Ibu Rania sudah pergi bekerja sejak jam setengah delapan. Kantor tempat ia bekerja tidak begitu jauh sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk menuju ke sana. Hanya tersisa dua orang di rumah kontrakan itu.
Ilham begitu bersemangat untuk membeli rumah baru. Sekitar jam sembilan ia sudah bersiap dengan pakaiannya. Berbeda dengannya Rania masih mandi di kamar mandi. Ilham sungguh tidak sabar untuk tinggal berdua dengan istrinya itu.
“Ran.. Jangan lama lama. Mas ngga sabar nih punya rumah baru” ucap Ilham sedikit teriak.
“Iya mas, sebentar lagi. Rania sedang memakai baju” jawab Rania yang juga sedikit mengeraskan suaranya.
Ilham memanaskan sepeda motornya terlebih dahulu. Tas selempangnya juga sudah bersarang di tubuhnya.
“Ayo mas..” suara Rania yang tiba tiba muncul di belakang Ilham.
“Loh sudah siap?” Ilham kaget melihat istrinya yang tiba tiba sudah berada di belakangnya itu.
“Sudah mas. Ayo buruan” ucap Rania. Rania juga merasa tidak sabar untuk memiliki hunian baru.
“Eh jangan lupa loh pintunya di kunci dulu” Ilham mengingatkan Rania. Ia mendapati pintu tempat tinggal ibunya itu masih terbuka dengan lebarnya.
“Eh lupa mas. Rania terlalu bersemangat hingga lupa kalau pintu belum Rania kunci hehe” Rania segera berjalan menuju pintu dan menguncinya. Kunci pintu Rania letakan di dalam vas bunga kecil yang ada di meja depan rumah. Vas itu biasa digunakan untuk menyimpan kunci rumah.
Ilham hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya itu. Tampaknya istrinya itu juga sangat tidak sabar untuk memiliki rumah sendiri.
“Ayo mas..”
Ilham segera menjalankan motornya dan meninggalkan rumah tersebut tanpa penghuni.
***
“Kita ambil yang ini saja mba” Ilham menunjuk gambar sebuah rumah yang berada di depannya. Ia menunjuk rumah yang sudah di pilih bersama Rania.
“Oh Siap. Sekarang selesaikan transaksinya dulu baru saya bantu mengurusi administrasi pembeliannya”
“Ini mba. Sudah lunas semua ya mba.”
“Baik pak. Sekarang isi formulir ini untuk menyelesaikan pembelian ya pak”
Ilham mengisi formulir yang di berikan wanita tersebut di meja yang tersedia. Rania ikut duduk di sampingnya. Ilham mengisinya dengan segera.
“Sudah mba” Ilham menyerahkan kembali formulir itu.
“Silahkan ini kunci rumahnya. Untuk sertifikat kepemilikan dapat di ambil 3 hari mendatang ya pak”
“Terima kasih banyak” Ilham memberikan kunci itu. Akhirnya keinginan untuk memiliki rumah sudah terkabul. Ia akan segera pindah menuju rumah barunya.
“Sama sama”
Ilham dan Rania langsung menuju ke rumah yang sudah mereka lihat lihat beberapa hari lalu. Untung saja rumah itu belum di ambil oleh pembeli yang lain. Letaknya di perumahan membuat Ilham merasa tenang apabila Rania ia tinggal sendiri di rumah. Satu bulan sekali ia harus mengikuti Rapat dengan kepala cabang di restoran lainnya. Kini ayahnya menyerahkan kepadanya untuk selalu memonitor kepala cabang restoran keluarga. Ilham adalah satu satunya menerus harta keluarga mereka.
“Bagaimana Rania. Kamu suka?” sembari berjalan jalan ke setiap sudut rumah yang baru mereka beli.
“Alhamdulillah suka mas..” Rania tersenyum. Wajahnya sangat terlihat ceria.
“Makasih banyak ya mas” Rania tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih. Bahkan dari satu minggu terakhir kata itu selalu keluar dari mulutnya.
“Sama sama. Mas juga terima kaish ya. Kamu sudah mau menjadi istri mas..”
Wajah Rania merah merona. Hingga kini Rania masih sering merasa grogi apabila suaminya berlaku manis padanya. Rania juga masih sangat grogi apabila suaminya itu berusaha menggodanya. Pasti wajahnya akan selalu merah merona.
***
“Mah kami pindah dulu ya mah. Maaf buat segala kesalahan Rania pada mamah” Rania sekali lagi memohon restu pada mamahnya. Padahal mamahnya sudah memberi restu sedari lama. Bahkan mamahnya yang menawari Rania terlebih dahulu jika Rania menginginkan untuk membeli rumah.
“iya sayang. Jangan lupa kapan kapan main ke sini ya..”
“Pasti mah..”
“Mamah ngga kesepian kan?”
“Jangan pikirin mamah. Beberapa hari lagi ayahmu juga akan pulang. Ayah akan di pindah tugaskan nak. Ayah kamu akan bekerja di kantor, bukan lagi di lapangan”
“Alhamdulillah..” Rania merasa lega. Ia bisa tenang meninggalkan mamahnya.
“Iya mah. Makasih ya mah”
“Iya nak sama sama. Maaf ya mamah belum bisa ikut mengantar kamu ke rumah baru kamu”. Mamah ada lembur yang harus segera di selesaikan” dengan tidak beruntungnya, ia harus mengerjakan pekerjaan kantor walau jam kerja sudah usai. Berkas berkasnya di bawa ke rumah. Ia harus merekap berkas menggantikan salah satu karyawan yang tidak bisa masuk karena sakit. Ia dipilih karena kinerjanya dinilai sangat baik.
“Iya mah tidak apa apa. Sehat ya mah.. Rania pamit”
“Assalamu’alaikum” ucap Rania yang berpamitan dengan ibunya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab mamah
Ilham juga berpamitan kepada mertuanya. “Pamit ya mah. Assalamu’alaikum.. maaf kalau Ilham sudah mereppotkan mamah”
“Wa’alaikumsalam nak. Tidak sama sekali. Mamah malah berterima kasih sudah mengizinkan Rania untuk tinggal di sini. Mamah pinta tolong jaga Rania dengan baik ya. Perlakukan dia dengan baik”
“Iya mah pasti”
Ibu Vinda, mamahnya Rania sekaligus ibu mertua Ilham mengantar kepergian mereka sampai depan rumahnya. Rania dan Ilham sudah berada di motor melampaikan tangan kepada wanita tersebut. Sepeda motor tersu berjalan membawa mereka ke rumah barunya.
***
“Bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri?” tanya Ilham. Mereka sedang mengahabiskan waktu bersama di ruang depan sambil melihat ke acara televisi.
“Alhamdulillah Rania sangat bahagia mas..”
“Besok kita belanja keperluan rumah tangga kita yang kurang ya..”
“Iya mas.. makasih banyak ya mas. Mas sudah sangat perhatian pada Rania.”
“iya sama sama”
Rumah baru mereka memang siap huni. Perabotan seperti kursi, kasur dan peralatan dapur sudah termasuk dalam pembelian rumah. Hanya sedikit sekali peralatan yang mereka butuhkan dan belum tersedia.
“Rania..” Ilham memulai pembicaraan kembali.
“Iya mas..” suaminya yang menyebut namanya membuat ia tidak sabar menunggu kata selanjutnya yang akan keluar dari mulutnya. Rania paham betul. Pasti Mas Ilham akan menyampaikan sesuatu.
“Bagaimana? Jangan bikin Rania penasaran”
Mas Ilham tersenyum. Ia sangat suka melihat ekspresi Rania jika ia merasa penasaran.
“Mas mau beli mobil. Gimana? ”
“Loh ngapain mas. Emangnya sudah butuh banget ?”
“Mas ingin selalu mengajak kamu ketika mas rapat. Mas ngga tega ninggalin kamu sendirian”
“Sudah ada uangnya mas?” Rania sejujurnya tidak menginginkan itu. Ia tidak mau suaminya selalu memikirkan pengeluaran yang besar. Harga sebuah mobil tidak seperti harga beras di warung. Jauh lebih mahal. Rania paham mereka baru saja membeli rumah.
“In Syaa Allah ada Rania. Alhamdulillah rezeki mas setelah menikah bertambah lancar.”
“Terserah mas saja mas..” Rania menjawab dengan senyum.
Ilham paham. Jika istrinya menjawab demikian berarti ia menyetujui keinginannya. Hanya saja istrinya merasa tidak mau ia memiliki beban. Sungguh Rania wanita yang luar biasa. Ia sering menolak pemberiannya dan hampir tidak pernah meminta untuk di belikan sesuatu.
Ia ingin memberikan Rania kebahagiaan. Ilham berharap dengan memiliki mobil kebahagiaan istrinya akan bertambah.
“Makasih banyak ya sayang”
“Iya mas, sama sama” Rania menjawab dengan wajah merah jambu. Merona karena perkataan manis suaminya itu.
Malam sudah semakin larut. Mereka memutuskan untuk menuju ke kamar mereka untuk istirahat. Kamar baru mereka tergolong luas. Ada kamar mandi di sisi sudutnya. Di sudut lainnya tampak sepasang kursi santai menghadap ke jendela luar. Dari kursi itulah mereka bisa menikmati pemandangan lingkungan sekitar. Kamar mereka yang berada di lantai dua memberikan pemandangan indah tersendiri. Di tambah sebuah balkon yang sangat nyaman untuk menikmati udara malam. Melihat indahnya bintang bintang dan ditambah dengan lampu lampu yang terlihat menawan. Di tempat itu mereka bisa menikmati malam berdua untuk melepas lelahnya badan setelah melakukan kepenatan aktifitas seharian.
Malam ini di ruang tidur yang baru mereka merasa begitu nyaman. Menghabiskan waktu malam bersama untuk istirahat.