Bab 13

1264 Kata
Tanpa menunggu lama Farel membuka pakaiannya, lalu merebahkan Nadira di atas ranjang, dengan posisi Nadira berada di bawah dan Farel berada di atas. Padangan Nadira dan Farel saling bertemu sesaat, setelah itu Farel mulai mencium leher Nadira dengan lembut. Nadira mendongak agar Farel lebih leluasa melakukannya. Sentuhan Farel perlahan membuat Nadira mulai hanyut, tanpa sadar ia mendesah menyebut nama Farel. “Ah ... Farel.” Suara Nadira terasa begitu merdu di telinga Farel, dia lantas membuka kaki Nadira, kemudian menggerakkan tubuhnya dari perlahan ke cepat. Keringat mulai membasahi keduanya, Farel menghempaskan tubuhnya di atas tubuh Nadira begitu pelepasannya selesai. Malam itu entah berapa kali Farel melakukan penyatuan bersama Nadira. *** Tok ... Tok ... Tok Pagi menyapa, Farel membuka matanya ketika mendengar suara anak buahnya mengetuk pintu. Namun Farel tak bisa bangkit dari atas tempat tidur, karena Nadira tidur sambil memeluk erat tubuhnya. Akhirnya Farel menyandarkan tubuhnya di atas ranjang, memerintahkan anak buahnya untuk masuk, ia tak ingin membangunkan Nadira yang tampak lelah sebab ulahnya semalam. “Maaf mengganggu, Bos. Ini peta menuju desa di dekat hutan larangan,” kata anak buah Farel sambil memberikan secarik kertas. “Bagus, apa ada orang lain tahu tentang hal ini?” “Tidak ada Bos. Sesuai perintah bos saya mencari peta itu diam-diam.” “Baiklah, kalau sampai kau buka mulut. Kau akan mati!” Ancam Farel. “Ampun Bos, itu tidak akan terjadi.” Anak buah Farel menundukkan kepalanya takut. “Sekarang kau pergilah, jangan sampai ada orang yang melihatmu!” Anak buah Farel mengangguk, dia melirik sesaat ke arah Farel yang bertelanjang d**a dan Nadira yang polos, hanya ditutupi selimut. Kemudian cepat-cepat keluar dari ruangan Farel. Selepas anak buahnya pergi. Farel membuka peta itu dan melihat jalur yang harus dia lewati untuk sampai ke desa itu “Jalur ini sulit, tapi akan lebih cepat sampai kesana.” Farel menyimpan peta itu, lalu perlahan mengangkat tangan Nadira yang masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terbangun. Farel bergegas membersihkan dirinya, menyiapkan beberapa senjata, pistol, pisau lipat, dan keperluan lainnya untuk di bawa. Farel tahu para musuh itu tidak akan berhenti mengejarnya dan Nadira. Tak lama Nadira terbangun, dia melihat Farel sudah dalam keadaan rapi dan langit tampak terang. “Farel, kenapa kau tidak membangunkanku?” “Itu karena kau terlihat kelelahan, jadi aku membiarkanmu sedikit lebih lama beristirahat.” “Apa kita akan pergi, Farel?” tanya Nadira saat Farel menyiapkan pakaiannya. “Iya Nadira, kita tidak bisa berlama-lama di sini. Sekarang kau bersiaplah,” jawab Farel memerintah. “Tapi Farel, luka di tanganmu masih sakit.” “Lukaku sudah sembuh Nadira. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu.” Nadira menggulung tubuhnya dengan selimut, kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi. Sehabis mandi Nadira memakai pakaian yang sudah di siapkan Farel. Menyusul Farel yang kini sudah berada di bawah. “Nadira duduklah, kita makan terlebih dulu sebelum pergi.” Nadira lantas duduk dan makan bersama Farel. Mereka makan dalam keadaan diam, sesekali Nadira melirik ke beberapa anak buah Farel yang berjaga tak jauh dari meja tempat mereka makan. Sesudah makan Farel memakai jam tangannya, kemudian pergi menemui Angga di ruangannya. “Angga, aku titip Markas. Jangan biarkan musuh masuk.” “Baiklah Farel. Tapi kemana sebenarnya tujuanmu?” “Ke tempat yang aman untuk Nadira. Sampai mereka tidak bisa menemukannya.” “Berhati-hatilah Farel.” Angga menepuk bahu Farel. Farel mengulas senyum, lalu pergi meninggalkan Markas bersama Nadira menggunakan sepeda motor. Farel tak ingin membawa anak buahnya, sebab pencarian buku hitam tidak boleh di ketahui siapa pun. Farel mengendarai motornya melewati jalan aspal kecil yang di kelilingi pohon karet. Nadira merasa nyaman saat menyandarkan kepalanya di punggung lebar Farel. Namun itu tidak berlangsung lama, ketika suara tembakan tiba-tiba terdengar di udara. “Farel, apa itu mereka datang?” “Bisa jadi.” Farel masuk ke dalam semak-semak bersembunyi bersama Nadira disana. Dari balik semak Farel melihat kilatan cahaya dari Laras senjata milik musuh pengejar motor. “Mereka menunggu disana, sepertinya mereka sudah tahu kalau kita akan melewati jalan ini,” kata Farel terus memperhatikan. Nadira menelan ludah. “Terus kita gimana Farel?” Farel memandang sekeliling, lalu menarik Nadira mundur sedikit. “Aku akan pancing mereka, kau tetaplah bersembunyi di sini Nadira.” Nadira langsung menggeleng keras. “Tidak Farel, aku mau ikut denganmu.” “Tidak bisa Nadira, aku akan melawan mereka secara langsung dan itu terlalu bahaya untukmu.” Farel memegang bahu Nadira sambil menatapnya dalam. “Tapi Farel, aku takut kau terluka lagi.” Nadira merasa khawatir. “Aku akan baik-baik saja, percaya padaku.” Farel tersenyum tipis, meski matanya serius. Dia lalu bergerak cepat mengambil sepeda motor yang di sembunyikan di tempat semak berbeda. Farel memutar arah lewat jalur yang lebih tinggi, untuk memecah perhatian musuh. Suara tembakan mulai terdengar ketika Farel mulai melancarkan aksinya. Nadira tetap bersembunyi ketakutan, mengikuti arahan Farel sambil mengintip Farel yang sedang melawan para musuh itu. Dor Dor Dor Suara tembakan saling bersahutan. Dengan kemampuan menembaknya Farel berhasil melumpuhkan mereka satu persatu. Setelah merasa aman Farel kembali menghampiri Nadira yang masih bersembunyi di dalam semak. “Nadira, keluarlah sudah aman!” Nadira lantas muncul dari balik semak, lalu naik ke atas motor. Farel dan Nadira melanjutkan kembali perjalanan mereka. Langit mulai memerah saat senja tiba. Farel dan Nadira masih terus menyusuri jalanan setapak. Di ujung jalan tanah, mereka melihat sebuah rumah kayu sederhana dengan lampu berpendar hangat dari dalam. Di depannya terparkir sebuah mobil pikap tua. “Farel, bahan bakar kita hampir habis. Apa kita minta bantuan saja, siapa tahu dia mempunyai bahan bakar lebih,” kata Nadira ragu. “Baiklah,” sahut Farel sambil mengamati sekeliling. Farel dan Nadira memberhentikan motornya di depan rumah itu. Tak lama Pintu rumah terbuka, dan seorang pria berumur lima puluhan muncul. Rambutnya beruban, wajahnya keras tapi senyumnya ramah. “Apa kalian tersesat?” tanya pria itu. Farel saling pandang dengan Nadira sebelum menjawab, “Iya, Pak. Sekarang bahan bakar kami habis, apakah bapak punya bahan bakar lebih?” tanya Nadira. “Iya punya, mampirlah dulu sebentar langit sudah mau gelap.” Pria tua itu mempersilakan Farel dan Nadira masuk. Ruangan sederhana itu berbau kopi dan kayu bakar. Nadira duduk di kursi, sementara Farel tetap berdiri, dengan mata tetap waspada. “Nama saya Pak Surya. Siapa nama kalian?” tanya pria itu. “Saya Farel dan ini istri saya Nadira,” jawab Farel langsung. Nadira mengangguk membenarkan ucapan Farel. Sejak awal Farel selalu menyebut Nadira adalah istrinya meskipun kenyataannya mereka berdua belum menikah. “Kalian kelihatan capek. Kalian dari mana?” tanya pria tua itu lagi. “Kami dari kota dan tersesat,” jawab Nadira. Pak Surya mengangguk pelan, seakan mengerti. “Kalau begitu, kalian istirahat di sini malam ini. Besok pagi, bapak akan memberi bahan bakar dan mengantar kalian ke kota. Farel menatap pak Surya curiga, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Malam itu, mereka makan nasi hangat dan teh manis—makanan apa adanya yang di suguhkan pak Surya. Sehabis makan Farel dan Nadira beristirahat di dalam kamar. Namun, tengah malam, Farel terbangun oleh suara berisik di luar. Ia mengintip dari jendela dan melihat Pak Surya di datangi dua pria bersenjata, sedang berbicara di halaman. “Gadis dan pria itu di dalam. Besok aku akan bawa mereka, siapkan saja uangnya,” terdengar suara Pak Surya pelan, tapi cukup jelas bagi Farel. Farel langsung membangunkan Nadira. “Kita harus pergi. Sekarang.” Nadira masih setengah sadar. “Kenapa Farel? Bukannya di sini aman?” “Tidak. Pak Surya mau jual kita ke anak buah Naga Hitam demi uang.” “Apa.” Nadira terkejut. “Cepatlah pakai sepatumu Nadira!” perintah Farel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN