part 4

633 Kata
Malam itu, kastil tenggelam dalam keheningan yang aneh. Zea duduk di dekat jendela kamarnya, memandangi kabut yang menelan halaman. Perintah siluman itu untuk tidak keluar masih terngiang di kepalanya, tapi rasa penasaran membuatnya gelisah. Suara seperti bisikan halus terdengar dari luar pintu. “ Zeana…” Ia berdiri perlahan, menatap pintu kayu besar itu. Bisikan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. “Cepat… keluar… aku akan menunjukkan jalan pulang…” Hatinya berdebar. Bagaimana orang itu tahu namanya? Ia memutar kenop pintu sedikit— BRUK! Pintu itu terbanting terbuka, dan sesuatu melesat masuk—sesosok tinggi berjubah hitam dengan tangan panjang seperti tulang kering yang dibalut kulit tipis. Cakarnya berkilat di bawah cahaya obor. Zea mundur, menabrak meja. “Siapa kau?!” Sosok itu menggeram rendah. “Darahmu… untuk Dewan…” Ia melompat maju, dan Zea berteriak. Namun sebelum cakar itu menyentuhnya, bayangan besar menerkam dari samping. Siluman serigala. Tubuhnya kini sepenuhnya berubah—bulu perak mengkilap, taring panjang, mata kuning yang bersinar marah. Dengan sekali gerakan, ia mencengkeram leher makhluk itu dan membantingnya ke dinding hingga batu retak. “Berani sekali kau menyentuh milikku,” geramnya, suaranya rendah tapi mematikan. Makhluk itu mengerang, berusaha melepaskan diri. “Kau… tidak akan bisa melindunginya selamanya… bulan purnama… sudah dekat…” RAKK! Satu gigitan ke tengkuk, dan makhluk itu menghilang menjadi asap hitam. Zea berdiri terpaku, napasnya terengah. Siluman itu menoleh padanya, matanya masih menyala. Ia melangkah mendekat perlahan, langkahnya berat… Zea mundur. “Kenapa… kau menatapku begitu?” Ia berhenti tepat di depannya. “Karena… aromamu…” bisiknya, suaranya bergetar aneh, “…terlalu… memanggil.” Seketika, ia berbalik, mendorong Zea ke tempat tidur. “Kunci pintumu. Jangan keluar. Malam ini… aku terlalu haus untuk menjamin kau selamat dariku.” Pintu tertutup keras, dan Zea terduduk, memegang simbol merah di tangannya yang kini terasa panas berdenyut, seolah ikut berdetak bersama degup jantung siluman itu di balik dinding. Pagi datang dengan langit kelabu. Kabut belum sepenuhnya menghilang, menutupi menara-menara kastil seperti selimut tipis. Zea duduk di tepi ranjang, matanya sayu. Ia tidak tidur semalaman, masih terbayang sorot mata siluman itu saat nyaris kehilangan kendali. Pintu kamarnya terbuka pelan. Sosok tinggi itu berdiri di ambang pintu—kali ini dalam wujud manusia sepenuhnya. Rambut peraknya sedikit berantakan, matanya masih tajam tapi tak lagi menyala. “Kau tidak terluka?” tanyanya datar. Zea hanya menggeleng, tapi pandangannya tetap waspada. “Kenapa kau… hampir menyerangku tadi malam?” Ia menatapnya lama, seolah mencari jawaban yang tepat. “Kontrak darah membuat ikatan antara kita semakin kuat setiap kali kau dalam bahaya. Aroma darahmu… memicu naluri asliku. Jika aku tidak pergi, mungkin aku akan—” Ia menghentikan kalimatnya, rahangnya mengeras. “…itu tidak penting.” “Penting untukku,” balas Zea tajam. “Kalau kau bisa berubah jadi ancaman, apa bedanya kau dengan mereka?” Tatapannya menggelap. “Bedanya… aku belum membunuhmu.” Zea terdiam, hatinya berdegup kencang. Siluman itu melangkah masuk, menaruh sebuah kantong kecil di meja. “Ini. Ramuan penutup aroma. Memakainya akan membuat makhluk-makhluk lain kesulitan melacakmu.” Zea menatap kantong itu. “Kalau begitu kenapa tidak kau paksa aku memakainya sejak awal?” Senyum tipis terukir di bibirnya. “Karena… aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa bertahan hidup di sini. Aku butuh tahu… apakah kau cukup kuat untuk menghadapinya.” “Siapa?” tanya Zea, meski separuh dirinya takut mendengar jawabannya. Dia menatap keluar jendela, ke arah hutan yang jauh di bawah. “Sang Pencipta Kutukan. Saat bulan purnama tiba, dia akan datang… dan dia akan menginginkan darahmu lebih dari siapa pun.” Hening memenuhi ruangan. Zea menatap simbol merah di tangannya—berdenyut lembut, seperti mengingatkan bahwa takdirnya sudah terikat pada pria di depannya. Tapi di sudut hatinya, ia bertanya-tanya… apakah saat itu tiba, siluman ini akan berdiri di sisinya—atau di sisi musuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN