Saluran Air

1087 Kata
"M–Mas Setya ...," celetuk Rara cemas. Papa Lukas menyeringai. Tak nampak ekspresi cemas sedikit pun. "Kamu takut, Gulali? Kamu takut suamimu melihat kita sedekat ini? Kenapa tidak sekalian saja? Bagaimana kalau kita buat Setya melihat kita sedang berciuman?" tanyanya seakan meremehkan. Detak jantung Rara kencang hingga terdengar di telinganya sendiri. Bagaimana nasibnya jika sang suami melihat dirinya berdua di dalam kamar mandi bersama Papa Lukas? "Ra? Kamu baik-baik saja?" panggil Setya lagi dengan suara lantangnya. Meski pintu kamar mandi tertutup, suara kencang itu terdengar sangat jelas. Di sisi lain, Setya mendadak khawatir. Tidak ada jawaban apa-apa dari dalam. Karena semakin cemas, akhirnya Setya menggenggam handle pintu dan membukanya dari luar dengan cepat. Klek! Brak! Daun pintu menghantam dinding dalam karena dorongan Setya yang terlalu kuat. Begitu pemandangan di dalam kamar mandi nampak, matanya membelalak kaget dan wajahnya tegang mematung. "P-papa? Rara? Kalian ...." "Oh, rupanya kamu, Setya. Papa kira siapa. Cepat bantu Papa!" pekik Papa Lukas dengan suara merintih. Posisi Rara dan Papa Lukas yang semula hanya berjarak lima sentimeter saja, kini berubah drastis. Kini, Rara berdiri diam sambil bersandar pada dinding. Sedangkan Papa Lukas, merogoh saluran air di ujung kamar mandi sambil berjongkok, masih dengan pakaian formal dan rapi. "Papa? Ada apa? Kenapa saluran airnya?" tanya Setya sambil berjalan masuk ke kamar mandi. Saat dia mendekat, nampak penutup saluran air sudah terbuka dan satu tangan Papa Lukas masih mengorek isinya dengan susah payah. Topi fedoranya sampai jatuh ke atas lantai kamar mandi yang basah dan lembab. "Ada apa, Ra?" Kini Setya pada istrinya yang masih diam mematung. Tapi, wanita itu tak dapat berkutik. Tubuhnya bagai patung manekin. "Aarrggh! Susah sekali!" erang Papa Lukas membuyarkan fokus Setya. Sampai akhirnya, beberapa detik kemudian Papa Lukas menarik keluar sesuatu dari dalam sana. Sebuah cincin batu akik berwarna merah delima yang ukurannya tak terlalu besar. "Dapat!" sentak Papa Lukas dengan suara beratnya. Dia nampak senang dengan benda yang kini ia apit dengan telunjuk dan ibu jarinya. Sang Papa bangkit dari posisi duduknya, meraih topinya yang jatuh dan diusap-usap pada bagian yang basah. Dia memutar tubuhnya untuk menghadap Setya dan Rara yang berdiri di belakang tubuh tinggi tegapnya. "Maaf, Setya. Tadi ada sedikit masalah. Semuanya gara-gara cincin batu akik ini," ucap Papa Lukas dengan santainya. Dia tunjukan benda itu. "Lalu? Kenapa Rara ada di sini?" tanya Setya. "Eng ... itu, Mas ... aku ...." Rara gugup bukan main. Tapi, Papa Lukas langsung menyambar, "Oooh. Tenang saja. Justru Rara yang sudah membantu Papa. Tadi, setelah Rara keluar dari kamar mandi, Papa langsung masuk karena ingin buang air seni. Tapi, yaaa, kamu pasti tahu sendiri, lah. Waktu Papa buang air, cincin batu akik di jari telunjuk tidak sengaja terkena air seni. Jadi, mau Papa lepas dan cuci. Tapi, malah jatuh! Masuk ke dalam saluran air! Kenapa penyaringnya sampai terlepas, sih? Apa memang sengaja dibiarkan terbuka begitu?" Setya menggeleng. "Aku tidak tahu, Pa. Aku dan Rara baru kemari pagi ini. Mungkin Mbok Ti yang membukanya," jawab Setya setengah bingung. Papa Lukas melanjutkan, "Nah, Papa langsung panggil-panggil seseorang yang ada di luar. Ternyata, Rara masih ada di depan kamar mandi. Otomatis dia yang masuk saat mendengar suara Papa. Tadi dia juga sudah mencoba merogoh cincinnya. Tapi, sulit. Sepertinya agak dalam. Akhirnya setelah Papa coba lagi, bisa! Tapi yaaa, tangan Papa jadi luka-luka begini karena memaksa masuk ke saluran air yang ukurannya tidak seberapa," paparnya. Setya dan Rara sama-sama memperhatikan punggung tangan Papa Lukas yang dihiasi empat goresan. Satu di antaranya mengeluarkan cairan merah yang dapat dibayangkan seperti apa rasa perihnya. "Aduh. Maaf aku tidak membantu, Pa. Padahal kita bisa minta tolong teknisi atau tukang bangunan yang lagi kerja di rumah Pak RT. Pasti mereka bisa bongkar paralonnya," ujar Setya merasa bersalah. "Ah, jangan dipersulit, Setya. Nyatanya, Papa bisa sendiri. Maaf karena sudah merepotkan kamu, Rara," ucap Papa Lukas berlagak manis dan lembut. Rara yang gugup dan ketakutan hanya bisa melemparkan jawaban singkat. "I–iya ... Pa," jawabnya. Kemudian, Papa Lukas beralih pada keran air yang tak jauh dari tubuhnya. Dinyalakannya sedikit untuk mengeluarkan sedikit air. Dia membasuh cincin, tangan, terkhusus luka goresannya beberapa kali. Wajahnya meringis saat area yang terluka menimbulkan rasa sakit yang menggigit. "Akh," rintihnya lirih. Dalam hati, Rara bersyukur karena drama ini akhirnya selesai. Setelah ini, mereka semua akan keluar dari kamar mandi dan melanjutkan aktivitas. Sekaligus Rara ingin bersembunyi di dalam kamar untuk menghindar dari sang pengincar handal. Sayangnya, rencana Rara langsung diruntuhkan oleh suaminya sendiri. "Ra, nanti kamu bantu Papa mengobati lukanya, ya? Ada kotak obat di kamar kita. Tolong nanti antarkan obat merah dan plester luka buat Papa," perintah Setya bernada lembut. Perasaan Rara yang sudah sedikit mereda, seketika melonjak lagi. Ada penolakan besar di hatinya. Matanya bulat melotot dengan mulut menganga. "Apa! A–aku?" sentak Rara kaget. Setya mengernyitkan dahinya. Dia memandang aneh pada wanita yang berdiri di sampingnya. "Iya. Kenapa? Kamu nggak mau bantu Papa?" tanya Setya heran. "Bu–bukan begitu, Mas ...." Setya memotong, "Sudah. Hitung-hitung sebagai penyambutan buat Papa. Hubungan mertua dan menantu memang harus hangat, 'kan? Kalau kamu berbakti pada Papa, sama saja kamu berbakti ke orang tuamu sendiri. Papa sekarang sudah resmi jadi Papa kamu juga, lho. Tolong nanti antarkan obatnya ke Papa, ya?" bujuk Setya lagi. Satu tangannya mengusap pundak Rara. Lelaki itu was-was istrinya akan mengeluarkan sifat keras kepala dan bawelnya. Tapi, ternyata tidak. Kebisingan Rara bagai dibungkam bersamaan dengan kedatangan Papa Lukas di rumah mewah ini. "I–iya, Mas," jawab Rara lemas. Wajahnya lemas, pasrah. Di satu sisi, Papa Lukas tidak mau melewatkan kesempatan. Apalagi, Setya sendiri yang membukakan jalan. "Waduh, Papa jadi tidak enak. Kalau begitu, nanti datang saja ya, Rara. Jangan sungkan. Papa ada di kamar tamu karena takut mengganggu Mama. Kita semua pasti tahu kalau Mama butuh ketenangan ekstra," sahut Papa Lukas. Batin Rara semakin berteriak. Kamar tamu yang letaknya ada di belakang arah dapur, cukup memiliki jarak dengan kamar Mama Anne, kamar Setya, apalagi kamar Maria yang ada di lantai dua. Mbok Ti pun tidak tinggal di rumah itu. Karena rumahnya yang hanya berbeda gang dengan rumah keluarga Setya, Mbok Ti selalu datang pukul lima pagi dan pulang pada pukul lima sore. Begitu seterusnya. "Bisa kan, Ra?" Setya memastikan. Dengan sangat terpaksa, Rara menjawab, "Bisa, Mas. Bisa." Papa Lukas menahan tawa bahagianya. Rasa pedih di punggung tangannya pun tidak ia rasakan. Yang ada di bayangannya hanyalah Sang Gulali kecilnya yang sebentar lagi menghampirinya di kamar tamu. Pria berusia lima puluh lima tahun itu berkata dalam hati, "Terima kasih, Setya. Kamu sudah membuka jalan agar Papa bisa menikmati istrimu ... lagi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN