Chapter 39 (Kabar Asma)

1021 Kata
Mycel mengajak Asma sesuatu tempat. Tempat tersebut tidak lain adalah rumahnya. Tempat dimana orang tuanya tinggal. Bangunan yang mereka tempati tampak sederhana. Mycel menceritakan asal muasal kehidupan mereka yang berbalik menjadi demikian. Mycel memastikan Asma kembali. Apakah ia tetap dengan niatnya untuk menikah dengannya. Mycel kini bukanlah orang yang berada seperti dulu. Sesuatu hal telah membuatnya demikian. Yang namanya roda kehidupan. Kadang di atas dan di bawah. Semua itu tidak ada yang tahu. "Kamu masih yakin setelah melihat bangunan itu? itu tempat tinggal orang tuaku yang sekarang" sambil berdiri Mycel menanyakan pada Asma. "Kenapa tidak yakin. Aku jatuh hati padamu bukan karena itu. Karena rasa yang timbul dari hatiku ini" Asma tersenyum sambil menatap ke rumah itu. Mycel mengajak Asma untuk masuk ke dalam. Kebetulan kedua orang tuanya berada di rumah. Mycel dapat langsung memperkenalkan Asma kepada mereka. Mereka pun menyambut baik kedatangan Asma. Sosok perempuan yang terlihat sangat agamis dengan pakaian yang membalut tubuhnya dengan rapat. Mycel bersyukur. Asma akhirnya mau menerima apa adanya. Bahkan kondisi ekonominya yang jauh lebih rendah di bawah Asma. "Asma beneran sudah yakin?" Mycel memastikan Asma kembali. "Iya Asma yakin" Asma menjawab dengan tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Aku akan segera menemui orang tua kamu" Asma tersenyum. Begitu juga dengan Mycel. "Sebelum bertemu dengan orang tua kamu, sekarang bertemu terlebih dahulu dengan keluargaku ya, Ayah dan ibuku di rumah" "Baiklah" Mycel berjalan menuju bangunan tersebut. Asma mengikutinya dari belakang. Mycel tidak sabar untuk memperkenalkan Asma kepada orang tuanya dan menceritakan niat baiknya. Begitu juga dengan Asma. Asma sangat tidak sabar untuk bertemu dengan orang tua Mycel. "Assalamu'alaikum" Mycel memberi salam hendak memasuki rumahnya. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" terdengar sautan dari dalam. Suara wanita yang sedikit berat terdengar. "Eh Mycel, ini bawa siapa?" wanita itu tampak kebingungan. Wanita itu terlihat mirip dengan Mycel dari wajahnya. Memang kulitnya sudah sedikit kendur karena dimakan usia. Namun pancaran manis pada wajahnya masih nampak bersarang di sana. Pantas saja jika Mycel memiliki wajah yang rupawan. Hal ini karena ibunya juga begitu cantik jika di pandang walau usianya sudah berlanjut. "Kenalin mah, ini Asma. In Syaa Allah ini calon Mycel" Mycel memperkenalkan Asma dengan sangat bangga kepada ibunya. "Kenalin Tante, saya Asma" dengan sopan Asma mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut yang tidak lain adalah ibunda dari Mycel. "Wah cantik banget ini. Kelihatan sangat sopan juga" Wanita itu memuji Asma. Ia membalas uluran tangan dari Asma. "Terima kasih banyak tante, tante juga terlihat cantik" Asma berbalik memuji kecantikan ibunya Mycel. "Wah bahagianya punya menantu secantik ini. Eh ayo masuk kebetulan ibu habis memasak roti" Asma tersipu malu. Ia perlahan masuk ke rumah itu. Mycel juga ikut masuk ke dalam rumah orang tuanya. Keadaan orang tuanya kini memang sedang di bawah. Kemewahan dan harta kekayaan sudah lenyap begitu saja dalam sekejap. Untung saja kini mereka sudah dapat menerima itu semua dan dapat melanjutkan kehidupannya kembali dengan lebih bersyukur. *** "Yakin besok?" Asma memastikan kepada Mycel. "Iya yakin As. bukanya lebih cepat itu lebih baik kan?" Mycel menjawabnya dengan pasti. Asma mengangguk. Ia kemudian memeriksa tasnya. Terdengar getaran ponsel yang bersarang di dalam tas Selempangnya itu. Asma sibuk mencari ponselnya yang berada di antara benda benda lain yang ada di tas itu. Mycel hanya mengamatinya. Diraihnya ponsel itu dengan segera. Ia membukanya. Ternyata panggilannya telah terlewat. Asma menghembuskan nafas dengan berat. Seperti pertanda kalau ia kecewa tekat mengambil ponselnya. Tidak lama kemudian ponselnya berdering kembali. Ya mama tertulis sebuah nama di layar ponsel Asma. Asma segera mengangkatnya. Mycel memperhatikan gerak gerik Asma dan ibunya yang berhasil menunda obrolannya dengan Asma. "Iya ibu, Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" kata kata itu yang terdengar oleh Mycel. Asma ternyata tidak mengeraskan volume panggilannya sehingga Mycel tidak dapat menangkap isi pembicaraan mereka dengan begitu jelas. "Oh iya ibu. Terima kasih banyak ya ibu. Jaga kesehatan di sana" Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" Mycel tidak mengetahui apa arah pembicaraan mereka. Dan sepertinya Mycel memang belum berhak untuk mengetahuinya. Ia merasa ragu dan tidak enak jika menanyakannya pada Asma. "Iya sudah kalau mau besok." Ucap Asma kepada Mycel sambil sibuk memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. "Iya. Besok tunggu aku selesai kerja ya di kontrakan kamu saja. Biar tidak terlalu lama menungguku. Tahu sendiri kan pekerjaanku berakhir setelah semua karyawan selesai bekerja" "Iya. Besok Asma tunggu setelah kerja" *** Pulang kerja. Asma segera bergegas ke kontrakannya untuk menata kembali barang barang yang akan di bawa ke rumah. Sebagian sudah Asma siapkan kala malam hari. Hanya butuh persiapan kecil yang Asma lakukan untuk pergi ke rumah bersama Mycel. Mycel datang berdua dengan Asma. Mycel sengaja tidak langsung membawa orang tuanya terlebih dahulu. Ia merasa kasihan dengan orang tuanya jika melakukan perjalanan jauh berkali kali. Maka Mycel putuskan untuk bersilaturahmi terlebih dahulu dengan keluarga Asma. Baru setelah mendapat lampu hijau dengan maksudnya ia akan mengajak orang tuanya untuk melamar Asma untuknya. "Assalamu'alaikum" Suara Mycel memanggil Asma sudah terdengar di luar. Ini tandanya Asma haru segera keluar dengan barang barang bawaannya. Sebuah tadi sudah terparkir di sana. Mycel yang menyewanya. Taxi ini akan membawa mereka menuju stasiun. Tiket sudah Mycel kantongi. "Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarakatuh" Jawab Asma dari dalam. Asma mengeluarkan barang bawaannya dan segera mengunci pintu. "Ayuk" ucap Asma sambil membawa barang barangnya masuk ke taxi. Mycel dan supir taxi juga ikut membantu memasukan barang barang Asma ke dalam taxi. Jalanan sedikit padat. Maklum posisi jam orang pulang dari kerja. Mycel memilih segera menuju ke stasiun karena ia menghindari telat kereta. Jalanan yang selalu macet memang meresahkan. Untung kreta berjalan masih 1 jam lagi. Ada sedikit ketenangan pada hati Mycel bahwa ia tidak akan telat menuju stasiun. Taxi telah sampai di pintu masuk stasiun. berakhir sudah tugas supir taxi kepada Mycel. kini ia tinggal menerima upah dari jasa yang sudah ia keluarkan. "Terima kasih banyak" ucap supir taxi kala menerima bayaran dari Mycel. Barang barang bawaan mereka sudah di turunkan semua dari dalam taxi. "Sama sama" jawab Mycel sambil memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celana. Taxi pergi meninggalkan mereka. Ia akan mencari penumpang baru. Mycel segera menuju tempat pemeriksaan tiket dan segera melakukan cek in. Kereta sudah terparkir di sana menunggu jadwalnya untuk di berangkatkan. Asma dan Mycel segera memasukinya karena waktu keberangkatan. kurang lebih tinggal lima menit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN