Chapter 27 (Kabar Sedih)

1180 Kata
Sejak Ning Nisa menikah, kini Ning Nisa tidak berada di Pondok Pesantren Al-Iman lagi. Sekarang ia tinggal bersama suaminya di tempat yang baru. Faris memilih tinggal di lingkungan baru yang masih sedikit kurang pengetahuan agamanya. Faris memutuskan untuk berdakwah. Dari awal ia sangat ingin berbagi ilmu agama yang ia punya. Menjalankan salah satu sifat nabi, yaitu tabligh yang memiliki arti menyampaikan. Rania pun sudah di khitbah oleh Ilham. Rasa bahagia terselip pada dirinya. Satu langkah lagi untuk memiliki pasangan hidup yang sah akan ia lalui. Hari pernikahan pun sudah di bahas oleh kedua belah pihak. Ponsel Rania berdering. Ia segera meraihnya dengan segera. “Selamat siang, apakah benar ini dengan kak Rania?” “Selamat siang. Iya kak benar. Maaf ini dengan siapa ya?” Rania merasa kebingungan mendapat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Beberapa santri putri yang berada di kobong pun terlihat ikut menyimak pembicaraan Rania itu. “Mohon maaf sebelumnya, kami dari Rumah Sakit Siaga Medika. Izin mengabarkan, ibu anda kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis” PRAK!!! Ponsel Rania terjatuh. Rania tidak memperdulikan ponselnya yang masih tersambung dalam panggilan dengan pihak rumah sakit. Badan Rania lemas. Tubuhnya tidak bisa ia topang lagi. Ia terduduk di lantai dan bersender ke tembok. Tangisannya pecah. Tidak lama kemudian Rania tidak tersadarkan diri. Santri putri yang lainnya segera mendekat. Salah seorang santri putri memanggil Ummi Halimah. Mereka merasa panik dengan kondisi Rania. Mereka membaringkan Rania di atas kasur. Ummi Halimah datang tergopoh gopoh beberapa saat kemudian. Ia tampak membawa minyak kayu putih. Ummi Halimah meletakan minyak kayu puth di bawah hidung Rania persis. Ia berharap Rania segera siuman dari pinsannya. “Rania .. Ran..” panggil Ummi Halimah dengan lembut sambil terus berusaha menyadarkan Rania. “Rania..” Ummi Halimah terus berusaha untuk menyadarkan Rania. Salah seorang santri juga ikut membantu memijit Rania. Berharap Rania segera tersadarkan diri. Rania berusaha membuka matanya yang berat. Susah sekali untuk membukanya. Di matanya terasa seperti terdapat lem. Mengunci dengan kuat dan menyulitkan Rania untuk membukanya. Melihat Rania yang sedikit membuka matanya, Ummi Halimah meminta salah seorang santri putri yang berada di sana untuk membuatkan teh hangat untuk Rania. Semoga saja dengan bantuan teh hangat akan mempercepat Rania untuk pulih. “RAn?” Ummi Halimmah mencoba kembali untuk menyadarkan Rania setelah memberikan teh hangat dengan hati hati. “I..I..Iya ..U..Ummi..” Suara Rania terdengar sangat berat di dengarkan. Ia masih berusaha untuk membuka seluruh matanya yang terasa masih sangat berat. “Apa yang terjadi nak?” “Ummi...” “Ada apa nak..” “Ummi.. ibu Rania Ummi..” Rania yang sudah tersadarkan diri kini menangis. Suaranya terdengar sangat terisak isak. Ia terlihat masih sangat lemas. Matanya pun kini di banjiri dengan air mata yang terus berjatuhan. “Iya nak.. Istighfar, istighfar..” Rania mencoba menenagkan diri kembali. Ia menarik nafas dalam dalam. Berharap ia kuat. Santri putri yang lain melihat Rania dengan iba. “Ummi.. Ibu Rania kecelakanan” “Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un..” ucap Ummi Halimah. Santri putri yang lain juga terdengar melafalkan kalimat yang sama. “Sabar nak, sabar. Tenangkan diri dulu. Nanti Ummi akan segera siapkan mobil untuk ke rumah sakit tempat ibu Rania di rawat” *** Perjalanan dari Jawa Timur menuju kota Jakarta lumayan memakan waktu yang lama. Apalagi transportasi yang digunakan adalah mobil pribadi. Rania di bantu oleh Ilham yang mengemudikan mobil pribadi Abah yai. Fino duduk di kursi depan sebelah Ilham. Sementara di kursi belakang tampak Rania yang berada di antara dua santri putri. Rania masih terlihat sangat lemas dan terus menangis tidak kuasa menahan sedih yang begitu mendalam. “Mah...” lirih Rania pelan kala mendapati ibunya yang terbaring tidak tersadarkan diri. Rania begitu terasa terpukul melihat kondisi ibunya. Terlihat sosok ibunya terbaring dengan lemah. Rania tidak kuasa melihatnya. Ayahnya juga tampak terduduk di samping ibunya. Supaya tidak memenuhi kamar rumah sakit yang di huni ibunya Rania, mereka yang mengantar Rania menunggu di depan. Kondisi ibunya semakin hari tidak ada perubahan. Ia masih terus saja memejamkan mata. Tidak ada tanda tanda akan siuman. Rania dengan sabar menemani dari sampingnya. Rania selalu duduk di sana. Santri putri yang ikut mengantar sudah kembali ke pondok. Begitu juga dengan Fino. Di rumah sakit hanya tersisa Rania, ayah Rania dan Ilham. Pernikahan Rania dan Ilham sengaja di undur. Mereka tidak bisa melangsungkan pernikahan dengan kondisi ibu Rania yang belum sadar. Hati mereka masih diselimuti rasa kesedihan. Mereka akan menunggu ibu Rania siuman terlebih dahulu. Ibunya pernah bercerita kalau ia ingin menyaksikan pernikahan anak satu satunya itu. Dua hari kemudian, tangan bu Vinda, ibunya Rania bergerak perlahan. Rania yang terduduk di sampingnya dapat melihat dengan jelas. Ia segera memberitahu ayahnya. Ayahnya segera berlari memanggil perawat. Perlahan ibu Vinda membuka matanya. Dokter dan seorang perawat yang telah datang langsung memberi penanganan pada Ibu Rania. Alhamdulillah ibu Rania kini sudah siuman. Pancaran senyum terpancar pada Rania dan Ayahnya. Ilham juga merasakan bahagia. “Ran..” ibunya Rania langsung memanggil anaknya. Suaranya masih terdengar sangat lemah. “Iya mah..” Rania menunggu ibunya berucap kembali. “Ibu ingin menyaksikan pernikahan kalian..” tatapan ibu menuju ke Ilham yang berada tidak jauh dari tempatnya berbaring. “Iya mah.. mamah sembuh terlebih dahulu” “Mamah ingin menyaksikan secepatnya nak..” suaranya masih terdengar begitu lemah. “Mamah janji ya mamah akan sembuh?” Rania sangat tidak tega melihat kondisi ibunya. “Iya mamah janji. Tapi mamah ingin menyaksikan pernikahan kalian secepatnya” Ibunya terus memohon. Sebenarnya Rania ingin sekali melangsungkan pernikahan ketika semua orang keadaan sehat dan dalam posisi bahagia. Namun karena ini permintaan mamah sendiri ia menyanggupinya. “Iya mah sesegera mungkin” Rania tersenyum. Berharap ibunya bisa lega dan tidak memikirkan banyak hal. “Ilham, kamu bersedia menikahi Rania besok?” Ilham dibuat tidak percaya. Baru saja pernikahan yang seharusnya sudah mereka selenggarakan beberapa hari lalu gagal dan terpaksa di undur. Kini ibunya Rania sadar dan meminta untuk melangsungkan pernikahan esok hari. “Siap mah siap” Ilham menjawab dengan sigap. “Alhamdulillah” Semua persiapan untuk pernikahan sudah dibatalkan satu hari menjelang tanggal pernikahan mereka yang terpaksa di undur. Esok hari, pernikahan mereka akan dilaksanakan secara sederhana di rumah sakit. Mereka hanya akan menghubungi saksi dan penghulu. Ilham juga akan memberi kabar pada ayah dan ibunya. Berharap mereka juga bisa datang untuk menyaksikan pernikahannya. *** Pagi hari, sekitar pukul delapan. Rania dan Ilham akan segera melangsungkan pernikahannya. Pernikahan di adakan di kamar rumah sakit di mana tempat ibu Rania di rawat. Di ruangan tersebut hanya terdapat sedikit orang. Hanya berjumlah sembilan orang. Orang orang tersebut tidak lain adalah Rania, Ihlam, Orang tua Ilham, Orang tua Rania, Menghulu dan dua orang saksi. “Bagaimana para saksi sah?” “Sah” “Sah” “Alhamdulillah..” semua orang dalam ruangan itu mengucapkan syukur. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri” lanjut penghulu yang sudah menikahkan mereka. Ayah Rania memang sengaja meminta menikahkan anaknya. Hal ini karena ia takut tidak kuasa menahan tangis karena rasa bahagia bercampur sedih. Ia tidak tega melihat istrinya yang terbaring lemah. Ia duduk di samping istrinya menyaksikan pernikahan anak mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN