Kini Asma atau yang biasa di panggil juga dengan Salma bekerja di salah satu BUMN di Jakarta. Sudah satu tahun Asma bekerja di sana. Ia mendapat penawaran menarik dari BUMN tersebut. Asma tidak mengajukan diri untuk mendaftar kerja. Namun kemampuan Asma yang baik ketika magang di sana menarik pihak BUMN untuk mempekerjakan Asma. Dengan pertimbangan dari orang tuanya akhirnya ia menerima tawaran tersebut.
Asma masih terus kepikiran dengan sosok laki laki yang pernah ia temui kala itu. Sosok Mycel sepertinya telah berhasil menarik hati Asma. Asma selalu mengelaknya. Tidak mungkin ia jatuh hati dengan sosok Mycel. Kehidupan mereka sungguh berbeda. Mereka memiliki kehidupan yang bertolak belakang. Justru Asma tidak menyukai gaya kehidupan Mycel. Namun ia jatuh cinta dengan sosoknya. Ntah apa yang sudah membuat Asma jatuh hati padanya.
Ia tidak tahu mengapa ia terus memikirkan Mycel. Kerjanya tidak fokus. Terlebih lagi pada waktu luangnya. Pikirannya di penuhi oleh bayangan sosok Mycel. Pertemuan mereka yang terakhir kali sudah membuat Asma terus di bayang bayangi oleh sosoknya.
Memang yang namanya cinta kadang bisa saja datang tanpa sebab. Tiba tiba hadir tanpa di panggil. Dan dapat juga pergi tanpa di usir.
Asma mendapat teguran dari atasannya. Kerjaannya akhir akhir ini tidak sebagus ketika di awal ia bekerja. Asma pun meminta maaf dan ia menyampaikan kalau ia sedang banyak pikiran.
Asma sudah bisa lagi dipaksa untuk bekerja. Atasannya memutuskan untuk meliburkan Asma selama tiga hari ke depan. Ia meminta Asma untuk menyelesaikan permasalahan yang mengganggu pikirannya itu.
Asma merebahkan badannya begitu ia sampai di kamar kosnya. Terakhir kali ia bertemu dengan Mycel di kota ini. Ketika ia belum lama bekerja di BUMN tempat kerjanya yang sekarang.
Asma memutuskan untuk mencari Mycel. Mungkin itulah satu satunya cara supaya pikirannya bisa tenang. Waktu liburnya akan ia manfaatkan untuk mencarinya. Ia tidak peduli yang penting pikirannya dapat segera tenang.
***
Asma menyusuri sudut kota. Ia masih tidak menemukan keberadaan Mycel. Lelah mencari ia memutuskan untuk pergi ke tempat terakhir kali ia bertemu dengannya. Namun semua nihil. Ia tidak menemukan sosoknya sama sekali. Bahkan sekedar tanda tanda keberadaannya pun tidak ia dapatkan.
Asma terus berusaha. Ia tidak mau menyerah. Ia juga tidak mau pikirannya terus terganggu memikirkan Mycel. Asma berjalan dan dengan sabar menunjukkan foto Mycel yang ia ambil di sosial media Mycel ketika ia masih berada di Amerika. Ternyata Asma sudah menaruh rasa sejak lama.
Hasilnya tetap saja nihil. Satu pun diantara mereka tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Ini membuat Asma masih resah.
***
Asma membeli sebuah minuman di Alfamart. Siang ini begitu panas. Matahari bersinar dengan sangat terik dan berhasil membuat Asma bercucuran keringat.
Ia duduk di depan Alfamart. Terdapat sepasang kursi lengkap dengan mejanya. Ia meneguk air yang sudah berada di tangannya. Pandangannya ke depan. Melihat ke arah motor yang lalu lalang memadati jalan.
Pikirannya belum bisa tenang. Baru kali ini Asma jatuh hati pada seorang pria sampai demikian. Pikirannya selalu memikirkannya setiap saat.
Seorang pemuda lewat di depannya. Ia ia paham betul dengan postur Mycel. Ia segera beranjak. Berjalan mendekat untuk memastikan apakah sosok itu yang ia cari.
“Mycel !” teriak Rania untuk menghentikan langkah pemuda itu. Pemuda itu pun berhenti. Ia menoleh ke arah Asma.
“Benar kamu Mycel?” Asma bergegas untuk mendekat. Ia merasa senang bisa bertemu lagi dengannya. Namun hatinya tidak bisa merasakan bahagia yang penuh. Wajah Mycel penuh dengan lebam. Beberapa bagian tubuhnya juga tampak lebam.
Asma masih ragu kalau itu Mycel. Sosok yang selama ini ia cari. Keadaannya sungguh memprihatinkan.
“Mycel apa yang sudah terjadi?” Asma merasa sangat tidak tega pada Mycel. Sosok yang sedang ia cari selama ini ternyata keadaannya tidak baik baik saja. Raut wajahnya sangat menunjukkan kalau ia sangat khawatir dengan keadaan sosok yang ada di depannya itu.
“Kenapa kamu bisa begini” Asma mengamati tubuh Mycel yang terlihat belum dengan lebam di mana mana.
“Tidak. Aku baik baik saja, ada tragedi yang menimpaku” jawab mycel.
“Tragedi apa?” nada bicaranya sangat menggambarkan kalau ia begitu khawatir dan ingin tahu apa yang telah terjadi.
“Tidak Asma. Aku tidak apa apa. Hanya sebuah kesalahpahaman kecil” Mycel tidak mau menyebutkan alasannya. Ia tidak mau terlihat buruk di mata Asma. Mycel sadar. Sepertinya ia tidak akan bisa memiliki Rania. Ia juga sudah bertekad untuk melupakan Rania.
“Eh kenapa kamu bisa ada di sini?”
“aku bekerja di kota ini. Kebetulan sudah satu tahun lamanya” Asma sebenarnya sangat ingin mengatakan kalau ia selalu memikirkannya. Ia juga mencari cari sejak beberapa hari lalu.
“Oh iya..” jawab Mycel.
Dari tatapan mata Mycel ke Asma, sepertinya Mycel juga jatuh hati pada Asma. Namun ia merasa tidak pantas untuk Asma. Mycel juga berpikiran kalau Asma pasti sudah memiliki calon yang segera menikahinya.
Mereka sama sama diam. Tidak ada obrolan yang di ucapkan.
“Eh kamu butuh kerjaan ngga? Kebetulan di kantor tempaku bekerja sedang kekurangan orang di dapur” Asma mengalihkan maksud ucapannya. Untung saja ia ingat kalau BUMN tempat ia bekerja sedang mencari pekerja baru.
Mycel yang kini hidupnya luntang lantung pun tidak dapat menolak. Dari pada ia terus hidup di jalanan lebih baik ia bekerja. Sebenarnya dari awal ia sangat menginginkan untuk mencari kerja. Namun ia merasa tidak bisa apa apa.
“Tawaran yang menarik. Boleh”
“Oke. Ini alamatnya” Asma menyerahkan secarik kertas yang tertulis alamat tempat ia bekerja.
“Makasih banyak Asma”
“Sama sama” Asma tersenyum.
“Aku balik dulu ya”
“Hati hati Asma..”
Akhirnya Asma bisa menenangkan hatinya. Ia memang belum mengungkapkan perasaannya pada Mycel. Setidaknya ia dapat bertemu Mycel setiap harinya dan memastikan keadaannya yang baik baik saja.
***
Asma datang ke kantor tidak seperti biasanya. Ia datang lebih pagi dari biasanya. Padahal jatahnya untuk libur masih satu hari lagi. Asma yang biasanya sangat menantikan waktu libur, sekarang justru ingin segera masuk. Bahkan jatah liburnya tidak ia habiskan.
Ia sangat bersemangat untuk bekerja. Pikirannya pun kini sudah tenang. Bahkan petugas kebersihan yang biasanya menjumpai Asma berangkat ketika ia sudah hampir selesai membersihkan lantai, kini asma datang ketika ia baru saja memulai pekerjaannya.
Kinerja Asma meningkat. Perubahannya sangat drastis. Atasan Asma pun sangat senang. Akhirnya kualitas Asma kembali seperti semula. Ya Asma juga mengakui kalau hatinya kini sudah pulih dari rasa kecemasan.
Semakin hari Mycel aura wajahnya yang asli semakin nampak. Penampilan yang awalnya acak acakan di jalan kini sudah mulai enak untuk di pandang mata. Rekan kerja Asma yang awalnya tidak memperdulikan keberadaan Myccel kini mereka merasa ada perubahan pada Mycel. Ya wajahnya yang pernah menjadi model muncul kembali dan menarik perhatian rekan kerja Asma.
“Eh maaf” Vina rekan kerja Asma yang berada pada satu departemen menumpahkan air dan membasahi pakaian Mycel. Ia sengaja menyenggol gelas dengan sikutnya ketika Mycel baru saja meletakannya.
“Iya tidak apa apa. Ini salah saya yang kurang hati hati” dengan sopan Mycel menyalahkan dirinya sendiri.
Vina ikut sibuk membantu Mycel membersihkan kumbahan air di bajunya. Namun Mycel meolaknya.
“Maaf, anda lanjutkan pekerjaan anda saja. Saya bisa membersihkannya sendiri”
Ekspresi Vina terlihat sedikit kecewa. Itu yang terekam dalam netra Asma.
Asma yang mejanya berada di samping Vina merasa panas. Vina sengaja melakukannya. Itu yang ada di benak Asma. Ingin sekali ia segera melabrak Vina. Ia terbakar api cemburu. Namun ia sadar. Ia tidak bisa melakukan itu. Pasti akan menimbulkan keributan yang memancing masalah baru. Asma menahan amarahnya sambil berdiam diri tanpa kata kata.