Bab 16

1148 Kata
Setelah mendapatkan buku hitam itu Farel dan Nadira keluar dari hutan larangan. Begitu mereka sampai di luar, langit sudah berubah menjadi petang. Farel dan Nadira kembali ke rumah pak Tua untuk menginap di sana sekaligus berterima kasih padanya. “Terima kasih, Pak. Sudah mengizinkan kami menginap lagi, ini ada sedikit uang untuk bapak,” kata Farel sembari memberikan beberapa lembar uang kertas. “Tidak usah, bapak menolong kalian dengan ikhlas.” Pak tua itu menolak pemberian Farel. “Sekali lagi terima kasih, Pak.” “Iya, sekarang istirahatlah. Kalian pasti lelah.” “Baik, Pak.” Nadira kembali ke kamar kecil itu, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Farel membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Sesudah mandi Farel menghampiri Nadira duduk di tepi ranjang. “Nadira, setelah kita pulang aku akan mengajakmu pergi,” kata Farel tersenyum. “Pergi kemana Farel?” “Pergi kemana pun kau mau Nadira. Sudah dua Minggu kau bersamaku, kau pasti merindukan duniamu.” “Apa mereka tidak akan mengejar kita lagi Farel?” “Mereka akan tetap mengejar kita. Aku sudah pernah mengatakan kepadamu Nadira kalau Mafia Naga hitam tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu dirimu.” “Jadi, bagaimana kalau mereka menemukan kita saat kita berada di luar Farel?” “Seperti biasa, Lari. Apa sekarang kau takut Nadira?” “Bila bersamamu aku tidak akan takut Farel.” Nadira memegang tangan Farel, dia tidak bisa menyembunyikan lagi perasaannya kalau dirinya benar-benar sudah jatuh cinta kepada Farel. “Farel, aku mencintaimu.” Nadira mengungkap isi hatinya, dan di sambut dengan hangat oleh Farel. “Aku juga mencintaimu Nadira.” Farel memberikan ciuman lembut di bibir Nadira. Sesaat Farel dan Nadira hanyut dalam cinta mereka, tapi mereka sadar kalau saat ini mereka sedang berada di tempat yang tidak tepat. Farel lalu mengakhiri ciumannya, dan membawa Nadira ke dalam pelukannya. *** Pagi hari Farel dan Nadira bersiap untuk pulang. Nadira menyampirkan tas ransel kecil di punggung. Di dalamnya, ia menyimpan buku hitam itu dan beberapa baju yang di bawanya dari markas Farel beberapa hari lalu. Pak Tua itu kemudian memberi Farel dan Nadira bekal ubi goreng, buah dan botol air. “Hati-hatilah di jalan.” Farel mengangguk dan kembali mengucapkan terima kasih. Setelah itu Farel dan Nadira berjalan ke gudang tak terpakai di desa itu, tempat di mana mereka meninggalkan mobil pikap kemarin. “Farel, apa kita akan kembali ke markas?” tanya Nadira. “Tidak Nadira, pengkhianat itu masih ada di sana. Dia sudah memasang alat pelacak di jam tanganku. Kemungkinan besar dia juga akan memberitahu keberadaanmu kepada Mafia Naga Hitam,” jawab Farel. “Farel, aku semakin ingin tahu siapa sebenarnya pengkhianat itu.” “Tidak hanya kau Nadira, aku juga ingin tahu. Bahkan aku tidak sabar ingin segera melenyapkan begitu aku mengetahui siapa dia.” Farel mengepalkan tangannya, dia berencana akan memeriksa cctv markas untuk mencari tahu siapa yang sudah memasang alat pelacak itu. “Pegangan Nadira, kita akan pergi meninggalkan desa ini.” Farel menghidupkan mesin mobil, melajukannya keluar desa. Begitu sampai di luar desa, tiba-tiba ada sebuah mobil muncul dari belakang. Farel melirik ke arah kaca spion, dan melihat pak Surya pemilik mobil pikap yang di kendarainya berada di dalam mobil tersebut bersama dua pria bersenjata. “Nadira, pak Surya berada di belakang kita,” kata Farel dengan tatapan tetap fokus ke depan. “Apa, bagaimana pak Surya bisa menyusul kita Farel?” “Ini mobil pikap miliknya Nadira, sudah pasti pak Surya tahu dengan plat mobilnya. Mudah saja bagi para musuh itu untuk melacak mobil ini.” “Jadi apa kita akan melawan pak Surya, Farel?” “Tidak Nadira, kita akan mencari mobil lain.” Farel menginjak gas dalam. Kejar-kejaran mobil itu pun tak terelakkan, Farel terus mengemudi berusaha untuk sejauh mungkin dengan mobil yang berada di belakangnya. “Ini adalah kesempatan kita Nadira,” kata Farel saat akan melewati lintasan dengan kereta api yang sedang berjalan dari arah barat. “Itu bunuh diri Farel!” Pekik Nadira karena jarak kereta api itu semakin dekat. “Kita tidak punya pilihan lain Nadira.” Farel menginjak gas dengan kekuatan penuh, mobil melaju dengan kencang melewati lintasan bersamaan dengan kereta api yang terus melaju. Nadira menutup matanya takut kereta api itu akan menabrak mereka. Hanya beberapa menit, kereta api itu hampir menabrak mobil Farel dan Nadira ketika mereka melewati lintasan kereta api tersebut. Nadira menghela napasnya, ia mengira tadi adalah akhir hidupnya. “Farel, kita berhasil. Sekarang mereka tidak mengejar kita,” kata Nadira sambil menoleh ke belakang. “Sekarang kita harus ganti mobil Nadira.” Farel masuk ke sebuah bengkel mobil, dan membeli mobil bekas di sana. Setelah itu dia dan Nadira kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mobil itu menyusuri jalur baru yang belum banyak di lewati orang. “Kita hampir sampai Nadira,” kata Farel pelan. “Sampai kemana Farel?” Nadira tidak tahu kemana Farel akan membawanya. “Rumahku.” “Rumah? Bukannya kau tidak punya rumah Farel?” “Aku punya rumah Nadira, rumah yang ku beli dari hasil Bisnisku.” “Jadi kau juga punya bisnis Farel?” “Iya Nadira, aku punya sebuah perusahaan untuk menutupi pekerjaanku yang sebenarnya,” terang Farel. Nadira mengangguk mengerti. Tak lama kemudian Farel memberhentikan mobilnya di sebuah rumah di dekat danau, rumah berbentuk minimalis itu terlihat nyaman dengan rumput hijau memenuhi halaman. “Farel, rumahmu indah sekali. Aku menyukainya,” kata Nadira dengan mata berbinar. “Kalau kau suka, kau bisa tinggal di sini selamanya, Nadira.” “Benarkah, Farel? kita bisa tinggal di sini bersama anak-anak kita nanti?” “Anak?” Wajah Farel terkejut mendengar kata anak. “Iya, Farel. Aku ingin kita mempunyai anak dua perempuan dan dua laki-laki. Pasti rumah ini akan semakin ramai.” Farel tersenyum dengan keinginan Nadira yang ingin memiliki keluarga, hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Farel lalu mendekati Nadira dan langsung mengecup bibirnya. “Aku berjanji akan menikahimu, Nadira. Setelah kita membalas kematian ayahmu,” kata Farel setelah melepas ciumannya. Nadira merasa sangat bahagia mendengar Farel akan menikahinya. Dia refleks memeluk Farel dengan erat. Farel lantas menggendong Nadira dan membawanya masuk ke dalam rumah menuju ke kamar. Di sana keduanya saling memadu kekasih, namun sesaat Farel teringat akan rencananya untuk memeriksa cctv markas, mencari tahu siapa yang memasang alat pelacak di jam tangannya. “Nadira, kau tunggulah di sini. Aku harus kembali ke markas.” Farel melepaskan pangutannya dari bibir Nadira. “Baiklah Farel, tapi jangan lama-lama.” “Aku tidak akan lama Nadira, kau jangan khawatir. Di sini tempat yang aman. Rumah ini punya pintu pengaman dan semua kacanya terbuat dari kaca anti peluru.” “Bukan itu yang aku khawatirkan, Farel. Yang aku khawatirkan adalah dirimu. Aku takut mereka menangkapmu.” “Aku akan menjaga diri, Nadira. Sekarang aku pergi dulu.” Farel mengecup puncak kepala Nadira, kemudian pergi keluar dan mengaktifkan semua pengamanan. Farel kembali memacukan mobilnya menuju Markas besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN