Mamah berangsur angsur keadaannya mulai membaik. Rania merasa lega. Kini ia merasa hidupnya akan segera dipenuhi rasa bahagia. Ia sudah mulai bisa tersenyum dengan lepas. Ayah Rania sudah harus pergi bekerja kembali. Atasannya sudah menanyakan kapan waktu ia kembali bekerja. Kemampuan ayah Rania dalam bekerja cukup baik sehingga keberadaannya sangat dinanti nantikan oleh atasannya tu.
Mamah sudah di izinkan di rawat di rumah. Rania meminta izin suaminya untuk tinggal bersama mamah terlebih dahulu. Rania tidak akan tenang jika ia jauh dari mamahnya yang masih dalam kondisi sakit dan perlu perawatan. Ilham mengetahui kecemasan Rania. Ia juga merasa tidak tega dengan mertuanya itu. Bersyukurnya Ilham juga sangat berbakti pada mertuanya layaknya kepada orang tuanya sendiri. Dengan restu suaminya, Rania bertekad untuk menjaga mamah hingga ia benar benar sehat.
Mereka memutuskan untuk merawat Ibunya Rania hingga kondisinya benar benar sembuh. Hari demi hari mereka jalani di rumah ibu Rania. Ilham yang memiliki usaha pemberian orang tuanya pun dapat menafkahi Rania. Salah satu cabang restoran keluarganya di berikan kepada Ilham anaknya. Kebetulan sekali cabang yang diberikan kepada Ilham berada di Jakarta. Jaraknya tidak begitu dekat dengan kediaman ibu Rania. Butuh satu jam perjalanan untuk menuju ke sana. Belum lagi jika jalanan ibu kota yang selalu dipenuhi kendaraan. Akan memakan waktu yang lebih lama untuk menuju ke sana.
Hari demi hari selalu Rania gunakan untuk merawat mamahnya dan mengurus pekerjaan rumah. Ia juga tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dari Ilham. Ilham yang sangat perhatian pada Rania mengerti keadaan Rania. Ia tidak pernah melarang Rania untuk berbakti kepada orang tua. Justru ia terkadang ikut membantu Rania ketika ia tidak pergi ke restoran. Ia hanya pergi ke restoran setiap dua hari dalam seminggu. Tentu saja Ilham memiliki banyak waktu luang. Waktu luangnya itu ia gunakan untuk membantu istrinya.
Mamah berangsur angsur mulai membaik. Kini hanya tinggal tangan kirinya yang masih tidak bisa digerakan. Namun kondisi badan mamahnya Rania sudah pulih.
“Nak, terima kasih sudah mau merawat mamah” Mamahnya mengucapkan terima kasih pada anaknya yang tengah menyapu lantai.
“Ngga mah, mamah butuh bantuan Rania. Rania tidak tega kalau tidak ada yang merawat mamah. Sudah seharusnya Rania berlaku demikian mah..”
Mamahnya tersenyum. Begitu juga Ilham yang tengah merapikan rak buku di ruangan yang sama. Mamah terduduk di sofa sambil memperhatikan acara televisi.
“Terima kasih banyak ya nak” mamah tersenyum bahagia.
***
“Mah. Mamah mau makan apa? Ilham mau keluar sebentar ada yang mau di beli” Ilham menawarkan ibu mertuanya itu.
“Apa saja nak..”
“Mamah mau makan apa, jangan apa saja. Ilham bingung mah” ia menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Iya sudah kalau kamu memaksa. Mamah mau makan sate nak. Sudah lama mamah tidak memakan itu” Akhirnya ibu Rania menyampaikan juga apa yang ia inginkan. Ini membuat hati ilham bahagia. Akhirnya ia punya kesempatan untuk membuat bahagia mertuanya itu.
“Baik mah. Tunggu ya, ada lagi yang mamah mau?” Ilham masih mencoba untuk menawarkan. Barangkali masih ada keinginan pada ibu mertuanya itu.
“Sudah cukup itu saja. Mamah hanya ingin itu.”
“Iya sudah. Ilham keluar dulu ya mah. Tunggu sebentar ya” Ilham berpamitan dengan ibu mertuanya itu. Ia mencium tangannya dengan penuh kehormatan. Ia menganggap Ibu Vinda, ibunya Rania sebagai ibunya sendiri. Ia sangat menghormatinya. Ia juga berterima kasih kepadanya sudah melahirkan sosok wanita yang sangat ia sayangi.
Rania tidak di suruh ikut keluar dengan Ilham. Ilham menyuruhnya untuk menjaga mamahnya. Jaga jaga kalau wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu membutuhkan sesuatu.
“Mah.. mamah mau apa, biar Rania bantu ?” Rania melihat mamahnya yang hendak bangkit dari duduknya. Ia tampak kesulitan karena tangan kirinya masih belum bisa juga untuk di gerakkan.
“Mamah mau ambil minum nak”
“Kenapa ngga bilang ke Rania. Biar Rania ambilkan. Rania juga sedang tidak ada pekerjaan kan mah” Rania tersenyum tulus pada mamahnya.
“Mamah ingin kamu istirahat nak. Sudah seharian ini kamu melakukan semua pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi tugas mamah” matanya sayu. Seorang ibu yang tengah sakit itu merasa tidak tega pada anaknya.
“Tidak mah. Rania belum cape. Rania kan sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah ketika di pondok. Sebentar ya mah Rania ambilkan.” Rania beranjak dari duduknya. Ia segera mungkin untuk mencukupi kebutuhan ibunya.
“Ini mah” Rania menyodorkan gelas kepada ibunya dengan tatapan penuh kesopanan. Rania sangat menghormati ibunya itu.
“Makasih sayang..” Ibu Vinda mengambil gelas itu dengan tangan kanannya dan segera meneguk habis isi gelas itu.
“Mah haus banget ya. Mau tambah lagi mah?” Rania merasa tidak enak pada mamahnya. Kemungkinan ibunya tu sudah merasa haus sedari lama namun enggan menyampaikan pada Rania. Rania merasa bersalah.
“Ngga nak. Kebetulan airnya sangat segar sehingga mamah ingin menghabiskannya” Ibu Vinda mencoba untuk menutupi faktanya. Ia melihat kesedihan pada wajah Rania. Ia tidak mau melihat anaknya merasa sedih dengan kondisinya.
“Iya sudah mah. Sebentar ya mah Rania siap siap ambil nasi. Sepertinya Mas ilham tidak lama lagi akan sampai di rumah”
Ibu Vinda menjawab dengan senyuman. Ia melihat ke Rania yang kini sudah berjalan menuju dapur. Mengambil beberapa piring dan Nasi yang masih hangat.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” ucap Rania dan Ibu vinda secara bersamaan.
Mas Ilham segera menyalami Rania dan mamahnya yang masih terduduk di sofa. Ia segera meletakan kresek yang ia bawa di kedua tangannya.
“Mas beli apa saja?” tanya Rania yang penasaran dengan apa yang di beli oleh suaminya itu.
“Ini mas beli sate sekalian mas beli martabak buat camilan.”
“Haduh perhatian bener ini mantu mamah. Tau saja kalau mamah suka martabak”
“Iya dong mah. Siapa dulu hehe” ucap Rania yang mencoba menanggapi. Mas Ilham hanya terlihat tersenyum melihat Rania dan ibu mertuanya bahagia.
Rania menyiapkan makanan. Ia mengambilkan suaminya nasi. Rania juga mengambilkan mamahnya nasi lengkap dengan lauk pauk yang tersedia di meja. Masakan tadi siang masih cukup untuk makan malam. Di tambah sate yang barusan di beli Mas Ilham.
Kali ini mereka tidak makan di meja makan. Mereka memilih untuk menemani mamah makan di sofa depan televisi yang tidak jauh dari letak meja makan. Suasana malam terasa sangat hangat di rumah kontrakan yang tidak begitu besar ini. Ya kini orang tua Rania tidak seperti dulu yang hartanya dapat di katakan lebih. Ekonominya kini hanya terbilang cukup untuk keperluan sehari hari dan mengontrak sebuah rumah.