part 3

617 Kata
Langkah-langkah berat siluman serigala bergema di lorong batu yang panjang. Zea mengikuti dari kejauhan, bersembunyi di balik tiang-tiang marmer besar. Ia tahu ini berisiko, tapi rasa penasarannya lebih kuat daripada rasa takut. Lorong itu berakhir di sebuah pintu raksasa berukir simbol aneh—pola lingkaran yang menyatu dengan bentuk cakar dan mata. Dua sosok berjubah hitam berjaga di depan pintu, tapi mereka sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Siluman serigala itu mendorong pintu, dan Zea mengintip dari celah kecil. Di dalam, ruangan melingkar yang luas dipenuhi oleh kursi-kursi tinggi. Di setiap kursi duduk sosok-sosok yang menakutkan—beberapa berwujud manusia dengan mata bercahaya, yang lain berkulit seperti batu atau memiliki tanduk menjulang. Udara terasa berat, seolah dipenuhi bisikan yang tak bisa dimengerti. “Waktunya hampir tiba,” suara berat dari sosok bertubuh besar dengan wajah tertutup kain hitam menggema. “Bulan purnama tinggal tiga pekan. Apakah kau sudah mempersiapkan persembahan itu?” Zea tertegun. Persembahan? Ia sadar yang mereka maksud adalah dirinya. Siluman serigala bersandar di kursinya. “Dia ada di tanganku. Tak seorang pun akan menyentuhnya… sampai waktunya tiba.” Beberapa sosok tertawa rendah. “Kau yakin bisa menahan diri, serigala? Darah itu… terlalu berharga untuk hanya menjadi milikmu.” Tatapan siluman itu berubah tajam, dan aura mengancam memenuhi ruangan. “Siapa pun yang mencoba mengambilnya… akan kehilangan nyawanya.” Zea menahan napas. Jelas sekali, ini bukan sekadar kutukan—ini perebutan kekuasaan. Tiba-tiba, mata salah satu anggota dewan—seorang wanita bergaun merah darah dengan rambut panjang seperti asap—berbalik lurus ke arah celah pintu tempat Zea mengintip. Bibirnya melengkung ke senyum tipis, seolah menyadari keberadaannya. Zea buru-buru mundur, jantungnya hampir melompat keluar. Tapi sebelum ia bisa melangkah, pintu itu terbuka lebar, dan suara siluman serigala menggema di belakangnya. “Kau… mengikuti aku?” Pintu raksasa menutup di belakang mereka dengan bunyi dentuman berat. Zea berdiri kaku di lorong, menunduk, tak berani menatap mata siluman itu. “Aku… hanya penasaran,” suaranya nyaris tak terdengar. “Penasaran?” Siluman itu berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat udara di sekitar terasa semakin padat. “Kalau saja salah satu dari mereka mencium bau darahmu, kau tidak akan berdiri di sini lagi, Zea.” Zea menelan ludah. “Tapi… mereka bilang aku persembahan. Apa maksudnya?” Dia menatap Zea lama, seakan menimbang apakah akan mengatakan yang sebenarnya. “Darahmu tidak hanya bisa mematahkan kutukanku. Darah itu juga bisa memberi kekuatan abadi bagi siapa pun yang meminumnya di bawah cahaya bulan purnama.” Zea tertegun. “Jadi… mereka ingin—” “Memburumu. Menguliti lehermu. Mengambil setiap tetes darahmu.” Suaranya dingin, tanpa belas kasihan, tapi tatapannya seperti kilatan pisau yang melindungi sesuatu yang berharga. Zea mundur setapak. “Kalau begitu… kenapa kau tidak menyerahkanku saja? Bukankah itu akan membuatmu bebas dari mereka?” Siluman itu tiba-tiba menggeram, suara rendahnya mengguncang d**a Zea. “Karena kau… milikku. Dan aku tidak membiarkan siapa pun menyentuh apa yang menjadi milikku.” Hening beberapa saat, hanya suara napas keduanya yang terdengar. Lalu, tanpa peringatan, ia meraih tangan Zea dan menempelkan jarinya pada simbol merah yang terukir di kulitnya. Rasa panas menyebar cepat, membuat Zea meringis. “Itu adalah peringatan. Mulai malam ini, kau tidak boleh keluar dari kamarmu tanpa izinku. Jika kau melanggar, kontrak ini akan membakar tubuhmu dari dalam,” ucapnya tegas. Zea ingin membantah, tapi tatapannya—tajam, penuh ancaman, dan entah kenapa… mengandung kekhawatiran—membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Saat ia berbalik dan melangkah pergi, Zea bisa melihat telinganya yang mulai memanjang, bulu perak tumbuh di rahangnya. Dia kembali ke wujud serigalanya, mungkin sebagai tanda bahwa ancaman itu bukan sekadar kata-kata. Di kejauhan, dari balik jendela kastil, mata merah seorang anggota Dewan Bayangan mengawasi mereka… dan tersenyum licik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN