Benda dari Masa Lalu

1327 Kata
"Ra? Kamu lagi mikir apa? Kok melamun begitu?" tanya Setya saat mendapati sang istri duduk termenung di tepi tempat tidur. Baru saja Setya selesai mandi, pemandangan tak mengenakkan mengisi penglihatannya. Kini, keduanya berada di dalam kamar Rara. Kamar sederhana yang dijadikan sebagai kamar pengantin dengan hiasan bunga dan seprei baru. Jika bukan karena pernikahan ini, kamar itu hampir menyerupai kapal pecah. "Sayang, ada apa? Kalau ada masalah, ceritakan semuanya ke aku. Sekarang, aku ini suamimu. Bukan orang asing lagi. Jadi, jangan menutupi apa-apa dari aku," ucap Setya bernada lembut. Lelaki itu duduk di samping istrinya dan mengusap lembut puncak kepala wanita berambut panjang lurus dengan poni depan yang menggemaskan. Sifat Setya yang sangat lunak dan penuh pengertian, memang berbanding terbalik dengan Rara yang keras kepala dan mudah meledak. Tapi, keduanya melengkapi satu sama lain. Hal itulah yang membuat Rara bersedia menerima pinangan Setya. "Aku cuma kepikiran sama omongan Dokter Dena tadi, Mas. Bukannya apa-apa. Tapi, kita semua tahu kalau organ kewanitaan setiap orang itu berbeda. Memangnya kenapa kalau longgar dari sananya? Memangnya salah? Dia kan dokter! Harusnya dia lebih paham hal ini dari pada kita, dong? Sialan!" umpat Rara kesal. Wajahnya merah padam menahan amarah. Dengan nada yang begitu menyejukkan hati, Setya membalas, "Sudah, sudah. Omongan Dokter Dena jangan dimasukkan hati. Kita memang nggak bisa menilai orang dari sampulnya. Aku pun nggak percaya sama teori-teori kelonggaran yang nggak ada esensinya. Aku paham. Jangan takut, ya. Lagi pula, aku yakin kamu itu perempuan baik-baik. Walaupun Ayah dan Ibumu berpisah, bukan berarti kamu dididik dengan buruk, 'kan?" Kepala Rara terangguk. Dia tatap wajah sang suami yang teduh seperti pohon cemara. Senyum lelaki itu beralih pada bibir Rara, seperti menular. Senyuman yang sama ikut tergambar. "Iya, sih. Ibu selalu ngajarin aku hal-hal yang baik," ucapnya lirih. Dalam setiap ucapan Rara, ada gejolak hati yang tersembunyi. Dia sadar semua perkataannya adalah dusta belaka. Kalau sudah begini, Rara semakin enggan menceritakan masa lalunya. Pasti Setya akan syok dan kecewa. "Ngomong-ngomong, kamu punya handuk lagi, nggak? Handuk kecil. Aku boleh pinjam?" tanya Setya. "Ada, Mas. Ambil aja di laci lemariku," balas Rara sekenanya. Setya beranjak dari posisi duduknya setelah mengacak rambut sang istri. Tapi, baru beberapa langkah lelaki itu berjalan, Rara dikejutkan oleh sesuatu yang baru ia sadari. Wanita itu berucap dalam hati, "Aduh. Laci lemariku kan isinya lingerie sama alat-alat haram yang aku pakai waktu masih jadi wanita penghibur. Kalau Mas Setya sampai lihat, aku bisa mati. Bisa-bisa, aku langsung diceraikan. Masa pernikahanku cuma bertahan beberapa jam aja?" Mata Rara melotot melihat Setya sudah mendaratkan jemarinya di pegangan laci. Sebelum laci itu terbuka, Rara memekik, "Mas! Stop!" Setya tersentak. Dia melepaskan tangannya dan berbalik badan menghadap Rara. Wajahnya ikut tegang melihat ekspresi Rara yang sudah kaget setengah mati. "Ada apa, Ra? Ngagetin aja!" balas Setya cemas. "Biar aku yang ambil handuknya. Kamu tunggu di tempat tidur aja, Mas. Di dalam laci itu, ada tikusnya. Beberapa kali dia lompat waktu pintu lacinya aku buka," jawab Rara menakut-nakuti. Dia paham betul jika Setya memiliki fobia terhadap tikus, marmut, dan hewan-hewan pengerat lainnya. "Tikus? Kamu serius? Berarti, di kamar ini ada tikusnya?" tanya Setya. Wajahnya mendadak pucat pasi. Pria itu langsung mundur dan melompat ke atas tempat tidur. Bulu kuduknya berdiri membayangkan tikus-tikus berlari mengganggunya saat tidur. Setya duduk meringkuk sambil mengusap-usap kulit tangannya yang merinding. "Tolong ambilkan, Ra. Aku ... takut!" pekik Setya. Rara terkekeh geli melihat sikap Setya. Lelaki yang terkenal lembut, keren, berwibawa, dan tangguh, rupanya takut kepada binatang kecil yang menggemaskan. Dia pun berdiri dan berjalan menghampiri laci lemarinya. Dalam hati, Rara melepas beban berat yang hampir menjadi masalah. "Fyuh. Untung Mas Setya nggak jadi membuka laciku. Hampir aja kecolongan," gumam Rara. Saat membuka lacinya, Rara mendapati beberapa helai lingerie berwarna merah dan hitam. Ada pula benda-benda berbahan karet dan plastik yang bentuknya sangat tidak senonoh. Alat-alat yang digunakan sebagai pengganti alat vital. "Ah, harusnya aku buang barang-barang itu sejak dulu. Tapi, kenapa rasanya nggak rela, ya? Padahal, selama ini aku nggak pernah pakai barang-barang itu lagi. Ah, semua ini gara-gara Papa Jo. Aku memang udah nggak cinta. Tapi, kenapa bayang-bayang masa laluku sama dia masih sering teringat?" omel Rara bernada lirih. "Sudah ketemu, Ra?" tegur Setya. "Eh! Iya, Mas. Udah, kok," balas Rara terkejut. Dia ambil satu helai handuk kecil yang ada di bagian paling kanan. Kemudian, dia tutup rapat-rapat laci itu. Rara berjalan menghampiri Setya dan menyerahkan handuk itu. Pria itu pun langsung menerimanya. "Terima kasih, Sayang." Rara mengangguk sekali. Dia amati tangan Setya mengusap lembut handuk itu ke wajah. Tapi, hal tak terduga lainnya datang tanpa Rara ketahui. Pluk! "Eh, apa ini?" ujar Setya heran. Saat handuk itu mengusap wajahnya, rupanya ada benda yang tersimpan dalam lipatan handuk kecil yang Setya pegang. Sontak benda itu jatuh ke pangkuan Setya. "Itu ...." "Cincin berlian? Sejak kapan kamu cincin ini? Perasaan aku nggak pernah membelikan ini buat kamu. Kamu dapat dari mana, Ra?" tanya Setya. Telunjuk dan ibu jarinya memungut benda itu dan ia amati dengan tajam. Benda berkilauan dengan berlian kecil di tengahnya, membuat keringat dingin Rara mengucur dari belakang telinga. "I-itu ... cincin dari Ayah, Mas. Ayah membelikan aku cincin itu tanpa sepengetahuan Ibu. Makanya aku simpan di lipatan handuk. Kalau Ibu tahu, pasti marah besar. Kamu kan tahu sendiri. Semenjak Ayah menikah sama wanita simpanannya, Ibu nggak suka kalau ada barang yang berkaitan sama Ayah di rumah ini. Kalau bukan karena pernikahan kita, Ayah pasti nggak akan datang ke rumah ini. Ibu bisa ngamuk," jelas Rara berdusta lagi. Setya membalas, "Oh, begitu. Aku paham. Cincinnya cantik, ya?" "Masih cantikan cincin pernikahan kita kok, Mas," ujar Rara canggung. Dalam diam, Rara mengutuk dan mengomeli dirinya sendiri. Keteledorannya benar-benar parah. Untung saja Setya percaya dengan alibi palsunya. Rara tidak mungkin mengaku bahwa cincin itu adalah pemberian dari Papa Jo. Tepatnya saat Rara berulang tahun ke dua puluh dua tahun. Papa Jo memberikan cincin berlian itu sebagai hadiah. Memori-memori lama itu kembali menggentayangi Rara, menampilkan rekaman-rekaman masa lalunya bersama Sugar Daddy kesayangannya. "Ayolah, Ra. Kontrol pikiranmu. Jangan sampai membuat kesalahan," batin Rara. Di saat Setya masih fokus mengamati cincin indah itu, tiba-tiba Rara membuka topik pembicaraan. "Mas?" Wajah Setya yang tertunduk langsung terangkat dan membalas tatapan istrinya. "Ada apa, Sayang?" "Kalau kita menunda malam pertama, gimana? Apa kamu keberatan?" tanya Rara dengan nada tak enak. Dia takut Setya tak sependapat. Sang suami membalas, "Menunda? Kenapa? Malam ini kamu lagi nggak berselera, ya?" "Yaaa, itu salah satunya. Aku juga baru ingat kalau kamu takut sama tikus. Padahal, kamar ini banyak tikusnya. Hehehe. Maaf ya, Mas. Aku cuma nggak mau kamu terganggu. Kita jadi sama-sama nggak nyaman di sini," balas Rara. Tak disangka, Setya begitu berbesar hati menerima penolakan itu. Dia pun menanggapi, "Iya, Sayang. Nggak masalah, kok. Lagi pula, pernikahan kita memang kurang persiapan karena kita sama-sama sibuk. Kita sempat kesulitan mencari hari yang tepat karena kondisi Mamaku. Orang tua kamu juga sempat berdebat sengit beberapa hari sebelum kita menikah. Maaf ya, Ra. Pernikahan kita memang sedikit kacau. Semuanya salahku. Harusnya aku persiapkan semaksimal mungkin, bukan malah bekerja sampai lupa segalanya. Aku minta maaf, ya?" terang Setya. Dia genggam tangan Rara yang jatuh terkulai di atas tempat tidur. "Bukan salah kamu kok, Mas. Lagi pula, aku nggak terganggu sama acara pernikahan kita. Hal yang paling penting adalah status kita udah berubah. Kita udah jadi suami istri lho, Mas," balas Rara girang. Respon itu memberikan kesejukan tersendiri di hati Setya. "Ra?" panggil Setya seketika. "Iya, Mas?" "Kalau besok kita pindah ke rumahku, mau nggak? Memang sih, kita berencana untuk tinggal di rumahku mulai bulan depan. Kalau kita majukan saja, gimana? Demi kenyamanan kita berdua," usul Setya. Ide cemerlang dan hebat itu memercikkan api semangat di diri Rara. Tentu dia menerima usulan itu dengan senang hati. Bukan karena Rara ingin tinggal bersama keluarga suaminya. Tapi, dia tidak ingin barang-barang pribadinya ketahuan. Dia tidak ingin Setya menemukan barang yang berkaitan dengan masa lalunya. Menyadari kecerobohannya, Rara merasa kamarnya sangat tidak aman untuk ia tinggali bersama Setya. "Aku mau, Mas! Aku mau!" balas Rara berapi-api.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN