Ning Nisa mendapat kabar dari Ilham. Ia memberitahukan apa yang terjadi. Setelah berdiskusi dengan keluarganya, dengan beruntungnya mereka setuju semua. Ilham juga sudah menceritakan masa lalu Rania dan latar belakangnya. Mereka menerima keadaan Rania seluruhnya. Ning Nisa bersyukur. Akhirnya ada juga sosok Ahmad yang lain. Yang mau nemerima Rania apa adanya.
Ilham akan menyegerakan untuk mengkhitbah Rania. Kabar ini ternyata telah menyebar ke seluruh lini lingkungan pondok pesantren. Hal ini membuat Ning Nisa terkejut. Bagaimana kabar sebesar ini bisa segera meluas dengan cepat. Ning Nisa sangat tidak menyangka, ternyata kabar ini sudah menjadi pembicaraan utama yang hangat di kalangan para santri.
Rania juga harus bertubi tubi menerima pertanyaan dari santri putri lainnya. Berbagai pertanyaan selalu mencecarnya. Sosok Ilham yang seakan seorang arti santri pondok membuat hampir semua sanri mengetahuinya. Baik santri putra sendiri maupun santri putri. Sosoknya yang sering menjadi panitia dan tampil di depan publik ketika acara mengenalkan dirinya pada orang lain tanpa sengaja.
Berbeda dengan Rania. Ilham tidak mengetahui sama sekali mengenai kabar dirinya yang akan menghitbah Rania sudah tersebar. Ia masih fokus di rumahnya untuk mempersiapkan khitbah dan berkunjung ke rumah Ukhti Rania.
Ning Nisa merasa sedikit jengkel. Ia merasa kasihan juga pada Rania. Ia sering menyaksikan Rania yang terus di kejar dengan berbagai pertanyaan yang menuntutnya untuk menjawab. Bagaimana nanti jika Ilham mengurungkan niatnya? Sungguh itu yang membuat Ning Nisa begitu khawatir pada Rania.
“ Assalamu’alaikum Ham, apa kamu menyebar niat baik kamu kepada seluruh santri? Rania selalu di cecar berbagai pertanyaan” tulis Ning Nisa pada whatsappnya dan mengirimkan ke Ilham.
“Wa’alaikumsalam Ning. Tidak ning. Saya tidak memberi tahu siapapun”
“benarkah ning ini menjadi pembicaraan di kalangan santri?” ketik Ilham kemudian.
“Benar. Sekarang Rania selalu di kejar dengan berbagai pertanyaan oleh santri putri. Sudahlah aku hanya ingin memastikan siapa yang sudah memberitahu pada para santri”
“Makasih banyak ning atas infonya. Jujur saya tidak memberi tahu orang lain. Yang tahu hanya lingkup kecil saja.”
“eh Ning bisa jadi Fino yang sudah membicarakan dengan santri lain. Kadang dia bertingkah konyol” lanjut Ilham dalam pesannya.
“iya sudah. Aku mohon segerakan khitbahnya supaya Rania berhenti di hantui oleh pertanyaan pertanyaan” tulis Ning Nisa. Ning Nisa meletakan kembali ponselnya. Ia tidak habis pikir dengan Fino. Jalan pikirannya terkadang tidak bisa di tebak.
“Rania bersabarlah..” ucap Ning Nisa pada Rania yang duduk di sebelahnya.
Kini Ning Nisa dan Rania sedang berada di kamar Ning Nisa. Ning Nisa sendiri yang menjemputnya karena ia merasa kasihan dengan Rania yang tanpa absen selalu menjadi objek pertanyaan.
Hari ini cukup melelahkan. Ning Rania ikut pusing memikirkan Rania. Rania sepertinya tidak masalah dengan gemburan pertanyaan yang menyerangnya. Namun Ning nisa yang merasa tidak tega sehingga ia mengajaknya ke kamarnya. Untuk menghindari santri putri.
***
“Nduk..”
“Iya bah”
Abah menyapa Ning Nisa yang sedang memasak mie instan di dapur. Kebetulan hari sudah malam sehingga sudah tidak ada santri putri di sana.
“Bagaimana bah?” menoleh ke abah yang semakin dekat dengannya.
“Begini nak. Segera bersiap ya. Nanti malam akan ada seseorang datang kemari untuk menghitbah Nisa”
“Apa bah?” Nisa seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan abahnya. Baru saja hatinya lega, walaupun ia tidak bersama Faris setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bisa menjadi pendamping hidup Faris. Sekarang justru malah akan ada sosok yang menghitbahnya, Serumit itukah yang namanya rasa?
Ning Rania tidak mungkin juga untuk abah. Mau tidak mau ia harus mempersiapkan kedatangan seseok laki laki yang akan menghitbahnya. Semoga saja jawaban abah nantinya sama dengan jawabannya. Semoga abah akan menolak. Itu yang ada di pikiran Rania.
***
Hari pernikahan Ning Nisa tinggal besok hari. Bersiapan yang sudah dilakukan tiga hari lalu membuat seluruh santri terkejut bukan kepalang. Diam diam Ning Nisa akan melangsungkan pernikahan. Santri putri masih dibuat penasaran dengan sosok yang akan menikahi Ning Nisa. Pasalnya ia tidak pernah memberi tahu kalau ia akan melangsungkan pernikahan. Semua terasa tiba tiba. Bahkan Rania yang dekat dengannya, ketika Rania bertanya Ning Nisa engga untuk menjawabnya. “Tunggu saja waktunya. Nanti kamu juga akan mengetahuinya.” Jawab Ning Nisa ketika ditanya mengenai calonnya.
Hari H telah tiba. Akad akan segera dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Iman. Rania masih belum mengetahui juga siapa yang akan menjadi imam sahabatnya ini. Putri dari pengasuh pondok tempatnya menuntut ilmu agama.
Rania menemani Ning Nisa di kamarnya. Ning Nisa baru akan di pertemukan dengan pengantin pria setelah akad di laksanakan. Hal ini juga yang membuat Rania belum mengetahui juga siapa pengantin pria.
Santri putri dan putra di luar yang menyaksikan akad terdengar ramai. Suaranya yang mengucap syukur dipenuhi dengan tawa membuat Rania semakin penasaran akan sosok imam Ning Nisa. Wajah Ning Nisa juga tampak berseri seri dan cantik dengan balutan riasan di wajanya. Rania mengucapkan syukur. Sepertinya Ning Nisa juga menyukai sosok pengantin pria. Alhamdulillah Ning Nisa tidak terpaksa. Hal ini membuat kebahagiaan tersendiri bagi Rania.
“Qabiltu nikahaha wa tazwujaha Nisa Khoirunnisa binti Ibrahim alal mahril madzkur wa radhiitu bihi,wallahu waliyu taufiq (Saya terima Nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah”
“Alhamdulillah” rasa syukur di panjatkan di tempat akad. Rania dan Ning Nisa yang mendengar dari pengeras suara pun tidak luput dari rasa syukur. Rana memberi selamat pada Ning Nisa dan memeluknya. Ning Nisa pun menyambut pelukan hangat sahabatnya ini.
Kini tiba saatnya untuk pengantin wanita menemui pengantin pria. Ning Nisa yang di apit oleh Ummi Halimah dan Rania berjalan dengan berseri seri. Rania pun tidak sabar untuk mengetahui siapa sosok suami sahabatnya itu.
Rania terkejut! Namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya rasa terkejutnya itu. Ia bersikap sewajarnya. Ternyata pengantin prianya adalah Faris. Sosok yang batal menghitbahnya. Rania tidak merasa sakit hati. Kebetulan kala itu ia juga tidak begitu mengharapkan Faris. Di tambah sudah ada sosok yang siap menikahinya dekat dekat ini. Rania hanya tidak menyangka. Waktu berjalan begitu cepat dan jodoh tidak ada yang tahu. Mungkin seperti inilah skenario jodoh yang dialami Ning Nisa dan Rania. Ning Nisa yang membantu Faris dalam proses mengkhitbah Rania, ternyata di akhir Faris malah menghitbahnya dan menikahinya.
Rania bersyukur. Ia menatap ke Ning Nisa. Terpancar kebahagiaan yang bersarang di sana. Akhirnya sahabat dekatnya bahagia dalam pernikahannya. Rania berharap kebahagiaan itu juga segera datang kepadanya.
Di sisi pengantin pria tampak Ilham. Sosok laki laki yang In Syaa Allah akan segera menghalalkannya dekat dekat ini. Ilham melihat ke arahnya yang berada di dekat Ning Nisa. Tatapan Ilham membuat Rania malu dan salah tingkah.