Chapter 25 (Restu Abah Yai)

1090 Kata
Ilham tidak menyangka kalau Fino melakukan hal yang menurutnya gila. Jujur saja Ilham merasa sangat terkejut kalau ia melihat Ukhti Rania yang tiba tiba datang menghampirinya. Rasanya Ilham ingin menampar temannya itu. Ia sudah berhasil membuatnya begitu malu. Tapi berkat kelakuan konyolnya itu akhirnya ia mendapat kesempatan untuk bisa menjadikan Rania teman hidupnya. Tidak disangka juga. Faris membatalkan untuk mengkhitbah Rania. Padahal ia tahu benar jika Faris begitu terpesona dan jatuh hati pada Ukhti Rania. Memang semuanya tidak bisa di prediksi. Harusnya Ilham berterima kasih pada Fino. Ya secara tidak sengaja, ia berjasa juga dalam hidupnya. Memang sahabatnya yang satu ini terkadang berbuat seenaknya sendiri. Namun untung kali ini perbuatannya tidak merugikannya. Fino sungguh memiliki keusilan tingkat dewa. Hati Ilham kini berbunga bunga. Ia menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan abah yai. Pengasuh pondok Pesantren Al-Iman yang tidak lain adalah ayah dari Ning Nisa. Seorang perempuan yang sudah mengintrogasinya siang tadi. Di depan cermin ia berdiri. Melihat dirinya lewat pantulan cermin. Ia mencoba untuk berbicara beberapa patah kata. Ia membayangkan sedang berada di depan abah yai dan menyampaikan maksud baiknya. Fino yang melihat tingkat temannya itu tidak berhenti tertawa. Ia menggoda temannya itu yang bersikap seolah di depan abah yai. Ilham pun gagal fokus dan akhirnya ia menyerah. Menjengkelkan sekali Fino ini. Ya begitulah Fino. Ada saja ulahnya. Baru saja melakukan hal yang membuatnya berterima kasih, kini Fino sudah mulai membuat jengkel hatinya. Dalam kejengkelan yang di sebabkan oleh Fino, pikirannya mengenai tragedi surat terlintas di kepala Ilham. Ia penasaran bagaimana ide gila itu bisa muncul di kepala kawannya itu. “Fin.. pikiran dari mana sampai kamu menulis surat buat ukhti Rania?” “Yah yah yah.. katanya marah, kepo nih kepo” “Serius Fin aku nanya” Ilham mulai geram dibuatnya. Ternyata keusilan Fino hari ini belum berakhir. “Yah gini bro, gue geget aja sama lo yang ngga kunjung mengungkapkan perasaan lo ke ukh Rania. Kan gue akhirnya kesel sama lo” “Eleh, gue gue elo elo. Sejak kapan ngomong kamu gitu” Ilham tertawa mendengar ucapan temannya itu. “Ya, biar gaya aja gitu” Fino pun ikut tertawa. “aku kasih tau. Ngga tau dari mana pikiran usil ku tiba tiba keluar aja gitu. Habisnya liat kamu ngga ada gerakan sama sekali. Untung saja aku ngga tau kalau Faris menaruh rasa juga. Kalau aku tahu ngga bakalan aku bersikap demikian. Apalagi Faris sudah sampai abah. Kalau benar benar sampai jadi khitbah nih, huh bakal kena semprot nih dari abah yai” Bukannya menanggapi, Ilham malah tertawa mendengar penjelasan dari Fino. Gaya bahasanya dan cara menyampaiannya berhasil membuat perutnya geli tertawa. “Oke lah makasih. Sudah jangan ganggu aku lagi ya. Mau latihan berhadapan dengan abah yai lagi” Ilham menuju ke depan cermin lagi. Sepertinya ia benar benar merasa grogi untuk berbicara kepada abah. Bukannya ia sudah terbiasa berbicara dengan abah? Ya mungkin saja ini karena yang akan ia sampaikan berhubungan dengan hatinya. Hati yang tertanam di dalam dirinya. *** “Assalamu’alaikum yai..” “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..” “Punten yai, Ilham datang kemari bertemu yai ingin menyampaikan suatu hal yang penting” ilham berbicara dengan hati hati. Ia nampak beberapa kali menelan air liurnya. Sepertinya rasa groginya masih berhasil menguasai dirinya. “Oh iya silahkan silahkan nak” Ilham menarik nafas. Seakan ia mengumpulkan energi untuk memulai pembicaraan. Terliahat sesekali ia menghembuskan nafas. “Punten yai. Saya memiliki niat baik dengan ukti Rania. Kalau menurut yaiu bagaimana?” “Loh loh loh, perasaan kemarin baru Faris. Sekarang tinggal Ilham..” “Nggih yai” Ilham sedikit tersenyum untuk menghilangkan rasa groginya yang semakin melanda. “Benar kamu memiliki niat baik ke nduk Rania? Yakin kamu siap menerima semua masa lalunya yang tidak secerah sekarang?” “In Syaa Allah Ilham sudah siap yai. Ning Nisa juga sudah menanyakan demikian ke Ilham. In Syaa Allah ilham sudah mantap untuk niat Ilham dengan ukh Rania. ” “Baiklah kalau begitu. Yai merestui keinginanmu nak. Tapi yai minta, bicarakan baik baik terlebih dahulu dengan keluargamu. Diskusikan secara musyawarah. Jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang lagi. Kasihan nduk Rania. Pastikan dulu restu dari orang tua dan keluarga. Baru melangkah ke tahap selanjutnya” Yai menjelaskan panjang lebar kepada Ilham. Jujur abah yai masih merasa prihatin dengan yang di alami Rania tempo hari. “Baik yai. Terima kasih banyak atas restunya dan nasihat nasihatnya.” “Iya, semoga di lancarkan.. ” “Terima kasih banyak yai, maaf mengganggu waktunya. Ilham dan Fino izin pamit yai” “Iya, ingat pesan pesan yai” sekali lagi abah mengingatkan santri di depannya itu. “Iya yai,” “Assalamu’alaikum yai” “Wa’alaikum salam” Ilham dan Fino mencium dengan penuh kehormatan tangan gurunya itu. Laki laki yang sudah bisa dikatakan berumur yang sudah begitu berjasa dalam hidupnya. Sosok yang sudah mengajarkan berbagai ilmu keagamaan yang sangat berguna baginya dan seluruh santri di Pondok Pesantren Al-Iman. *** Di dalam kobong ilham serasa sangat kegirangan. Akhirnya restu dari abah yai sudah ia kantongi. Kini langkah selanjutnya ia harus berbicara dengan orang tuanya. Ia juga akan menceritakan apa yang Ning Nisa katakan kepadanya. Kini ia sangat merasa lega. Rasa groginya sudah berhasil ia lewati. Ilham membuka lemarinya. Ia mengeluarkan beberapa potong pakaian yang tersusun rapi di lemari. Ia memindahkannya ke dalam ransel punggungnya. Fino yang kini sedang merebahkan badan, melihat apa yang di kerjakan temannya itu membuatnya tertarik untuk membuka obrolan. “Ham, ngapain kamu? Mau mukim?” “Ya kali mukim. Belum lah. Mukimku nanti nunggu nikah sama ukh Rania” “Wuih, sekarang sudah berani bilang gitu wkwk” Fino terus menggoda temannya yayng kini berani ngomong terang terangan pasal ukh Rania. Mungkin karena ia merasa langkah untuk mendapatkannya tidaklah begitu sulit baginya. Tinggal beberapa proses yang harus ia lalui. “Ya mau balik kampung aku. Aku mau segera membicarakan dengan keluargaku. Ngga enak ngomong lewat telepon” Ilham masih terus saja memasukan baju bajunya. “Iya sudah dah terserah kamu.” “Ati ati pulangnya. Jangan lupa makanannya kalau balik ke sini” lanjut Fino. “Lah makanan saja yang kau ingat” ucap Ilham. “Siap. Yang penting doakan semua lancar. Balik dulu ya” sambungnya. “Lah sekarang baliknya?” Fino tidak menduga jika Ilham akan pulang ke rumah detik ini juga. “Mau nunggu tahun depan, ngga lah. Balik dulu aku” “Hati hati” Ilham menggendong ransel di punggungnya. Ia segera meninggalkan kobongnya dan menuju ke parkiran. Tidak butuh waktu lama ia sudah jauh pergi dari lingkungan pesantren dengan bantuan sepeda motornya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN