Chapter 29 (Rumah Baru)

1158 Kata
Kini mamah Rana sudah semakin sehat. Keadaannya sudah pulih dan kembali sehat seperti sedia kala. Tangannya pun sudah bisa di gerakkan. Hanya menyisakan bekas luka jahitan. Hanya sekarang tangan kirinya kurang kemampuan untuk mengangkat bedan yang terlalu berat. Untung saja pekerjaan mamah bukan pekerjaan kasar. Kini mamah seorang staf kantor yang kerjanya berhadapan dengan laptop. Memang kini pekerjaan mamah tidak seperti dulu. Penghasilannya pun di bawah penghasilan pekerjaan yang dulu. Namun mama lebih nyaman untuk menjalani hidup. Ia tidak mau hubungan dengan suaminya terganggu lagi dengan kehadiran sosok lain yang mungkin saja dapat hadir tanpa pernah terduga. “Ran.. mamah sudah baikan. Sudah tidak apa jika kalaian sudah menginginkan rumah baru. Kalian sudah menemukan ruah impian kalian kan?” Ibu Rania membuka pembicaraan dengan anaknya. Ia sudah merasa tidak enak dengan putrinya itu. Mungkin saja putrinya itu sudah menginginkan untuk hidup dengan keluarga kecilnya. Sering sekali mereka membahas rumah yang akan mereka beli. Beberapa brosur juga tampak berada di rumah ini. Ada lebih dari tiga buku yang berisi tentang penjualan rumah. “Beneran ini mamah sudah tidak apa jika Rania tinggal ?” “Tidak apa sayang. Mamah sudah sehat. Mamah juga sudah bisa bekerja kan. Itu tandanya mamah sudah sehat” ia menjelaskan supaya anakanya. Ia sangat ingin anaknya dapat mengatur rumah tangganya sendiri. Ia juga ingat, dahulu ketika ia baru menikah, ia sudah sangat ingin tinggal berdua dengan lekaki yang baru saja menjadi suaminya. “Beneran mah?” Rania memastikan keputusan mamahnya dengan ragu agu. Ia takut kalau sebenarnya mamahnya masih butuhh bantuannya. “Benar. Eh mamah mau liat dong rumah pilihan kalian..” Ibu Vinda, ibunya Rania begitu antusias ingin mengetahui rumah yang di inginkan anaknya. “Kalau yang ini bagaimana mah?” Rania menunjukan salah satu gambar rumah yang ada pada buku di depan mereka. Rumahnya terlihat tidak begitu besar namun terlihat sangat asri dan sejuk. “Bagus nak..” Ibu Rania tersenyum. “Sebenarnya Rania punya dua pilihan mah.. Rania dan Mas Ilham masih bingung memutuskan yang mana” “Loh, ada lagi pilihannya? Boleh mamah liat juga?” Rania membuka lembaran lembaran buku tersebut. Gambar berganti gambar. Hingga ia berhenti pada salah satu halaman. “Nah yang ini mah. Bagaimana?” Rania begitu antusias menunjukan pada ibunya itu. “Duh.. Ini juga bagus nak..” Rumah pilihan kedua ukurannya lebih besar dari pilihan yang pertama. Di depan rumah tersebut juga terlihat begitu asri dengan halaman yang yang luas dan di sebelah samping kanannya terdapat taman kecil. “Bingung mah Rania mau ambil yang mana..” “Putuskan lagi dengan Mas Ilham..” mamah tersenyum melihat ke putrinya. Ia bersyukur putrinya mendapatkan kebahagiaan setelah melalui banyak cobaan yang menimpanya. Kini ia lega melihat nasib putrinya. Ia tidak perlu khawatir dengan putri kesayangannya itu. Hari ini mereka hanya di rumah berdua saja. Kebetulan hari ini jadwal Ilham untuk memantau restorannya. Rania tidak sabar untuk menyampaikan kabar ini pada Mas Ilham suaminya. Ia sudah sering membicarakan kalau ia ingin memiliki rumah pribadi. Tabungan Mas Ilham sudah cukup untuk membeli rumah yang mereka impikan. Tabungan dari laba restoran yang Mas Ilham kelola sudah mencukupi untuk mendapatkan rumah yang mereka impikan. *** “Mas sudah pulang?” ucap Rania sambil berjalan mendekati Mas ilham. Ia mencium tangan suaminya itu. Ia sedikit terkejut karena Mas Ilham pulang lebih awal dari pada biasanya. “Alhamdulillah sudah ini” Mas Ilham membalas dengan senyum. “Tumben Mas..” Rania masih penasaran dengan alasan Mas Ilham yang lebih awal. “Kebetulan hari ini ada borongan buat pesta. Dan lumayan makanan habis di borong. Lumayan rezeki tidak di duga. Keluarga penjabat mengadakan syukuran di sana” “Alhamdulillah, rezeki tidak ke mana ya mas” “Iya. Alhamdulillah. Allah maha baik..” “Mas mau minum apa biar Rania buatkan” Rania menawarkan suaminya yang baru sampai di rumah. “Air putih saja.” Ia menjawab dengan senyum. “Benar mas?” “Iya, Mas ngga mau merepotkan kamu” “Tidak repot sama sekali mas..” Mas Ilham tersenyum. Ia sangat menyayangi Rania istrinya itu. “Benar. Mas hanya pengin air putih” “Tunggu ya mas” Rania merespon dengan senyum. Ia segera masuk ke dalam untuk mengambilkan segelas air putih untuk suaminya. *** “Mas.. Rania ingin membicarakan sesuatu mas.. semoga mas suka” “Apa yang mau di bicarakan? Sepertinya kamu tidak sabar sekali untuk menyampaikan” Ilham begitu penasaran dengan apa yang hendak Rania katakan. “Mas, Ibu Rania sendiri yang bilang pada Rania, Rania untuk menyegerakan tinggal di rumah baru” “Maksud kamu tinggal di rumah kita??” mata Ilham terbelahak. Pernyataan dari Rania bagaikan hadiah besar untuknya. Ia sudah sangat mengingkan untuk tinggal berdua dengan Rania. “Iya mas..” Rania tersenyum manis kepadanya. Rasanya Ahmad sangat ingin mencubit pipinya itu. Tapi ia mengurungkan takut ibunya Rania tiba tiba datang dan melihat. Ia masih merasa malu jika dilihat oleh orang lain dengan berlaku mesra dengan istrinya. “Alhamdulillah. Besok kita ke sana ya dek” “ke mana mas?” Rania masih tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Ia tidak tahu suaminya mengajak ke mana karena ia tidak menyebutkan tempat tujuannya. “Melakukan pembayaran transaksi rumah. Mau kan besok kita segera kesana?” “Mau mas” Rania tersenyum. Ia juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia akan segera memiliki kediaman sendiri. “Mas mau ambil rumah yang mana?” Rania berdiri dan segera mengambil buku yang memuat gambar rumah. Ia membuka lembar demi lembar. Ia segera mencari dua lembar yang memuat gambar rumah yang sebelumnya mereka pilih. Rania menandai dengan jari halaman tersebut supaya tidak hilang di telan lembar lain. “Yang mana mas, mau yang ini atau yang ini?” Rania menunjukan kedua halaman yang ia tandai itu. Ilham melihat kembali dua halaman tersebut. “Kalau yang ini bagaimana?” Mas Ilham memilih rumah yang di halaman ke dua. Halaman yang lebih belakang. “Beneran mas mau ambil yang ini?” “Eh atau kamu ngga suka?” Ilham beranggapan jika Rania akan sangat bahagia jika ia memilih rumah yang ke dua. Jika dlihat ukurannya memang lebih besar dari rumah yang pertama. Halamannya juga terlihat lebih luas. Rania mendapati wajah suaminya yang sedikit kecewa. Sebenarnya ia tidak mau menolak pilihan suaminya. Hanya saja ia takut pilihan itu justru membuat mas Ilham keberatan. “Bukan mas, Rania suka rumah yang itu. Hanya saja...” Rania menggantungkan ucapannya. “Hm?” Ilham menarik alisnya ke atas sebagai kode ia menunggu kalimat yang Rania tunda untuk di ucapkan. “Hanya saja itu terlalu mahal mas. Rania ngga mau merepotkan mas dan membuat pikiran mas” “Ya allah.. sungguh solekhah istri mas ini. Ngga sama sekali istriku. Tabungan mas In Syaa Allah sudah cukup” Ilham merasa sangat beruntung memiliki Rania. Ia tidak menduga Rania sangat perhatian dengannya. “iya sudah, besok kita ambil rumah yang kedua saja ya..” ucap Ilham kemudian. “Iya mas.” Rania membalas dengan senyum manisnya juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN