Regis tidak mengerti bagaimana dia bisa ada diposisi ini. Seorang lelaki SMA menatapnya dengan tatapan mengerikan dan baru saja melayangkan satu pukulan kuat tepat ke rahang bawahnya. Dia belum bisa memahami apakah itu tadi peringatan? Ancaman? Yang jelas di sisi lain ada Runa, perempuan yang disukainya sekaligus membuatnya rendah diri dan akhirnya marah, sedang bersama perempuan SMA lain yang sedang mengobrol entah apa.
“Kak aku jawab pertanyaan kakak kemarin bukan buat ini” suara Runa menginterupsi, remaja manis itu sudah berdiri didekat lelaki garang yang kemungkinan adalah kakaknya.
“Run, biarin Oskar ok? Dia udah bantuin kamu malah” Rin meraih tangan adiknya.
“Bukan pake kekerasan kak” tegas Runa sambil menggeleng, “kak Oskar”
“Apa?” Oskar menoleh dengan raut wajah datar.
“Biarin dia deh. Kalian buat ribut di dekat sekolahanku, gimana kalau ada yang ngelaporin kalau anak SMA ngelakuin kekerasan ke anak SMP?” Runa bertanya.
Oskar berpikir, “cerita kenyataannya. Dia yang buat tangan kamu memarkan? Itu faktanya, saksi anak sekelas kamu”
“Kakak main tangan gini juga waktu ada yang gangguin kak Rin?”
“Mereka keterlaluan Run, harusnya gak boleh kasar ke cewek” tatapan yang baru Runa lihat dari mata Oskar, “lagian pasti Papa pasti cari kenalan polisinya buat bantuin kita”
Runa menggeleng, “Penyelewengan kekuasaan. Gak boleh”
Oskar kali ini melemaskan bahunya, “kamu kenapa banyak tahunya sih Run”
“Itu hal dasar yang wajib diketahui” Runa menjawab.
Rin diam didekat keduanya, dia tidak berani melakukan apapun ketika Oskar dalam keadaan seperti ini.
Oskar kembali menatap Regis yang mengusap rahangnya. Tatapan anak itu juga tidak main-main tajamnya, mungkin jika dia dijalan yang salah tekadnya akan menyusahkan orang lain.
“Jangan ganggu Runa lagi, paham?” Oskar memperingati.
“Kenapa? Dia yang gak menghargai pemberian orang lain”
“Kamu buang makanan atau barang yang dia kasih Run?” Oskar menenteng tasnya yang sebelumnya ia taruh ditanah.
Runa menggeleng.
“Kamu kasih ke orang lain?”
Runa kembali menggeleng, “terakhir dia kasih tiket buat berdua perginya. Tapi aku gak mau karena gak enak berduaan, belum kenal, dan Yosha pun gak dia ajak”
“Alasan logis” Oskar mengangguk, “denger itu? Gak menghargai darimananya? Pemaksaan namanya kalau dari ngasih barang dan orang yang bersangkutan harus bilang ‘iya’”
Regis terdiam.
Oskar menepuk lembut punggung Runa beberapa kali dan tersenyum lembut, “mau beli es krim?”
Runa mengangguk.
***
“Ero” Runa memanggil seseorang yang tengah bergurau selesai bermain basket.
“Hai Run,” dia bergerak untuk memeluknya.
Runa segera menghindar dengan mundur satu langkah di susul sorakan dari teman-teman pacarnya. Ya, dia pacaran dan sudah berjalan 2 bulan ini diakhir tahun kelas tiganya.
“Kenapa?” Ero bertanya.
Runa hanya menggeleng, “jadi makan bareng abis ini?”
“Jadilah” Ero mengangguk dan tersenyum lebar, mengusap rambut Runa.
“Ro kitakan mau latihan?” protes salah seorang temannya yang segera di peringati oleh yang lainnya.
Runa menatap Ero, “kamu ada latihan?”
Ero meringis, “itu bisa nanti aja. Susah banget mau cari waktu jalan sama kamu”
“Gak deh, latihan aja sama temen kamu” Runa memperhatikan teman Ero dan mengangguk kearah mereka yang kali ini suasananya menjadi canggung.
“Run, gak apalah. Iyakan?” Ero menoleh kearah yang lain dan mengkode untuk mengiyakan.
“Iya gak masalah, si Ero udah sering banget kumpul dan latihan sama kita. Kalian jalan aja, gak usah pikirin ni anak satu” dia menendang kaki lelaki yang tadi sempat protes.
“Duh, sakit anjing!” samar Runa mendengar umpatannya.
“Mereka gak masalah” Ero memegang tangan Runa, ekspresinya memohon.
Runa kembali menatap Ero, “ya udah. Aku balik kelas dulu ya, see you later”
Ero tersenyum saat melihat Runa melambai kearahnya, “okay babe” Ero membalasnya dengan suara yang cukup keras, membuat para anak kelas perempuan Ero yang sedari tadi menonton mereka semakin iri.
***
“Kenapa pacaran sama Ero?” Yosha bertanya untuk kesekian kalinya selama dua bulan ini.
“Suka” Runa mengerjakan tugas Matematikanya dengan cermat.
“Serius Run” Yosha gemas sendiri terhadap reaksi Runa.
“Kalau gak suka apalagi?” Runa menggumam lelah.
“Soalnya kamu gak kayak orang yang jatuh cinta” Yosha sudah lelah jungkir balik menanyakan hal ini pada Runa. Dia terlalu datar menghadapi hal-hal lain.
“Orang yang lagi jatuh cinta harus gimana?” Runa bertanya, melepas fokusnya dari buku dan membiarkan pulpennya menggelinding ke sisi lain meja.
“Jantungnya dag-dig-dug kalau ketemu”
“Kalau enggak berdetak mati Sha” Runa menghela nafas.
“Ngerasa malu karena deketan” Yosha bersikeras.
“Aku gak ngelakuin hal memalukan, kenapa harus malu?”
“Kamu gak ngerti ih!” Yosha kesal.
“Apanya lagi?”
“Artinya kamu gak suka sama Ero"
“Kok bisa? Kan perasaanku?”
“Beda Run, orang yang jatuh cinta gak gitu. Coba tanya kakak mainanmu yang SMA itu, pasti dia lebih ngerti”
“Kenapa sampe bawa kak Oskar?” Runa bingung.
“Oskar?” suara Ero muncul tiba-tiba di kelasnya.
“Udah disini?” Runa bertanya.
“Kamu lama soalnya, aku nunggu dari tadi tapi ternyata kalian lagi sibuk cerita” Ero tersenyum dan melirik ke Yosha.
Runa menggeleng dan merapikan bukunya, “abis ngerjain tugas Matematika dikit”
“Ngomong-ngomong siapa Oskar?”
Kali ini gantian Yosha melirik kearah Runa seperti berkata, ‘seriously? Belum pernah ngenalin Ero ke kak Oskar?!’
“Kakak aku” jelas Runa.
“Runa gak punya kakak cowok” Yosha menambahkan membuat Runa mengernyit bingung.
“Jadi? Kakak-kakakan?” Ero bertanya lagi.
“Temennya kakak aku, tapi kak Oskar juga jadi kakak aku” jelas Runa apa adanya, seperti apa yang dikatakan Oskar padanya dulu.
“Hah?” Ero semakin bingung tetapi akhirnya dia tetap tersenyum, “jadi kak Oskar itu pacar kakak kamu? Makanya kamu anggep kakak sendiri?”
Runa kembali menggeleng kali ini dia berdiri, “gak. Kak Oskar sendiri bilang boleh anggep sebagai kakak”
Hening. Yosha pun baru tau kali ini, dan Ero wajahnya berubah masam untuk beberapa detik.
“Kenapa?” Runa kembali bingung saat Yosha maupun Ero menatapnya dalam diam.
“Gak tau deh. Aku pulang dulu ya Run, nanti WA kalau dah balik” Yosha melambai dan berlari keluar kelas. Menghindari percikan keributan yang sepertinya ia sebabkan.
“Kok aku gak pernah ketemu yang namanya Oskar itu?” Ero masih tetap bertanya sambil berjalan beriringan.
“Beneran? Padahal dari kelas satu sering nyamperin aku” Runa menjawab sambil melihat ponselnya sebentar, “dia juga pernah ngehajar Regis” Runa mengangkat wajahnya memperhatikan raut wajah Ero.
“Regis? Anak nakal itu? Yang suka sama kamu?” Ero mengingat saat ia mendengar keributan yang dibuat Regis. Baik dari temannya, guru yang mengajar. Dia juga tau bahwa dia sempat ribut dengan seorang anak SMA yang kabarnya tidak terima Runa diperlakukan kasar, akibatnya banyak anak lelaki yang mengurungkan niat mereka mendekati Runa.
“Jadi dia orang yang ngehajar Regis?”
Runa kembali mengangguk.
“Lain kali kenalin yang namanya Oskar ke aku ya” Ero meminta.
Runa berhenti berjalan, “kenapa?”
“Gak ada cowok yang suka pacarnya deket sama cowok lain Run” Ero menjelaskan, “kalau kamu liat aku deket sama cewek lain gimana?”
Runa tidak bisa menjawabnya.
“Pacar?” suara familiar ditelinga Runa membuatnya menoleh.
Runa tersenyum, “kak Oskar” sapanya dengan suara ceria.
Baik Ero maupun Oskar saling mengamati satu sama lain dan segera mengalihkan pandangan saat suara Runa terdengar diantara keduanya, “kakak kok disini? Bukannya kak Oskar bilang ada persiapan ikut lomba?”
Oskar tersenyum, “mau ngajak kamu makan es krim. Tapi ternyata kakak yang kaget karena kamu dah ada pacar” Oskar segera mendekati Runa dan mengacak rambutnya lembut.
“Kak Rin juga belum tau” Runa menjelaskan.
“Kamu cerita sendiri ke Rin ok? Kalau tau dari kakak nanti malah dia makin marah”
Runa mengangguk, “ini Ero kak”
Ero menjulurkan tangannya untuk bersalaman, “Ero. Pacar Runa”
Oskar menerimanya, “Oskar. Kakak terbaik keduanya Runa” dia tersenyum.
Senyum Ero menghilang, dia memperhatikan Runa yang nyaman didekat lelaki yang baru dikenalnya saat itu. Dari hal ini saja dia bisa merasakan seberapa jauh jaraknya dengan Runa walaupun tittle-nya adalah pacar Runa.
“Kami mau makan bareng kak” suara Runa kembali terdengar ditelinganya.
“Kakak boleh ikut?” Oskar bertanya.
Runa tidak menjawab dan menoleh ke Ero, Ero menyadari hal itu dan kembali tersenyum, “boleh. Kita sambil ngobrol-ngobrol aja kak”
“Gimana kalau kedai es krim kesukaan Runa? Disana juga banyak makanan sama camilan”
“Oke” Ero tetap tersenyum, bedanya dia merasa senyumnya kaku dan kering, terasa lebih berat dari biasanya.
Runa kembali memperhatikan Ero tetapi dia tidak berkata sepatah katapun karena lelaki itu sendiri yang setuju.
***
Hari ini Ero merasa sangat terbebani. Dia terus berpikir tentang hubungan antara Runa dengan anak SMA yang ditemuinya tadi. Oskar. Saat pertama kali Ero melihatnya dia sudah merasa tersisihkan, baik dari penampilan fisiknya, juga merek sepatu, tas yang digunakannya. Lelaki ini sama seperti Runa, mewah, berkelas, pintar. Bukannya Ero jelek, tapi dia merasa begitu di hadapan Oskar, harta benda milik keluarga Ero juga termasuk lebih, tetapi milik Oskar melampaui bayangannya.
Ero ingat bagaimana interaksinya dengan Runa saat berduaan ditinggal Oskar beberapa menit lamanya entah kemana saat mereka makan tadi siang.
“Kamu kenapa?” Runa bertanya.
“Gak masalah, makanan disini enak. Besok-besok kalau jalan kita sering kesini” Ero tersenyum, “suka sama es krimnya kan?”
Runa tersenyum, “iya. Ini favoritku”
“Bagus deh” Ero mengangguk dan dia kembali diam.
“Kamu gak suka kak Oskar?” tiba-tiba Runa menanyakannya.
Ero kaget untuk waktu yang cukup lama. Dia tau Runa itu berbeda, dia memperhatikan lingkungannya dengan baik walaupun kurang peka dengan perasaan.
“Dia kakak kamu, jadi gak masalah” Ero menggeleng dan tersenyum.
Dia di didik untuk bersikap dewasa melebihi anak-anak di usianya.
Runa kembali menatap Ero sampai lelaki itu tertawa dan mencubit pipinya, “udahlah makan aja lagi. Kita puas-puasin jalan hari ini”
“Kamu kenapa gak mau bilang apa yang gak di suka dan apa yang gak?” Runa kembali menanyakan hal yang sensitive untuk Ero.
Kali ini Ero memaksakan senyumnya dengan jelas, “aku suka kamu, itu fakta”
Runa diam sampai akhirnya Oskar datang dan memecah keheningan yang ada.
Ero merasa itu pertengkaran pertamanya dengan Runa yang cukup serius.
***
Intensitas pertemuan Runa dan Ero semakin sering. Masalah yang lalu tidak pernah mereka bicarakan lagi. Dan sesekali baik Oskar maupun Rin bergabung dengan keduanya. Runa bahkan tidak menyangka respon kakaknya seakan biasa saja saat mendengarkan ceritanya, dia hanya berkomentar ‘wajar Runa. Seumur kamu udah mulai suka cowok, kakak malah waktu umurnya lebih muda dari kamu. Lain kali ajak aja kakak main sama-sama, biar kakak juga ngenal cowok kamu itu kayak apa’
“Kamu latihan hari ini?”
Ero mengangguk, “temenin aja gimana? Nonton disini?”
Runa berfikir, “aku sambil belajar gak apa kan?”
Ero tersenyum lebar, “nanti aku anterin pulang”
Runa tersenyum dan mengangguk, sesekali dia menanggapi obrolan dari teman Ero yang mengusili mereka. Mengulik cerita romansa, itu kata Yosha.
“Runaaaa” Yosha berteriak dan berlari kearahnya terengah-engah.
“Apa Sha?” Runa bertanya, dia sadar bahwa Ero juga sempat menoleh kearahnya.
“Kak Rin sama kak Oskar nyariin kamu didepan”
Runa menatap Ero yang kini mengalihkan tatapannya kembali pada bola, “bentar ya”
Runa mendekati Ero, “aku ngomong bentar ke depan sama kak Rin”
Ero tersenyum dan mengangguk. Tetapi seperginya Runa konsentrasinya buyar, dia tau dengan jelas bahwa ada Oskar disana.
“Ro! Yang fokus!” Aslan berteriak kepadanya.
“Sorry” Ero kembali bermain.
Benar Runa kembali melihat Ero bermain, tetapi perasaan terganggunya tidak mau pergi sejak pertama kali Ero berkenalan dengan Oskar. Faktanya Oskar bukan saudara kandung Runa, dan dia berhak untuk meminta pacarnya membuat jarak bukan? Setidaknya mengurangi skin ship.
***
Runa duduk dengan tenang sampai akhirnya Ero selesai dan mereka berpamitan satu sama lain. Tidak melupakan adanya Runa juga tentunya.
“Run,” setelah diam cukup lama Ero bersuara, “kalau misal kamu gak terlalu deket sama kak Oskar gimana?”
Runa menatap Ero, “maksudnya?”
“Jangan deket-deket. Ketemu kalau emang kebetulan atau jangan lama-lama, gak sering bersentuhan”
“Aku sama kak Oskar gak pernah pegangan tangan kecuali waktu aku SD, itupun waktu jalan bareng ditempat rame”
Ero berusaha menjelaskan, “ngusap rambut kamu. Itu terlalu berlebihan buatku, maksudku kalian bahkan bukan saudara kandung”
Runa paham dengan maksud kalimat Ero, dia terganggu juga cemburu saat ada Oskar bersamanya.
“Bukannya mau nolak Ro. Tapi kak Oskar bener-bener udah kayak kakak sendiri buatku, keluarga kami bahkan deket. Dan sering ngehabisin waktu bareng waktu weekend, jadi susah”
“Run, aku gak bisa kalau kamu deket-deket sama Oskar itu”
“Kak Oskar gak bakalan ngusap rambut aku lagi” Runa setuju untuk hal itu. Karena memang benar, pastinya akan sulit melihat pacarnya bersentuhan dengan cewek/cowok lain.
“Gak hanya itu. Kalau aja bukan dia”
Runa kali ini menuntut penjelasan, “kenapa kalau kak Oskar?”
“Dia lebih dari aku, dan aku baru sadar kalau sikap kita itu mirip Run” suara Ero kali ini terdengar sakit hati.
"Sikap?” Runa bingung.
“Iya” Ero mengangguk. Matanya menatap Runa kecewa, “sikap dia dewasa, aku juga. Aku suka ngelus rambut kamu, dia juga.
Cara dia sama aku itu persis Run, kamu gak sadar?”
Runa diam dan sedang menelaah kata-kata Ero.
“Kamu cuma cari orang yang persis sama dia. Kamu sukanya sama dia, bukan aku”
Runa tidak paham, “gimana bisa?”
“Gak tau” suara Ero bergetar, tetap berusaha tersenyum “mungkin karena aku yang ngejar kamu, sementara dia gak”
Runa kembali menggeleng, “aku gak suka kak Oskar. Aku suka kamu, karena kamu beda dengan anak-anak yang lain”
“Ya. Karena sikap dewasaku mirip Oskar” Ero mengibaskan tangannya.
“Salah satunya karena sikap pengertian kamu, tapi bukan karena Oskar”
Ero menggeleng, “kita putus aja. Coba pahami lagi tentang kondisi ini. Aku gak sedewasa itu sampe rela liat kamu bareng sama dia”
Runa berdiri, “terserah kamu” dan berlalu dari tempat itu secepatnya.
Ero tidak menyangka Runa akan mengiyakan dengan cepat. Dia ingin melihat perempuan itu yang meminta kepadanya supaya tetap berpacaran, tapi mungkin benar, Runa selama ini melihat dirinya sebagai Oskar.
***
Yosha bingung dengan kedatangan dadakan Runa dirumahnya saat petang. Apalagi begitu mereka bertemu Runa langsung memeluknya dan menangis terisak dalam waktu yang cukup lama. Dengan buru-buru Yosha segera meminta papa dan mamanya mengabari keluarga Runa kalau dia disini saat ini agar mereka tidak panik mencarinya.
“Kamu kenapa Run?” Yosha bertanya saat teman yang biasanya diam, bersikap tenang, datar, masa bodoh dengan yang lainnya tiba-tiba menangis dan pergi tanpa berpamitan pada orang rumahnya ditambah lagi dia masih mengenakan seragamnya. Yang artinya dia belum pulang dari tadi padahal waktu bubar sekolahnya pukul 2 siang.
“Aku putus” Runa hanya mengatakan hal itu.
Yosha menganga, “kamu nangis karena diputusin Ero? Kok bisa?”
"Aku udah bilang sama kamu, aku suka Ero” Runa menenangkan dirinya kali ini, sudah cukup membuang air matanya selama satu jam penuh.
“Astaga” Yosha menggumam, “jangan bilang karena aku sempet bahas kak Oskar?”
Runa diam lalu menarik nafas lagi sebelum bercerita, “bukan karena kamu. Tapi secara gak langsung karena masalah kak Oskar,” Runa berfikir sebentar sebelum melanjutkan, “dia gak bisa terima dengan adanya kak Oskar di deketku. Aku terima untuk gak ada skin ship lagi sama kak Oskar, tapi Ero minta lebih. Supaya ngehindari kak Oskar sebisa mungkin”
Yosha diam mendengarkan.
“Kamu tau sendiri kak Oskar udah kayak kakak kedua setelah kak Rin, dan hubungan keluarga kami udah deket banget. Setelah tau kalau anak mereka saling temenan tentu hubungan antara papa sama om Satya lebih erat. Lebih dari sekedar bisnis”
“Gak nyangka si Ero ada sifat possessive juga”
Runa refleks mencubit pelan lengan Yosha, “kalau gak gitu artinya dia gak suka aku”
Yosha tertawa lalu menepuk-nepuk lengan Runa lembut juga berulang, “kubantu move on yuk. Kenalan sama anak sekolah lain, eh anak sekolah kita juga banyak yang ok. Adik kelas juga boleh tuh”
Runa tertawa sengau, “mana ada. Mereka lebih muda”
“Gak masalah zaman sekarang sama yang muda-muda Run”
“Akunya gak mau”
Mereka berdua tertawa. Dan semalaman itu untuk pertama kalinya Runa tidak memegang buku untuk belajar sama sekali. Yosha mengajaknya belanja ke mall ditemani sopir, makan bersama disana, lalu pulang. Setelah dirumah dia langsung mengajak Runa menonton salah satu film di aplikasi berbayar miliknya sampai mereka kelelahan dan tertidur begitu saja.
Dirumahnya sendiri ada Rin yang khawatir dengan kondisi Runa. Saat pulang sekolah tadi adiknya hanya berkata bahwa dia ingin menemani pacarnya yang sedang latihan basket bersama teman-temannya. Jelas, hal yang membuat adiknya seperti ini adalah pacarnya itu. Padahal Rin berharap dengan ia yang memberikan izin pada Runa untuk pacaran hanya akan membuatnya senang, ternyata sebaliknya. Kali pertama adiknya tidak pulang kerumah dan sepanjang hari ini dia merasa kesepian.
***
June 2, 2022