"Lis! Lilis! Buka pintunya, Lis!" teriak Rara dari depan pintu. Tangannya terus menggedor pintu kayu rumah sederhana yang ditunjukkan Samuel. Tiga orang sudah berdiri menanti Lilis keluar. Hampir setengah jam mereka mengelu-elukan nama sang pemilik rumah. "Kemarin Mas Sam nggak bilang kalau rumahnya dekat sama Mbak Lilis. Ternyata kalian tetanggaan," bisik Maria yang berdiri di samping Samuel. Pria tinggi berambut ikal itu menjawab, "Kamu tahu sendiri kemarin momennya seperti apa. Nggak tepat untuk membicarakan rumah orang lain." "Iya juga, sih." Sejak kemarin, Lilis tidak menanggapi pesan ataupun panggilan telepon dari tiga orang itu. Dia marah, ngambek, merajuk karena kemarin bekerja sendiri. Dia tidak diberi tahu ke mana yang lainnya pergi. "Liiiis! Buka pintunya!" pekik Rara lagi

