Berakhir Sudah

1502 Kata
POV : Aldilla Setelah acara wisuda aku langsung pulang ke daerah asal ku. Sebenarnya masih ingin sekali menetap di jogja. Apalagi sudah ada tawaran di SD swasta yang membutuhkan tenaga kerja fresh graduate seperti ku. Tapi bapak tidak mengijinkan ku untuk tetap tinggal di Jogja. Bapak meminta ku untuk segera pulang ke kampung karena sudah ada tempat untuk ku mengabdi sebagai guru honorer. Padahal kalau dilihat dari gajinya sih lebih lumayan di SD swasta. Tapi bapak ingin aku meneruskan menjadi PNS seperti beliau, mbak Diba dan mas Adi. Karena buat keluarga ku,menjadi PNS itu adalah sebuah kebangaan. Seminggu di kampung aku mendapat panggilan wawancara di sebuah SD negeri. SD itu termasul salah satu sekolah yang favorit. Sebenarnya sempat insecure juga sih karena aku masih minim pengalaman. Tapi kata bapak dicoba saja karena ini kesempatan bagus buat ku menambah pengalaman dan bisa lebih mudah masuk jadi PNS. Setelah lulus tes wawancara aku diterima menjadi guru honorer di sana. Namanya SD negeri Mereka. Sekolah ini terdapat di dekat jantung kota. Satu deret dengan SMK,, SMP dan TK. Jadi lumayan ramai juga karena berada di lingkungan sekolahan. Tapi ada yang unik dengan sekolah ini. Walaupun bangunannya terkesan masih baru dan bagus,,aku merasakan hawa yang pengap. Aku merasa sedikit tak nyaman saat berada di ruang kepala sekolah. Seperti ada bau apek,bau jamur atau debu yang sudah lama tak di bersihkan. Padahal apabila dilihat dengan mata ruangan itu sangat bersih. Bahkan terdapat pengharum ruangan juga. Tetapi entah mengapa,,sejak aku baru bekerja di sekolah ini dan dipanggil kepala sekolah ke ruangannya untuk wawancara,,aku merasa tak nyaman dengan suasana ruangannya yang pengap. Bahkan baru satu minggu aku bekerja disana,,aku sempat sakit. Demam tinggi dan mual terus karena berada di rungan itu. Aku juga melihat sesosok makhluk halus yang sangat menjijikan. Seperti ular berkepala manusia yang selalu melingkar di atas lemari milik kepala sekolah. Tapi nampaknya yang melihat hanya aku saja,,yang lain tampak tenang-tenang saja. Tapi setelah aku meminum air doa dari pakde Karna,,aku demamku seketika hilang. Dan aku sudah terbiasa dengan 'mereka'. Sebagai guru Honorer kerjaan apa pun harus bisa aku lakukan. Awal aku bekerja di SD ini aku menjadi pustakawan sekaligus guru bahasa Inggris. Sebenarnya basic ku adalah guru SD,,tapi karena guru kelasnya sudah full,, ibu kepala sekolah meminta ku untuk mengajar bahasa Inggris dan membantu di perpustakaan. Aku menjalankan pekerjaan ku dengan senang. Karena kerja disini aku tak butuh waktu berbulan-bulan untuk menunggu panggilan wawancara seperti teman-teman yang lain. Karena kebetulan kepala sekolahnya masih saudara dengan ibu. Pakde Jaya,,kakak tertua ibu adalah seorang pengawas sekolah. Sedangkan suami bu Giar,kepala sekolah SD negeri Mereka masih ada hubungan saudara dengan bude Emi,,istri pakde Jaya. Dengan kata lain aku bisa kerja di sini yaa...karena ada hubungan keluarga. Banyak tenaga honorer yang lain,,yang lebih dulu bekerja di SD Merdeka. Mereka kadang aku dapati sedang mencibir ku. Kata mereka aku gak mungkin bisa masuk menjadi guru honorer di sd favorit ini apabila bukan saudara kepala sekolah. Aku sih cuek saja dengan ocehan mereka. Toh bukan mereka ini yang menggaji ku. Bukannya bangga dengan predikat memanfaatkan hubungan keluarga,,tapi aku berpikir secara logika saja,,apabila aku tak berkompeten mana mungkin aku bisa bekerja di sekolah favorit ini. Sedangkn sebelum aku diterima kerja disini saja aku sudah diwawancara dan di test mengajar. Kepala sekolah dan guru kelas sendiri yang sudah mengetest ku. Mereka tau apa? Yang mereka lihat aku tinggal masuk saja tanpa melalui wawancara dan test. Buat ku,,biarlah orang lain mau menilai apa. Karena kita tak punya kuasa untuk menjadikan semua orang harus suka dengan kita. Hak mereka mau suka atau tidak dengan kita. Tak terasa sudah hampir 3 bulan aku bekerja sebagai guru honorer. Aku menjalankan pekerjaan ku dengan enjoy. Aku lebih fokus bekerja untuk mengalihkan suasana hati ku yang kacau. Masih terngiang percakapan ku dengan mas Eka sebulan yang lalu. Flashback On Setelah pulang dari Jogja aku tak mendapat kabar apa pun dari mas Eka. Ada perasaan tak enak karena kemarin dia mendengarkan percakapan ku dengan ibu. Ibu juga sudah menyinggung status ibu mas Eka yang hanya seorang janda. Sepulang kerja aku nekat menemui mas Eka ditempat kerjanya. Kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 16.00 biasanya mas Eka sedang istirahat. Aku pun menemuinya di pintu keluar karyawan. Tidak benerapa lama aku melihat orang yang selama ini mengisi pikiran ku. Dan beberapa bulan ini ia sangat ku rindukan. " Mas Eka,,apa kabar? Bisa kita bicara sebentar?" Aku nekat menegurnya terlebih dahulu sebelum dia berpura-pura tak melihat ku. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Karena pandangan mas Eka sekarang sangat berbeda. ' Sebenci itu kah kau pada ku mas?' Jerit batin ku " Kabar baik. Ada apa ya dek? Kok tumben nemuin aku disini? " Mas Eka menjawab dengan seuntai senyum yang seperti di paksakan. " Bisakah kita bicara sebentar saja mas? Kalau bicara disini aku gak enak sama teman-teman mas yang lain. " Aku mncoba untuk mengajaknya berbicara di ouar karena di sini suasan semakin ramai. Dan aku pun melihat ada Yuda,,teman sebangju ku yang terus memperhatikan ku sedari tadi. " Oke,,kita bicara di kedai bakso pak Kabul saja." Mas Eka mengajak ku ke kedai bakso langganan kami berdua. Saat aku mengikuti langkah mas Eka,,tampak beberapa teman-temannya seperti berbisik-bisik dan pandangannya sangat tak bersahabat. Ya Allah ada apa ini?? Biasanya mereka terlihat ramah padaku. Apa mereka sudah tau masalah ku dengan mas Eka? Masa iya mas Eka menceritakan pada teman-temannya? ' Aah....tak mungkin. Mas Eka bulan tipe orang yang seperti itu.' Setelah memesan dua mangkuk bakso dan es jeruk,mas Eka pun menanyakan maksud ku mengajaknya berbicara " Ada apa dek?" Tanya mas Eka dengan nada yang datar. Sangat berbeda dengan biasanya sebelum ia mendwngarkan percakapanku dengan ibu. " Beberapa hari ini mas gak pernah menghubungi ku. Tiap ku telpon nomor mas selku tak aktif. Di wa pun hanya centang biru. Mas kenapa? Marah sama aku?" Tanpa basa-basi aku bertanya padanya. " Aku sibuk." Hanya kaya itu uang keluar dari mulutnya. Dari tadi pun dia seperti enggan memandang wajah ku. Padahal aku sangat rindu dengan tatapan matanya yang .embuat hati ku teduh. " Mas kok sekarang jadi gitu sama aku? Mas gak kangen apa sama aku? Sekarang juga mas berubah jadi dingin banget sama aku. Kalau ngmong gak pernah mau liat muka aku juga." Mataku sudah mulai panas saat mendengar jawaban mas Eka yang sangat dingin. " Dilla...bukankah hubungan kita emang sudah berakhir? Jadi kenapa aku mesti jelasin semua sama kamu?sedangkan orang tua mu saja sudah mengharapkan kalau aku menjauh dari mu." Mas Eka berbicara dengan nada yang sedikit keras. Aku sangat kaget dengan perubahan sikapnya pada ku. " Siapa bilang hubungan kita sudah berakhir. Aku gak pernah bilang sama mas kalau kita putus. Soal kemarin pas wisuda aku minta maaf kalau mas tersinggung dengan ucapan ibu. Tapi aku benar-benar gak mau kita putus mas. Aku sudah terlanjur sayang sma kamu mas ." Rak ada rasa gengsi lagi aku meluapkan semua uneg-uneg dalam hatiku " Dilla,,aku juga sayang banget sama kamu. Bahkan harapan ku kamu adalah wanita terakhirku. Tapi aku gak bisa terima kalau sampai ada yang merendahkan ibu ku. Terus terang saja aku sangat sakit hati saat ibu mu merendahkan ibu ku hanya karena ibu ku seorang janda. Selama ini ibu mu selalu menghina ku aku bisa terima. Tapi kalau ada sampai membawa-bawa ibuku. Maaf aku tak terima. Lebih baik aku mundur." Ma..maksud mas apa? Mundur?" " Kita sudahi saja hubungan kita sampai disini. Lagian orang tua mu tak akan pernah bisa menerima kehadiran ku. Dan jujur ibu ku juga tak bisa merestui karena merasa keluarga ku tak pantas bersanding dengan keluarga mu." Degh .... Hati ku hancur mendengar keputusan yang keluar dari bibir mas Eka. Hari ini aku diputuskan oleh lelaki yang selama ini sangat aku cintai. Lelaki yang bisa membuat hari-hariku terasa nyaman. Orang yang telah membuat ku bisa memahami arti cinta. Lelaki yang ku anggap selalu berpikir dewasa. Karena ibu ku merendahkan ibunya,,ia tak terima dan memilih mundur. Seketika itu aku langsung pamit untuk pulang. Hanya anggukan darinya. Tak ada salam perpisahan yang manis. Hubungan sekian tahun kandas begitu saja karena terhalang restu dari orang tua. Saat aku hendak menyetop angkot,, Yuda mendekat pada ku dan menawari ku untuk membonceng motornya. " Dilla,,kok sendirian? Gak pulang bareng pak Eka?" Tanya Yuda berbasa-basi. " Gak,,aku biasa pulang sendirian kok." Jawab ku sekenanya. " Yuk bareng aja sama aku. Rumah kita kan searah. Dari pada naik angkot. Lagian ini sudah sore. Sebentar lagi magrib." Yuda masih berusaha untuk mengajak ku pulang bareng. " Aku bilang gak usah ya gak usah. Kamu tuh ngeyel banget sih. Udah sana kalau mau pulang. Aku bisa kok pulang sendiri." Aku pun meninggalkannya dan masuk ke dalam angkot. Kesal sekali rasanya,, disaat suasana hatiku sedang tak baik-baik saja malah datang orang yang mengesalkan. Ya... Sampai sekarang aku masih kesal dengan si pengadu itu. Aku tinggalkan si Yuda begitu saja. Ia masih memperhatikan ku. Karena terlihat dari kaca angkot. Sorot matanya agak aneh. Mungkin dia juga kesal terhadap ku. Tapi,, bodo amat lah. Dia juga membuat ku bertambah kesal dengan datang tak tepat waktu. Datang disaat aku patah hati. Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN