Bab 5

1026 Kata
Seminggu kemudian di Safehouse Semenjak mengetahui semua tentang ayahnya, Nadira perlahan mau menerima kehidupannya yang baru. Kehidupan yang dulu pernah di jalani ayahnya. Setiap hari Nadira berlatih bersama Farel untuk meningkatkan kemampuannya. Seperti pagi ini Nadira sedang berlatih menembak jarak jauh, dengan yakin Nadira membidik sasaran kemudian melepaskan tembakannya. Dor Tembakan Nadira tepat mengenai sasaran. “Bagus Nadira, sekarang kemampuanmu sudah semakin meningkat,” kata Farel memuji Nadira. “Terima kasih Farel, apa aku boleh beristirahat sekarang?” “Iya, istirahatlah.” Farel mengizinkan. Nadira lalu pergi berjalan-jalan di sekitar Safehouse, menikmati keindahan hutan Pinus. Tetapi Nadira tidak seorang diri, beberapa anak buah Farel berjalan dua meter di belakang Nadira, berjaga-jaga bila terjadi sesuatu. Setelah puas berjalan-jalan, Nadira kembali menemui Farel. Tampak Farel sudah dalam keadaan rapi, memakai kemeja dan jas nya juga rambut yang tertata rapi. “Farel, kau mau pergi?” tanya Nadira. “Iya, Nadira. Aku ada urusan, kau tunggu disini,” jawab Farel. “Baiklah.” Nadira mengangguk. Farel kemudian mendekati Nadira dan langsung mencium bibir Nadira, membuat kedua bola mata Nadira terbelalak kaget mendapat serangan ciuman mendadak. Farel menggigit sedikit bibir bawah Nadira, agar mulut Nadira sedikit terbuka dan dia bisa berleluasa masuk kedalam. Menikmati rasa manis dari bibir Nadira. “Farel, kenapa kau menciumku?” tanya Nadira setelah Farel melepaskannya. “Karena aku menginginkannya. Bukankah hidupmu milikku,” jawab Farel kemudian pergi meninggalkan Safehouse. Farel memacukan mobilnya menuju salah satu markas naga putih milik Hartono, hendak mengambil sesuatu yang penting yang di sembunyikan disana. Farel hanya pergi sendiri, anak buahnya bejaga ketat di sekeliling luar Safehouse. Selama Farel pergi, diam-diam Nadira memegang barang-barang yang ada di Safehouse. Dari foto bingkai yang terpajang di dinding, Vas bunga lama serta memeriksa bagian dalam lemari. “Tidak ada apa pun disini,” guman Nadira. Detik kemudian Nadira teringat buku mirip milik ayahnya yang belum sempat di lihatnya. Nadira lantas kembali ke kamarnya, mencari buku itu, begitu menemukannya Nadira segera membuka isi buku tersebut dan tiba-tiba sebuah foto terjatuh dari dalamnya. “Foto siapa ini?” Nadira bertanya-tanya, di dalam foto tersebut terlihat seorang wanita cantik mengenakan gaun berwarna putih. “Aku akan tanya hal ini kepada Farel nanti,” guman Nadira, dia lalu menyimpan foto itu kembali ke dalam buku. * Malam hari Farel baru kembali, dia langsung memanggil Nadira ke ruang kerjanya. Farel duduk sambil memegang sebuah peta di tangan, menunggu kedatangan Nadira. Sementara itu Nadira yang baru saja mandi dan mengganti pakaian yang di berikan anak buah Farel, bergegas menemui Farel. Dalam pikiran Nadira mungkin ini saatnya dia menanyakan tentang siapa foto itu. Setibanya di sana Farel langsung menyuruh Nadira duduk di hadapannya, lalu membuka peta yang ada di tangannya dan meletakkannya di atas meja. “Dengarkan aku baik-baik, Nadira,” kata Farel sambil menatap peta itu. “Musuh kita bukanlah orang biasa. Mereka adalah Bos mafia Naga Hitam, mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan yaitu dirimu.” “Kenapa mereka terus menginginkanku? Kenapa tidak kau katakan saja pada mereka kalau aku tidak tahu apa pun tentang ayahku, Farel!” “Kau pikir mereka akan percaya Nadira? Tidak, meskipun kau berkata jujur. Mereka akan tetap menangkapmu dan menyiksamu sampai kau mengaku!” Nadira tertunduk lemas mendengar kata-kata Farel. Dia tahu di dalam kehidupan gelap ini hanya ada dua pilihan yaitu hidup atau mati. Sesaat kemudian Nadira bangkit dari duduknya. “Baiklah, aku akan ikut bersamamu melawan mereka, Farel. Aku juga ingin membalas kematian ayahku,” kata Nadira yakin. Farel tersenyum tipis dengan keputusan Nadira, dia lalu menjelaskan isi peta tersebut kepada Nadira. Belum sempat Farel menjelaskan semuanya, tiba-tiba terdengar suara alarm meraung memenuhi seluruh Vila. Farel refleks berdiri, matanya tajam memeriksa. “Mereka sudah menemukan kita.” Sirene internal meraung tanpa henti, lampu merah darurat berputar di sudut-sudut ruangan. Suara langkah kaki berlari terdengar di seluruh vila, bercampur dengan teriakan instruksi dari anak buah Farel. “Semua ke posisi! Mereka datang dari sisi timur dan selatan!” teriak seorang pria dengan senapan serbu. Farel menoleh ke arah Nadira. “Ikut aku!” Tangan Farel mencengkeram lengan Nadira, menariknya menuju lorong sempit di belakang ruang kerja. Nadira hampir saja tersandung, tapi Farel tidak mengendurkan langkahnya dan terus berjalan cepat. “Berapa banyak mereka?” tanyaku sambil terengah-engah. “Cukup banyak untuk mengubah tempat ini jadi kuburan kalau kita tinggal diam,” jawab Farel singkat. Begitu Farel dan Nadira tiba di ruang senjata. Farel melemparkan sebuah rompi anti peluru pada Nadira “Pakai.” Nadira memakainya dengan tangan gemetar, sebab beratnya hampir menekan bahu Nadira, setelah itu Farel memberikan sebuah pistol dengan peluru penuh. “Kau tahu apa yang harus dilakukan,” kata Farel. Nadira mengangguk, dia mengingat kembali semua latihannya beberapa hari selama di Safehouse. Duarr! Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terdengar dari arah pintu utama. Seluruh vila bergetar. Dari monitor CCTV, Nadira dan Farel melihat bayangan hitam bergerak cepat, mengenakan topeng dan membawa senjata otomatis. “Mereka sudah masuk pagar!” teriak salah satu anak buah. “Kontak tembak!” balas yang lain. Suara peluru mulai menghantam dinding dan jendela. Pecahan kaca berhamburan di lantai. Aroma mesiu memenuhi udara, panas dan menyengat. Farel menuntun Nadira ke balkon lantai dua. Dari sini, Nadira dan Farel melihat dua truk hitam berhenti di halaman depan. Belasan pria bersenjata turun, bergerak cepat ke arah vila. “Nadira, kau tetap di belakangku,” kata Farel. Tapi ketika salah satu penyerang mencoba memanjat dinding dekat balkon, Nadira refleks mengarahkan pistol dan menembak. Peluru mengenai bahunya, membuatnya jatuh ke tanah. Farel menoleh sekilas, ekspresinya campuran kaget dan puas. “Bagus. Jangan berhenti.” Tembakan semakin intens. Dua anak buah Farel tertembak dan jatuh di koridor. Dengan cepat Farel menarik Nadira mundur ke lorong belakang. “Nadira, kita tidak bisa bertahan di sini. Mereka terlalu banyak. Kita keluar lewat jalur darurat.” “Ke mana Farel?” “Gudang bawah tanah. Ada terowongan.” Farel dan Nadira berlari menuruni tangga sempit. Suara peluru masih terdengar di atas. Saat hampir sampai ke pintu baja menuju gudang, ledakan mengguncang seluruh bangunan. Lampu berkedip-kedip, debu beterbangan. Di gudang, Farel menekan panel di dinding. Pintu tersembunyi terbuka, memperlihatkan lorong gelap yang menurun ke bawah tanah. “Masuk!” perintah Farel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN