Bab 10

1082 Kata
Malam semakin larut. Farel membiarkan Nadira tidur lebih dulu, dia memperhatikan wajah Nadira yang akhirnya tenang dalam tidur, rambutnya yang sedikit berantakan, dan napasnya yang teratur. Dalam hati, Farel bertanya-tanya sejak kapan rasa ini mulai tumbuh yaitu rasa yang tak hanya ingin sekedar melindunginya saja. Di luar, angin malam berhembus, membawa suara-suara samar yang entah berasal dari hutan atau dari para pengejar yang mungkin masih mencari. Tapi di rumah lapuk itu, untuk sesaat, mereka seperti punya atap yang melindungi… walau bukan rumah. *** Fajar belum sepenuhnya datang. Farel mengguncang bahu Nadira pelan, membangunkannya. “Nadira, kita harus pergi sekarang,” kata Farel setengah berbisik. Nadira membuka mata, masih setengah sadar. “Kenapa Farel? Apa mereka kembali mengejar kita?” “Iya Nadira, aku melihat cahaya senter di tepi desa,” kata Farel sambil menatap ke luar celah papan rumah panggung. Mendengar hal itu sekejap kantuk Nadira lenyap, dia meraih jaket Farel yang mulai mengering dan memakainya. Nadira lalu berdiri. Kakinya terasa pegal, tapi ia memaksa bergerak. Farel menarik Nadira keluar lewat pintu belakang rumah. Jalan setapak di belakang rumah itu dipenuhi semak liar. Suara jangkrik malam berpadu dengan langkah cepat mereka. “Kita tidak bisa cuma jalan kaki. Mereka pasti pakai mobil atau motor,” kata Farel sambil memandang sekitar. Mata Nadira menangkap sebuah gubuk kecil tak jauh dari kebun kosong. Di sana, ia melihat sebuah motor tua yang tertutup terpal. “Farel, Itu bisa dipakai?” Farel tersenyum tipis. “Kalau beruntung, iya.” Farel dan Nadira mendekat ke arah gubuk. Farel cepat-cepat membuka terpal, memeriksa mesin, dan mengutak-atik kabel. Nadira berdiri gelisah, menatap ke arah jalan besar. Di kejauhan, suara kendaraan mulai terdengar. “Cepat, Farel!” Farel menyalakan motor itu—suara mesinnya batuk dua kali sebelum hidup. “Naik!” Nadira bergegas naik ke belakang, melingkarkan tangan di pinggang Farel tanpa sadar. Farel menggeber gas, motor melaju menembus jalan tanah yang basah oleh sisa hujan. Di belakang, suara teriakan terdengar. Cahaya senter mulai memantul dari pepohonan. Tak lama, suara deru motor lain menyusul. “Farel, mereka mengejar kita!” seru Nadira. “Aku tahu! Pegangan yang kuat!” Farel memutar setang, membawa motor mereka melewati jalan sempit di antara sawah. Roda terpeleset sedikit, lumpur memercik, tapi Farel tetap mengendalikan laju. Suara motor para pengejar makin dekat. Salah satu di antaranya melepaskan tembakan. Nadira berteriak, tubuhnya refleks menunduk. Farel mempercepat laju motor, lalu tiba-tiba membanting setang ke arah jembatan kayu kecil yang nyaris roboh. “Mereka tidak akan berani lewat sini!” kata Farel. Motor Farel meluncur di atas papan yang berderit, lalu masuk ke jalan setapak menuju hutan lebat. Napas Nadira masih memburu, tangannya belum mau lepas dari tubuh Farel. Beberapa menit kemudian, suara motor pengejar menghilang. Farel memperlambat laju motornya, lalu berhenti di bawah pohon besar. “Apa kita… aman?” tanya Nadira, masih gemetar. “Untuk sekarang iya.” Farel mematikan mesin, dia dan Nadira lalu saling menatap satu sama lain. Ada jeda hening. Napas keduanya masih berat, tapi tatapan mereka saling terkait seolah waktu melambat. Nadira menyadari jantungnya berdetak bukan hanya karena ketakutan—tapi karena Farel. Setelah cukup lama Farel akhirnya mengalihkan pandangannya. “Nadira, kita harus lanjut. Masih jauh sampai kita benar-benar bebas.” “Kita mau kemana Farel?” “Sesuai tujuan awal kita mencari buku hitam, kita akan pergi ke desa dekat hutan larangan.” Nadira mengangguk. Farel lalu melajukan lagi sepeda motor tua itu, menembus hutan. Tapi di hati Nadira, benih rasa percaya mulai tumbuh bersama sesuatu yang ia takut untuk akui yaitu rasa yang perlahan berubah menjadi cinta. * Matahari siang menembus celah daun, menebar cahaya hangat. Motor tua itu akhirnya berhenti di tepi sungai kecil yang jernih. Farel turun, memeriksa sekeliling sebelum berkata. “Kita istirahat sebentar di sini. Aku butuh waktu buat memikirkan jalur selanjutnya.” Nadira duduk di atas batu besar di tepi sungai. Airnya berkilau, memantulkan langit biru yang mulai bersih dari awan. Ia mencelupkan tangan, membiarkan dinginnya menyapu kulit. Sementara Farel mencari buah-buahan yang bisa di makan di hutan. Tak lama Farel kembali sambil membawa buah-buahan. Mereka lalu memakannya untuk mengisi perut kosong. “Farel, kau tidak pernah cerita soal dirimu selain kau adalah Mafia sama seperti ayahku,” kata Nadira tanpa menoleh. Mendengar pertanyaan Nadira. Farel lantas duduk di sebelah Nadira, meraih segenggam air untuk membasuh wajah. “Tidak banyak yang perlu di ceritakan Nadira.” “Tapi aku ingin tahu tentang dirimu Farel?” Farel terdiam. Angin membawa aroma dedaunan basah. “Dulu aku adalah anak yatim-piatu yang hidup di jalanan Nadira, aku tidak punya uang dan terpaksa mencuri. Ayahmu menangkapku tapi dia membebaskanku dan mengajakku bersamanya di organisasi Naga putih.” “Jadi, kau sudah lama mengenal ayahku.” “Iya, Nadira. Selama ini aku juga mengawasimu diam-diam. Sebelum ayahmu meninggal, dia memintaku untuk menjagamu apapun yang terjadi.” Nadira sedikit terkejut mendengar Farel yang ternyata sudah mengawasinya sejak lama. Hening. Sungai mengalir pelan, suara burung terdengar di kejauhan. Nadira tidak tahu harus bicara apa lagi. Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya sejak bertemu Farel. Nadira melihat lelaki itu bukan sebagai penculik atau anggota mafia, tapi seseorang yang dekat dengannya. Tanpa sadar, jarak di antara mereka semakin dekat. Farel mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Nadira yang dingin. Sentuhan itu membuat Nadira terpaku, bukan karena takut… tapi karena hangatnya merembes masuk hingga ke hatinya. “Nadira…” suara Farel terdengar rendah, nyaris berbisik, namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara tembakan memecah udara. Mereka berdua refleks menunduk. Farel langsung berdiri, menarik Nadira ke balik semak lebat. Dari kejauhan, suara motor terdengar. “Mereka menyusul lagi,” bisik Farel. “Kita harus pergi sekarang.” Farel menarik tangan Nadira. Meski langkah mereka terburu, Nadira bisa merasakan detak jantungnya yang berbeda—karena Farel, dan bukan lagi karena ketakutan. Motor tua itu meraung saat Farel memutar kuncinya. Tanpa pikir panjang, Farel menarik gas, membawa mereka melesat keluar dari tepi sungai menuju jalan tanah yang sempit. Suara motor para pengejar semakin jelas, bercampur dengan teriakan kasar yang menusuk telinga. Nadira memeluk pinggang Farel erat-erat. Angin sore menampar wajahnya, tapi ia tak berani melepas pegangan. Dari belakang, suara tembakan kembali terdengar, sebuah peluru menghantam tanah dan memercikkan debu ke udara. “Turun! Pegang erat Nadira!” seru Farel sambil memiringkan motor tajam ke kiri. Roda hampir tergelincir, tapi manuver itu berhasil membuat mereka menghindari tembakan. Namun nasib buruk datang terlalu cepat. Salah satu peluru lainnya menyasar tepat ke arah bahu kiri Farel. “Aaah!” Farel mengerang, tubuhnya terhuyung ke depan. Darah langsung membasahi bagian lengan bajunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN