Nadira mengangguk. Tapi belum sempat Farel dan Nadira mencapai pintu, dua bayangan muncul dari kegelapan lorong.
Nadira melihat pisau berkilat di tangan salah satu orang itu.
Farel menembak yang pertama, tapi yang kedua berhasil melompat ke arah Nadira. Nadira bergumul melawan musuh itu di lantai, ia mencium bau keringat dan darah.
Musuh itu mencoba meraih senjata Nadira tapi Nadira mengingat latihan Farel. Dengan lututnya Nadira menghantam tulang rusuk musuh itu lalu mendorongnya ke belakang dan menembak.
Setelah itu Farel menarik Nadira untuk berdiri. “Kau belajar cepat.”
Nadira tidak ada waktu untuk membalas. Suara tembakan dari luar semakin mendekat.
Farel dan Nadira bergegas turun ke ruang bawah tanah, tapi lorong menuju terowongan darurat telah runtuh sebagian—entah karena usia atau karena terkena ledakan.
“Farel, tidak ada jalan keluar.”
“Ada, tapi kita harus menerobos Nadira.”
Farel dan Nadira kembali ke ruang depan, melewati mayat-mayat yang tergeletak. Bau mesiu dan darah bercampur di udara. Farel memecahkan jendela belakang, lalu melompat keluar ke halaman becek.
Di luar, kilatan lampu senter dan peluru menyambut. Farel dan Nadira berpegangan tangan berlari menembus hujan, berlindung di balik pohon besar. Peluru menghantam batang kayu, menimbulkan suara thuk… thuk….
“Nadira, kita ke mobil di sebelah bukit!” Farel berteriak di tengah bising hujan dan tembakan.
Nadira mengangguk, mereka kemudian berlari zig-zag, mencoba menghindari tembakan. Hujan membuat tanah menjadi licin, sehingga Nadira hampir terpeleset, tapi Farel menarik Nadira tepat waktu.
Musuh terus mengejar, Dua pria lalu muncul dari sisi kanan. Farel menembak yang pertama, sementara Nadira menembak yang kedua. Nadira mengarahkan pistolnya ke kaki, seketika membuat musuh itu terjatuh.
Mobil jeep yang di sembunyikan di balik bukit sudah terlihat. Tapi sebelum Farel dan Nadira mencapainya, sebuah ledakan besar menghantam rumah bayangan di kejauhan. Tempat itu seketika hancur terbakar. Api menyala oranye di tengah hujan, asap tebal membubung ke langit.
Nadira terpaku melihatnya. Semua tempat yang pernah ia tinggal kini semua hilang. Sesaat kemudian Farel menepuk bahu Nadira dengan keras.
“Jangan lihat ke belakang Nadira. Kita sudah tidak punya rumah lagi.”
Farel dan Nadira melompat masuk ke mobil Jeep. Mesin meraung, ban berputar di tanah berlumpur, dan mobil melaju menembus kegelapan. Dari kaca spion, Nadira masih bisa melihat cahaya api yang memakan habis tempat persembunyiannya bersama Farel.
Dan untuk pertama kalinya sejak penculikan itu, Nadira benar-benar sadar—tidak ada tempat yang aman untuknya.
*
Mobil Jeep tua terus meraung di jalanan tanah yang licin, menembus kegelapan hutan. Hujan masih mengguyur, memukul kaca depan seperti ribuan jarum. Wiper bergerak cepat, tapi pandangan tetap terbatas hanya beberapa meter ke depan.
Farel menggenggam setir erat, matanya fokus ke jalan. Sementara Nadira mengatur napasnya yang masih memburu, tubuhnya gemetar, entah karena dingin atau adrenalin.
“Ke mana kita Farel?” tanya Nadira.
“Menjauh,” jawab Farel singkat.
Selang beberapa menit dari arah belakang, suara deru mesin lain mulai terdengar. Samar, tapi semakin mendekat.
“Farel, mereka masih mengejar,” kata Nadira menoleh ke belakang.
Farel hanya mengangguk. “Pegangan yang kuat Nadira.”
Farel membanting setir ke kiri, mobil Jeep melompat ke jalur sempit di antara pepohonan. Ranting-ranting mencambuk kaca dan pintu. Kecepatan tinggi di jalan berlumpur membuat jeep berguncang liar.
Lampu senter dan sorot lampu mobil muncul di kejauhan, menari di antara pepohonan. Tembakan terdengar, peluru menghantam tanah di samping mobil, sebagian memantul di bodi jeep.
“Farel!” teriak Nadira.
Farel tidak menjawab, hanya memutar setir lebih tajam lagi, membuat jeep hampir terguling. Ban belakang terpeleset, tapi Farel bisa menguasai kembali kendali.
Farel dan Nadira keluar dari hutan, ke jalan beraspal yang gelap. Farel menekan gas dalam-dalam. Angin dingin masuk dari jendela yang pecah, membawa bau mesiu dan lumpur.
Nadira mencoba menenangkan napas, tapi suara mesin di belakang kembali terdengar semakin keras.
Farel lantas mengeluarkan pistol dari sarung di pahanya dan memberikannya pada Nadira.
“Nadira, kalau mereka mendekat, tembak ban depannya.”
“Kalau aku meleset Farel?”
“Jangan.”
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam muncul dari belakang, jaraknya hanya sekitar lima puluh meter. Lampunya menyorot terang, menyilaukan mata. Nadira membuka jendela, hujan langsung membasahi wajah dan bajunya.
Ketika Mobil itu semakin dekat. Nadira mengarahkan pistol, mengingat latihan menembak botol bersama Farel sambil mengatur napasnya.
Dor!
Peluru menghantam aspal. Nadira Gagal.
Mobil semakin dekat. Suara mesin menderu, seperti binatang buas yang siap menerkam. Nadira mencoba menembak lagi.
Dor!
Ban depan mobil musuh meledak. Mobilnya oleng ke kiri, menabrak pagar jalan, lalu terhenti.
“Bagus,” kata Farel tanpa menoleh.
Nadira bersandar di kursi, mencoba mengatur napasnya lagi. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
Ponsel satelit Farel berbunyi. Dia mengangkatnya sebentar, hanya mendengar, lalu Farel membantingnya ke lantai mobil.
“Mereka tahu rute kita. Kita harus ganti jalur.”
Beberapa kilometer kemudian, Farel membelokkan jeep ke jalan kecil yang menurun menuju lembah. Di bawah sana, terlihat sungai besar yang berkilat terkena cahaya petir.
“Apa kita akan menyeberang Farel?”
“Tidak ada pilihan lain Nadira.”
Ban jeep masuk ke air, arus deras menghantam sisi mobil. Air mulai naik hingga setengah pintu, mesin meraung berat. Nadira menggenggam kursi, takut mobil akan terbawa arus.
Petir menyambar di kejauhan, menerangi siluet dua mobil lain di tepi sungai ternyata mobil musuh sudah menunggu di sisi seberang sungai.
“Farel, mereka memotong jalan!” seru Nadira.
“Kita turun sekarang Nadira!” Farel berteriak.
Tanpa sempat berpikir, Nadira dan Farel membuka pintu dan melompat ke air dingin. Arus menghantam tubuh Nadira membuatnya hampir terhanyut. Farel segera menyusul, meraih tangan Nadira dan menariknya ke tepian yang gelap.
Farel dan Nadira kembali berlari di sepanjang tepian sungai, kaki mereka terasa berat oleh lumpur. Teriakan dan sorot lampu dari musuh terdengar di belakang. Salah satu peluru menembus pohon di samping Nadira.
Farel dengan cepat mendorong Nadira masuk ke dalam hutan, menunduk di balik semak. Mereka berdua menahan napas saat dua pria bersenjata berjalan hanya beberapa meter dari tempat Farel dan Nadira bersembunyi. Jantung Nadira berdebar begitu keras, ia takut mereka bisa mendengarnya.
Butuh waktu hampir satu jam untuk memastikan mereka menjauh. Setelah itu Farel akhirnya mengajak Nadira berjalan lagi, menembus hutan tanpa arah yang jelas. Hujan mulai reda, tapi udara tetap dingin.
“Apa kita sudah aman sekarang Farel?” tanya Nadira.
“Tidak, Nadira. Tapi setidaknya mereka kehilangan jejak kita untuk malam ini.”
Farel dan Nadira terus berjalan, sesekali Farel melihat sekeliling, memastikan tidak ada bayangan yang mengikuti. Tenaga Nadira perlahan hampir habis. Pipinya pucat, bibirnya membiru. Melihat itu, Farel mendekat, melepas jaket kulitnya yang basah, lalu menyampirkannya ke tubuh Nadira.
“Tidak banyak bantu, tapi setidaknya kau tidak kedinginan sendirian,” kata Farel sambil tersenyum tipis.
Farel dan Nadira berjalan menyusuri jalan setapak kecil di tepi hutan, kaki terbenam lumpur hingga pergelangan. Di kejauhan, lampu-lampu kuning kecil mulai terlihat—desa terpencil yang nyaris tertelan gelap malam.
“Farel, kalau kita masuk desa, apa mereka bisa mencari kita ke sana juga?”
“Iya Nadira, untuk itu kita cari tempat yang sedikit jauh dari desa.”
Setelah cukup lama Akhirnya Farel dan Nadira menemukan sebuah rumah panggung tua di ujung desa. Papan kayunya lapuk, catnya mengelupas, dan jelas sudah lama ditinggalkan. Farel mengintip jendela—kosong.
“Ayo, masuk!”
Nadira melangkah ragu. Suara lantai berderit mengikuti tiap langkahnya. Farel menutup pintu rapat-rapat, lalu memeriksa setiap sudut, memastikan aman. Setelah yakin, dia duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding. Sementara Nadira memeluk lutut, berusaha menghangatkan diri.
“Farel, bagaimana mereka terus tahu di mana keberadaan kita?” tanya Nadira tak mengerti.
“Pengkhianat itu, pasti dia yang memberitahu peta kawasan disini kepada Mafia Naga Hitam, setelah mata-matanya kita lenyapkan.”
“Siapa sebenarnya pengkhianat itu Farel?”
“Aku juga tidak tahu Nadira, dia terlalu licin untuk di tangkap.”
“Jadi kita harus bagaimana sekarang Farel?”
“Untuk sekarang kita beristirahat di sini, besok kita lanjutkan perjalanan kita.”
Farel melepas sepatu dan baju kaosnya, ia bertelanjang d**a lalu duduk di dekat Nadira. Melepaskan jaket yang di pakai Nadira, kemudian Farel membawa Nadira kedalam pelukannya.
“Kau pasti masih kedinginan.” Farel mempererat pelukannya.
Nadira tersenyum, entah kenapa dia merasa aman bila di dekat Farel.