Bab 3

1027 Kata
Perjalanan terasa sunyi. Jalanan kota malam ini tampak lebih hidup daripada siang, tapi bukan hidup yang menyenangkan. Lampu neon berkedip di atas bangunan tua, musik keras dari klub malam, dan bayangan orang-orang yang bergerak cepat di lorong gelap. Dunia yang jarang di lihat Nadira. “Kita ke mana?” tanya Nadira sambil menatap keluar jendela. “Pertemuan,” jawab Farel. “Dengan siapa?” tanya Nadira lagi. Farel tersenyum tipis. “Dengan orang-orang yang katanya berada di pihak ayahmu.” Tak lama mobil Farel berhenti di depan sebuah gedung tinggi dengan pintu kaca gelap. Dua pria berpakaian hitam memeriksa Farel sebelum mempersilakan masuk. Begitu Farel dan Nadira melangkah masuk ke dalam, aroma asap rokok dan alkohol menyambut. Musik jazz mengalun pelan, tapi suasana ruangan dipenuhi aura waspada. Di tengah ruangan, meja bundar besar menunggu. Enam pria duduk di sekelilingnya, semuanya dengan ekspresi dingin. Satu di antaranya yaitu pria berkumis tipis dengan cincin emas besar—menatap Nadira dari ujung kepala hingga kaki. “Ow, jadi ini Putri Hartono dari Naga putih,” kata pria berkumis menyebut nama ayah Nadira. “Iya, dia adalah putri Hartono dan sekarang dia sudah menjadi istriku.” Farel meraih tangan Nadira dan menariknya duduk di kursi di sampingnya. Nadira terkejut mendengar kata Farel, tetapi Farel tidak memberikan waktu Nadira untuk bereaksi. Tangan Farel tetap menggenggam tangan Nadira dengan erat. Setelah itu Percakapan di meja mulai. Mereka membicarakan wilayah, pembagian keuntungan, dan kerja sama. Nadira tidak paham semua detailnya, tapi jelas ini bukan pertemuan bisnis biasa. “Baiklah kami akan membantumu melawan mafia Naga hitam, asalkan kau bisa membuktikan kalau kau benar sudah menikahi putri Hartono,” kata Pria berkumis tipis itu. “Baiklah, kalian ingin aku melakukan apa?” tanya Farel dingin. “Cium dia, cium di depan kami,” jawab pria berkumis. Nadira membeku. Farel menatap Nadira sekilas, lalu mendekat. Bibirnya menyentuh telinga Nadira lalu berbisik, “Mainkan peranmu, Nadira. Buat mereka percaya kau adalah istriku. Tanpa menunggu Nadira setuju. Farel langsung mencium bibir Nadira, bukan ciuman lembut, tapi ciuman penuh tuntutan yang membuat Nadira tak punya ruang untuk bernapas. Setelah Farel melepaskan ciumannya, kedua mata Farel menatap mereka satu per satu. “Apa kalian sudah puas? Aku bisa lakukan hal yang lebih dari ini!” Semua orang terdiam, tak ada yang menjawab. Namun Nadira bisa melihat sebagian dari mereka menahan senyum miring, sementara yang lain terlihat puas. Setelah hampir dua jam lamanya, akhirnya Pertemuan berakhir. Farel dan Nadira berjalan keluar menuju parkiran. Malam semakin larut dan udara terasa lebih dingin, tapi sebelum sempat merasa lega, suara langkah cepat mendekat dari belakang. “Bos, hati-hati!” teriak salah satu pengawal. Dor! Suara tembakan, Pecahan kaca berhamburan. Farel langsung menarik Nadira ke belakang mobil, tubuhnya menutupi tubuh Nadira. Berusaha untuk melindunginya. “Ada berapa orang?” tanya Farel cepat pada pengawalnya. “Minimal empat, dari arah timur,” jawab pengawal itu. Nadira berusaha untuk mengintip, tapi Farel langsung menahan kepala Nadira “Tetap di sini dan jangan bergerak.” Suara tembakan saling bersahutan. Asap mesiu bercampur aroma bensin membuat Nadira sulit bernapas. Saat Dalam kekacauan, seorang pria bertopeng berhasil menerobos ke arah Farel dan Nadira. Nadira lantas teringat latihannya kemarin, tentang memegang pisau dan melarikan diri. Tanpa berpikir panjang, Nadira meraih pisau kecil dari meja konsol mobil dan berdiri. Saat pria itu hendak mendekati Farel, Nadira langsung menusukkan pisau ke lengannya. Pria itu berteriak, melepaskan senjata apinya, lalu mundur. Farel menoleh sekilas, matanya terkejut melihat Nadira kemudian berkata, “Bagus. Sekarang masuk mobil!” Nadira mengangguk, dia dan Farel bergegas masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi dari tempat itu. Ban berdecit di aspal. Nafas Nadira terengah-engah, di iringi jantungnya yang berdetak tak beraturan. “Siapa mereka?” tanya Nadira. “Musuh. Sepertinya mereka sudah mengikuti kita,” jawab Farel dengan mata tetap ke depan. Ketika sampai kembali ke markas, Farel berhenti di lorong panjang sebelum masuk. Dia berdiri diam beberapa detik, lalu menatap Nadira dalam. “Kau barusan menyelamatkan nyawaku,” kata Farel pelan. Nadira terdiam tak tahu harus berkata apa. Farel lalu melanjutkan kata-katanya “Sekarang mereka akan lebih mengincarmu. Mulai besok, kita tingkatkan latihanmu. Ini bukan lagi sekadar permainan tiga puluh hari.” Nadira masih terdiam, tak lama pintu markas menutup. Farel kemudian menyuruh Nadira untuk beristirahat di ruangannya. *** Pagi hari, Nadira terbangun. Bukan karena suara ketukan pintu atau teriakan anak buah Farel, tapi oleh rasa aneh di dadanya—perasaan seperti ada yang mengawasi. Ruangan tempat Nadira memang tanpa jendela, tapi entah kenapa Nadira merasa hawa di dalamnya berbeda. Lebih dingin. Nadira bangkit dari ranjang, memeriksa sudut-sudut kamar. Semua tampak sama. Lalu mata Nadira tiba-tiba tertuju pada amplop putih di bawah pintu. “Tidak ada yang memberiku surat di sini,” guman hati Nadira. Dengan ragu, Nadira meraihnya. Di dalamnya hanya ada selembar foto, yaitu foto Nadira saat keluar dari mobil semalam bersama Farel. Kemudian Di baliknya, ada tulisan tangan kasar. “Dia tidak akan bisa melindungimu selamanya.” Darah Nadira berdesir, ia merasa aneh. Siapa yang bisa menyelundupkan amplop itu ke dalam markas yang dijaga ketat? Tak berselang lama, pintu terbuka dan Farel masuk, diikuti dua anak buahnya. Matanya langsung tertuju pada amplop yang ada di tangan Nadira. “Dari mana kau dapat itu?” tanya Farel, suaranya rendah, tapi penuh kemarahan. “Aku menemukannya di bawah pintu,” jawab Nadira, mencoba tenang. Farel merebut foto itu, membaca tulisannya, lalu memerintahkan anak buahnya, “Periksa semua kamera keamanan. Sekarang!” Anak buah Farel langsung bergegas keluar. Sementara Farel tetap berada di tempat bersama Nadira, dan menatap wajahnya lama. “Mulai hari ini, kau tidak akan dibiarkan sendirian. Bahkan untuk pergi ke kamar mandi.” “Aku bukan tahanan!” Pekik Nadira. “Kau adalah tahanan, Nadira. Tahanan dunia ini. Dan musuh ayahmu baru saja memastikan cara untuk menangkapmu. Aku yakin pasti ada penyusup.” “Nadira, kau tunggulah di sini sebentar. Aku akan kembali lagi,” kata Farel kemudian pergi meninggalkan Nadira. Selepas Farel pergi Nadira mengeluarkan emosinya, dia berteriak sambil menangis. Nadira tidak mengira hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat setelah ayahnya meninggal. Rumah, kampus, Cafe, Mall, tempat-tempat yang biasa Nadira datangi, kini tak bisa di kunjunginya lagi. Nadira harus mulai terbiasa dengan tempat asing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN