Chapter 1 : Si Paling Rajin
Nirmala Arunika seorang ketua Osis SMA Nusantara yang sangat dihormati oleh hampir seluruh siswa dan siswi di sana.
Nirmala juga berada di dalam kelas unggul, di mana berisi orang-orang terpilih dan sangat cerdas.
Di dalam kelas semua orang saling bersaing satu sama lain. Karena, SMA Nusantara memiliki sistem yang menuntut para siswanya untuk selalu memiliki nilai yang bagus, jika nilai mereka turun, bisa saja mereka akan pindah ke kelas yang memiliki nilai rendah.
Maka dari itu, seluruh siswa yang ada di SMA Nusantara sangat menjaga nilai mereka dan melakukan segala cara untuk mempertahankan nilai mereka ataupun menaikkannya.
Penggunaan fasilitas di sekolah ini pun di lihat dari nilai mereka, kelas unggul akan mendapat kesempatan pertama untuk mengambil makan siang mereka diikuti dengan kelas dibawahnya hingga yang paling rendah.
Saat ini kelas Nirmala akan melakukan sebuah ujian, suasana kelas saat Nirmala datang sangat hening karena teman-temannya sibuk dengan buku pelajaran mereka.
Nirmala yang sudah terbiasa melihat persaingan teman-temannya hanya berjalan pelan menuju mejanya.
“Pagi, Stevi,” bisik Nirmala kepada teman karibnya yang berada di sebelah kanannya.
Stevi menoleh sekilas untuk melihat Nirmala, “Pagi, Nir.”
Setelah menyapa sahabatnya, Nirmala pun ikut membuka bukunya untuk sekali lagi mempelajari materi yang akan diujikan hari ini.
Sebenarnya Nirmala sudah belajar dari rumah, sepanjang malam Nirmala sudah belajar, tapi untuk menghormati teman-temannya ia pun mengikuti langkah mereka.
Nirmala hanya membaca sekilas, sebelum guru pengawas datang. Ia pun segera menyimpan bukunya dan segera menuntun teman-temannya memberi salam pada guru pengawas.
“Selamat pagi, bu.” Hormat seluruh siswa saat guru pengawas duduk di kursinya.
Lalu, ujian pun dimulai dengan hawa persaingan yang sangat ketara di antara mereka satu sama lain.
. . .
Nirmala mengumpulkan jawabannya lebih dulu dari pada teman-temannya dan langsung bergegas pergi ke ruang Osis setelah itu.
Sesampainya di ruangan Osis, dirinya memang sudah ditunggu oleh anggota yang lainnya.
“Akhirnya kau datang juga Nirmala,” ucap Kevin – wakil ketua osis SMA Nusantara – menghembuskan napas lega.
“Maafkan aku, baru selesai ujian,” jawab Nirmala langsung menuju kursinya.
Setelah semua orang telah berkumpul, Nirmala memulai rapatnya bersama dengan anggota Osis yang lain membahas lomba-lomba yang akan segera datang dan keikut sertaan SMA Nusantara di dalamnya.
Begitulah sisa hari Nirmala di sekolahnya, hingga menjelang waktunya pulang, ia akan sibuk dengan urusan organisasinya.
. . .
SMA Nusantara bukan hanya memiliki siswi teladan seperti Nirmala saja, di sini pun ada sekumpulan siswa dan siswi berandal yang kerjaannya membuat onar di sekolah.
Mereka adalah jajaran murid yang mendiami kelas terakhir dan mendapat fasilitas yang paling buruk.
Nilai mereka adalah yang paling rendah dari seluruh murid yang ada di sini. Banyak orang memandang rendah terhadap mereka.
Di mana pun mereka berada, pasti akan ada bisik-bisik siswa lain yang mengejek mereka. Namun, kebanyakan dari mereka tidak menghiraukannya dan mulai menentang kebijakan yang ada di sekolah.
Salah satu orang yang menentangnya adalah Arvin Lazuardi. Seorang berandal yang kerap kali menampilkan sisi buruk dari murid teladan SMA Nusantara.
Hampir semua orang yang ada di SMA Nusantara sangat membenci Arvin. Bukan hanya karena pemuda itu mendiami kelas buangan, tapi juga karena ulahnya yang meresahkan.
Terlihat saat ini Arvin di dalam kelasnya yang b****k, sedang tertidur di atas mejanya, walaupun saat ini sedang ujian, ia tidak mengindahkan tugas tersebut.
Dalam tidurnya Arvin merasakan kakinya ditendang dengan cukup keras, merasakan rasa sakit, Arvin pun bangun dengan kesal.
Ketika di lihatnya teman karibnya sedang mengode, “Beraninya kau tidur di tengah ujian, bodoh!”
Kurang lebih begitulah yang dikatakan oleh Bryan dengan gerakan bibirnya yang tanpa suara.
“Peduli amat!” balas Arvin menirukan Bryan.
Tanpa mereka berdua sadari, sebuah penghapus papan tulis melayang dan dengan indah mendarat di atas kepala Arvin.
“Kau! Keluar!” ucap Guru pengawas sambil menunjuk ke arah Arvin yang sedang bersiap-siap untuk kembali tidur.
Mendengar dirinya disuruh keluar, Arvin tanpa menyela guru itu segera beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari kelasnya.
Teman-temannya hanya melongo melihat aksi Arvin yang sangat berani, ujian kali ini menentukan di mana kelas mereka semester depan. Namun, Arvin dengan santainya meninggalkan kelas dan ujiannya.
“Kerjakan ujian kalian!” Lagi-lagi guru pengawas menggertak seluruh siswa yang ada dikelas untuk kembali fokus kepada ujian yang ada di hadapan mereka.
. . .
Arvin tidak terlalu memikirkan perihal ujiannya, persetan dengan itu. Ia percaya bahwa kecerdasan seseorang ataupun masa depan seseorang tidak berpatokan dengan hanya sebuah nilai di atas kertas.
Ia segera beranjak dari sana, menuju tempat favoritnya rooftop sekolah. Saat perjalanannya menuju ke sana, Arvin berpapasan dengan sekelompok siswa unggulan sekolah.
Sebetulnya Arvin sangat membenci sekelompok siswa elitis sekolahnya, mereka yang sangat membanggakan sekolah dan nilai mereka.
Padahal Arvin tau, rata-rata dari mereka melakukan kecurangan saat melakukan tes mereka.
Tidak seperti biasanya, salah seorang dari rombongan itu, menatap Arvin tepat di matanya dan menyunggingkan senyum ramah pada pemuda itu.
Cukup kaget mendapat perilaku yang mengenakkan hati seperti itu. Tapi, Arvin tidak membalas sapaan hangat itu dan mengalihkan pandangannya dan berjalan terus menuju tujuannya.
. . .
Ketika, semua kegiatan dengan osisnya selesai, Nirmala mengajak teman-temannya pergi ke kantin untuk makan.
Perutnya sudah keroncongan, karena belum makan apapun selain sarapannya tadi pagi. Tentu saja diiyakan oleh yang lainnya.
Saat sampai di kantin mereka langsung memesan dan menunggu makanan mereka disiapkan.
“Sepertinya beberapa bulan ke depan kita akan sangat sibuk,” ucap Putri sang sekretaris.
“Ya, kau benar. Apalagi dengan ujian yang sedang berlangsung,” timpal Kevin sambil membetulkan kacamatanya.
“Semangat semuanya, aku yakin kita dapat melewati lagi tahun ini!” Nirmala menyemangati teman-temannya yang terlihat lelah.
“Memang dasar Nirmala, mau bagaimana pun akan tetap semangat,” ujar Kevin dengan acungan jempolnya.
Nirmala hanya tersenyum percaya diri. Tiba-tiba seseorang memanggil Nirmala dari arah belakangnya.
“Nirmala!” ucap orang itu sambil berlari.
Nirmala pun menolehkan kepalanya ke belakang, “Ada apa.”
“Kau dipanggil ke ruang guru,” jawab siswa itu dengan napas yang ngos-ngosan.
“Aku titip makananku dulu.” Nirmala menitip pesan kepada teman-temannya yang lain.
“Tenang saja, akan kami jaga untukmu!” sahut Kevin sambil menganggukkan kepalanya, meyakinkan Nirmala Nirmala pun balas mengangguk.
Segera Nirmala beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ruang guru. Nirmala sedikit was-was dengan panggilan ini, tidak biasanya para guru akan memanggilnya seperti ini. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi.