Chapter 37 (Berkunjung ke Pesantren)

1459 Kata
Kehamilan Rania membuat pasangan suami istri ini sangat bahagia. Siapa lagi kalau bukan pasangan Rania dan Ilham. Mereka sangat bahagia dan sudah mulai antusias menyambut kelahiran bayi bayi mereka. Dua orang bayi yang di kandung Rania membuat mereka harus ekstra menyiapkan dana untuk menyambut anak baru mereka yang akan segera hadir ke dunia. Hari ini Ilham sengaja tidak ke restoran. Ia menyerahkan tugasnya kepada salah satu karyawannya untuk mengontrol restorannya itu. Ilham memiliki niat untuk berkunjung ke pesantren. Pesantren Al Iman. Tempat di mana ia menemukan Rania. Tempat di mana ia melihat Rania, mengetahui Rania dan jatuh hati pada Rania. Ilham menyampaikan maksud baiknya pada Rania. Ia ingin sekali berkunjung dengan Bu nyai dan Abah yai. Rasanya sudah lama sekali Ilham tidak bertemu mereka. Sepertinya sejak mereka menikah, mereka belum bertemu guru guru mereka sama sekali. Ilham menaruh rindu yang teramat dalam pada gurunya itu yang sudah memberikan ilmu agama dan menuntunnya ke jalan yang benar. "Ran" panggil Ilham. Rania sedang duduk di ruang depan sambil menonton acara berita di televisi. "Bagaimana mas?" Rania langsung menjawab sambil menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Mas ingin ke pesantren. Ingin silaturahmi dengan guru guru di pondok. Bagaimana, kamu setuju ngga ?" Ilham mengutarakan maksudnya pada Rania. Istirnya yang tengah mengandung anaknya itu. "Boleh saja mas. Rania juga sudah lama sekali tidak bertemu dengan beliau beliau. Rasanya rindu sekali dengan mereka dan keluarga besar pondok Al Iman" Rania setuju. Hal ini karena Rania memang sudah sangat rindu dengan lingkungan pesantren. Lingkungan yang sudah menuntunnya dan membuatnya menjadi lebih baik dari manusia versi yang sebelumnya. "Kamu yakin kuat? kamu yakin kandungan kamu akan aman?" Ilham tiba tiba kepikiran dengan kondisi Rania yang sedang mengandung. Ia khawatir dan takut pada kondisi Rania. Bagaimana tidak, Ilham sangat berhati hati menjaga kehamilan istirnya itu. Ia ingin bayi yang di kandung istrinya itu sehat selalu. "Yakin mas. Rania pasti kuat. Rania yakin pasti akan di mudahkan jalannya. Kita juga berniat untuk silaturahmi dengan guru guru kita kan mas, In Syaa Allah di mudahkan" jelas Rania menanggapi ucapan suaminya. Ilham berpikir kembali. Ia sejujurnya takut dengan kondisi Rania. Namun kata kata Rania sedikit menenangkannya dan akhirnya Ilham memutuskan untuk bersiap menuju Jawa Timur. Tempat pesantren Al Iman berada. "Ran, kita nanti menginap di rumah orang tua mas saja ya, kebetulan mereka juga sudah kangen banget dengan menantunya yang cantik" Ilham mengungkapkannya sambil tersenyum. Ia melihat ke arah wajah Rania yang juga tersenyum. Tersenyum dengan tersipu sipu malu. "Iya mas. Nanti kita menginap saja di rumah mertua Rania. Mereka juga sepertinya sudah sangat kangen dengan anaknya yang sangat ganteng" Rania membalas gombalan suaminya itu. Rania juga mengucapkannya dengan tersenyum senyum. "Sudah sudah, kita mulai siap siap" Ilham yang juga tersenyum kini mengalihkan perhatian. Ia memerintahkan Rania untuk segera bersiap. Rencananya mereka akan menggunakan kereta. Ilham memilih menggunakan kereta karena tidak memakan waktu yang terlalu lama. Selain itu menggunakan kereta juga akan mengurangi rasa cape yang akan di rasakan. Kereta selalu menjadi jalan alternatif bagi mereka untuk bepergian. Mereka selalu memilih menggunakan kereta ketika pergi ke Jawa Timur atau ke tempat lainnya. "Sudah siap semua mas?" tanya Rania yang kini sedang berdiri di samping koper yang sudah ia siapkan di bantu suaminya. "Sudah, keperluan kamu sudah di bawa semua?" tanya Ilham untuk memastikan barang istirnya tidak ada yang ketinggalan. "Sudah mas. Mas beneran susah masuk semua barang barangnya ?" Rania juga memastikan lagi ke suaminya. Ia takut ada barang barang yang sekiranya mereka butuhkan di sana atau oleh oleh baik untuk Bu nyai dan Abah yai serta santri pondok pesantren atau untuk keluarganya ada yang tertinggal. Rasanya sungguh di sayangkan apabila ada yang ketinggalan mengingat jarak antara Kota Jakarta dan Jawa Timur lumayan jauh dan tidak sedikit memakan waktu perjalanan. Setelah semua di pastikan aman dan tidak ada yang tertinggal mereka segera menuju ke stasiun. Tiket kereta susah mereka kantongi. Mereka memesannya lewat online. Teknologi yang ada sekarang sungguh sangat memudahkan mereka untuk membeli tiket dan melakukan hal lainnya. Dalam waktu yang sebentar dan tanpa menempuh jarak pun mereka bisa memesan tiket. Sungguh suatu kemudahan yang sudah ada pada saat sekarang ini. Mereka di bantu oleh supir tadi untuk menurunkan barang barang yang mereka bawa. Tampak dua buah koper dan dua gerdus yang mereka bawa. Setelah barang bawaan mereka di turunkan semu dengan di bantu oleh supir kini mereka meminta bantuan jasa pembawa barang di stasiun. Di stasiun memang banyak orang yang bekerja untuk membantu membawakan barang bawaan merek dengan imbalan yang tidak mereka patok. "Terima kasih pak" ucap Ilham sambil memberikan uang kepada orang yang sudah membantunya membawakan barang bawaan. Kini mereka sudah terduduk di kereta dan menunggu kereta untuk memulai perjalanan. *** "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh " "wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" ucap ibunya Ilham yang membukakan pintu. Mereka tidak menyangka jika anaknya berkunjung ke rumah. Tidak ada kabar baik dari Ilham maupun Rania yang mengabarkan kedatangan mereka. Ilham tersenyum melihat ibunya yang terkejut. Ibunya terlihat terkejut dan tidak lama kemudian berubah menjadi sangat bahagia. Sangat tidak menyangka anaknya anak datang. "Kenapa kalian tidak bilang bilang kalau akan ke sini?" "Tidak apa Bu, biar jadi kejutan buat ibu dan bapak" ucap Ilham. Ilham tersenyum. Rania juga tersenyum kepada menantunya itu. Rania segera menyalami ibu mertuanya. Ibunya Ilham membalas menyalami menantunya itu. "Ayuk Ayuk masuk masuk" ibu paruh baya itu segera menyuruh mereka untuk masuk. Ia tidak mempersiapkan kedatangan mereka karena mereka tidak memberi tahu kalau akan menuju ke mari. Kedatangan yang tiba tiba membuat ibunya Ilham tidak bisa mempersiapkan untuk menyambut kedatangan mereka. "Iya Bu, eh bapak mana?" Rania menanyakan keberadaan ayah mertua yang tidak nampak. Ia melihat seisi rumah sepertinya ayah mertuanya itu memang sedang tidak berada di tempat. "Oalah itu, bapak lagi pergi ke pasar. Katanya mau membeli ikan. Kebetulan sekali kalian ke sini. Nanti ibu masakkan ikan ya" Ibu segera mengambil ponselnya di saku dan mengirkan pesan kepada bapak supaya menambahkan jumlah ikan yang di beli. Ia mengabarkan kalau anaknya dan menantunya itu sedang berada di rumah. "Oh iya ibu" jawab Rania. "Tidak usah repot repot ibu, nanti Rania ikut bantu masak ya" lanjut Rania. "Eh tidak usah tidak. perut kamu lagi besar loh, biar ibu saja" ibunya langsung menolak. Ia tidak tega jika Rania ikut membantunya memasak. Ia menyuruhnya untuk istirahat saja. Rania tersenyum dengan perkataan mertuanya. Ia bersyukur bukan hanya suaminya yang baik, namun keluarga suaminya juga sangat baik padanya. "Bu, besok Ilham sama Rania niatnya mau berkunjung ke pesantren Al Iman. Kami ingin bersilaturahmi" Ilham mengutarakan maksudnya. "Iya sudah kalau begitu. Yang penting hati hati ya di jalan. Jaga Rania baik baik. Ati ati kandungannya" ibu memberi pesan pada anaknya sekaligus memberinya izin. "Iya Bu itu pasti" Ilham menjawabnya dengan mantap. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" suara laki laki memberi salam ke rumah. Ilham paham benar kalau itu suara ayahnya. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" jawab Ilham antusias. Ia segera menuju ke sumber suara bersama Rania. Ayahnya yang sudah tahu jika Ilham tengah di rumah sangat senang.Ia menyambutnya dengan baik. Tas kresek di tangannya yang berisi ikan dan beberapa buah buahan yang awalnya ia tidak berniat untuk membelinya ia letakan di kursi. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk anaknya itu. Sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengannya. "Wah sehat ini anakku" ucap bapak pada Ilham. Rania juga menyalami ayah mertuanya. Ayah mertuanya balik menyalami Rania. Mereka sangat bahagia. Ibu Rania menyiapkan hidangan untuk makan malam. Sementara Ilham duduk dengan ayahnya dan membicarakan bisnis mereka. Rania berada di dapur bersama ibu. Rania ikut membantu ibu untuk memotong sayur dan membantunya melakukan pekerjaan yang kecil kecil. *** Pagi pagi Rania dan Ilham sudah bersiap untuk menuju ke pondok pesantren. Ia sengaja mengambil waktu pagi hari supaya sampai di pesantren tidak terlalu siang dan bisa lama berada di pesantren. Ilham juga berniat akan mengobrol dengan teman seperjuangannya yang masih berada di pesantren. Begitu juga dengan Rania. ia juga sudah sangat rindu dengan teman temannya. Perjalanan mereka cukup lancar. Beruntung jalanan tidak begitu macet karena mereka berangkat di atas jam orang kerja. Tidak butuh waktu lama, mereka telah sampai di sana. Mereka langsung menuju ke rumah Abah yai dan Bu nyai. Beruntung mereka sedang berada di rumah. Mereka menyambut baik kedatangan santrinya itu. Ilham menceritakan kehamilan Rania pada mereka. Meraka sangat bahagia. Tidak menyangka Ning Nisa dan suaminya juga tengah berada di sana. Rania memanfaatkan waktu untuk saling kangen dengan sahabatnya itu. Ning Nisa mengajak Rania ke kamarnya. Sama seperti bagaimana mereka dulu dekat. Kini mereka pun masih sangat dekat. Mereka berbagi rasa satu sama lain. Mereka juga saling menceritakan tentang kehamilan mereka. Mereka sangat bahagia. Tidak di sangka kehamilan mereka pada waktu yang sama. Sementara Ilham dan Faris, mereka juga saling melepas rindu setelah mengobrol dengan Pengasih pondok pesantren. Mereka saling menceritakan apa yang sudah terjadi pada mereka. Dua pasang sahabat yang tengah saling bertemu dan bahagia menceritakan kehidupan mereka masing masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN