Bab 2

1106 Kata
Farel mencondongkan tubuh, tatapannya membakar “Iya, Karena kau adalah kunci rahasia data gelap mereka dan sekarang mereka juga pasti akan menyerangku karena aku melindungimu.” Mendengar kata Farel membuat Nadira merasa ada tekanan di dadanya “Kalau aku menolak?” Farel berdiri, kemudian berjalan ke pintu. “Kalau kau menolak siap-siap saja mereka akan datang menangkapmu, dan melakukan hal yang mungkin tak bisa kau bayangkan,” kata Farel lalu pergi. Setelah Farel pergi, Nadira duduk terpaku. Kata-katanya seperti jerat yang perlahan mengencang di leher Nadira. “Ayah kenapa kau merahasiakan semua ini? Sekarang mereka mengira aku mengetahui segalanya,” batin Nadira. Tak lama Farel pergi, salah satu anak buahnya membawakan pakaian baru sebuah gaun hitam sederhana, tapi elegan. “Bos mau kamu pakai ini. Ada tamu malam ini.” “Tamu? Siapa?” tanya Nadira. Tapi Pria itu tidak menjawab hanya mengangkat bahu. “Kau akan tahu nanti. Jangan macam-macam.” Nadira akhirnya menurut, dia memakai gaun itu. Gaun hitam yang tampak pas di tubuhnya, dengan sedikit belahan di bagian paha kiri atas. Malam itu, Nadira dibawa keluar dari ruangan untuk pertama kalinya. Lorong panjang berlapis baja, kamera di setiap sudut, dan pintu besi tebal yang dijaga pria bersenjata. Nadira memasuki ruang makan besar dengan lampu gantung kristal. Farel duduk di ujung meja yang kini kembali memakai jas. Di seberangnya, seorang pria asing dengan setelan abu-abu, wajahnya penuh bekas luka. Farel menatap Nadira, lalu menunjuk kursi di sampingnya. “Duduk.” Nadira menurut, walau tubuhnya terasa kaku. Percakapan dimulai, tapi Nadira tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Nada suara mereka tajam, diselingi tawa sinis. Nadira hanya bisa menebak ini adalah negosiasi atau ancaman yang dibungkus basa-basi. Di tengah pembicaraan, pria berbekas luka itu menoleh kearah Nadira. “Dia cantik… sayang kalau sampai rusak.” Nadira merinding, dan spontan menoleh ke Farel. Farel lantas menatap pria itu lama, lalu berkata pelan tapi mematikan, “Dia milikku. Sentuh, dan aku pastikan tanganmu hilang.” Suasana meja langsung berubah menjadi dingin. Setelah tamu itu pergi, Farel memandang Nadira “Sekarang kau mengerti kenapa aku bilang tinggal di sini lebih aman? Di luar sana, orang-orang seperti dia menunggumu.” Nadira ingin membalas, dengan mengatakan kalau dia tak butuh perlindungan dari mafia mana pun. Tapi lidahnya terasa keluh, untuk saat ini Nadira hanya bisa diam. “Besok kita mulai latihan. Kalau kau mau bertahan tiga puluh hari, kau harus belajar bagaimana menjadi bagian dari dunia ini,” kata Farel sebelum meninggalkan Nadira di ruangan tertutup itu. Setelah pintu menutup sempurna. Nadira terbaring di ranjang, menatap langit-langit “Tiga puluh hari.” “Tiga puluh hari di dunia Farel… yang mungkin akan mengubahku selamanya,” guman hati Nadira. *** Pagi hari Suara ketukan keras di pintu membangunkan Nadira, dia tidak tahu sekarang jam berapa, tetapi matanya terasa berat. “Bangun,” suara itu terdengar dari luar. Belum sempat Nadira menjawab, pintu terbuka dan salah satu anak buah Farel—pria berkepala plontos dengan tato di leher, masuk membawa pakaian hitam ketat. “Pakai ini. Bos mau kau di lapangan latihan lima menit lagi.” “Apa maksudmu, latihan?” tanya Nadira dengan nada curiga. “Perintahnya jelas. Kalau terlambat… aku tidak mau membayangkan hukumannya.” Pria berkepala plontos itu meletakkan pakaian di ranjang, dan pergi tanpa menunggu jawaban. Mau tidak mau Nadira mengenakan pakaian itu yaitu kaus hitam pas di badan, celana kargo, dan sepatu kets. Terasa asing, tapi juga memberi Nadira sedikit keluwesan untuk bergerak. Begitu keluar ruangan, dua pria bersenjata mengapit Nadira. Mereka membawa Nadira melalui lorong yang belum pernah di lewatinya, menuju sebuah pintu besar yang terbuka ke arah halaman luas. Di sana, Farel sudah menunggu. Jas hitamnya diganti kaus abu-abu dan celana jogger, rambutnya sedikit berantakan. Tapi yang paling mencolok adalah tatapannya—fokus, tajam, seperti bersiap untuk menilai setiap gerakan. “Akhirnya kau datang,” kata Farel sambil melirik jam tangan. “Apa ini? Aku tidak minta dilatih,” sahut Nadira. Farel tersenyum tipis. “Kau tidak minta. Aku yang memutuskan. Kalau kau akan berpura-pura jadi milikku di depan musuhku, kau harus terlihat seperti seseorang yang tidak mudah disentuh.” Latihan dimulai tanpa basa-basi. “Pegang,” kata Farel sambil melempar pisau lipat. Hampir membuat Nadira menjatuhkannya karena tak siap. “Aku tidak ...” “Shhh. Tidak ada ‘aku tidak’. Mulai hari ini, setiap kelemahanmu adalah undangan untuk kematian.” Farel mengajarkan Nadira cara memegang pisau dengan benar, posisi kaki, dan bagaimana mengarahkan serangan. Tangan Farel terasa kuat saat mengoreksi posisi Nadira dan Nadira bisa merasakan dinginnya logam pisau saat diarahkan ke target boneka. “Tusuk, tarik, mundur,” kata Farel tegas. “Lambat berarti mati.” Nadira mencoba, tapi gerakannya tampak kaku. “Lagi!” suara Farel menggema di halaman. Keringat mulai membasahi punggung Nadira, meski udara pagi masih terasa dingin. Setelah berlatih menggunakan pisau, Nadira beralih ke latihan melarikan diri. Farel mengajarkan Nadira teknik melepaskan ikatan dari tali, memanfaatkan kekuatan pergelangan dan sudut tertentu. “Kalau kau tertangkap, waktu detik pertama adalah emas. Lewat itu, kau sudah separuh mati,” kata Farel. Nadira mengangguk. Saat Nadira mulai merasa sedikit percaya diri, Farel tiba-tiba menyerang. Tanpa peringatan, tangan Farel meraih pergelangan Nadira dan mendorongnya jatuh ke tanah. “Apa-apaan?!” teriak Nadira mencoba melepaskan diri. “Ujian,” jawab Farel singkat. “Musuh tidak akan bilang ‘aku mau menyerangmu’ sebelum melakukannya.” Nadira meronta, mencoba mengingat teknik yang baru diajarkan. Dengan sisa tenaga, Nadira memutar tubuh langsung menendang kaki Farel, dan berhasil membuat Farel terhuyung satu langkah. Cukup untuk Nadira menjauh. Farel tersenyum tipis. “Lumayan. Tapi di dunia nyata, kau sudah ditembak di kepala.” Nadira mendengus kesal, belum dia beristirahat Farel kembali melanjutkan latihan hingga membuat lengan dan lutut Nadira gemetar. Anak buah Farel yang berdiri di pinggir lapangan, sesekali menahan tawa melihat Nadira terjatuh atau salah gerak. Selesai latihan Nadira mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, tak lama anak buah Farel datang mengantar makanan. Nadira pun segera menyantapnya sebab dia belum makan sejak tadi pagi. *** Malam hari tubuh Nadira masih terasa sakit semua karena latihan keras tadi siang, Namun Farel tak peduli. Pria itu memaksa Nadira untuk ikut dengannya malam ini. Udara dingin menyelimuti halaman markas saat Nadira melangkah keluar dari ruangan. Ada Dua pria bersenjata menunggu di depan pintu, lalu mengantar Nadira ke garasi bawah tanah. Di sana, Farel sudah berdiri di samping sebuah sedan hitam berlapis baja, jas hitamnya rapi, dasinya gelap, dan rambutnya disisir sempurna dengan kedua mata menatap tajam kearah Nadira. “Kau siap?” tanya Farel singkat. “Kalau aku bilang tidak?” tanya Nadira balik. “Berarti kau lebih memilih mati di sini,” jawab Farel datar, lalu membuka pintu mobil. “Masuk!" perintahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN