Sejak kejadian kala itu, Mas Ilham menjadi begitu khawatir dengan Rania. Mycel masa lalunya masih terus berusaha untuk mendapatkannya.
Lelaki semacam Mycel bisa saja melakukan apa saja demi mendapatkan yang ia inginkan. Pikiran itu selalu menghantui pikiran Ilham dan membuatnya merasa tidak tenang.
“Ran, atau kita pindah saja dari rumah ini? Bisa saja Mycel mencari keberadaan kamu sekarang”
Rania sejujurnya sudah merasa nyaman di rumahnya itu. Ia sudah sangat nyaman dengan setiap ruangnya.
“Mas, berdoa saja. Mycel tidak akan tahu keberadaanku” Rania mencoba menenangkan hati suaminya. Rania tahu, pindah rumah bukanlah hal yang mudah. Apalagi mereka harus mencari terlebih dahulu target bangunan yang akan mereka beli. Jadwal Ilham untuk mengontrol restoran di berbagai cabang pun semakin sibuk. Ia tidak tega jika setiap harinya Rania harus ia ajak berpanas panasan untuk menuju setiap cabang. Mobil belum berhasil ia beli.
“Kamu yakin kamu akan aman kalau di rumah sendiri?” Ilham memastikan Rania kembali. Ia tidak tega jika meninggalkannya sendiri.
“Iya mas, Rania akan baik baik saja. Raniai yakin..” Rania tersenyum.
Senyuman Rania ternyata berhasil membuat ketenangan sendiri pada Ilham.
“Rania selalu mengunci pintu ketika sendiri kok mas,”
“Iya sudah. Kalau ada apa apa segera kabari mas. Mas berangkat dulu ya”
“Iya mas hati hati”
“Assalamu’alaikum mas” Rania mengecup tangan suaminya itu yang hendak mencarti nafkah.
“Wa’alaikum salam warahmatulahi wabarakatuh..” Rania menjawab salam dari istrinya itu.
Mas Rian segera menyalakan motornya dan segera meninggalkan Rania dengan perasaan sedikit tidak tenang. Rania melepas kepergian suaminya dengan melambaikan tangan.
***
“Kak Ran..”
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Rania. Asma? Tumben sekali dia menghubungi Rania. Sudah lama Rania dan Asma saling bertukar kabar. Mungkin saja Asma merasa rindu padanya. Itu yang ada pada benak Rania.
“Iya, Gimana kabar As?”
“Kabar baik nih.. Lama ngga saling bertukar kabar. Kak Rania sehat?” Asma mencoba untuk mencairkan suasana.
“Alhamdulillah sehat Asma.” jawab Rania.
“Kak maaf ada hal penting yang ingin Asma bicarakan nih” Asma mulai mengutarakan maksudnya menghubungi Rania.
“Bagaimana? Ucapkanlah..”
Asma mulai menghentikan jarinya. Ia menarik nafas pelan. Dan membuangnya selang beberapa detik kemudian. Berharap iya dapat menyampaikan apa yang hendak ia sampaikan tanpa kesalahpahaman.
“Ka Ran.. Bagaimana rasa ka Rania sekarang pada Mycel?” dengan perasaan ragu akhirnya pertanyaannya berhasil di ketik Asma dan di kirim ke Rania.
Mata Rania membelahak. Ia kaget. Bagaimana Asma bisa menanyakan soal Mycel? Apakah dia akan memperkenalkan sesorang kepadanya? Itu yang Rania pikirkan. Karena ia tahu jika Asma belum mengetahui kalau ia sudah menikah.
“Tidak ada rasa apa apa As..”
“Kenapa?” ketik Rania kemudian.
“Beneran kak Rania?”
“Beneran Asma. Memangnya kenapa kok kamu tanya soal ini?”
“Ngga kak” Asma masih tidak berani untuk menyampaikan apa yang dari awal sudah ia niatkan untuk di sampaikan kepada Rania.
“Hayo dong Asma. Rania tau ini pasti kamu ingin menyampaikan sesuatu. Rania udah paham ini”
Asma serasa mati kutu. Rania memang sudah hafal betul kalau ia ingin menyampaikan sesuatu. Lama hidup bersama membuat Asma dan Rania saling paham kehidupan dan kebiasaan masing masing.
Asma mulai mengetik. Bagaimapun Rania sudah mengetahui kalau ia ingin menyampaikan sesuatu. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi.
“Begini kak..”
“Kakak benar yakin sudah tidak ada rasa apapun sama Mycel?” asma masih terus saja berusaha memastikan Rania. Ia takut jika Rania tidak menyatakan hal yang sebenarnya.
“Benar Asma. Ngapain juga kakak bohong”
Asma tersenyum. Ia memberanikan diri kembali untuk menulis pesan apa yang ingin ia utarakan,
“Asma sepertinya jatuh hati pada Mycel kak. Maaf”
Rania tidak percaya. Rania terkejut dengan pernyataan Asma. Rania menyangka ini adakah lelucon dari Asma. Asma terkadang memang suka usil dan bercanda.
“Kamu tidak bohong? Ini kamu serius apa sedang melawak?”
“Asma benar kak Rania. Makanya saya tanya dulu sama kakak. Kakak masih ada rasa atau tidak. Kalau ada Asma mau mencoba untuk membuangnya kak”
“Tidak tidak. Kamu beneran ini As?”
“Iya kak benar”
“Aku benar benar sudah tidak ada rasa apa pun dengan Mycel As. Sudah hilang semua rasanya. Kalau kamu tahu, sekarang aku sudah memiliki suami yang benar benar sayang sama aku dan keluargaku. Aku juga sangat mencintainya As. Jadi kalau kamu suka sama Mycel perjuangkan saja rasa cinta kamu.”
“Kak Ran beneran sudah menikah?” Sekarang justru Asma yang merasa terkejut. Kabar pernikahan Rania yang baru saja ia ketahui membuatnya senang dan tidak menyangka kalau Rania kini sudah berkeluarga.
“Beneran As.. Hehe maaf ya aku tidak mengabarimu”
“Yah kak Ran.. padahal aku menunggu momen kakak menikah”
“Hehe Maafkan”
“Iya kak tidak mengapa. Pasti kaka punya alasan tersendiri. Asma sudah paham sama kakak ko” Rania yang paham dengan kebiasaan Asma, hal ini berlaku juga sebaliknya. Asma juga mengetahui kebiasaan kebiasaan Rania.
“Kak ngga papa nih kalau misalnya nanti Asma menikah dengan Mycel. Kakak setuju ngga? Bagaimana pun aku ingin mendengar pendapat kakak yang aku anggap tetap menjadi kakaku”
“Ya kakak setuju setuju saja kamu sama siapa saja As. Yang penting kamu bener bener suka sama dia dan dia sayang sama kamu”
Asma begitu senang mendengarnya. Rania setuju. Itu artinya kejahatan yang pernah di perbuat Mycel bisa di maafkan dan itu berarti Mycel sosok yang baik.
“Terima kasih banyak ya Kak Ran. Sekarang aku lega.”
“Iya sama sama..”
Asma akhirnya merasa lega. Kini ia akan memperjuangkan perasaannya. Hambatannya kini adalah rekan rekan kerjanya yang semakin hari seperti mencari perhatian Mycel. Ada ada saja ulah yang mereka perbuat demi mendapat perhatian dari Mycel. Mycel yang memiliki paras yang rupawan untungnya tidak merespon tingkah konyol mereka. Inilah yang membuat Asma masih tetap mengharapkan Mycel.
Asma kembali lagi untuk bekerja. Ia bekerja dengan fokus. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia berharap dapat segera menyelesaikan pekerjaannya dan ia akan izin untuk pulang lebih awal.
Rania merasa sangat lega. Setidaknya kalau Asma mencintai Mycel dan berusaha untuk bersamanya, Mycel tidak akan lagi mengejarnya. Walau Mycel tau ia menikah, ia seakan tidak pantang mundur. Semoga saja dengan kehadiran Asma hati Mycel dapat tersentuh dan segera melupakannya.
Rania tidak sabar menunggu kepulangan Ilham. Ia tidak sabar untuk menceritakan hal ini kepada suaminya. Kejujuran dari Asma mengenai perasaannya pada Mycel sungguh hal yang tidak terduga. Rania yakin inilah skenario dari yang maha pencipta dan jalan keluar dari masalah yang menguji rumah tangganya.