Kepulangan Papa Lukas

1612 Kata
"Aaaaa! Asiiik! Papa pulang, Maaa," pekik Maria gembira. Dia langsung memeluk Mamanya dengan erat. Dengan suara lirih, Mama Anne menanggapi, "Papa pulang? Papa di mana?" Maria membalas, "Papa lagi perjalanan ke rumah, Ma. Katanya, sepuluh menit lagi sampai. Ahh! Seneng banget! Pasti Mama juga kangen sama Papa, 'kan?" Senyuman sang Mama jauh lebih lebar. Wanita itu begitu tentram dan tenang sejak kemarin. Tidak ada pemicu yang membuat histerisnya kambuh. Sejak mengetahui kondisi Mama Anne, segala jejak Alice dihilangkan dan semua barangnya dimasukkan ke dalam gudang terkunci. Semua anggota keluarga berusaha mengontrol perasaan Mama Anne dengan menjauhkan barang-barang yang berpotensi membuatnya takut, sedih, trauma, dan hancur. Dalam artian lain, Mama Anne tidak dapat diberi kabar buruk tentang apapun. Hanya hal-hal membahagiakan yang bisa dia terima. Salah satunya adalah pernikahan anaknya dan kedatangan sang suami yang sudah pergi selama tiga tahun. "Papa mau pulang? Aduh, aku harus gimana ya, Mar? Aku harus terlihat sebagai menantu yang baik. Apa aku harus ganti pakaian?" tanya Rara panik. Mendadak dia dituntut untuk sempurna oleh dirinya sendiri. Maria tertawa geli. "Nggak perlu. Mbak Rara udah cantik, kok. Lagi pula, Papa itu orangnya santai. Papa juga pengertian dan menerima semua orang apa adanya. Pokoknya, dia adalah Papa paling sempurna buat aku dan Mas Setya. Sekaligus suami yang sempurna buat Mama," terangnya. Rara membalas, "Benar nggak apa-apa? Barang kali aku harus memperbaiki penampilan?" "Ha-ha-ha. Ada-ada aja. Mbak Rara sekarang panggil Mas Setya aja. Pasti dia juga senang kalau tahu Papa mau pulang," jawab Maria. Rara setuju. Dia turun dari tempat tidur Mama Anne dan bergegas menghampiri sang suami yang masih berbaring di kamarnya. Entah mengapa, jantung Rara berdegup kencang. Dia seperti hendak menyambut seorang presiden. Ada bahagia, namun juga cemas dan tidak percaya diri. Seisi rumah bersiap dan berkumpul di ruang tamu untuk menyambut kedatangan Papa Lukas. Mama Anne pun ikut andil dalam gandengan tangan Maria. Rara berdiri di samping suaminya. Tak berselang lama, sebuah taksi nampak memasuki halaman rumah besar itu. Dari dalam, semua orang sudah mencuri pandang dari celah jendela kaca. "Papa sudah sampai, Ma," bisik Maria di samping telinga ibunya. Terdengar sepatu model brogue shoes menghentak lantai hingga menimbulkan suara yang khas. Suara itu berhenti dan sebuah dorongan dilakukan pada pintu kayu jati hingga menghasilkan derit yang khas yang lembut. Kreeet! Sosok berpakaian formal dengan setelan jas berwarna hitam masuk membuka pintu itu selebar mungkin. Topi fedora khas yang dikenakan membuat penampilan sang pria semakin berwibawa. "Selamat datang, Papa!" pekik Maria gembira. Sambutan itu disusul oleh suara Setya. "Setelah sekian lama, akhirnya Papa pulang ke Indonesia. Selamat datang di rumah, Pa," ujarnya. Wajah-wajah bahagia terpampang di depan mata sang Papa. Tapi, hanya satu sosok yang tidak menunjukkan ekspresi serupa. Tak lain adalah Rara yang memasang wajah terkejut setengah mati. Dia mematung dan menahan diri agar tidak bersuara apalagi berteriak hingga menimbulkan kegaduhan. Nampak Papa Lukas memeluk lembut tubuh Mama Anne. Mereka bagai melepas rindu yang dalam sampai-sampai air mata menitik dari kornea mata sang Mama. Maria pun tak ragu untuk ikut bergabung dalam pelukan itu. "Mas, itu Papa Lukas, 'kan?" bisik Rara dari samping Setya. Dahi Setya mengernyit mendengar pertanyaan yang agak konyol. Dia pun mengangguk heran sembari membalas, "Iya. Sudah sangat jelas, 'kan? Memangnya kenapa, Ra?" Belum Rara melanjutkan, Papa Lukas datang menghampiri Setya dengan wajah sumringah. Lelaki itu langsung memeluk putra sulungnya. "Woah! Anak tertua Papa sekarang sudah resmi menjadi seorang suami. Selamat ya, Setya. Papa harap, pernikahanmu akan bahagia selamanya," ujar sang Papa. Keduanya saling memeluk dengan wajar berseri-seri. "Terima kasih, Pa!" Jantung Rara bagai dipacu. Momen manis di samping kirinya membuat bulu kuduknya berdiri. Cemas, takut, dan bingung bersatu padu dalam batin wanita bertubuh mungil itu. Tiba-tiba, Papa Lukas beralih pada menantu barunya. Dia berdiri di depan wanita yang tinggi badannya tak lebih dari pundaknya. Wajah Rara seketika tertunduk. Dia hanya berani mengamati brogue shoes berbahan kulit warna cokelat yang membalut kedua kaki Papa Lukas. "Jadi, kamu istrinya Setya, ya? Cantik, manis, dan menggemaskan. Jauh lebih cantik dari foto yang Setya kirim. Mungkin sebaiknya saya yang menyambut kedatangan dia. Selamat datang di rumah ini, Rara," ujar Papa Lukas. Pria tua itu merendahkan tubuhnya agar wajahnya sedikit sejajar dengan Rara. Mau tak mau, wanita muda itu mendongakkan kepalanya untuk menerima penyambutan yang mengerikan. "T-terima kasih," balas Rara gagap. Dua mata itu beradu pandang dengan jarak yang cukup dekat. Sorot mata Papa Lukas yang santai, jauh berbeda dengan milik Rara yang berisi ketakutan. Urat mata wanita itu nampak di sudut-sudut matanya. "Papa ... Jo?" kata Rara lirih. Suara itu hanya terdengar oleh pria berusia lima puluh lima tahun di hadapannya. "Selamat datang menantuku. Selamat datang, Gulali," bisik Papa Lukas. Sebelah matanya mengerling lalu berjalan mundur untuk berjabat tangan dengan Mbok Ti, sang asisten rumah tangga yang baru. Seketika rasa mual terasa di perut Rara. Lambungnya bagai diaduk-aduk karena syok hingga keringat dinginnya mengucur. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar," pamit Rara pada Setya. Wanita itu berbalik badan meninggalkan yang lainnya. Langkahnya tergesa-gesa. Papa Lukas melirik sedikit pada menantu barunya yang sengaja pergi menghindarinya. "Maria, Papa ke belakang dulu, ya. Haus. Tolong bawa Mama ke kamar lagi. Jangan sampai Mama kecapekan, ya? Nanti Papa ke sana," perintah Papa Lukas sambil memegang pundak putrinya. Maria menuruti ucapan sang Papa. Sekaligus kerumunan itu bubar untuk melanjutkan aktivitas masing-masing di siang hari. "Setelah ini kita makan siang bareng-bareng ya, Pa. Mbok Ti sudah masak," balas Maria. "Oke!" Papa Lukas langsung berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral. Tapi, rupanya alibi itu hanyalah sebuah kebohongan. Bukannya mengambil air minum, laki-laki itu justru berbelok ke kamar mandi untuk menghampiri sang menantu baru. Brak! Pintu kamar mandi yang tidak dikunci, langsung dibuka paksa dari luar. Rara yang tengah berdiri mematung di depan cermin kamar mandi, tersentak melihat sosok yang tiba-tiba masuk. "Pap-" "Ssttt!" Telapak tangan kanan Papa Lukas langsung membungkam mulut gadis mungil itu dan mendorong lembut hingga tubuh Rara menempel pada dingin kamar mandi yang dilapisi keramik putih. "Jangan berteriak. Kamu pasti tidak mau suami dan seisi rumah tahu tentang hubungan kita," ucap Papa Lukas. Dia menurunkan tangannya dan membiarkan Rara memasang wajah tegang. Rara menghela napas dalam-dalam. Dia kumpulkan keberanian yang sempat padam karena terkejut setengah mati. Wanita itu berusaha berpikir tenang dan membalas, "Hubungan kita sudah berakhir, Pa. Tolong jangan dekati aku lagi. Sekarang, aku ini istri Mas Setya. Jadi, tolong Papa mengerti," balas Rara bernada sinis. Wanita itu berbalik hendak pergi meninggalkan kamar mandi. Tapi, Papa Lukas menarik dan menahan tubuh kecil itu untuk tetap menempel pada dinding sampai perkataannya selesai. "Hey! Sejak kapan kamu jadi kasar begini? Saya tidak pernah bersikap jahat kepada kamu. Justru, kamu yang meninggalkan saya lebih dari satu tahun lalu. Apa kamu tidak rindu dengan saya, Gulali?" tanya Papa Lukas memancing. "Pa, aku bukan Gulali lagi. Aku Rara. Jangan sebut julukan kotor itu di depanku," omel Rara bernada rendah. Tapi, pria tua itu tidak mau menyerah begitu saja. Dia cengkeram dua pundak Rara dan menatap dalam-dalam. "Ayolah. Jangan mengingkari hati kecilmu. Begitu Setya mengirim foto kalian berdua, saya terkejut melihat Gulali kecil yang saya sayangi berada di samping putra sulung saya. Bagai mendapat petunjuk, foto itu seolah memberikan isyarat bahwa saya harus pulang ke Indonesia yang menemui kamu lagi. Jangan pernah berpikir kalau hubungan kita sudah selesai, Gulali. Di Amerika, saya selalu berangan-angan untuk mendapatkan kamu lagi. Bagaimana perasaan kamu? Apa kamu terkejut mengetahui bahwa Papa Lukas adalah sosok Papa Jo yang kamu cintai di masa lalu?" terang Papa Lukas dengan penuh penekanan. Bak takdir yang berjalan memusingkan, Rara memang tidak habis pikir jika ayah mertuanya adalah mantan Sugar Daddy yang pernah menghabiskan waktu berharga dengannya. Dia tidak menyangka jika Papa Lukas adalah Papa Jo. "Bagaimana aku bisa tahu? Kenapa Papa mengaku menjadi Papa Jo? Kalau aku tahu Papa adalah orang tua Mas Setya, aku nggak akan mau menikahi dia! Aku nggak akan menerima lamaran laki-laki baik itu meski aku mencintai dia setengah mati!" tekan Rara tajam. Sayangnya, ocehan itu hanya dianggap sebagai bualan anak-anak oleh Papa Lukas. Hatinya tidak mempercayai pernyataan Rara. "Cinta? Dengar ucapan saya baik-baik, Gulali. Dulu, kamu memutuskan hubungan sepihak karena saya akan pergi ke luar negeri. Kamu menolak hubungan jarak jauh karena tidak mau menjalani kisah cinta yang sulit. Sekarang, saya datang. Saya kembali meski harus menyandang status ayah mertua. Tapi, apa kamu yakin cintamu kepada saya tidak akan tumbuh lagi? Apa kamu yakin cintamu kepada Setya jauh lebih besar daripada cintamu kepada saya?" tanya Papa Lukas. Ada rasa geram dan marah di batin Rara. Dia ingin menghajar lelaki yang berusaha mengikis esensi pernikahannya dengan Setya. Papa Lukas melanjutkan, "Saya berani bertaruh. Pasti kamu dan Setya belum melakukan hubungan suami istri. Iya, 'kan? Saya tahu betul selera dan permainan macam apa yang kamu sukai. Sedangkan laki-laki pasif, polos, dan tidak tahu apa-apa yang menikahi kamu dengan cinta kosong, tidak akan pernah cukup untuk sang Gulali yang suka berekspresi." Rara kehabisan kata-kata. Penjelasan Papa Lukas membungkamnya hingga tak sanggup melawan. Baru beberapa waktu lalu dia dibayang-bayangi oleh kenangan masa lalunya. Sekarang, sosok itu malah sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam seperti mata elang. Rara bagai seekor tikus yang siap ditelan bulat-bulat. "Lepasin aku, Pa. Aku mau keluar. Tolong jangan ganggu aku dan Mas Setya! Hubungan lama kita sudah berakhir. Berhenti panggil aku Gulali. Aku juga sudah menghapus sosok Papa Jo di dalam pikiranku. Jadi, tolong lepaskan aku," pinta Rara bernada tajam. Kepala Papa Lukas menggeleng. Mulutnya menyeringai memamerkan gigi-giginya yang rapi. Nampak satu gigi taring yang menambah pembawaan kelam pria dewasa itu. Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba, sebuah suara mengejutkan datang dari luar kamar mandi. Pintu diketuk beberapa kali hingga membuat kepala Rara dan Papa Lukas menoleh ke arah sumber suara. "Ra? Kamu masih di dalam? Kamu kenapa? Kok lama banget? Aku masuk, ya?" panggil Setya sambil terus mengetuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN