Chapter 4

1784 Kata
Runa kembali melakukan hal yang biasa dia lakukan sebelum berpacaran dengan Ero. Tidak lagi meluangkan waktu untuk ke kelasnya, menemuinya yang mungkin sedang bercanda dengan teman-temannya, atau saat bermain di lapangan, dan saat Ero melakukan latihan basketnya. Tentu saja hal ini disadari banyak pihak, tidak lama seseorang mengatakan bahwa keduanya ada masalah, da nada juga yang berkata bahwa mereka sudah putus. Itu kenyataannya, tetapi belum ada satu orangpun yang bertanya. “Mau ke kantin gak?” Yosha bertanya, dia sibuk mengipasi dirinya sendiri dengan buku karena cuaca hari ini sangat panas. “Gini aja udah kepanasan. Sepanjang jalan mau ngeluh gimana” Runa berkata seperti biasa, tetapi Yosha paham bahwa temannya itu mengejeknya. “Bentar ajaaa” keluhnya, “pengen es” Seseorang meletakkan dua bungkus nasi sambal teri di meja keduanya, membuat Runa dan Yosha mengangkat wajahnya karena tinggi orang itu. “Kalau kalian gak doyan kasih aja ke pak satpam” setelah berkata seperti itu Sena jalan kembali ke tempat duduknya. “Cuma nasi sambal teri? Terus mana es teh-nya?” Yosha tidak tahu malu meminta. Sena berhenti dan menoleh, “punya ember mintanya bathtub” “Hah?” Yosha melongo. “Gak tau namanya bersyukur” Sena segera duduk dan kembali tidur. “Anjir” Yosha mengumpat. Runa tertawa, “pinter juga dia” “Run!” Yosha masih mendumel karena perkataan Sena tadi. “Dimakan aja. Kayak kata dia, dikasih gratis, dibeliin dan akhirnya gak kepanasan sampe kantin, harusnya bersyukur” Runa tertawa lagi. “Iya, iya. Ini bersyukur kok” akhirnya Yosha menarik sebungkus nasi dan mulai memakannya lahap. Ketukan pintu di kelas Runa membuat anak-anak yang mengobrol di meja guru menoleh. “Runa ada?” Dion, salah satu teman Ero. Begitu melihat Runa dia langsung masuk dan memberikan milkshake yang dijual didepan sekolah mereka. “Diminum Run” “Dari?” Runa bertanya. Dion berdehem, “Ero. Siapa lagi” Setelah sekian detik melihat minuman itu Runa menggeleng dan menatap Dion, “kami udah putus” Spontan hal itu menggegerkan semua murid di kelasnya, yang tentunya tidak butuh waktu lama menyebar ke seluruh sekolah. “Run, ini dari dia” Dion berusaha menjelaskan. Runa menggeleng, “dia sendiri yang minta putus kemarin. Buat apa beliin aku ini? Biar kubilangin ya Di, jangan pernah ikut campur urusan pasangan walaupun kamu dimintai tolong. Itu bukan keputusan yang bagus, masalahku ya sama Ero” Dion mengangguk dan membawa keluar milkshake tadi. *** Tahun berganti. Dan saat ini adalah masa Runa masuk ke SMA yang ia inginkan. Tempat yang sama dengan Oskar juga Rin bersekolah di tahun terakhir mereka disana. Seperti dugaannya, begitu ia masuk bersama Oskar dan Rin beberapa orang langsung merasa segan. Oskar juga Rin anggota aktivis organisasi disana, dan Oskar bahkan aktif dalam lomba, juga acara-acara didalam juga di luar sekolah. Singkatnya dia anak popular disana. “Selamat pagi kak” Runa tidak tau dia siapa, tapi dia menyapa Oskar dan Rin penuh respek. “Pagi Dim, kamu yang jadi ketua panitia MOS-nya?” “Iya kak” dia mengangguk lalu melirik ke Runa. Rin sadar, “dia adikku. Tapi santai saja” Dimas berganti menatap Oskar yang tersenyum, “dia Runa. Kami udah kayak kakak-adik” Keduanya berbincang sementara Rin mulai mengecek kembali perlengkapannya. “Udah kak. Semuanya lengkap, ku cek sebelum berangkat tadi” Rin menghela nafas, “takutnya kamu kena hukuman. Disini hukumannya berat” “Gak jadi masalah kak” “Ya udah kakak ke kelas dulu ya Run, kamu coba kenalan sama yang lain” Rin menepuk pundaknya lembut. Lagi-lagi Runa hanya diam dan mengangguk “Gitu ya Dim” Oskar menepuk pundaknya dengan pelan beberapa kali. Dimas mengangguk dan memberikan tanda ok lalu segera pergi. Oskar beralih ke Runa, “semangat ya. Nanti kalau ada yang nakal atau jahat bilang ke kakak” Raut wajah Runa penasaran, “kenapa?” “Biar kakak yang urus” Runa menggeleng, “aku bukan anak SD yang perlu di jagain kayak dulu kak” “Kamu cewek Run, Rin pun gak masalah” Runa tidak habis pikir dengan perlakuan Oskar dan Rin selama ini. Maksud Runa, dia bukan anak yang perlu di jaga setiap mendapatkan masalah. Dia perlu menghadapinya sendiri tanpa ikut campur orang lain. “Bener” Runa setuju atas gender yang dikatakan Oskar tadi, “tapi aku bisa sendiri kak” dia diam dulu lalu melanjutkan, “kalau masalah yang bener-bener gak bisa kutanggung aku bisa cerita. Mungkin kalau kak Rin emang butuh bantuan kakak, tapi aku juga gak sendiri” Runa memberikan pengertian. Oskar mengiyakan dan mengacak rambutnya, “udah deh. Capek ribut sama kamu terus” dia tertawa lalu melambai pergi di ikuti jeritan beberapa siswi. Runa menghela nafas, ‘bisa gak kalau ada cowok biasa aja di deketku satu aja, paling gak setiap kali jalan gak perlu ada drama’ “Runa, astaga ngapain disini? Kita harus cepet-cepet ke barisan itu” Yosha muncul dengan nafas terengah-engah dan menarik lengannya untuk baris. Secara tidak sengaja di dekat mereka ada seseorang yang bertubrukan, “liat-liat dong kalau jalan! Badan segede gaban!” umpat seorang perempuan cantik yang langsung di tolong temannya. “Nah itu” tanggapannya datar, “badan segede ini masih aja ditubruk. Matamu yang kemana?” Keberaniannya menciut, “maaf. Gak sengaja” ia meninggalkan temannya dibelakang. “Fani!” teriaknya yang lalu ikut berlari. “Sena?” Runa menyebutkan namanya. Sena menoleh. Yosha mulai lagi, “astagaaa. Kenapa satu sekolah lagi” katanya lebay. “Karena aku pinter” Dan itu fakta yang membuat Yosha keki karena dia mati-matian belajar untuk masuk ke sekolah ini, “enak yang pinter” “Emang enak Sha” Runa tertawa. “Lama-lama kamu sama Sena bisa temenan Run, bela dia mulu perasaan” Runa tertawa, “apa salahnya? Kita bisa jalan bertiga kan?” Sena tersenyum tipis, “deal” “Apaan nih? Aku gak setuju ya” Yosha berbisik saat salah seorang siswi melotot kepadanya yang berteriak beberapa kali. “Kalau gitu kamu jalan sendiri. Biar aku sama Runa” Keributan itu berhasil di hentikan saat semua panitia meminta mereka agar diam. Dan MOS hari pertama yang melelahkan di mulai. *** Oskar yang menghabiskan waktunya bermain basket di lapangan mulai duduk beristirahat setelah mereka main 2 ronde berturut-turut dengan teman-temannya yang lain. Rin sudah bilang padanya tadi kalau dia pergi duluan karena pertemuan organisasi PMR-nya yang belum terselesaikan. Masalah perpindahan tangan organisasi ke adik kelasnya, juga memberitahu apa yang harus mereka ketahui saat melaksanakan tugasnya di organisasi tersebut. Jadilah Oskar menunggui Runa sendirian. “Tumben masih disini sampe sore?” Akmal minum dan merebahkan dirinya dengan keringat yang menetes karena lelah. “Wah, ada adek kelas yang bening ya?” Haris bertanya dengan tertarik setelah berhasil bernafas dengan baik. “Adeknya Rin” “Rin lagi?” Yudas menghela nafas dan merebut minum Akmal. “Kalian pacaran apa gimana sih? Sampe bingung gue karena kalian nempel terus, lo juga bantuin dia terus pas ada masalah sama cowok-cowok itu” Wisnu berdecak mengingat perbuatan Oskar sejak pertama kali masuk ke sekolah itu. Mereka tahu betul bahwa Oskar sangat gila karena membela anak perempuan yang harusnya di hukum berlari 25 kali di lapangan sekolah mereka yang luas. Berakhir dengan Oskar yang menggantikan Rin, ditambah dia harus membersihkan toilet laki-laki di lantai anak kelas 3. Oskar menggeleng, “salah semua kata-kata kalian” “Lo yang gak jelas Kar. Semua orang sampe ngira kalian pacaran tapi gak mau ngaku” Leo meraih tasnya. “Kemana lo?” “Yang lain dah kabur tuh, capek dipaksa main mantan ketua basket kita ini” Leo menyindir Oskar. “Sekali lagi aja, seadanya orangnya” Oskar kembali berdiri. Wisnu mengacak rambutnya sambil mengeluh, “gak ada capeknya lo” “Tuh udah bubar MOS-nya” Haris menunjuk kearah anak baru yang dengan lunglai membawa tas mereka. Buru-buru Oskar menyambar tasnya dan melambai kepada yang lain untuk segera menemui Runa, dan dia bisa menemukannya dengan mudah. “Astaghfirullah” Yosha kali ini tidak mengumpat karena sudah di cerca habis-habisan oleh kakak kelas tadi. Runa refleks tertawa kecil membuat Oskar kembali melihatnya, “Yosha udah kenyang kena marah sama hukuman karena ngomong kasar” jelasnya. “Balik duluan ya Run” Sena berpamitan dan langsung pergi. Yosha merengut, “karena kamu udah ada kak Oskar aku balik duluan ya. Text me, okay?” Runa memberikan jempolnya lalu menatap Oskar, “kak Rin mana?” “Udah duluan dari tadi karena ngurus organisasi yang dulu sama adek kelasnya” Oskar menjawab, dia bisa melihat dari lapangan teman-temannya masih ada dan mulai membuat gerakan mulut juga badannya secara tidak normal. “Itu temen kakak?” Runa bertanya. “Gak kenal Run. Kakak gak punya temen” Oskar tertawa. “Mereka lucu, kayak monyet” Oskar tertawa lepas tanpa di kontrol, “baru kali ini ada yang sadar kalau mereka 11-12 sama monyet” “Kebetulan aku disuruh minta tanda tangan kakak kelas” Runa bersuara. “Sekalian aja gimana?” Tanpa ragu Runa mengangguk dan mulai mengeluarkan bukunya. “Hukuman?” “Iya” “Kamu buat salah apa?” Oskar menanyai sambil berjalan kearah lapangan. “Gak sengaja jatuhin lipstick” “Lipstick siapa?” Runa mengangkat bahunya. “Hai manis” Akmal menyapa dan tersenyum manis. Runa mengangguk, “selamat sore kak. Aku Runa, boleh minta tanda tangannya?” Akmal menatap anak-anak lain yang masih berada disana. Dia lalu mengangguk, “boleh. Cuma tanda tangan? Gak nama sama nomor kakak?” “Nama sama kelas aja kak, supaya kalau diminta keterangan bisa jelas” “Bisa kakak kasih nomor juga lho” “Diem lo, jangan bawel” Wisnu menyikutnya dan dengan cepat merebut buku Runa dan segera menandatanganinya, “jangan percaya sama dia. Dia itu buaya yang jalan di darat dan nyaplok banyak orang” “Buaya bisanya ngesot atau merangkak kak, dan dia emang karnivora jadi wajar makan orang” Baik Haris, Akmal, juga yang lain tertawa terpingkal-pingkal. “Duh malu Nu! Malu!” Haris memukul punggungnya. “Bodonya keliatan” Akmal memegangi perutnya yang terasa sakit. “Apa susahnya tanda tangan dulu?” Oskar mengingatkan. Yang lain segera mengantri dan juga mengobrol kecil dengan Runa. “Run, jangan terlalu polos ya” Akmal menasehati. “Jangan sok akrab” Oskar menepis perkataannya, “baru juga kenalan” “Dari pertama akan ada hari kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai hanya ada aku dan kamu” Haris kumat lagi. Oskar menggeleng melihat kelakuan teman-temannya. Walaupun dalam hati dia juga berterima kasih karena mereka mau tanda tangan dengan senang hati. Oskar hanya tidak bisa membayangkan jika Runa tidak memberitahunya dan melakukannya sendiri. Tradisi minta tanda tangan itu adalah hal tersampah di sekolah ini. *** June 3, 2022
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN