Uji Kelonggaran
"Lis, pokoknya kamu harus tutup mulut tentang masa laluku! Jangan sampai Mas Setya tahu. Oke?" bisik Rara begitu melihat Setya berjalan mendekati tamu-tamu yang baru datang.
"Iya, iya. Jangan khawatir," balas Lilis singkat.
Rara menekankan, "Kamu bersumpah? Ini hari pernikahanku, Lis. Jangan sampai orang-orang tahu kalau aku adalah mantan wanita penghibur. Harga diriku bisa hancur. Apa lagi, aku pernah punya Sugar Daddy selama dua tahun. Bisa mampus kalau ada yang tahu."
"Siap, Bos! Jangan cemas begitu, dong. Kalau ekspresimu seperti ini, yang ada suami dan tamu-tamu undangan bisa curiga," ujar Lilis memperingatkan. Dia gemas melihat gelagat Rara yang tidak biasa.
Setelah menjalin hubungan asmara selama satu tahun, akhirnya Rara menerima lamaran dari pembeli setia kedai masakan ayamnya. Satu tahun pula Rara dan Lilis mendirikan usaha kuliner yang diberi nama 'Kedai Chicky'. Sejak hari pertama buka, mereka sudah bertemu dengan Setya sebagai seorang pembeli. Tak disangka, hubungan penjual dan pembeli itu melahirkan cinta di antara Rara dan Setya.
Hari ini adalah hari pernikahan dua sejoli itu. Perayaan besar dilaksanakan di Gedung Maestra dengan seluruh keluarga dan tamu undangan. Begitu cantik, indah, dan sempurna. Melebihi konsep pernikahan yang Rara impikan sejak dulu.
Tapi, di antara megahnya acara itu, ada satu noda tak terlihat. Noda yang membuat acara itu begitu kotor, yaitu kebohongan Rara tentang masa lalunya yang merupakan mantan pekerja seksual. Bahkan, sampai dia resmi menjadi istri Setya pun, rahasia itu masih ia simpan rapat-rapat bersama Lilis.
"Kamu tahu apa yang aku takutkan?" tanya Rara.
Lilis membalas, "Apa?"
"Kalau Mas Setya curiga gara-gara aku sudah longgar, harus bilang apa coba?" cemas Rara.
"Mana mungkin? Mas Setya itu laki-laki berpendidikan. Dia pasti melek informasi dengan hal-hal sedetail itu. Mau longgar, mau sempit. Sama sekali nggak menunjukkan perempuan itu masih perawan atau nggak," balas Lilis. Dia berusaha menenangkan sang pengantin baru.
Acara pernikahan sudah berlangsung sejak pagi hari. Pada jam yang sudah mendekati waktu sore, Rara tidak perlu lagi duduk di atas pelaminan. Dia lebih nyaman duduk bersama Lilis di sisa kursi tamu yang kosong. Teman-teman dan rombongan tamu pun sudah banyak yang pulang. Kini, hanya menyisakan segelintir tamu yang datang tidak sesuai dengan jam yang tertera pada undangan. Tiba-tiba, Maria–adik perempuan Setya–datang menghampiri Rara.
"Mbak Rara, ke depan sebentar, yuk? Ada dokternya Mama. Dia baru datang sama keluarganya," ajak Maria.
"Dokter Dena baru datang ya, Mar?" Rara memastikan.
Gadis kuliahan dengan gaun berwarna merah jambu itu menganggukkan kepala. Kemudian, dia membantu Rara yang kesulitan bangkit dari kursi akibat gaun pengantin yang putih, besar, dan mekar seperti bunga krisan.
"Aku ke sana dulu ya, Lis? Ingat ucapanku tadi, ya!" pamit Rara pada Lilis.
Mata Rara menangkap kehadiran Dokter Dena bersama suami dan anaknya. Dia pun mengikuti Maria dan ikut berdiri berjajar bersama Setya dan keluarga yang lainnya. Mereka berjabat tangan dengan keluarga Dokter Dena.
"Terima kasih sudah datang, Dokter," ucap Setya.
"Sama-sama, Mas Setya. Bagaimana kondisi Bu Anne? Tidak ada gejala apa-apa, 'kan? Selama persiapan pernikahan, apa Bu Anne berperilaku di luar batas?" bisik Dokter Dena begitu tangan Harsa dijabat. Digenggamnya dengan erat bersama dengan keluarnya pertanyaan itu.
"Aman, Dokter. Mama baik-baik saja," balas Setya.
"Syukur kalau begitu. Ngomong-ngomong, sudah siap belum, Mas?" tanya Dokter Dena diiringi dengan tawa mengejek.
"Siap apa, Dokter?" Setya bertanya balik.
"Itu, lho. Memeriksa kelonggaran dan keorisinilan lubang bawah. Punya istrimu. Masa begitu saja tidak paham?" lanjut Dokter Dena. Wanita berkaca mata itu menahan tawa.
Rara yang berdiri di samping Setya, mendengar jelas celetukan itu. Seketika bola matanya bulat melotot. Dia menyindir, "Tengil banget sih jadi dokter. Ngomongnya biasa aja, dong. Profesi dokter kok mulutnya sampah begitu."
"Sssst! Rara! Jangan keras-keras. Jangan ngomong begitu sama Dokter Dena," tegur Setya sembari mendaratkan sebelah tangannya pada punggung sang istri.
Untungnya, suara Rara tidak diperhatikan oleh yang lainnya. Tapi, nampak Dokter Dena sedikit mencibir mendengar sindiran itu.
"Ya habisnya dia begitu sih, Mas. Kalau dia memang dokter yang kompeten dan menerapkan semua ilmunya, pasti bisa menjunjung tinggi adab dan perilaku. Iya, 'kan?" bisik Rara.
Setya diam mengunci mulut. Pandangannya terarah pada Dokter Dena yang beralih ke Mama Anne yang duduk di kursi bersama Maria. Nampak Dokter Dena sengaja menghindari Rara dan lebih memilih untuk menemui Mama Anne.
"Selamat atas pernikahan Mas Setya ya, Bu Anne. Semoga keluarga kalian selalu dilimpahi berkah dan kebahagiaan," ucap Dokter Dena sembari menjabat tangan wanita berusia lima puluh tahun itu.
Senyuman Mama Anne sedikit terkembang. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut wanita tua itu. Tiba-tiba, Rara menarik lengan suaminya. Dia dekatkan wajahnya ke telinga Setya.
"Mas, orang tengil itu betulan dokternya Mama? Kenapa harus dia sih, Mas? Kamu nggak ada rencana untuk mengganti dokter?" tanya Rara lirih, namun bernada tajam.
"Dia itu psikiter yang mengobati Mama selama lima tahun ke belakang. Jangan salah, Ra. Biarpun orangnya banyak mulut dan menyebalkan, kemampuannya patut diacungi jempol. Buktinya, kondisi Mama nggak separah dulu. Mana mungkin aku mengganti dokter. Mama juga pasti sudah nyaman sama Dokter Dena. Oh, iya! Biasanya, Mama ditemani Maria untuk kontrol setiap tanggal lima belas. Kapan-kapan, kamu yang temani Mama, ya?" bisik Setya sembari mengusap punggung istrinya.
"Aku? Maaf ya, Mas. Bukannya aku nggak mau. Tapi, dokternya aja seperti itu. Bisa-bisa, aku terbawa emosi. Nggak enak kalau sampai dilihat sama Mama," elak Rara.
Setya menggelengkan kepala. Dia memang sudah paham dengan perangai Rara yang keras kepala dan suka mengomel. Meski begitu, wanita muda itu memiliki kepedulian dan perhatian yang sangat besar. Hal itulah yang membuat Setya dimabuk cinta.
"Yakin nggak mau ganti dokter, Mas?" tanya Rara lagi.
"Ya nggak dong, Sayang. Mama sudah cocok sama Dokter Dena. Setiap perkembangan dan apa yang dialami Mama, Dokter Dena sudah paham seratus persen. Jadi, penanganannya pun sudah pasti tepat. Kamu pikirkan sisi positifnya saja, ya. Dokter Dena nggak sepenuhnya tengil, kok. Tenang saja," ucap Setya berusaha menghibur.
Mama Anne memang sudah memiliki gangguan kejiwaan sejak lima tahun yang lalu. Semua itu akibat kematian adik bungsu Setya yang bernama Alice. Gadis kecil itu meninggal di usianya yang ke sepuluh akibat tenggelam di kolam renang. Sejak saat itu, mental Mama Anne menjadi terguncang. Dia depresi hingga sulit diajak berkomunikasi. Tak jarang wanita itu mengamuk dan histeris tanpa sebab. Tapi, kondisinya berangsur membaik berkat perawatan dan obat dari Dokter Dena. Sampai akhirnya, Mama Anne bersedia berkomunikasi walaupun singkat dan datar.
"Kamu juga harus belajar menyesuaikan diri sama Mama ya, Ra? Kalau Mama sering interaksi sama kamu, pasti kalian berdua jadi dekat. Selama ini, Mama lebih sering dekat sama Maria. Tapi, kalau Maria kuliah, Mama sendirian. Nah, sekarang kamu punya kesempatan buat dekat sama Mama," ujar Setya.
"Tapi, Mas ... aku kan harus ke kedai setiap hari. Yaaa, waktunya memang fleksibel, sih. Tapi, aku bisa membagi waktu nggak, ya?" tanya Rara ragu.
Setya berdecak keheranan. "Kita kan sudah pernah membahas ini, Sayang. Kamu bebas menjalankan kedai kamu. Tapi, kalau kamu mau di rumah juga nggak masalah. Mau datang ke kedai seminggu sekali juga boleh. Jangan pusingkan hal itu sekarang, ya?" ucap Setya lagi.
Rara mengangguk pelan. Dia dan Setya memang sudah menyepakati banyak hal sebelum hari pernikahan ini. Harusnya, dia tidak membawa-bawa hal itu sekarang. Saat Rara dan Setya asyik berbincang, tiba-tiba Dokter Dena mendekati Setya lagi.
"Oh, iya. Pak Lukas belum pulang, ya? Bukankah seharusnya dia datang? Masa acara sebesar ini sang Papa tidak datang? Kenapa?" tanya Dokter Dena ingin tahu.
Dengan penuh kesabaran, Setya menjawab, "Papa memang sudah di Amerika sejak tiga tahun lalu, Dokter. Sampai hari ini pun, Papa masih belum bisa pulang. Untungnya, Papa memberikan restu atas pernikahan ini.",
"Loh? Berarti Pak Lukas belum tahu wajah menantunya yang cantik ini, dong? Sayang sekali," celetuk Dokter Dena.
"Sudah, kok. Saya pernah mengirim foto-foto kami ke Papa," balas Setya.
Lagi-lagi Rara dibuat geram dengan perilaku Dokter Dena yang kelewatan. Sejak tadi, wanita berambut pendek sebahu itu selalu ingin tahu hal-hal yang bukan porsinya.
Rara pun menyindir untuk yang kedua kalinya, "Apa Anda dokter betulan? Apa gelar yang Anda sandang itu asli? Kalau saya lihat, kok Dokter Dena lebih mirip anak lima tahun, ya?"
Dokter Dena menimpali, "Maksudnya?"
"Banyak tanya! Jelas? Tolong jangan banyak berkomentar ya, dokter. Tolong junjung tinggi profesi Anda. Jangan sampai orang salah mengira. Bisa-bisa, Anda dianggap wartawan yang sedang meliput berita lokal," lanjut Rara menahan kesal.
Dokter Dena mendengus kesal. Dia gendeng suaminya dan anaknya untuk berlalu ke arah yang lain. Barisan stand makanan nampak menarik perhatian mereka, sekaligus untuk menghindari pengantin yang emosional.
"Saya ke sana dulu ya, Mas Setya. Ada yang benci sama saya di sini. Hehehe. Semoga saja dia lolos uji kelonggaran. Jangan lupa dicek ya, Mas. Kalau sudah longgar, tanda tanya besar, lho?" sindir Dokter Dena sebelum pergi.