Bab 12

1010 Kata
Nadira membantu Farel turun dari ranjang, mereka berdua berjalan keluar dari ruang perawatan. Di sana tampak beberapa anak buah Farel sedang duduk menunggu di luar. “Ayo kita ke markas!” perintah Farel. Mereka semua mengangguk, lalu bersiap mengambil mobil di ikuti oleh Farel dan Nadira. Di dalam mobil Nadira terus memperhatikan Farel, dia masih mengkhawatirkan keadaan pria itu. Sesampainya di markas, Nadira turun bersama Farel keluar dari mobil. Nadira mengira ia kembali ke markas tempat pertama ia di culik, tapi ternyata Farel membawanya ke markas berbeda. Yaitu sebuah gedung berlantai dua dengan pagar hitam besar yang mengelilinginya. Di sana tampak banyak anak buah Farel berjaga di sekitar markas dengan senjata lengkap. “Nadira, kau jangan takut. Mereka adalah orang-orangku.” Farel menggenggam tangan Nadira, berjalan masuk ke dalam Markas, di dalam Markas Farel di sambut oleh Angga–Seorang Pria yang bergabung dengan organisasi Naga putih bersama Farel sejak kecil. Mereka tumbuh dan di latih bersama oleh Hartono-ayah Nadira. “Farel, kenapa kau bawa gadis itu ke markas?” tanya Angga sambil menatap kearah Nadira. “Hanya untuk sementara Angga,” jawab Farel. Kemudian Farel membawa masuk Nadira ke ruangannya, sebuah kamar cukup besar di lantai atas. “Nadira, kau tunggulah di sini sebentar ada yang harus ku urus.” “Baiklah Farel.” Nadira memilih untuk membersihkan diri sambil menunggu Farel. Sementara Farel kembali ke lantai bawah menemui Angga dan anggota lainnya, membicarakan rencana untuk melawan Mafia Naga Hitam. Farel duduk di meja bersama mereka dengan wajah serius. “Angga bawalah beberapa orang anak buah kita, temui para mafia yang berada di pihak kita. Aku ingin bertemu dengan mereka.” “Baiklah Farel, aku akan kesana menemui mereka satu persatu.” “Untuk lainnya cari tahu keadaan Markas Naga Hitam, dan perkiraan kekuatan mereka. Ingat lawan kita bukan orang biasa.” “Baik Bos Farel, kami akan bergantian mengintai disana. Bila ada hal penting kami akan segera memberitahu Bos.” “Bagus, perketat juga penjagaan markas kita jangan sampai mereka bisa masuk!” Perintah Farel. Selesai menemui Angga dan anggota lainnya. Farel kembali ke lantai atas, memeriksa Nadira. Farel tak bisa meninggalkan Nadira terlalu lama. “Nadira, Nadira!” panggil Farel ketika masuk dan tidak melihat Nadira di sana. Raut wajah Farel berubah menjadi panik, dia lantas memeriksa keluar jendela. Takut ada seseorang yang diam-diam menculik Nadira. “Farel, kau sedang apa?” tanya Nadira yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengenakan baju kemeja Farel yang terlihat kebesaran di tubuhnya. “Nadira.” Farel menoleh dan langsung mendekati Nadira. “Farel, kenapa wajahmu terlihat panik?” “Aku merasa sedikit takut saat tidak melihatmu.” Nadira tersenyum melihat Farel yang mencemaskan dirinya. Dia lalu membawa Farel duduk di atas ranjang. Menatap wajah tampan Farel dan memberikan kecupan di bibirnya. “Farel, kau jangan takut. Bukankah kau sudah mengajariku cara menjaga diri.” “Iya aku tahu Nadira, tapi musuh kita itu licik. Kita harus tetap berhati-hati dengan semua kemungkinan buruk.” “Aku percaya selama bersamamu aku akan baik-baik saja Farel.” Nadira kembali mengecup bibir Farel. Namun kali ini Farel menahan tengkuk Nadira, dia membalas kecupan Nadira dengan ciuman dalam. Farel merebahkan tubuh Nadira dan terus mencium bibirnya, di iringi kedua tangannya bergerak membuka kancing baju Nadira. Namun gerakan tangan Farel seketika terhenti saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Farel memperbaiki baju Nadira kemudian membuka pintu. “Maaf, Bos. Makanan sudah siap,” kata salah satu anak buah Farel. “Baiklah, kembali ke tugasmu!” perintah Farel. Setelah anak buahnya pergi. Farel membersihkan dirinya terlebih dulu setelah itu dia mengajak Nadira makan bersama, mereka berjalan menuju ke meja makan. Tampak di atas meja penuh dengan berbagai menu makanan lezat. “Makanlah Nadira, semua ini aku persiapkan untukmu.” “Terima kasih Farel.” Nadira mulai menyantap makanannya dengan lahap, sejak dari kemarin dia hanya makan dengan makanan seadanya. Diam-diam Farel tersenyum melihat pipi Nadira yang gembung penuh dengan makanan. Sehabis makan Nadira dan Farel berlatih lagi. Farel mengajari Nadira ilmu bela diri, teknik mengalahkan musuh tanpa menggunakan senjata. “Nadira, pukul musuh di titik lemahnya seperti kepala, leher, atau perut.” Farel memberikan contoh gerakan, lalu diikuti oleh Nadira, tanpa lelah Nadira terus berlatih hingga matahari perlahan mulai terbenam. * Malam hari, para mafia berkumpul di meja bundar. Mereka semua berada di pihak Farel, salah satunya adalah pria berkumis yang pernah di temui Farel beberapa waktu lalu. Farel menatap para mafia satu persatu, ia merasa yakin salah satu dari mereka adalah pengkhianat itu. Namun Farel belum mempunyai bukti untuk menangkapnya. “Farel, sebenarnya apa yang kau ingin katakan?” tanya Pria berkumis itu. “Lihat ini.” Farel membuka sebuah peta dan meletakkannya di atas meja, para mafia lantas melihat peta tersebut. Kemudian Farel menjelaskan rencananya kepada mereka. “Bagian tengah itu adalah markas besar Naga Hitam. Aku ingin kita menyerang mereka secara bersamaan dari berbagai arah. Timur, Utara, Barat dan Selatan. Kalian berada di posisi masing-masing, setelah bunyi aba-aba kita semua menyerang.” “Rencana yang bagus Farel, tapi untuk itu kita butuh waktu untuk menyiapkan senjata Farel,” kata salah satu Mafia lain. “Satu Minggu, aku memberi kalian waktu satu Minggu!” “Baiklah, kami setuju. Begitu rencana ini berhasil, kau harus ingat bagian kekuasaan wilayah kami, Farel,” sahut mafia lainnya. “Kalian tenang saja. Naga putih tidak pernah mengingkari janji.” Farel menekan kata-katanya. Pertemuan itu lalu di tutup dengan acara minum-minum bersama, aroma alkohol dan asap rokok seketika menyebar ke seluruh ruangan termasuk ruangan Nadira. Pukul 01.00 malam pertemuan berakhir. Farel kembali ke kamar tempat Nadira berada. Terlihat Nadira sedang duduk di tepi ranjang, ia tidak bisa memejamkan matanya meskipun sudah mencoba. “Nadira, kenapa kau belum tidur?” tanya Farel sembari duduk di samping Nadira. “Aku tidak bisa tidur Farel,” jawab Nadira. “Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Nadira menggelengkan kepalanya. Farel lantas membawa Nadira ke pelukannya. Jantung keduanya kembali saling bertautan, membuat Farel tak bisa menahan gejolak hasrat di tubuhnya. “Nadira, aku menginginkanmu malam ini,” bisik Farel di telinga Nadira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN