Setelah bercerita panjang lebar dengan Ning Nisa, kini Rania akan beranjak menuju Kobongnya dulu. Kobong yang ia tempati untuk beristirahat. Rania sudah begitu rindu dengan ruangan itu. Bukan hanya ruangannya, namun Rania juga rindu dengan teman temannya yang berada di sana. Rasanya lama sekali ia tidak berjumpa dengan teman seperjuangannya.
Rania ini termasuk santri yang nikah awal dibandingkan dengan teman temannya yang lain. Sehingga Rania masih dengan mudah dapat menemui mereka di sana. Hanya Rania yang sudah tidak berada di Kobong itu.
Rania membawa bingkisan yang sudah ia siapkan dari rumahnya di Jakarta. Ia sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman temannya.
Rania berjalan memasuki Kobong pesantren sendiri. Suaminya, Ilham masih ngobrol dengan Faris. Mereka di pesantren ini seakan menghabiskan waktu untuk saling melepas rindu. Dan bertingkah kembali seperti Santri dan santriwati. Memang momen momen mereka menuntut ilmu ini tidak dapat mereka lupakan dan selalu menjadi kenangan terbaik dalam hidup mereka. Kenangan yang selalu mereka ingin melalui kembali masa masanya. Masa menjadi santri sangat banyak sekali pengalaman hidup. Pengalaman yang membesarkan mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Rania sudah mengucapkan salam kala ia baru hendak memasuki pintu Kobong.
"Selamat, selamat selamat kak Ran" Rania terkejut mendengar suara mereka. Mereka sudah berbaris rapi. Kelihatan sekali jika mereka merencanakan ini semua. Rania tidak menyangka kehadirannya di sambut sedemikian oleh mereka.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" jawab beberapa santriwati setelah mereka sadar Rania mengucapkan salam.
"Haduh terima kasih banyak, Rania tidak menyangka kalian menyambut kedatangan Rania. Dari mana kalian tahu kedatangan Rania? Rania masih menggeleng gelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dapatkan.
"Tentu saja tahu. Masa kita tidak tahu" mereka tertawa. Mereka tidak memberi tahu Rania dari mana mereka tahun Kemungkinan besar mereka menyiapkan ini semua ketika Rania sedang Siwan di rumah Abah yai dan Bu nyai. Rania dan Ilham memang lumayan lama berada di sana. Ditambah Rania yang saling cerita dengan Ning Nisa di kamarnya. Kemungkinan ada santriwati yang di dapur dan mengetahui keberadaan Rania dan segera menyiapkan ini semua.
"Haduh terima kasih banyak. Rania tidak menyangka kalian membuat penyambutan semacam ini" Rania masih tersenyum haru. Tangannya masih tetap memegang perutnya yang sudah mulai kelihatan itu.
Santri putri ada yang menyadari kehamilan Rania. Ia melihat ke perut Rania yang sudah mulai terlihat membesar.
"Wah kak Rania sudah mau punya baby ya?" ucapan seorang santri putri ini menarik perhatian santri putri lainnya di Kobong tersebut.
"Wah, tahu aja kamu. emang ya dari dulu kamu itu yang paling jeli menemukan sesuatu" Rania tidak menyangka kehamilannya di sadari oleh temannya.
"Wah selamat Rania"
"Selamat Rania"
"Wah mau jadi Tante ini aku"
Suara santri putri memenuhi Kobong. Mereka antusias sekali mengetahui kehamilan Rania. Ya Rania ini salah satu santri putri yang mereka senangi karena sikapnya. Ia tidak pernah dengan sengaja mencari gara gara. Rania juga suka menolong teman yang lainnya tanpa pamrih. Itulah yang membuat Rania disukai teman temannya.
"Eh hampir lupa. Ini Rania ada oleh oleh dari tempat tinggal Rania." Rania mengangkat tas kresek di salah satu tangannya. Ia hampir lupa kalau ia membawa sesuatu untuk teman temannya.
"Wah memang ini Rania paling perhatian sama kita. Suka deh Rania tidak lupa bawa makanan buat kita"
Suara canda dan tawa memenuhi Kobong. Kobong ini hidup kembali sama sepeti ketika Rania berada di sana. Memang keberadaan Rania lah yang selalu membuat Kobong ramai dan tidak terkesan bosan.
****
Rania cukup lama berada di Kobong. Berbagai pengalaman sudah Rania ceritakan ke teman teman terbaiknya itu. Beberapa orang dari mereka juga menceritakan kisah hidupnya. Mereka duduk saling bertukar cerita dan pengalaman.
"Wah kami ngga nyangka Rania akan mempunyai baby kembar" celetuk salah seorang santri putri kala Rania menceritakan mengenai kehamilannya.
"Alhamdulillah, Rania yang mengalami juga tidak menyangka" Rania tersenyum bahagia menyampaikannya.
"Selamat ya Ran"
"Iya selamat, jangan lupa kabarin kamu kalau baby-nya lahir"
"Iya iya pasti. Jangan lupa doakan Rania ya supaya lancar hehe"
"Pasti Ran. semoga selamat ibu dan bayinya, sehat sehat ya Ran kamu dan bayi kamu"
"Wah terima kasih banyak, dapat doa banyak ini dari santri Santri. In Syaa Allah lancar. makasih ya semuanya" Rania sangat bersyukur mempunyai teman seorang santriwati.
"Eh Ran kamu mau nginep sini ngga? nih masih muat tambah kamu" celetuk salah seorang santri.
"Eh kasihan babynya kalau tidur di sini. emang kamu" sambar seorang santri putri.
"Haduh pengin si Rania tidur di sini biar makin lama sama kalian. Tapi maaf Rania nginep di rumah mertua sama suami" bagaimana pun Rania harus tinggal di rumah mertua. memang ada sedikit keinginan untuk menginap di pondok. Hanya saja ini kurang baik mengingat ibu mertua dan ayah mertuanya juga sangat menanti nanti kehadiran mereka sedari lama. Di tambah Rania dan suaminya Ilham hanya izin buat berkunjung ke pondok pesantren bukan menginap.
"Iya Ran. Paham aku. Memang harus gitu kalau sudah menikah. Apalagi lagi punya baby. Harus ekstra jaga kesehatan."
"Iya. kamu bukan hanya menjaga 1 badan tapi 3 badan sekaligus. kamu dengan dua bayi kamu yang sedang kamu kandung"
Rania tersenyum. Ia senang dengan teman temannya. Teman temannya selalu memberikan keceriaan dalam hari harinya selama di pondok. Ternyata bukan selama Rania menadi santri saja. Setelah Rania keluar pondok pun mereka masih sangat akrab dengannya. Mereka semua kayaknya sodara. Sangat terasa.
'KLUNTUNG ! KLUNTUNG! KLUNTING!'
Ponsel Rania berbunyi. nada notifikasi pesan dari Ilham, seorang yang kini menjadi suaminya telah masuk ke ponselnya.
Rania segera mengambil ponselnya dan membaca pesan yang tertampil pada layar ponselnya.
"Haduh, sepertinya Rania harus segera balik ini. Mas Ilham sudah ngajak Rania buat balik ke rumah orang tuanya" Rania menyampaikan kepada teman temannya dengan masih memandang pada layar ponsel. Rania mengetik pesan balasan untuk suaminya.
"Yah, krasanya baru sebentar ya kita ngobrol"
"Ini akibat dari terlalu lama kita ngga saking bertemu ini"
"Karena terlalu lama tidak ngobrol juga pasti ini"
Santri putri Ramai membicarakannya yang akan segera kembali ke rumah mertuanya. Rasa rindu mereka sebenarnya masih sangat terasa. Bagaimana tidak. Meraka sudah lama bersama. Mereka layaknya keluarga, begitu dekat jika dirasakan. Pantas saja kunjungan Rania yang lumayan lama terasa sangat sebentar. Apalagi Rania berkunjung tidak sampai menginap, jelas. terasa sebentar.
"Rania balik dulu ya, kalian semua di sini jaga diri baik baik. Jangan lupa doakan Rania hehe"
"Pasti Rania. Apa si yang ngga buat Rania"
Mereka sama sama tertawa. Meraka saling berjabat tangan dengan Rania sebagai tanda perpisahan untuk hari ini.
"Assalamu'alaikum .." ucap Rania sambil keluar dari Kobong dan melambaikan tangan.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh"
"Wa'alaikumsalam warohmatullah"
Suara para Santi putri yang membalas salam Rania terdengar mengiringi langkah kaki Rania yang semakin jauh.