Chapter 34 (Kebahagiaan Rania)

1174 Kata
Rania sangat bahagia. Ia tidak menyangka secepat ini ia di kasih hadiah buah kesayangan. Ia hamil. Ia merasa sangat senang. Pantas saja sudah beberapa Minggu ia telat datang bulan. kebahagiaan ini sungguh tak terkira dan senantiasa membuat Rania terus bersyukur kepada Allah SWT. Rania keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berbinar binar. ia memegang test pack yang baru saja ia kenakan. Ia merasa sangat bahagia. Tidak menyangka. Benar benar tidak menyangka. Ia tidak sabar menunggu kepulangan suaminya. Siapa lagi kalau bukan Ilham. Sosok laki laki yang sangat ia cintai dalam hidupnya. Seorang pemimpin keluarganya. Seorang Imam. Rania duduk di ruang depan. Ia tidak kuasa menunggu kepulangan suaminya itu. Rasanya tidak sabar untuk menunjukan kejutan kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang sangat mereka harap harapkan sedari lama Sebuah hadiah terbesar dari yang namanya pernikahan. Rania terduduk sambil menonton acara televisi kesukaannya. Berharap dengan beg5otu waktu tidak terasa begitu lama ia jalani. Namun tetap saja. Ternyata hatinya tetap tidak sabar menunggu kedatangan suaminya itu. Ia mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja. Ia mencari nomer Suaminya dan segera menghubunginya. Ia harus segera menyampaikan kabar itu. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh mas" ketik Rania dengan cepat. Ia berharap pesan singkatnya itu segera bisa di balas oleh suaminya yang sedari tadi ia tunggu tunggu. masih tidak ada jawaban. Sudah sekitarnya lima belas menit lamanya berlalu. Ia sangat menunggu nunggu pesan balasan masuk ke dalam ponselnya. waktu terus berlalu. Detik berganti detik, menit berganti menit, dan jam berganti jam Belum juga ada respon dari suaminya. kemungkinan besar ia sedang mengadakan rapat. Bisa saja ia melihat pesan dari istrinya. Hanya saja rapat yang di selenggarakan membahas agenda yang begitu penting. Selama belum di telfon oleh istrinya, brarti masih bisa di tunda untuk membuka ponsel. Berbeda ketika ponsel sudah berdering. Ketika Rania sudah mengirimkan panggilan. Kalau sudah seperti ini berarti sudah sangat penting untuk mengangkat ponsel dan bisa juga telah terjadi sesuatu pada istirnya itu. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh, maaf mas barusan ada rapat, apa yang bisa mas bantu dek ?" sebuah pesan akhirnya melayang masuk ke ponsel Rania. Rania yang menunggunya dari tadi sangat sigap untuk membaca pesan baru yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Sebuah pesan dari suaminya yang sangat ia nanti nantikan keberadaannya. "mas nanti balik jam berapa ? apa masih banyak agendanya yang harus di lakukan?" Rania melayangkan pertanyaan lagi untuk suaminya. Ia sungguh tidak sabar untuk menunggu suaminya pulang. ia akan memberikan kejutan istimewa. kejutan yang pasti akan membuat suaminya itu bahagia. Bahagia yang akan membuatnya akan terus bersyukur kepada yang maha kuasa. "Mas sebentar lagi balik dek. Seperti jam biasa. Alhamdulillah tidak ada rapat yang begitu penting seperti sebelum sebelumnya" Ilham menyampaikan apa yang seharusnya ia sampaikan. Hari ini rapatnya berakhir pada jam biasa. Untung tidak ada rapat lanjutan. Rania bersyukur. Berarti tidak ada masalah yang serius yang menimpa restoran. Tempat suaminya mencari nafkah. Mencari nafkah untuk menghidupinya. Mencari nafkah untuk beribadah yang pastinya. setiap bekerja Ilham juga niatkan untuk beribadah. Hak ini ia lakukan, karena ia paham ilmunya. Bekerja bukan hanya berorientasi pada uang uang dan uang. bukan hanya berorientasi pada harta kekayaan. Ia paham apabila bekerja dan ia niatkan untuk beribadah juga makan yang akan ia dapatkan tidak hanya uang. Melainkan juga pahala . Kembali ke Rania, Rania merasa girang. Tidak lama lagi suaminya akan pulang. Ia terus melihat ke jam yang terpampang di dinding. Jarumnya terus memutar. Sama seperti harapannya menunggu suaminya yang tidak ada henti hentinya. "Rania, sebentar ya, Mas sebentar lagi akan pulang. Kamu sabar di rumah. Ada sesuatu yang ingin kamu beli? biar nanti mas mampir sekalian" sebuah pesan masuk lagi ke ponsel Rania. Suaminya akan segera pulang ke rumah. Ia merasa sangat kegirangan. "Tidak ada mas. tidak ada yang Rania butuhkan. Rania menunggu mas saja untuk segera sampai di rumah" "Ia tunggu ya. Sebentar lagi mas akan pulang" Hati Rania sangat senang. Ia sudah menyiapkan kata kata untuk menyambut suaminya. Ia akan memberikan kado istimewa. Sebuah kejutan yang mungkin saja suaminya itu tidak menduganya. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Rania, mas pulang" ucap Ilham suami Rania sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Baik Rania maupun Ilham memiliki kunci masing masing. Sehingga ketika mereka dari luar dan akan masuk ke rumah tidak perlu saling menunggu untuk di bukakan pintu. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah mas Ilham sudah pulang" Rania menjawab salam dan merasa kegirangan. Akhirnya suara orang yang ia tunggu tunggu sampai juga di rumah. Suara suaminya. Ilham kini sudah berada di depan Rania. Rania merasa sangat senang. Rania tidak segera mengucapkan apa yang ia ingin sampaikan. Ia menunggu momen yang sangat tepat. "Kenapa, sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan ke mas, ekspresi kamu tidak bisa membohongi mas" ucap Ilham sosok suami Rania. Ya begitulah Rania. Ia tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi. Bahkan untuk memberikan kejutan saja, ekspresi wajahnya sudah bisa terbaca. "Ngga kenapa Napa mas. Mas mau minum apa ?" Rania masih mengukur waktu. Kini ia menawarkan minuman dulu untuk suaminya. Rania berniat akan memasukan hasil tes kehamilannya di gelas. Gelas yang tidak bening, dan atasnya di tutup. Sehingga ketika suaminya membuka, ia akan mendapati hal yang begitu mengejutkan dan membuatnya bahagia. "Mas ngga pengin minum Ran" haduh jawaban ini membuat Rania makin bingung cara untuk memberi suaminya itu kejutan. Tumben sekali Ilham menolak ketika di tawari minum. Namun Rania tidak putus asa. Ia terus mencoba dan mencoba. "Beneran ini mas tidak ingin minum apapun? Ngga haus mas?" Rania terus menawarkan. Berharap suaminya itu akan berubah pikiran. Dugaannya benar. suaminya berubah pikiran. Ia akhirnya menyampaikan minuman apa yang ingin ia minum. "Ya sudah kalau begitu. Mas minum kopi saja, mas sedikit lelah dan pengin kopi. Sepertinya kopi enak" Rania kegirangan. Ia segera berlari kecil ke dapur untuk menyiapkan pesanan suaminya. Ia mengambil cangkir. Cangkir dengan pegangan tangan berwarna coklat menjadi pilihan Rania. Rania mengambil alas cangkirnya dan meletakkannya di atas alas cangkir. Kemudian Rania memasukan hal tes kehamilannya. Bismillah. Itu yang di ucapkan Rania. Kemudian Rania segera mencari tutup cangkir itu. Sebuah kejutan telah siap berada di tangan Rania. Rania berjalan menuju ruang depan. Ruang dimana suaminya itu berada. Ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Rania meletakan cangkir dengan perlahan. Ia berusaha sebisa mungkin supaya suaminya tidak berpikiran apapun. Rania duduk di samping suaminya itu. Ilham mengambil cangkir yang sudah berada di meja depannya. Ia mengambil dengan perlahan dan membukanya. Ia begitu terkejut. Sebuah benda berada di sana. Ia segera mengambilnya dengan penasaran. "Ran? ini benar?" Ilham memegang benda itu dengan begitu terkejut. Ia tidak menyangka sebuah garis dua terpampang di sana. Dua garis merah. Garis yang menandakan kalau istrinya itu tengah hamil. "Benar mas" Rania tersenyum. Rania sangat bahagia melihat ekspresi suaminya itu. Ilham tidak kalah bahagia. Ekspresinya menunjukan bahwa ia bahagia dan teramat bahagia. "Sebentar lagi aku akan menjadi ayah" ucap Ilham kegirangan. "Iya mas, selamat ya mas" Rania menambah kebahagiaan suaminya kembali. Ilham begitu senang dengan kejutan Rania hari ini. Sebuah kejutan yang tidak pernah ia duga. Ia tidak menyangka kalau Rania akan menjadi ibu secepat ini. Dan ia tidak menyangka jika ia akan segera menjadi anak. Mereka merasa tidak sabar untuk menunggu kehadiran buah hati mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN