Bab 8

1222 Kata
Mendengar teriakan Nadira. Farel berlari masuk ke dalam kamar “Nadira ada apa? Kenapa kau berteriak?” “Aku takut Farel, suara petir itu seperti Bom meledak dengan sangat kuat.” Nadira menutup telinganya. Farel kemudian duduk di tepi ranjang menenangkan Nadira, dia tahu Nadira pasti mengalami trauma dengan semua yang terjadi padanya. “Farel, tidurlah di sini malam ini. Aku takut.” Nadira memeluk Farel dengan erat. “Baiklah, aku akan menemaimu.” Farel naik ke atas ranjang bersama Nadira. Malam semakin larut dan hujan semakin deras, udara dingin di luar masuk ke dalam sela sela dinding kayu. Membuat Nadira mulai kedinginan. Farel lantas memberikan jaket tipis yang di pakai Nadira saat latihan, namun dingin itu seolah bisa menembusnya. “Nadira, kau baik-baik saja?” tanya Farel saat melihat bibir Nadira bergetar. “Dingin Farel, aku tidak kuat,” jawab Nadira lirih. Farel lantas memeluk Nadira dengan erat, mencoba menghangatkannya dengan tubuhnya. Nadira mendongak memandang Farel, wajah Farel terlihat sangat tampan dari dekat, hidung mancung, bibir tipis, dan rahang yang tegas. “Farel, bisakah kau menghangatkanku.” “Apa maksudmu Nadira?” Nadira tidak menjawab, dia perlahan membuka kancing baju Farel. Melihat apa yang dilakukan Nadira. Farel seketika memegang tahan Nadira, menahannya. “Maaf Nadira, tapi aku tidak pernah menyentuh wanita sebelumnya.” “Aku juga tidak pernah menyentuh pria, Farel. Ini juga pertama bagiku.” “Apa kau yakin tidak akan menyesal Nadira?” “Tidak Farel, aku tidak punya siapa pun lagi di dunia ini. Aku hanya punya kau, jangan pernah tinggalkan aku Farel.” “Aku akan selalu bersamamu Nadira.” Farel membuka pakaiannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Nadira. Farel dan Nadira saling memandang satu sama lain, setelah itu Farel mencium bibir Nadira dengan lembut dan Nadira membalas ciuman Farel. Nadira mengalungkan tangannya di leher Farel, sementara tangan Farel terus bergerak membuka helai demi helai pakaian Nadira. Napas Farel terdengar semakin berat, dia mengecup setiap inci tubuh Nadira dengan bibirnya. Membuat Nadira hanyut dalam sentuhan Farel. “Ahh, Farel,” Nadira mendesah. “Nadira tahanlah sedikit,” kata Farel saat memasukkan miliknya ke dalam milik Nadira. Nadira mencengkeram kuat lengan Farel, merasakan nyeri luar biasa di bagian sensitifnya. Farel mengecup lembut kening Nadira untuk mengurai kesakitannya. Dengan perlahan Farel menggerakkan tubuhnya, membuat Nadira mulai merasa nyaman. Malam itu untuk pertama kalinya Farel dan Nadira menghabiskan malam bersama. *** Keesokan paginya, Nadira terbangun dan melihat Farel tertidur di sampingnya. Wajah Farel terlihat semakin tampan saat tidur, dengan otot-otot perutnya yang membuat Farel tampak sempurna. “Kau sudah bangun.” Farel tiba-tiba membuka mata membuat Nadira terkesiap kaget. “I .. iya baru saja.” Nadira memegang selimut menutupi tubuh polosnya. “Apa masih sakit?” tanya Farel lagi. “Sedikit,” jawab Nadira malu. “Istirahatlah, aku akan pergi keluar sebentar mencari makanan,” kata Farel. Kemudian Farel memakai pakaiannya kembali pergi masuk ke dalam hutan. Sementara Nadira memutuskan untuk membersihkan diri. Hampir tiga puluh menit Farel datang sambil membawa buah-buahan dan ikan. Dia langsung membakar ikan-ikan itu untuk sarapan mereka. “Nadira, makanlah!” Kata Farel setelah matang. Nadira lalu mengambil ikan itu dan menyantap berasam Farel. Sehabis makan Nadira kembali latihan, sambil menahan sakit di bagian bawahnya. Di tengah-tengah latihan Farel mendapat kabar dari anak buahnya. Kalau salah satu dari mereka hilang. Farel tahu yang dimaksud mereka adalah pria yang dibunuhnya di gudang. Namun Farel berpura-pura tidak tahu, dia ingin menyelidiki siapa pengkhianat di Naga Putih. “Cari dia sampai ketemu!” perintah Farel. Farel kemudian mulai menyusun rencana mencari buku hitam sekaligus mencari pengkhianat itu, dan membangun serangan untuk menyerang Mafia Naga Hitam. “Nadira, kemarilah!” panggil Farel. “Ada apa Farel?” Nadira menghampiri Farel dan duduk di dekatnya. “Nadira, apa kau ingat ke mana ayahmu mengajakmu pergi dulu?” tanya Farel. “Ayahku tidak pernah mengajakku pergi Farel, dia hanya selalu memberikanku hadiah setiap pulang ke rumah.” “Apa kau yakin? Coba kau ingat-ingat lagi, Nadira?” Nadira mencoba berpikir, dia lalu teringat akan kejadian tiga belas tahun yang lalu. Ayahnya pernah mengajaknya pergi ke suatu tempat. “Farel, aku ingat pohon harapan.” “Pohon Harapan?” “Iya Farel, tiga belas tahun lalu ayahku pernah mengajakku pergi ke sebuah desa kecil dekat hutan larangan, di dalam hutan itu ada sebuah pohon tua dan ayah memintaku menulis harapanku. Saat itu aku menulis ingin memiliki ayah yang baik dan sempurna. Apa mungkin ayahku menyimpan buku itu disana?” “Iya mungkin saja, Nadira. Ayahmu menyimpan buku itu disana setelah kau meminta ingin memiliki ayah yang sempurna. Bisa jadi ayahmu melakukan semua itu untuk menyembunyikan siapa jati dirinya.” “Jika itu benar, kita harus pergi kesana mencari buku hitam itu, Farel.” “Iya, Nadira. Besok pagi kita akan pergi mencari desa itu, sekarang kau beristirahatlah.” Farel lalu bangkit dari duduknya, hendak pergi mempersiapkan senjata yang akan mereka bawa besok. Namun baru satu langkah, Nadira tiba-tiba menahan tangan Farel. “Farel, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” “Katakanlah?” Nadira lalu mengambil sebuah foto yang diambilnya saat berada di Safehouse, kemudian menunjukkannya kepada Farel. “Farel, apa kau tahu siapa wanita di dalam foto ini?” “Dia adalah ibumu Nadira.” “Apa kau yakin dia ibuku?” Nadira kembali bertanya, sebab dari kecil Nadira tidak bertemu dengan ibunya. Bahkan Nadira tak pernah melihat foto wajah ibunya sama sekali. “Iya Nadira. Wanita itu sama persis dengan foto pernikahan ayah dan ibumu, aku sempat melihatnya sebelum ayahmu membakar foto itu.” “Apa kau tahu di mana ibuku Farel? Apa dia masih hidup atau tidak?” “Aku tidak tahu Nadira. Dari mana kau dapatkan foto ibumu?” “Aku menemukannya di Safehouse. Aku sangat ingin bertemu dengan ibuku jika dia masih hidup, Farel.” “Jangan terlalu berharap Nadira, nanti kau kecewa. Sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk besok, perjalanan kita cukup jauh.” Nadira menganggukkan kepalanya, dia lalu berlatih lagi kemampuannya. Nadira ingin bisa mengalahkan mafia Bos Naga hitam yang sudah menghancurkan hidupnya. Malam hari pukul dua dini hari Farel dan Nadira mulai bersiap, Mereka akan berangkat mencari buku hitam itu sebelum mata hati terbit. Di saat Farel sedang memasukkan senjata ke dalam tasnya, dia mendengar suara yang berbeda menembus bising hujan—klik… klik… seperti ranting patah. Farel langsung menegakkan tubuh, tangannya bergerak cepat meraih senjata kembali dan memberi isyarat kepada Nadira dengan jarinya untuk diam. Lampu dimatikan. Ruangan langsung gelap gulita. Yang terdengar hanya hujan dan langkah kaki berat yang semakin mendekat. Tiba-tiba, kaca jendela depan pecah dihantam sesuatu. Granat asap berguling masuk, melepaskan kabut tebal berbau logam. Nadira terbatuk dan matanya terasa perih. “Turun!” teriak Farel, mendorong Nadira ke lantai. Tak lama Suara pintu belakang dihantam keras, lalu retakan kayu terdengar. Musuh mengepung dari dua arah. Farel bergerak cepat, menembak ke arah pintu depan. Suara balasan tembakan meledak di telinga. Percikan peluru menghantam dinding, dan serpihan kayu beterbangan. Nadira merangkak menuju meja, mengambil pistol yang Farel berikan beberapa hari lalu. Tangan Nadira terasa basah—entah karena keringat atau air hujan yang merembes masuk. Kemudian seorang pria bertopeng menerobos masuk dari jendela samping. Nadira refleks menembak. Peluru mengenai bahunya, membuatnya jatuh menabrak rak kayu. Nadira tak punya waktu berpikir, dia lalu di tarik keluar oleh Farel menuju ke dapur. “Ayo Nadira cepat, Lewat ruang bawah tanah,” kata Farel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN