Chapter 24 (Introgasi dari Ning Nisa)

1074 Kata
Ning Nisa meminta Ilham untuk menjelaskan lebih jelas mengenai perasaannya kepada Rania. Ning Nisa sudah mengenal Ilham sejak lama. Salah satu santri putra di pondok pesantren yang orang tuanya asuh. Ning Nisa juga sudah terbiasa berkomunikasi dengan Ilham. Beberapa kali ia menjadi ketua acara internal pondok yang mengharuskan rapat dengan panitia salah satunya Ning Nisa yang selalu memberi kritan dan masukan dalam menyiapkan suatu acara. Ning Nisa merupakan orang penting di setiap acara. Karena itulah Ning Nisa sudah tidak asing lagi dengan Ilham dan tidak merasa canggung. Selesai Ilham mengajar, Ning Nisa memintanya untuk menjelaskan secara detail. Banyak sekali pertanyaan di benaknya yang harus Ilham jawab. Di tambah Ning Nisa juga mengetahui kalau yang menemani Faris ketika menemui abah adalah Ilham. Ning Nisa dan Rania terduduk di masjid sambil menunggu Ilham selesai mengajar. Ning Nisa tidak mau menunda di lain waktu untuk mengetahui semua pertanyaan yang sudah mengganggu pikirannya mengenai Ilham. Ia juga tidak pernah menyangka kalau Ilham akan jatuh hati pada Rania. Tiba waktunya Ilham selesai mengajar. Tepat sekali ia selesai mengajar, waktu sholat ashar datang. Ning Nisa dan Rania bersiap siap untuk mengikuti sholat ashar. Selepas itu Ning Nisa akan langsung mengintrogasi Ilham dengan berbagai pertanyaan yang sudah berderet di kepalanya. Empat orang sudah terduduk di dalam masjid. Ukti Nisa, Rania, Ilham dan Fino. Ukhti Nisa mulai tidak sabar untuk melontarkan pertanyaannya satu demi satu. “Sebelumnya maaf, aku ingin menanyakan berbagai pertanyaan. Aku sangat penasaran” “Baik Ning Nisa” jawab Ihlam yang sedikit tenang. Dalam hatinya ia sedikit grogi. Bukan karena ia berhadapan dengan Ning Nisa. Ia sudah berkali kali berhadapan dengan Ning Nisa untuk menyampaiakan masalah terkait acara. Gejolak hatinya terjadi justru karena ada Rania di tempat. Sosok wanita yang ia kagumi. Kini ia hanya berjarak beberapa meter daja darinya. “Sejak kapan kamu menyukai Rania? Bukankah kamu tahu kalau Faris juga menaruh rasa pada Rania?” “Iya Ning saya tahu. Saya sudah menaruh rasa pada Rania sejak lama. Tetapi saya tidak berani mengatakannya kepada siapapun. Saya hanya memendamnya” “Lalu mengapa engkau tidak mengatakan pada Faris? Bukankah kalau cinta perlu di perjuangkan?” “Mohon maaf Nin, saya jatuh hati pada ukhti Rania sebelum Faris mulai cerita kepada saya. Namun saya enggan menceritakannya. Hingga datang waktu dimana Faris cerita kepada saya kalau ia menyukai ukti Rania. Sejak itu saja mencoba untuk menghilangkan perasaan saya ini. Saya merasa Faris lebih cocok bersanding dengan Rania. Bukan saya” “Lalu mengapa Fino bisa mengetahui kalau kamu ada rasa ke Rania?” “Maaf Ning, sejak Faris bercerita kepada saya mengenai perasaannya ke ukhti Rania, saya sering uring uringan. Emosi saya kadang tidak bisa di kontrol. Fino merasa ada yang tidak beres dengan saya. Hingga suatu waktu saya keceplosan kalau saya sedang patah hati” “Nah saya juga di minta Faris sebagai teman dekatnya untuk menemaninya bertemu dengan abah untuk menyampaikan maksud baiknya. Disitu saya mencoba bahagia, walau sebenarnya di balik wajah saya hati saya teriris. Tapi saya sadar. Faris lebih cocok dengan ukhti Rania.” “Jadi kamu merasa tidak enak dengan teman dekat kamu?” “iya ning saya merasa sangat tidak enak. Sebelumnya saya juga tidak pernah bercerita kepada Faris kalau saya menyukai Rania. Faris tiba tiba bercerita mengenai perasaannya. Disitu saya berpikir saya yang harus mengalah” “Benar Ning..” jawab Ilham. “Perasaan kamu serius dengan Rania?” “Serius Ning. Tapi sekarang saya sadar ukti Rania sudah di khitbah orang lain. Jadi saya akan segera menghapus perasaan saya ini.” Fino dan Rania sedar tadi hanya terduduk mendengarkan obrolan yang sedikit tegang antara Ilham dan Ning Nisa. Kini Ning Nisa beralih kepada Fino. Ia ingin memastikan jika yang di katakan Ilham benar. Tidak mengarang demi menjawab pertanyaannya. “Maaf Fin, apa benar semua yang dikatakan Ilham?” Fino kaget menerima pertanyaan dari Ning Nisa. Ia tidak menyangka kalau ia juga di jadikan narasumber oleh Ning Nisa. Di gempur dengan berbagai pertanyaan. Ning Nisa seperti layaknya wartawan yang terus menggali dan menggali informasi dari narasumber yang ada. “Benar sekali Ning.” “Untuk masalah surat itu sendiri, saya yang berinisiatif. Ilham juga tidak mengetahui jika saya mengirimkan surat. Saya mengirimkan surat juga sebelum Faris bercerita kalau ia akan menemui abah.” lanjutnya menjelaskan. “Saya juga tidak tahu kalau ternyata Faris seserius itu Ning. Saya juga tidak tahu kalau Faris menaruh hati pada Rania. Hanya Ilham saja yang saya tahu. Saya merasa geram. Jadi saya beranikan mengirimkan surat seakan pengirimnya adalah Ilham” sambungnya lagi. “Jadi kamu mengirim surat posisi kamu tidak tahu kalau Faris menaruh hati pada Rania?” “Tidak sama sekali Ning. Saya malah baru tahu sekarang ini.” “Saya tidak sabar supaya ukhti Rania mengetahui perasaan Ilham. Makanya saya mengirimkan surat untuk yang kedua kalinya Ning..” lanjut penjelasannya. “Baiklah kalau demikian.” “Ran..” kini Ning Nisa beralih kepada Rania. “Kamu bagaimana dengan Ilham? Apa kamu menerimanya?” lanjut Ning Nisa. “Ning Nisa sudah mengetahui semua kepahitan yang sudah aku lalui. Salah satunya, ujian jodoh” jawab Rania. “Aku tidak mau berharap lagi. Jawabanku sama seperti sebelumnya Ning. Aku serahkan pada abah dan Ummi serta ayah dan ibuku. In Syaa Allah jawabanku tergantung keputusan mereka. Aku yakin mereka memutuskan yang terbaik untukku” jelas Rania. “Baik kalau begitu. Aku paham apa yang kamu rasakan Rania” “Ilham jika kamu serius, segeralah untuk datang ke abah. Saya sekalian memberi tahu jika Faris tidak jadi mengkhitbah Rania. Jika engkau yakin segeralah menemui abah.” Fino terlihat sangat kegirangan. Akhirnya usaha yang ia lakukan ada sisi terang. Ia sangat menginginkan sahabatnya itu bersatu dengan orang yang ia sukai. Ilham pun tampak bahagia dengan senyum kecilnya. Raut wajahnya tampak merona. Rasa bahagia bercampur malu bertambah menyelimutinya. “Kalau kamu serius dengan Rania dan mau menerima segala masa lalunya segeralah menemui abah” ucap Ning Nisa sekali lagi. “Baik Ning, baik, saya akan menyegerakan. Terima kasih banyak Ning” “Sama sama. Saya dan Rania pamit dulu” “Iya Ning terima kasih banyak.” ucap Ilham “Assalamu’alaikum..” “Wa’awalikum salam warahmatullahi wabarakatuh..” jawab Ilham dengan senang. Ning Rania berdampingan dengan Rania keluar dari masjid menuju motornya yang sudah lama terparkir. Ilham dan Fino terus melihat ke arah mereka dan menyaksikan mereka menghilang. Menjauh hingga tidak terlihat lagi oleh panjangan mereka. Sepeda motor yang Ning Nisa kendarai berhasil membawa mereka pergi menjauh dan menghilang dari jangkauan pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN