Pindah ke Rumah Suami

1744 Kata
Untungnya, hari ini Setya masih mengambil cuti. Jadi, Rara bisa mengurus kepindahan mendadak mereka dan berpamitan kepada Ibu Rara. Sebagai penguat alasan, Setya terpaksa membawa-bawa kondisi Mama Anne yang butuh perhatian lebih. Jadi, dia dan Rara harus pindah ke rumah keluarga Setya hari ini juga. "Ibu, kalau ada apa-apa, telepon aku, ya? Nanti aku sama Mas Setya langsung datang ke sini. Kalau ada waktu, aku akan mampir ke sini," ujar Rara meyakinkan. Sang ibu tidak menahan. Dia membalas, "Iya, Nak. Sering-sering kabari Ibu, ya? Ibu justru senang kalau kamu berbaur sama keluarga besan. Kedaimu juga lokasinya lebih dekat kalau dari sana. Iya, 'kan?" Rara mengangguk. Hatinya tenang mendengar ucapan ibunya yang begitu pengertian. Usai berpamitan, Setya pun membawa sang istri pulang mengendarai mobil SUV berwarna putih yang baru beberapa bulan ia miliki. Jarak rumah Rara dan Setya memang tidak jauh. Hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Tapi, wanita ketus itu malah terlelap di kursinya. Dia biarkan sang suami mengemudi dalam diam. Hingga saat matanya terbuka kembali, dia mendapati mobil Setya tengah mengatur posisi yang tepat di halaman rumahnya yang besar dan luas. "Woah! Udah sampai? Padahal aku cuma merem sebentar. Eh, ternyata udah sampai di rumah Mas Setya," ucap Rara sambil menguap. "Ayo turun, Ra. Aku ambil barang dulu di bagasi," ucap Setya. Rara masih mengumpulkan kesadarannya di atas kursi. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan memeriksa isinya. Tapi, sesuatu terjatuh saat ponsel itu ditarik keluar. Prak! "Eh? Apa itu?" herannya. Sontak Rara langsung menundukkan tubuhnya dengan sebelah tangan menggapai bagian bawah kursi. Begitu benda yang jatuh menyentuh ujung-ujung jarinya, dia tangkap dan genggam benda itu. Dibawanya naik untuk diamati lebih teliti. "Ternyata kunci kamarku. Huft! Untung aku udah kunci semua lemari dan laci-laci di kamar. Pintu kamar juga udah. Nyawaku bisa melayang kalau Ibu sampai masuk dan nemuin barang-barang aneh di sana. Bodohnya aku! Kenapa aku nggak kepikiran buat nyingkirin barang-barang masa laluku sebelum hari pernikahan, sih. Untung Mas Setya nggak curiga," gerutu Rara. Kedua mata cantiknya mengamati kunci kamar yang kini dimainkan dengan jemari. Kunci kecil itu diberi hiasan sebuah gantungan berbentuk kucing. Tak hanya itu, cincin berlian yang semalam ditemukan Setya dalam lipatan handuk pun ikut ia gantungkan. "Gantungan kunci berbentuk kucing ini juga pemberian Papa Jo. Oleh-oleh waktu dia pergi ke Jepang. Kenapa seluruh titik hidupku nggak bisa lepas dari kenangan sama Papa Jo, sih? Aku memang udah nggak cinta sama dia. Tapi, kenapa bayangannya nggak bisa hilang? Sial! Lama-lama jadi terganggu juga," omel Rara. Tapi, wanita itu lekas berubah pikiran. Dia melanjutkan, "Tapi, aku nggak rela membuang semua barang pemberian Papa Jo. Harganya mahal-mahal, bagus-bagus, dan cantik. Cincin berlian ini pun masih bisa dijual kalau aku lagi nggak punya uang. Ah! Kenapa rumit banget, sih! Ayolah, Rara! Papa Jo udah pergi jauh. Dia pasti udah punya istri dan anak. Jangan mikirin dia lagi!" Wanita muda itu terusik dengan isi kepalanya sendiri. Dia sadar jika seseorang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk dilupakan. "Tenang. Aku udah menikah. Setelah ini, aku pasti punya banyak kenangan indah sama Mas Setya. Perlahan, bayang-bayang Papa Jo pasti akan hilang. Sampai akhirnya, aku akan rela membuang barang-barang pemberiannya," gumam Rara. Dia berusaha menenangkan diri. Sudah satu tahun Rara menjalin hubungan dengan Setya. Sebelumnya, satu-satunya lelaki yang menjadi pujaannya adalah Papa Jo, lelaki berusia lima puluh lima tahun yang kaya raya dan sukses. Saat Rara menjadi wanita penghibur, dia bertemu dengan sosok Papa Jo pada sebuah bar kecil pinggir kota. Tak disangka, pertemuan mereka akan melahirkan hubungan percintaan yang rumit dan panjang. Hubungan itu Rara sebut sebagai cinta Papa Gula. Hubungan cinta seorang gadis muda dengan lelaki berumur yang berperan sebagai Sugar Daddy. Layaknya hubungan serupa di luar sana, Rara menerima banyak cinta dan harta dari Papa Jo. Sebagai seorang pria dewasa, Papa Jo begitu memanjakan Rara. Hampir setiap hari mereka mengunjungi hotel mewah dan melakukan hubungan terlarang. Sayangnya, hubungan itu tak bertahan lama saat Papa Jo mendadak mendapat tugas di luar negeri. Katanya, cabang perusahannya mengalami masalah finansial karena beberapa oknum staff terlibat perjudian dengan dana perusahaan. Karena Rara tak ingin menjalani hubungan jarak jauh, maka dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tak lama setelah itu, Rara membuka kedai masakan ayam bersama Lilis, sahabatnya. Dari titik itulah dia menemukan Setya. Dia membuka lembaran baru bersama lelaki yang baik dan lembut. "Ra? Ra? Ayo turun," panggil Setya dari luar mobil. Suara itu membuyarkan lamunan Rara yang terbang menelisik masa lalunya. "Eh? Iya, Mas," jawab Rara terkesiap. "Melamun, ya? Mikirin apa, sih? Sejak semalam, kamu hobi melamun, lho. Awas. Hati-hati kerasukan roh jahat" goda Setya setengah bergurau. Dengan mulusnya, wanita itu melemparkan jawaban dusta. "Ih! Mana mungkin? Aku tuh lagi mikir nanti siang mau makan apa. Aku laper deh, Mas. Mau masak pun, aku belum belanja. Gimana, dong?" tanyanya. "Nggak perlu mikirin itu, Sayang. Ada pembantu di rumahku. Soal masakan dan urusan rumah tangga, udah beres semuanya. Nggak usah khawatir. Kalau kamu mau makan di luar, aku juga siap antar. Mumpung aku belum berangkat kerja," balas Setya. "Pembantu? Sejak kapan kamu punya pembantu? Biasanya nggak ada. Baru ya, Mas?" tanya Rara. Kepala Setya mengangguk. Dia mengiyakan. "Baru beberapa hari yang lalu. Tepatnya, saat kita mengurus persiapan pernikahan. Kamu tahu kan repotnya kayak apa. Maaf aku baru bilang sekarang. Belakangan pikiranku penuh karena mikirin persiapan pernikahan. Jadi, aku banyak melupakan hal-hal penting," ujar Setya. "Oh, gitu. Nggak apa-apa kok, Mas. Aku paham. Selama kita pacaran pun, aku belum ada tiga kali datang ke rumahmu. Pasti ada banyak hal yang belum aku tahu di dalam rumah besar ini. Bantu aku ya, Mas? Aku nggak mau dianggap sebagai menantu dan ipar yang bodoh karena nggak tahu apa-apa," pinta Rara. Setya terkekeh mendengar perkataan istrinya. Rara memang selalu bertingkah dan berucap layaknya anak kecil yang manja. Tapi, di situlah daya tarik Rara. "Ya sudah. Ayo turun. Kamu mau selamanya di dalam mobil?" tanya Setya setengah bergurau. Mata Rara memicing. Dia menarik handle dan mendorong pintu mobil hingga terbuka setengah. Tubuh mungil dan pendeknya langsung menyusup keluar dari celah itu. Dilihatnya sang suami sudah berdiri bersama tiga koper besar. "Ayo aku bantu, Mas," ucap Rara sumringah. Dengan susah payah, ia berjalan menarik koper yang beratnya minta ampun. Dari halaman, dua sejoli itu berjalan menuju pintu rumah berbahan kayu jati yang sangat tinggi. Setya langsung menekan bel untuk memanggil seseorang di dalam rumah. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali Setya menekan bel, dia baru mendengar langkah kaki di balik pintu itu. Kreeeet! Begitu daun pintu terbuka, sesosok perempuan muda berdiri di baliknya. Gadis cantik dengan bandana berwarna merah yang tersemat di puncak kepala. Rambutnya ikal sebahu yang diwarnai menjadi cokelat terang. Di adalah Maria, adik perempuan Setya. "Mas Setya? Mbak Rara?" Gadis itu keheranan. "Iya, Mar. Aku sama Rara pindah kesini hari ini. Mama mana? Mbok Ti? Di rumah semua, 'kan?" tanya Setya. "Di rumah, kok. Mama lagi tiduran di kamar. Mbok Ti lagi masak buat makan siang. Sini aku bantu bawa kopernya," balas Maria sembari meraih satu buah koper yang ada di tangan kakaknya. Setya dan Rara menginjakkan kaki di rumah besar dan tinggi itu. Bukan hal yang asing bagi Setya. Tapi, Rara masih takjub begitu menyadari bahwa istana ini kini menjadi rumahnya. "Mbak Rara, mau ketemu Mama? Ayo aku temani," tawar Maria lembut. Senyuman manis gadis muda itu menyambut kehadiran Rara dengan bahagia. "Boleh. Ayo!" balas Rara bersemangat. Setya, Rara, dan Maria membawa koper-koper itu ke dalam kamar Setya, yang kini sudah resmi menjadi kamar Rara pula. Setya langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Sedangkan Rara dan Maria pergi ke kamar Mama Anne. "Mbak, jangan membuat suara yang bikin Mama kaget, ya? Nanti Mama bisa takut," ujar Maria memperingatkan. "Iya, Maria. Maaf ya, aku belum tahu banyak tentang rumah ini. Apalagi tentang kondisi Mama. Sejauh ini, kita bahkan baru bertemu tiga kali. Jadi, tolong bantu aku ya, Mar," bisik Rara. Keduanya berjalan menghampiri sebuah pintu yang letaknya tak jauh dari kamar Setya. Dengan hati-hati, Maria membuka pintu itu dan menyambut Mama Anne yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. "Mama, kita kedatangan tamu, lho. Mas Setya sama Mbak Rara datang ke sini. Kata Mas Setya, mereka akan tinggal di sini mulai hari ini. Mama senang, 'kan? Sekarang, bukan cuma aku aja yang bakal nemenin Mama. Tapi, ada Mbak Rara juga," jelas Maria dengan lembut. Rara dan Maria menghampiri Mama Anne dan duduk di tepi tempat tidur. "Mama sehat, 'kan? Pasti Mama kecapekan karena acara pernikahan kemarin. Mama mau makan apa? Aku bisa buatkan," tawar Rara. Wanita berusia lima puluh tahun itu diam mengunci mulut. Tapi, begitu Rara dan Maria menghampiri, tatapannya jatuh pada sang menantu barunya. Dia amati wajah datar Rara dengan teliti. "Mama baik-baik saja, 'kan?" tanya Rara lagi. Tiba-tiba, sebuah senyuman tipis tergambar di wajah Mama Anne. Dengan tatapan teduh di wajah sang menantu, Mama Anne seolah menyambut kedatangan Rara dengan hati yang bahagia. Tiba-tiba, Mama Anne berucap, "Rara. Menantuku yang cantik ...." Senyum lebar muncul di wajah Rara. Perasaannya berbunga-bunga mendengar suara lembut ibu mertuanya. Dengan penuh kasih, Rara mengusap punggung tangan Mama Anne yang tergeletak di atas bantal. "Iya, Ma. Mulai sekarang, aku akan menjaga Mama. Sama Rara dan Mas Setya. Mama jangan khawatir, ya. Kami semua sayang sama Mama," balas Rara. Mama Anne menganggukkan kepala. Senyumannya belum luntur. Di saat momen menyentuh itu berlangsung, sebuah nada dering ponsel samar-samar terdengar. Rupanya, datang dari ponsel Maria yang disimpan di dalam saku celana. "Sebentar ya, Ma, Mbak," kata Maria sambil menarik ponselnya keluar. Rupanya, ada satu pesan masuk. Sebuah nama tersemat di layar ponsel Maria dengan begitu jelas. "Papa. Ini pesan dari Papa!" pekik Maria girang. Rara menyahut, "Papa? Maksud kamu, Papa Lukas?" "Iya dong, Mbak. Siapa lagi? Papa aku dan Mas Setya ya cuma Papa Lukas. Aku bacain pesannya, ya. Aduh, kok aku jadi deg-degan, ya? Aku punya firasat kalau Papa bawa kabar bagus." Maria bahagia bukan main. Dia memang jarang sekali berkomunikasi dengan Papanya karena kesibukan yang tiada habisnya. Satu pesan dari Papa Lukas saja sudah membuat Maria kegirangan. Dengan semangat berapi-api, Maria membacakan isi pesan teks yang dikirim Papa Lukas. "Maria, Papa sedang dalam perjalanan ke rumah. Setelah Papa pikir-pikir, ternyata Papa ingin bertemu dan bergabung dengan indahnya perayaan pernikahan Setya dan istrinya. Papa nggak sabar bertemu kalian semua. Akhirnya, Papa putuskan untuk pulang. Sekarang Papa ada di dalam taksi. Mungkin sepuluh menit lagi Papa sampai. Tolong sampaikan ke kakakmu, ya. Tadi Papa sudah berusaha menelepon dia. Tapi, handphonenya nggak aktif. Tapi, kalau Setya masih ada di rumah mertuanya, biarkan saja. Kita bisa jemput besok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN