Bab 4

1052 Kata
Siang hari Farel kembali lagi, dia kemudian membawa Nadira ke ruang latihan. Kali ini, Farel bukan hanya melatih pisau atau teknik melarikan diri tapi Farel memberikan Nadira sebuah pistol. “Tahukah kau cara memegangnya?” tanya Farel. “Tidak,” jawab Nadira langsung. Farel lantas berdiri di belakang Nadira, membimbing tangannya “Jangan takut pada senjata. Takutlah pada orang yang mengendalikannya,” kata Farel. Dor Ledakan pertama membuat telinga Nadira berdengung, tapi beberapa kali tembakan Nadira perlahan mulai terbiasa. Setiap kali peluru Nadira mengenai target, Farel mengangguk tipis. “Kau punya insting. Gunakan itu,” kata Farel. Nadira terus berlatih sampai langit tak terasa sudah berubah menjadi Sore. Namun detik kemudian tiba-tiba suasana markas terasa tegang. Semua anak buah Farel bergerak cepat, berbisik-bisik. Nadira mencoba mendengar, tapi hanya menangkap kata-kata seperti “penyusup” dan “kode merah”. Ternyata kecurigaan Farel benar, setelah itu Farel datang menghampiri Nadira sambil mengenakan rompi anti peluru. “Kau ikut aku,” kata Farel singkat. “Kemana?” “Safehouse. Tempat ini sudah tidak aman.” Nadira dan Farel pergi meninggalkan markas. Walaupun perjalanan ke Safehouse tidak mulus. Entah dari mana datangnya tiba-tiba Dua mobil muncul mengikuti Nadira dan Farel sejak keluar dari garasi bawah tanah. “Bersiap,” kata Farel kepada Nadira. Tak di duga, mobil di belakang mempercepat laju dan mencoba menabrak mobil Farel dan Nadira. Farel lantas membanting setir, membuat Nadira hampir terlempar dari kursi. Suara tembakan memecah malam. Kaca belakang mobil retak, dengan sigap Farel langsung menarik Nadira agar merunduk. “Ambil ini!” Farel menyodorkan pistol pada Nadira. Dengan Tangan gemetar Nadira mengambil pistol tersebut, sesaat Nadira teringat akan latihannya. Dia lantas mengarahkan senjata api itu ke ban mobil penyerang lalu menembak. Dor Terdengar bunyi dentuman. Mobil musuh itu seketika oleng, kemudian menabrak pembatas jalan. Mobil Farel dan Nadira memanfaatkan kesempatan ini. Mereka melaju kencang, meninggalkan kekacauan di belakang. Meskipun nafas Nadira memburu dan tangannya masih bergetar. “Kau barusan menyelamatkan kita lagi,” kata Farel sambil menatap ke depan. “Tapi itu juga berarti mereka semakin ingin menangkap kita.” “Kapan mereka akan berhenti mengejar kita?” tanya Nadira. “Mereka tidak akan berhenti kecuali kita melawan mereka,” jawab Farel. Nadira menggidikkan bahunya ngeri, dia tak bisa membayangkan ikut dalam peperangan dunia mafia. Tak lama mobil Farel dan Nadira berhenti di Safehouse. Nadira lantas turun dari mobil dan terkejut, ternyata Safehouse adalah sebuah vila tua di pinggir kota, yang dikelilingi hutan pinus. Dari luar tampak damai, tapi di dalamnya penuh senjata, peta, dan layar monitor yang memantau berbagai lokasi. “Ini kamarmu, kita tinggal di sini sementara,” kata Farel setelah mengantar Nadira ke sebuah ruangan yang berada tepat bersebelahan dengan ruangannya. “Baiklah,” balas Nadira menurut. Kali ini Nadira tidak banyak bertanya tentang Safehouse, meskipun di kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan. “Apakah Ayahku pernah datang kesini juga,” batin Nadira. Nadira melihat sekeliling ruangannya dan menemukan sebuah buku, yang sama persis pernah di lihatnya di ruang kerja ayahnya. “Nadira, jangan sentuh barang apa pun disini,” kata Farel lalu pergi meninggalkan Nadira. Nadira lantas mengurungkan niatnya mengambil buku itu, dia memilih berbaring di atas ranjang mengistirahatkan tubuhnya yang masih sedikit syok. Karena ini pertama kalinya Nadira menembak musuh. * Sementara itu di ruang sebelahnya Farel duduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dia terus memikirkan bagaimana caranya melindungi Nadira karena musuhnya semakin mendekat. “Aku berjanji akan menjaganya dengan nyawaku,” guman Farel sambil menatap sebuah liontin berlambang naga putih milik ayah Nadira. Pikiran Farel terbayang akan peristiwa lima belas tahun yang lalu. Kala itu Farel adalah seorang bocah kecil yatim piatu berumur sepuluh tahun yang hidup di jalanan. Farel kecil tertangkap saat mencuri uang hasil transaksi mafia milik ayah Nadira. Melihat keberanian Farel. Hartono–Ayah Nadira mulai tertarik padanya, kemudian mengajak Farel bergabung dan melatih kemampuannya. Semenjak itu kehidupan Farel berubah sampai sekarang. Setelah Hartono meninggal Farel lah yang menggantikan posisinya sebagai Bos Mafia Naga Putih. Malam harinya, Farel mengajak Nadira makan malam. Ini pertama kalinya Nadira makan bersama Farel. Di meja makan sederhana ada beberapa menu makanan yang sudah di sediakan Farel. “Makanlah,” kata Farel setelah Nadira duduk. Nadira lantas mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya. Kemudian mereka makan dalam keadaan diam. “Nadira, ada satu hal yang belum kau ketahui,” kata Farel setelah makan. “Apa itu?” tanya Nadira. “Ayahmu ... dia meninggal bukan karena kecelakaan,” jawab Farel memberitahu kebenarannya. “Apa!” Nadira terkejut untuk kedua kalinya. Setelah mengetahui ayahnya seorang mafia, kini Nadira harus menerima kenyataan bahwa ayahnya meninggal bukan karena kecelakaan. “Maksudmu ayahku dibunuh?” “Iya Nadira, kecelakaan itu hanya alibi.” “Siapa? Siapa yang membunuh ayahku, Farel?” “Dia adalah Bos Mafia Naga Hitam, ayahmu terlibat perselisihan dengan Naga Hitam karena jalur mereka berbeda. Ketika ayahmu hendak pulang ke rumah, Bos Mas mafia Naga hitam menyerangnya.” “Mereka mengira ayahmu akan pergi ke kantor polisi, Bos Naga Hitam takut ayahmu akan menyerahkan data gelap mereka. Jadi mereka menyerang ayahmu secara besar-besaran. Awalnya ayahmu berhasil melawan mereka, namun ada yang berkhianat dengan ayahmu dan menjebak dia. Aku tak bisa menolong ayahmu karena ayahmu memintaku untuk menjagamu, agar mereka tidak menyentuhmu.” Farel menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Nadira, sehingga membuat gadis itu seketika membeku. Nadira mencerna dan membayangkan apa yang terjadi pada ayahnya. “Ayah,” lirih Nadira. Air mata Nadira seketika luruh membasahi pipinya, Nadira tak menyangka ayahnya masih memikirkan dia di saat-saat terakhirnya. “Kenapa Farel? Kenapa Ayah tidak pernah menceritakan siapa dirinya padaku?” tanya Nadira, dia bukan anak kecil yang seharusnya tidak tahu apa-apa. “Itu karena ayahmu takut kau akan membencinya, Nadira. Setelah kau tahu semua ini, Dia ingin menjadi seorang ayah sempurna untukmu.” Farel menjawab sambil memegang tangan Nadira, kemudian dia kembali berkata “Nadira, kau jangan pernah membenci ayahmu. Beliau itu sangat menyayangimu.” Nadira tak bisa menahan kesedihannya, begitu mengetahui semua tentang ayahnya. Tanpa sadar Nadira memeluk Farel dengan kuat, menangis di d**a bidang Farel. “Nadira ... kau harus kuat seperti ayahmu. Sekarang menangislah, setelah ini kau tidak boleh menangis lagi,” guman hati Farel sembari mengelus puncak kepala Nadira. Tak lama Nadira akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Farel lantas menggendong Nadira dan membawanya ke kamar, dia menghapus sisa-sisa air mata di sudut mata Nadira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN