Bab 11

1127 Kata
“Farel!” Nadira panik, tapi Farel menggeleng. “Tidak ada waktu, Pegangan!” Motor berguncang keras. Farel berusaha menahan rasa sakit, tapi nadanya mulai lemah. Akhirnya Farel menghentikan motornya sejenak. “Nadira… ambil setang.” “Apa?!” “Ambil alih. Sekarang!” perintah Farel. Dengan ragu, Nadira meraih setang, sementara Farel bergeser sedikit ke belakang, menahan luka dengan tangan kanan. Motor melaju liar, tapi Nadira berusaha mengendalikannya, matanya fokus pada jalan di depan. Para pengejar semakin dekat. Salah satu dari mereka menyalip dari sisi kanan, mencoba menendang motor Nadira. Dengan refleks, Nadira membanting setang ke kiri, lalu menginjak gas lebih dalam. Jalanan tanah yang becek membuat percikan lumpur menutupi wajah pengejar itu hingga ia terhuyung. Farel, meski terluka, dia mengangkat pistol dengan tangan kanannya dan menembak ban motor salah satu pengejar lainnya. Suara letusan ban terdengar, motor itu oleng lalu terjatuh. “Kiri! Masuk ke jalan sempit itu!” Farel memberi arahan sambil menahan erang kesakitan. Nadira membelokkan motor ke jalur yang nyaris tertutup pepohonan. Ranting-ranting mencambuk wajahnya, tapi ia terus memacu motor hingga suara para musuh pengejar mereda di belakang. Akhirnya mereka berhenti di sebuah gubuk kosong di tengah hutan. Nadira mematikan mesin, lalu buru-buru membantu Farel turun. Darah mengalir deras dari luka di bahunya. “Farel, Duduklah. Aku harus periksa,” kata Nadira sambil menahan panik. Dia merobek bagian bawah kausnya, lalu menekan kain itu ke luka Farel. Lelaki itu meringis, tapi tidak menepis. “Nadira…” suaranya serak. “Kau hebat tadi.” Nadira menatap Farel, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mau kehilanganmu Farel. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Nadira. Farel menatap balik Nadira, matanya penuh sesuatu yang sulit diartikan—antara sakit, kagum, dan… rasa yang lebih dalam. “Nadira, kalau kau terus seperti ini, aku bisa jatuh cinta padamu,” kata Farel tersenyum tipis meski pucat. Nadira terdiam. Dan untuk sesaat, suara hutan seakan menghilang, hanya menyisakan degup jantung mereka berdua. * Sore berubah menjadi malam dengan cepat. Gubuk reyot di tengah hutan itu menjadi satu-satunya tempat berlindung mereka. Farel duduk bersandar di dinding kayu, wajahnya pucat, napasnya berat. Nadira menyalakan api kecil di tengah ruangan menggunakan ranting kering yang ia temukan di luar. Cahaya api memantul di wajah keduanya, membuat suasana terasa hangat sekaligus mencekam. Nadira kembali ke sisi Farel, membawa air sungai di dalam botol plastik yang ia temukan. “Farel, aku harus bersihin lukanya dulu,” kata Nadira sambil menatap bahu Farel yang tertembus peluru. “Aku bisa sendiri Nadira.” “Jangan keras kepala.” Nadira memotong cepat, suaranya tegas. Dia merobek kain yang sudah ia gunakan menekan luka, lalu membersihkan darah dengan hati-hati. Farel menggigit bibir menahan nyeri, tapi tidak menolak, dia lalu mengerang pelan. “Sakit?” tanya Nadira. “Lumayan. Tapi aku udah biasa,” jawab Farel, tersenyum tipis. “Farel, kita harus segera ke rumah sakit.” “Iya, Nadira. Tapi Saat ini aku tidak bisa menghubungi anak buahku, tidak ada jaringan di sini.” “Jadi kita harus bagaimana Farel?” Nadira menundukkan wajahnya, menghapus air matanya diam-diam. Dia takut luka di tangan Farel semakin parah. “Nadira, kau menangis?” tanya Farel menatap Nadira dalam. Nadira menggeleng, meski jelas air matanya jatuh. “Aku cuma… takut kehilanganmu Farel.” Farel tersenyum sambil mengulurkan tangan, menyentuh pipi Nadira dengan jemari yang kasar namun hangat. “Aku masih di sini bersamamu Nadira, aku baik-baik saja.” Tatapan mereka terkunci. Api di tengah ruangan berderak pelan, angin malam menyusup dari celah dinding. Nadira sadar betul kalau detik ini, dunia luar yang penuh ancaman itu seakan berhenti berputar. Malam itu, Nadira dan Farel makan dengan sisa buah yang mereka bawa tadi siang. Setelah itu Farel dan Nadira tidur bersebelahan di lantai kayu dengan api kecil yang menjaga hangat. Nadira tidak benar-benar tidur—dia terjaga, mendengar napas berat Farel, memastikan lelaki itu masih bernapas. Di luar, suara hutan bergema, tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu tak sebesar rasa takut kehilangan. *** Pagi itu, kabut tipis menyelimuti hutan. Nadira membantu Farel berdiri. Luka di bahunya sudah dibalut rapi, tapi gerakannya masih kaku. “Kita harus keluar dari hutan sebelum mereka menemukan jejak kita lagi,” kata Farel pelan. Nadira mengangguk. “Tapi Farel, apa kau yakin masih kuat?” Farel tersenyum tipis. “Kalau bersamamu aku kuat, Nadira.” Farel dan Nadira berjalan mengikuti aliran sungai kecil, mereka tidak bisa mengendarai motor tua itu lagi karena bahan bakarnya sudah habis. Burung-burung berkicau, tapi di tengah suara alam itu, Nadira tak bisa menghilangkan rasa was-was. Setiap kali ranting patah di kejauhan, jantungnya melonjak. Beberapa jam kemudian, akhirnya Farel dan Nadira menemukan jalan setapak yang tampak lebih lebar. “Farel, ini kayaknya jalur keluar,” kata Nadira lega. “Iya Nadira, kita harus terus jalan,” balas Farel. Farel dan Nadira terus melewati jalan itu sampai akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan. Farel mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, menghubungi anak buahnya setelah berhari-hari tidak ada jaringan. Setelah itu Farel dan Nadira, menunggu bantuan dari anak buah Farel. Hari sudah berubah menjadi siang saat anak buah Farel datang, mereka bergegas membawa Nadira dan Bos mereka ke rumah sakit. Sekaligus melakukan penjagaan ketat bila ada yang menyerang lagi. “Bagus, kalian datang tepat waktu. Bagaimana keadaan markas?” tanya Farel. “Baik, Bos. Walaupun kemarin sedikit terjadi penyerangan,” jawabnya. “Apa penyerangan?” “Iya, Bos. Para Mafia Naga Hitam menyerang mencari wanita itu. Tapi untung Angga datang.” Salah satu anak buah Farel melirik Nadira. “Angga sudah kembali?” “Iya, Bos.” “Baguslah.” Farel merasa lega mendengar Angga kembali setelah melakukan transaksi mafia di luar kota. Beberapa jam kemudian mobil yang dikendarai anak buah Farel sampai di rumah sakit. Dengan hati-hati Nadira membantu Farel masuk menemui Dokter. Kemudian Dokter menyuruh Farel untuk melakukan operasi pengangkatan peluru timah yang bersarang di lengan bahunya. Farel lantas masuk ke dalam ruang operasi, sementara Nadira duduk dengan cemas menunggu di luar. Bahkan dia sempat memikirkan makan. * Setelah tiga puluh menit akhirnya operasi selesai. Farel kemudian di bawa ke ruang perawatan. Nadira dengan setia menunggu Farel tersadar tanpa bergerak meninggalkan ruangan itu. Tak lama kemudian Farel membuka matanya, dia melihat Nadira duduk di samping sambil memegang tangannya. Nadira merasa sangat senang melihat Farel sudah tersadar. “Farel!” “Nadira.” Farel berusaha untuk bangun dari tidurnya, di bantu oleh Nadira. “Farel, kau jangan banyak bergerak dulu. Kau baru saja habis di operasi.” “Kita harus segera pergi dari rumah sakit ini, Nadira.” “Tapi kau masih sakit Farel.” “Aku sudah baik-baik saja, Nadira. Secepatnya kita tinggalkan rumah sakit ini, aku tidak mau para musuh itu mengejar kita sampai ke rumah sakit, bila itu sampai terjadi akan ada banyak korban yang tidak bersalah.” “Baiklah Farel.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN