Farel dan Nadira duduk di kursi papan, sedangkan pria tua itu pergi ke dapur mengambil dua gelas berisi air putih.
“Minumlah,” kata Pria tua itu.
Nadira mengambil air itu lalu meneguknya sampai tandas.
“Apa bapak hanya tinggal sendiri di sini?” tanya Farel ingin tahu.
“Iya, semua keluarga bapak sudah pindah. Tapi bapak tidak bisa pergi karena makam istri saya berada di sini,” jawab pria tua itu.
Farel terdiam sesaat setelah mendengar jawaban pria itu, dia berpikir pria tua itu adalah mungkin penduduk asli desa ini dan pasti tahu di mana jalan masuk ke hutan larangan.
“Pak, apa saya boleh tanya sesuatu?” Farel mencoba bertanya tentang hutan terlarang.
“Apa itu katakan saja?”
“Apa bapak tahu jalan masuk ke hutan larangan?”
Hutan larangan
Pria tua itu terkejut mendengar hutan larangan, karena sudah lama sekali tidak ada orang yang datang kesana.
“Untuk apa kalian ingin datang kesana?” tanya pria tua itu.
“Kami ingin melihat pohon harapan,” jawab Farel.
“Pohon harapan itu sebenarnya tidak ada, dulu itu hanya mitos untuk anak-anak kecil.”
“Tapi aku ingin tetap kesana Pak, disana ada banyak kenangan antara aku dan ayahku,” sambung Nadira.
“Baiklah, jika kalian benar-benar ingin kesana. Besok bapak akan tunjukkan jalannya.”
“Terima kasih banyak, Pak.” Nadira tersenyum senang.
“Ya sudah kalau begitu kalian beristirahatlah ada satu kamar yang kosong.”
Pria tua menunjukkan kamar yang tidak terpakai, di sana hanya ada satu ranjang kecil beralaskan kasur tipis. Farel dan Nadira kemudian masuk ke dalam.
“Nadira, kau tidurlah di ranjang.”
“Bagaimana denganmu Farel, kau tidur di mana?”
“Aku bisa tidur di mana saja Nadira.”
“Tidak Farel, kau tidurlah di sini bersamaku. Bukankah kita sudah sering tidur bersama.”
Farel tersenyum kecil mendengar kata Nadira, karena apa yang di katakan itu benar. Bahkan mereka melakukan lebih dari sekedar tidur bersama.
Farel kemudian naik ke atas ranjang bersama Nadira. Di kasur kecil itu Farel dan Nadira tidur saling berpelukan, entah kenapa Nadira merasa d**a bidang Farel adalah tempat paling nyaman baginya.
*
Keesokan paginya, Farel terlonjak kaget saat membuka mata tidak melihat Nadira di sampingnya. Raut wajahnya seketika panik, dia buru-buru keluar mencari Nadira, namun Nadira tidak ada di mana pun.
“Nadira kau dimana,” guman Farel merasa khawatir
Tak lama pria tua itu muncul di belakang Farel “Nak, apa kau mencari gadis yang bersamamu?”
Farel menoleh “Iya Pak, apa bapak melihatnya?”
“Dia berada di kebun bapak, di belakang sana.”
“Baiklah, saya akan kesana Pak.”
Farel bergegas keluar rumah, berjalan ke kebun di belakang. Di sana Farel melihat Nadira tengah asyik memetik buah dan sayuran milik pak Tua itu, beberapa saat Farel terpaku melihat wajah Nadira yang sangat cantik ketika dia tersenyum lepas.
Dari kejauhan Nadira melihat Farel, dia langsung berlari ke arah Farel dan memeluknya. Membuat Farel seketika tersadar.
“Nadira, kenapa kau keluar tidak bilang padaku?” tanya Farel setelah Nadira melepaskan pelukannya.
“Itu karena kau tidurnya terlalu nyenyak jadi aku tidak tega membangunkanmu.”
“Tapi lain kali kau harus tetap bangunkan aku.”
“Iya Farel, sekarang ayo kita masuk.”
Nadira menggandeng tangan Farel berjalan masuk ke dalam rumah, dan memberikan hasil petikan buah dan sayurnya kepada pak Tua itu.
“Kita sarapan dulu, setelah itu bapak akan mengantar kalian,” kata Pria tua itu sembari menyodorkan ubi dan jagung rebus.
“Baiklah Pak.”
Farel dan Nadira sarapan dengan makanan seadanya, sehabis makan mereka pun pergi ke ujung Desa mencari jalan masuk ke hutan larangan bersama pak Tua.
Setibanya di sana Pak Tua langsung menyibakkan rumput liar yang menutupi sebuah plang kayu. Setelah itu dia membuka plang kayu tersebut.
“Inilah jalan menuju ke hutan larangan,” kata pria tua itu.
“Terima kasih banyak Pak. Kami pergi kesana dulu,” balas Farel.
“Iya kalian hati-hati lah, sekarang hutan larangan tidak seperti dulu. Di sana ada banyak binatang buas,” pesan Pria tua itu.
Farel dan Nadira mengangguk mengerti, mereka berdua lalu berjalan masuk ke dalam hutan melewati jalan setapak yang tertutup rumput liar. Sementara pak Tua itu kembali ke rumahnya.
Sepanjang jalan Nadira mencoba mengingat kembali tentang pohon harapan itu, sampai akhirnya Nadira dan Farel melihat sebuah pohon besar tua dengan ribuan kertas menggantung di dahannya.
“Farel, ini adalah pohon harapan itu.”
“Apa kau yakin Nadira?”
“Iya Farel, meskipun aku kesini saat masih kecil tapi aku ingat dengan kertas-kertas yang mengantung di dahan itu.”
“Baiklah, kalau begitu kita cari buku hitam itu di sekitar pohon ini.”
Farel dan Nadira mulai mencari di bagian batang pohon, dahan dan sekitar akar, namun hampir dua jam mencari Farel dan Nadira tidak menemukan apa pun.
“Farel, apa mungkin buku hitam itu tidak ada di sini.” Nadira mulai merasa ragu.
“Entahlah Nadira, tapi aku yakin pasti ada di sini karena ayahmu tidak pernah pergi ke tempat lain.”
Farel dan Nadira kembali mencari buku hitam itu, sampai Nadira tak sengaja jatuh tersandung akar pohon yang keluar dari tanah. Nadira lantas bangkit dan melihat bentuk akar pohon itu seperti ukiran.
“Ada apa Nadira?” tanah Farel saat melihat Nadira menatap akar pohon itu.
“Bentuk akar ini seperti ukiran Farel, ukirannya tampak familiar di mataku tapi aku tidak ingat di mana aku pernah melihatnya.”
“Nadira, mungkin itu adalah petunjuk. Bisa jadi buku hitam itu berada di bawah akar pohon ini.”
“Iya Farel, ayo kita mencarinya.”
Nadira dan Farel membongkar akar pohon itu dan menemukan sebuah kotak kayu kecil. Farel lantas mengambil kotak itu kemudian membukanya.
Begitu terbuka, terlihat sebuah buku hitam kecil yang tampak lusuh di makan usia. Farel lalu membuka buku itu dan membacanya, di sana tertulis semua nama para mafia dan juga tanggal-tanggal transaksi dengan lengkap.
“Nadira, akhirnya kita menemukan buku hitam ini,” kata Farel.
“Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan buku hitam itu Farel?”
“Aku akan menyimpannya Nadira, kita akan menggunakan buku hitam sebagai senjata melawan Mafia Naga Hitam. Karena benda inilah yang mereka cari-cari.”
“Aku ikut denganmu Farel, bila saat penyerangan itu tiba.”