yang mereka perkirakan.
Rania dan Ning Nisa duduk di masjid. Mereka segera mengambil wudlu karena sebentar lagi masuk waktu dzuhur. Untunglah di masjid tersebut terdapat mukena. Mereka langsung memakainya dan menjalankan sholat sunah sambil menunggu imam datang.
Dzuhur telah usai. Hari Rania merasa tidak tenang. Ia sedikit gugup. Tiba tiba saja rasa itu hadir padanya. Sepertinya Ning Rania yang berada di sampingnya juga menyadari akan kegugupannya.
Rania duduk di depan masjid bersama Ning Nisa. Ia masih menunggu seorang ikhwan yang mengirimkan surat misterius kepadanya selama ini. Menit demi menit berlalu, namun tanda tanda kedatangan ikhwan itu tidak kunjung datang juga.
Anak anak yang sepertinya akan belajar al-qur’an sudah mulai banyak yang berdatangan. Namun sepertinya belum ada satu pun pengajar yang datang. Rania pun mulai bosan menunggu. Ia hendak mengurungkan niatnya untuk mengetahui siapa pengirim surat itu. Ning Nisa mencegahnya. Ia berkata sebentar lagi pasti akan ada yang datang dan akan menjawab penasaran mereka berdua selama ini. Rania mau tidak mau menurut. Sebenarnya ia sudah benar benar ingin pergi dari masjid ini. Bisa jadi ini karena rasa groginya yang terus bertambah seiring bertambahnya detik yang berjalan. Sepertinya jawaban penasaran Rania dan Ning Nisa akan segera terjawab. Seorang ikhwan terlihat berjalan mendekati mereka.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabaarkatuh..” ikhwan itu mengucapkan salam kepada Rania dan Ning nisa. Usianya sepertinya tidak jauh dengan Rania. Rania yang menunggu kedatangan seorang ikhwan pun bertambah grogi. Malu bercampur deg degan. Suasana disekitarnya pun terasa hening. Padahal anak anak sudah memulai belajar al-qur’annya dnegan pengajar mereka. Suara suara itu seakan senyap, tidak terdengar di telingan Rania.
“wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Ning Nisa. Rania bahkan masih terbengong. Ning Nisa menyikutnya dengan lengan bermaksud untuk menyadarkannya.
“Eh Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabakaratuh” Rania terlihat gelagapan. Ia merasa malu. Ternyata ia baru saja melamun.
Ikhwan itu pun mengangkat tangannya untuk menutupi bibirnya. Ia terlihat sedikit tersenyum. Sepertinya karena sikap Rania yang terlihat egitu grogi.
“Maaf, apakah anda yang mengirimkan surat ke Rania selama ini?” ucap Ning Nisa segera melempar pertanyaan. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa pengirim surat itu.
“Iya benar sekali. Saya sendiri yang mengirim surat itu”
Ning Nisa melepaskan nafasnya dengan lega. Sementara Rania masih terdiam. Tidak ada kata yang ia keluarkan sepatah kata pun.
“Sebentar kalian jangan salah paham dulu. Memang aku yang mengirim surat. Tapi aku mewakili temanku untuk menyampaikan rasanya.”
“Maksudnya?” kini Rania mulai angkat bicara.
“hm?” respon Ning Nisa
“Begini, saya mengetahui teman saya sering membicarakan ukti Rania kepada saya. Beliau juga sudah ingin menikah. Beliau jatuh hati dengan ukti Rania. Namun beliau selalu mengelaknya.”
“Bagaimana antum bisa tahu kalau beliau suka sama saya?” Rania sedikit terkejut mendengar pernyataan laki laki di depannya.
“Tentu saja saya tahu. Beliau selalu menceritakan ukhti kepadaku. Namun setiap saya tanya beliau selalu mengelak. Dan ketika saya menyebut nama ukti di depannya ia selalu tersipu malu. Wajahnya memerah dan terlihat salah tingkah”
“Lantas mengapa anda yang mengirimkan surat kepada Rania? Bukan ia yang mengirimnya? Ning Nisa terus menggali informasi. Ia tidak mau jika Rania hanya untuk permainan mereka.
“Nah hal ini karena ia tidak mau mengungkapkan rasanya pada ukhti Rania. Saya sebagai teman dekatnya merasa geget sendiri. Jadi saya berinisiatif mengirimkan surat kepada ukti Rania.”
“Jujur yang menulis surat itu saya, tapi saya mengungkapkan perasaan sahabat saya” lanjutnya menjelaskan.
“Mari kita masuk ke dalam bertemu dengan sahabat saya” ikhwan itu mengajak Rania dan Ukti Nisa masuk ke masjid.
Ning Nisa segera melangkah berjalan. Rania mengikutinya dari belakang dengan merasa malu. Sementara ikhwan tersebut sudah berjalan di depan Ning Nisa beberapa meter.
Tampak segerombolan anak anak sedang belajar ilmu tajwid. Mereka tampak mendengarkan dan menyimak. Mereka terduduk rapi dan pandangannya menuju ke depan. Di depan mereka tampak seorang pria sedang menulis di papan tulis hitam dengan menggunakan kapur.
“Ham..” suara ikhwan itu yang sudah berjarak dekat dengan pengajar itu menoleh.
“Gimana Fin?” jawabnya sembari penyebut nama temannya. Ya nama ikhwan pengirim surat itu adalah Fino. Sahabat dekat dari laki laki yang tengah memegang kapur.
Fino tersenyum.
“Ilham?” ucap Ning Nisa.
“Eh ia Ning” jawabnya malu malu. Di tambah di samping Ning Nisa terdapat Ukhti Rania. Sosok perempuan yang ia idam idamkan secara diam diam.
Ternyata pemuda itu adalah Ilham? Ilham ini adalah teman dekat dari Faris yang menyampaikan maksud baiknya kepada abah untuk meminang Rania.
“Benar kamu mempunyai niat baik dengan sahabatku Rania?”
Ilham menunduk. Ia merasa sangat malu. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Rania pun demikian. Ia merasa malu dan grogi. Kalau tidak salah Rania pernah melihat Ilham.
“Benar Ning” jawab Ilham sambil terus menunduk.
“Mohon maaf Ning, saya tidak pernah berniat menyampaikan perasaan saya. Tapi saya tidak bisa berbohong”
“Iya tidak masalah. Tidak ada salahnya. Cinta tidak bisa di tolak dan di usir secara paksa.”
Ilham tampak mencubit lengan temannya itu. Ia berbisik ke temannya, yang ternyata bisikannya masih dapat di dengar oleh Rania dan Ning Nisa.
“Mengapa mereka bisa tahu kalau aku ada rasa dengan Ukti Rania, mengapa mereka bisa berada di sini?”
“Maaf aku yang menghubungi mereka”
“Maaf Ning, maaf Ukti Rania” ucap Ilham. Sementara Fino yang disampingnya sedikit tertawa. Ia merasa puas. Akhirnya perempuan yang di sukai oleh sahabatnya itu bisa mengetahui perasaan Ilham, sahabat dekatnya yang selalu menolak ketika ia perintahkan untuk mengungkapkan perasaannya.