Nadira segera memakai sepatunya. Sementara Farel menunggu Nadira sambil melihat jam di tangannya, yang kini sudah menunjukkan pukul 02.00 malam. Tapi beberapa detik kemudian Farel merasa aneh dengan jam tangannya dan langsung memeriksanya.
Farel meremas jam di tangannya saat mengetahui ada alat pelacak di pasang di jamnya. Farel menyadari pantas saja para musuh itu tahu jalur yang ia lalui bersama Nadira.
“Farel, ada apa?” tanya Nadira saat melihat wajah Farel memerah.
“Ada yang memasang alat pelacak di jam tanganku Nadira.”
“Apa alat pelacak?”
“Iya Nadira, aku tak bisa menjelaskannya sekarang. Ayo kita pergi dari sini.”
Farel memegang tangan Nadira, berjalan keluar melalui pintu belakang. Kemudian mengendap-endap melewati tumpukan kayu bakar. Tapi tanpa sengaja langkah Nadira mengenai kaleng kosong, menimbulkan suara nyaring.
“Siapa di sana?!” teriak pak Surya.
Farel dan Nadira langsung berlari ke arah mobil pikap. Farel memutar kunci cadangan yang ia temukan tergantung di dekat pintu rumah, lalu menyalakan mesin. Suara deru mobil memecah kesunyian malam, diiringi teriakan dan suara tembakan di belakang.
Mobil tua itu melaju kencang di jalan berbatu, sementara Nadira memegang erat dashboard, jantungnya berdebar tak karuan.
Farel terus mengendarai mobil pikap itu sampai di jalan pegunungan yang sempit. Lampu depannya menembus kabut malam. Di spion, Farel melihat sorot lampu mobil lain yang mendekat cepat.
“Mereka dapat bantuan. Kita dikejar lagi,” kata Farel dengan nada dingin.
Nadira menoleh ke belakang, dia melihat tiga mobil hitam dengan kecepatan tinggi. “Farel, bagaimana ini.” Suara Nadira gemetar.
“Pegangan yang kuat!”
Farel menginjak Gas dalam-dalam. Mobil berbelok tajam mengikuti kelokan curam, roda hampir tergelincir ke tepi jurang yang gelap. Nadira mencengkeram kursi sambil menahan napas.
Farel menggeram. “Kita harus bikin mereka berhenti mengejar.”
Farel memutar setir tajam, membuat salah satu mobil pengejar kehilangan kendali dan menabrak pagar pembatas. Suara benturan keras menggema di lembah.
Namun dua mobil lain masih memburu. Salah satunya mencoba menyalip dari sisi kanan. Farel mengayunkan setir, menabrakkan sisi mobil mereka untuk memaksa lawan menjauh.
“Farel! Jurang!”
Nadira berteriak saat roda depan kanan mereka nyaris keluar dari aspal. Dengan cepat Farel menarik setir ke kiri tepat waktu.
Mobil terus melaju di jalan yang makin menanjak. Udara semakin tipis, napas Nadira makin berat. Tiba-tiba suara tembakan terdengar, peluru itu memecahkan kaca samping dan Pecahannya mengenai pipi Nadira, membuatnya meringis.
Farel menoleh sekilas, melihat darah tipis di wajah Nadira. “Nadira, kau tidak apa-apa?”
“Aku… aku baik-baik aja Farel. Kau fokus saja menyetir.”
Farel mengangguk. Di ujung tanjakan, Farel melihat sebuah jembatan kayu tua. Ia tahu itu rapuh dan jika mereka melewatinya dengan kecepatan penuh, kemungkinan besar hanya satu mobil yang bisa lolos.
“Nadira, Pegangan!”
Farel menginjak gas, melaju di atas jembatan. Kayu berderit keras di bawah berat mobil, tapi mereka berhasil melewati. Saat mobil pengejar pertama mencoba menyusul, jembatan itu ambruk, menelan mereka ke jurang.
Setelah itu Farel memperlambat mobil dan berhenti di tepi jalan sepi. Nadira menyandarkan tubuhnya, ia merasa sedikit lega.
“Farel, aku tidak mengerti. Siapa yang memasang alat pelacak itu?” tanya Nadira.
“Aku tidak tahu Nadira, karena alat pelacak itu pantas saja mereka bisa tahu kemana jalur yang kita lewati dan di mana kita berada.”
“Jadi, jalan mana yang harus kita lewati, Farel?”
“Kita harus memutar, kali ini aku yakin mereka tidak akan bisa mengikuti dan mengejar kita.”
“Baiklah, aku percaya padamu Farel.”
Nadira tersenyum menatap Farel. Farel kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Nadira, tangannya mengusap lembut darah yang ada di pipi Nadira.
“Jangan sampai terluka lagi,” kata Farel pelan.
Nadira menganggukkan kepalanya, setelah itu Farel kembali mengendarai mobilnya menuju ke tempat yang menurutnya aman dan menginap di sana.
***
Pagi menyingsing. Farel dan Nadira kembali melanjutkan perjalanan mereka, kali ini perjalanan Farel dan Nadira cukup mulus. Tak ada lagi kejar-kejaran dan suara tembakan. Mobil pikap tua itu terus melaju sampai akhirnya memasuki sebuah desa kecil di dekat hutan larangan.
Farel memarkir mobil di belakang sebuah gudang kayu tua yang tampaknya sudah lama tak digunakan. Ia mematikan mesin, lalu memandang Nadira.
“Nadira, apa kau masih ingat di mana pohon harapan itu?”
“Aku tidak ingat pasti Farel, itu sudah bertahun-tahun lamanya.”
“Baiklah kalau begitu kita cari petunjuk.”
“Petunjuk?” Nadira tak mengerti.
“Iya Nadira, petunjuk untuk mengingatkanmu kembali.”
Farel dan Nadira keluar dari dalam mobil berjalan berkeliling desa, sampai langit berubah menjadi siang. Nadira perlahan mulai lelah dan perutnya terasa lapar.
“Farel, bagaimana kalau kita istirahat dulu.”
“Ya sudah kita istirahat di sana.”
Farel menunjuk warung nasi kecil. Mereka berdua lalu melangkah ke arah sana dan langsung memesan makanan dan minuman. Sebelum pesanan datang Farel membuka kembali peta.
“Nadira, seharusnya di ujung desa ini ada jalan masuk ke arah hutan larangan.”
“Iya Farel, tapi aku tidak ingat jalan itu.”
“Tidak apa-apa Nadira. Mungkin jalan itu sudah hilang di makan waktu.”
Farel tidak memaksa Nadira. Tak berselang lama pesanan makanan mereka pun datang, Farel dan Nadira lalu mulai menyantap makanannya.
Sehabis makan Farel kembali berjalan bersama Nadira di sekitar ujung desa berusaha mencari jalan yang hilang. Nadira sudah mencoba bertanya kepada penduduk desa, tapi mereka mengatakan tidak tahu. Karena sebagian besar penduduk desa itu adalah pendatang. Penduduk asli desa tersebut sudah banyak meninggal dunia.
Hari semakin gelap, sangat sulit mencari jalan di waktu malam. Akhirnya Farel dan Nadira memutuskan untuk menginap, mereka melihat sebuah rumah tua di pinggir sungai dengan Atapnya terbuat dari rumbia.
Farel mengetuk pintu pelan. Tak lama Seorang pria tua dengan rambut memutih membukanya.
“Kalian siapa?” tanya Pria tua itu.
“Kami pendatang di desa ini, Pak,” jawab Farel.
“Apa kalian berasal dari kota?” tanyanya lagi.
“Iya Pak, hari sudah semakin gelap dan kami tidak punya tempat tinggal pak. Kalau bapak tidak keberatan bolehkah kami menginap semalam di rumah bapak?”
“Boleh, silakan masuk.”
Pria tua itu berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah lalu di ikuti oleh Farel dan Nadira. Tak ada rasa curiga di dalam hati Farel, saat melihat pria tua itu.