Ilham benar benar merasa senang. Sebuah benda pipih kecil itu, sebuah benda yang Rania masukan dalam cangkir membuatnya begitu girang. Ia gembira tiada kira. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
Bulan demi bulan berlalu. Ilham menjaga Rania dengan sangat hati hati. Semua kegiatan Rania selalu Ilham perhatikan. Ia tidak mau istirnya sekaligus calon ibu dari anak yang tengah di kandungnya merasa terlalu cape. Bahkan kini Ilham jarang ke restoran lagi. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Waktunya sebagian besar ia gunakan untuk menjaga Rania.
Ilham membawa Rania ke dokter untuk tes USG. Hasilnya sungguh luar biasa. Tidak pernah di sangka baik oleh Rania atau pun Ilham. Dalam monitor USG terlihat tampak dua bayang bayang bayi mungil. Sungguh hal ini membuat oasangan suami istri ini terkejut bercampur bahagia tidak menyangka.
Ilham mengucapkan syukur berkali kali. Dia akan menjadi ayah untuk dua orang bayi sekaligus. Double kebahagiaan akan ia dapatkan. Ia tidak henti hentinya berterima kasih kepada yang maha kuasa dan kepada Rania.
Ilham menghubungi ayah dan ibunya mengenai kehamilan Rania. Mereka tidak kalah terkejutnya. Mereka juga merasa sangat terkejut bercampur tidak menyangka. Mereka juga sangat menginginkan kehadiran cucu dari anaknya itu.
Sama halnya dengan Ilham, Rania juga menghubungi orang tuanya. Ia menghubungi ayah dan ibunya untuk menceritakan tentang kehamilan yang sedang ia kandung. Ia menyampaikan ia sedang mengandung dua orang bayi. Rasa syukur juga di panjatkan oleh keluarga Rania.
Dua orang ayah dan dua orang ibu merasa sangat bahagia. Rasanya kebahagiaan mereka akan segera lengkap.
Usia kehamilan Rania kini memasuki empat bulan. Yang mana mereka akan mengadakan tasyakuran. Segala keperluan mereka siapkan dengan antusias.
Berbagai makanan mereka siapkan dengan penuh semangat. Banyak sekali makanan yang tampak di sana. Hidangan yang mereka buat sangat banyak. Hal ini lebih dari cukup. Ini merupakan bentuk syukur mereka. Mereka ingin tamu tamu undangan yang mendoakan kehamilan Rania, mendoakan bayi yang masih dalam kandungan tidak merasa kekurangan. Justru mereka merasa lebih hingga makanannya bisa mereka bawa pulang.
Ilham menjaga Rania setiap harinya. Rania juga sangat hati hati dengan kehamilan pertamanya ini.
Rania juga ingin berbagi kebahagiaan dengan orang orang terdekatnya. Orang orang yang sudah membawanya mengenalkan jalan kebenaran. Orang orang yang hadir di saat ia benar benar down. Benar benar di titik terbawah hingga ia benar benar merasakan putus asa. Bersyukur Rania di pertemukan dengan mereka.
Rania mengambil ponsel dan segera mengabari mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ning Nisa bagaimana kabarnya ?" Rania mencoba mengetik pesan untuk Ning Nisa. Seseorang yang pertama kali membantunya di rumah sakit. Saat itu ia merasa sendiri. Tidak ada siapa pun yang membantunya kecuali Ning Nisa ini.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Rania. Alhamdulillah kabar baik, lama kita tidak saling berkirim kabar. Kamu bagaimana kabarnya?" pesan dari Ning Nisa masuk ke ponsel Rania tidak menunggu lama.
"Alhamdulillah sehat juga. Iya lama banget kita tidak bertukar kabar" Rania membalas pesan Ning Nisa kemudian.
"Ning Nisa, aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kamu. Alhamdulillah sekarang aku sedang mengandung baby" Rania menulis pesan dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.
"Alhamdulillah Alhamdulillah, kabar baik Rania. Selamat ya atas kehamilannya. Sekarang sudah masuk usia berapa kehamilannya?" Ning Nisa merasa sangat senang. Ia tidak pernah mengira kalau Rania menghubunginya untuk memberi kabar baik. Ning Nisa hanya mengira Rania memberi pesan kepadanya karena mereka sudah sangat lama tidak saling bertukar kabar.
"Alhamdulillah sudah masuk usia ke empat bulan kehamilan, Alhamdulillah sekali ya Allah"
"Alhamdulillah, selamat ya Rania"
"Terima kasih banyak Ning Nisa"
"Eh Ran, mau aku kasih kabar baik juga tidak?" pesan Ning Nisa yang ini membuat Rania begitu penasaran. Pesan bahagia apa yang ingin Ning Nisa sampaikan kepadanya. Rania tidak dapat mengira ira.
"Wah mau banget dong Ning Nisa. Ada kabar apa ini? Rania sungguh tidak sabar untuk mendengarnya" Rania menulis dengan cepat dan segera melesatkan pesan tersebut ke Ning Nisa. ia tidak sabar untuk segera mengetahui kabar baiknya.
"Alhamdulillah aku juga sedang mengandung Ran, Alhamdulillah sekali" Rania membaca dengan seksama. Ia juga tidak menyangka kalau sahabat dekatnya ini juga tengah mengandung.
"Wah wah Alhamdulillah. Nanti anak kita bisa saling berteman ini" Rania sangat bahagia.
"Aamiin, sehat sehat ya kandungannya" ucap Ning Nisa dalam pesan tulisan.
"Iya Ning. Ning Nisa juga yang sehat sehat dengan kandungannya" Rania mendoakan balik kepada Ning Nisa.
"Ngomong ngomong sudah usia berapa ini kandungannya?"
"Alhamdulillah sudah 6 bulan Ran" Rania tersenyum membaca pesan itu. Ternyata Ning Nisa juga sudah di beri bayi dalam rahimnya. Ia tidak pernah mengira karena Ning Nisa tidak pernah memberinya kabar akan kehamilannya.
"Wah Alhamdulillah, Ning Nisa ngga kabar kabar nih. Enam bulan baru Rania tahu hehe "
"Rania juga tidak kabar kabar ini. Ning tahu tahu juga usai kandungan Rania sudah empat bulan"
Mereka sama sama tersenyum membaca pesan di tempat yang berbeda. Alhamdulillah mereka jarang berkomunikasi, jarang bertukar kabar, tapi sekalinya bertukar kabar menyampaikan kabar yang bahagia. Kabar yang saling menggembirakan bagi mereka.
"Kamu jaga diri dan kehamilan kamu baik baik ya Ran"
"Iya Ning. Ning Nisa juga jaga diri dan kehamilannya baik baik ya"
"Iya. Itu pasti Rania, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Rania"
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Ning"
***
"As.."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Dua buah pesan Rania kirimkan kepada Asma. Ia ingin berbagi kebahagiaan juga dengan Asma.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Kak Rania" balasan pesan dari Asma sudah masuk ke ponsel Rania.
"Kak Rania gimana kabarnya?" Pesan dari Asma kembali masuk ke ponsel Rania.
"Alhamdulillah kabar baik Asma. Eh Asma bagaimana kabarnya?" Rania menanyakan kabar kepada orang ke dua yang sudah menolongnya. Sama seperti Ning Nisa, Asma juga sosok yang sangat berharga dalam hidup Rania.
"Alhamdulillah Kak Rania. Asma baik baik saja. Asma sehat"
"Eee..."
"Gimana ka Rania? ada yang bisa Asma bantu? Asma merasa penasaran dengan pesan yang akan Rania ketik. Seperti pesan yang tidak selesai. Asma sangat penasaran dengan pesan itu.
"Em Kak Ran mau menyampaikan kabar bahagia buat Asma"
"Wah apa nih kak Ran, jangan bikin Asma penasaran. Langsung saja kak sampaikan ke Asma"
Rania yang membaca pesan Asma ingin rasanya untuk membuat sosok anak ini terus merasa penasaran.Rania kembali sedikit usil kepada Asma untuk membuat rasa penasaran anak ini semakin dalam.
"Apa ya, Rania sampaikan ngga ya" Rania mengetik sambil sedikit tersenyum. Ia membayangkan ekspresi Asma yang penasaran. Ekspresi yang tergambar selalu membuat tersenyum orang yang melihatnya. Kini Rania juga sedang mengingat Ekspresi Asma yang sudah ia pahami itu.
"Yah yah kak, ayo dong buruan" terlihat sekali Asma tidak sabar dari pesan yang ia ketik.
"Iya sudah deh kakak sampaikan"
"Alhamdulillah Kak Rania hamil As. Sekarang sudah usia empat bulan kehamilan"
"Benar nih Kaka ngga bohong? Jangan ngomong ini prank ya, Bener ngga ini Kak Ran?" Asma masih tidak percaya dengan yang Rania sampaikan, Asma masih mengira kalau Rania sedang mengerjainya.
"Bener lah As, buat apa Rania bohong sama Asma"
"Wah Asma masih ngga percaya nih kak"
Rania cekikikan membaca pesan dari Asma. Ia kemudian mengambil foto hasil USG dan mengirimkannya pada Asma.
Sebuah pesan foto masuk ke ponsel Asma. Asma segera mendownloadnya.
"Wah Kaka tidak bohong. Asma tidak menyangka ini kak, selamat ya kak. Asma ikut senang"
"Alhamdulillah Asma. Kaka suka sangat senang" balas Rania.
"Iya Kak Ran. Asma juga begitu bahagia. Asma akan segera memiliki ponakan"
"Hehe doain Kaka sama kandungan Kaka sehat sehat ya"
"Pasti Kak Ran. Asma akan doain Kaka sama bayi kaka."
"Terima kasih banyak Asma"
"Iya kak, terima kasih banyak juga buat kabar baiknya"
"Kaka mau lanjut aktifitas ya, kamu jangan lupa jaga kesehatan"
"Iya kak Asma juga mau lanjut kerja lagi"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Dek Asma"
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh Kak Rania"