Awan Kelabu

1631 Kata
Pov : Aldilla Suasana mendung masih menyelimuti langit Jogja. Hampir setengah hari kami habiskan di rumah sakit. Jenazah Fira rencana akan di bawa pulang esok karena dokter forensik baru bisa selesai autopsi pada pukul 21.00 Autopsi dilakukan karena masih ada beberapa sisa jaringan di tubuh Fira yang masih tetinggal di roda bus yang melindas tubuh Fira. Membayangkannya saja aku sudah merinding sekaligus kasihan pada sahabat ku itu. Tak disangka Fira meninggalkan kami dengan cara yang amat tragis. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 aku dan Cristi memutuskan untuk pulang ke kost. Besok adalah hari wisuda kami. Tadi sekitar pukul 20.00 bapak menelepon dan mengabari besok akan berangkat ke Jogja lebih awal. Aku pun sudah mengabari bapak tentang kejadian hari ini. Bapak berpesan padaku untuk tetap tenang dan sabar. Bahkan Oom Sunar dan tante Yani sudah menawariku untuk tinggal sementara di rumahnya, tapi aku merasa tak enak merepotkan mereka terus-menerus. Aku putuskan tetap pulang ke koys Cristi dan Fira. Disepanjang perjalanan ke kost,,tak ada banyak kata kami ucapkan. Pikiran kami masih kalut,,sedih,,takut dan hancur. Aku berharap ini semua hanyalah mimpi. Tapi kenyataannya ini bukan mimpi dan ini betulan nyata. Sesampai di kost aku dan Cristi di sambut oleh bu Imah dan anak-anak kost yang lainnya. Mereka semua menangis dan sedih dengan kepergin Fira. Walaupun baru 3 bulan Fira tinggal di kost itu,, hampir semua penghuni kost kenal dan akrab dengan Fira. Yang terlihat jelas sekali kesedihannya adalah Bu Imah,,beliau sudah kami anggap ibu pengganti selama di Jogja. Bu Imah menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Fira. Bahkan Bu Imah juga sudah mengadakan tahlilan dan yasinan di kost-kostan nya. Karena sudah malam mereka pun membubarkan diri dan memberi kami kesempatan untuk beristirahat. ******* Keesekoan harinya Aku dan Cristi sudah selesai di rias,,tidak seantusias hari-hari kemarin. Kami merasa sangat terpuruk,,bayangkan saja,, tepat satu hari menjelang wisuda,,kami harus kehilangan sahabat sejati kami di depan mata pula. Bahkan mbak Rita,,pemilik salon juga ikut berduka cita dan sedih karena ia juga melihat sendiri kejadian kemarin. Tak hanya mbak Rita,, teman-teman yang lain pun ikut sedih dengan kepergian Fira. Karena dekat dari kampus pusat,,banyak juga teman yang lain ikut rias di salon mbak Rita. Teman-teman yang lain ikut berduka cita dan sedih. Karena Fira adalah sosok yang baik, lembut dan penyabar. Semua merasa kehilangan Fira. Walaupun dalam hitungan menit kita akan diwisuda,,tapi rasa gembira karena telah dinyatakan lulus tak terasa sama sekali. Bayangan ku masih dihari kemarin. Dihari aku melihat sendiri sahabat ku meregang nyawa didepanku. Sesampainya di depan auditorium peserta wisuda diminta untuk berbaris antri untuk masuh ke dalam ruangan. Saat sedang mengantri,,terdengar seseorang nemanggil ku. Aku pun mencari sumber suara itu. Suara yang sudah tak asing bagi ku. "Dek,,selamat ya. Akhirnya kamu lulus juga. Mas bangga sama kamu." Ternyata mas Eka yang memanggil ku. Rupanya dia sengaja datang untuk menghadiri hari penting ku. " Makasih banget ya mas. Kok mas bisa sampai sini? Mas gak kerja kah?" " Kemarin dan hari ini mas ada meeting di Grand hotel. Jadi mas sempetin datang kesini pengen ketemu sama kamu. Oh iya .... Mas juga turut prihatin sama kejadian kemarin ya. Kamu yang sabar dan iklas. Semoga Fira mendapatkan yang terbaik di sisi Nya." "Amin...iya mas makasih mas sudah jauh-jauh sampai sini. Nanti jangan pulang dulu ya. Kita foto-foto dulu oke." " Insyaallah,,tapi mas gak janji ya sayang. Soalnya bentar lagi mas harus meeting. Belut tau selesainya cepet stau gak, Tapi nanti selesai meeting mas usahakan nemuin kamu lagi kok." "Oke sayang ku." Beberapa saat kemudian aku dan teman-teman yang lain dipanggil untuk masuk kedalam ruangan. Dan mas Eka pamit untuk kembali ke hotel,,sebelum masuh ke ruang peserta wisuda,,aku melihat rombongan keluarga ku menunggu di pintu masuk ruang keluarga wisudawan-wisudawati. Ada bpak,ibu,mbak Diba kiko dan.... Siapa itu? Kok aku kaya kenal. Oh... Itu mbak nunuk. Dia ikut kesini rupanya toh. Mungkin sekalian mau jenguk si Esti. Kalau saja si Esti ikut kesini Pasti lebih seru. Aku dan Esti sepupuan,,sejak kami sama-sama kuliah di Jogja kami malah jadi jarang sekali ketemu. Padahal dikota yang sama,,tapi entah mengapa kami jadi jarang banget ketemu. Komunikasi lewat HP pun sangat jarang. Karena Esti hobi banget gonta-ganti nomor seluler. Tapi nanti kalau mbak Nunuk ke kost Esti,,aku pasti ikut. Karena kost Esti dekat dengan komplek tempat tinggal oOm Sunar dan tante Yani. "Assalamualaikum bapak dan semuanya. Perjalanannya lancar kah. Kikoo...mabok gak hayoo ??" Sapa ku pada keluarga yang sudah setia menunggu di depan pintu masuk. "Wa'alaikumsalam nduk,, Alhamdulillah lancar dan kiko hebat lho gak mabok perjalanan." Jawab ibu mewakili semua. Yang lain hanya tersenyum pada ku. " Dek sini deh aku bisikin sesuatu." Tiba-tiba mbak Diba maju mendekat ke arah ku. "Ada apa sih mbak? Kok kaya serius gitu?" Aku pun penasaran dengan apa yang akan di katakan mbak Diba. " Tadi mbak sempet liat sosok jin yang menyerupai teman mu yang kemarin kecelakaan. Serem babget ya ternyata. Kiko aja tadi sempet nangis ketakutan. Kampus kamu ini kok kaya banyak banget penghuninya,,apalagi gedung ini, udah rame manusia,,rame jin juga bikin tambah gerah aja." "Aah....masa sih mbak? Kok aku gak liat kalau ada Fira disini? " "Kamu sih gak konsen,, mentang-mentang abis ketemu pujaan hati, hehehe..." "Apaan sih mbak ini. Eeh....kok mbak tau aku abis ketemu mas Eka?" "Tau lah,, orang tadi aja aku ketemu sama dia. Dia abis nemuin kamu terus sempet ketemu kita, bahkan tadi juga salim sama bapak ibu " " Ya Allah ... Ketemu sama bapak ibu? Terus gimana mbak? Disemprot gak tuh sama ibu?" " Ntar aja mbak ceritain,,sekarang masuk dulu sana. Udah di panggil tuh sama panitianya. Semangat ya dek nanti masih harus menghadapi introgasi ibu. " Mbak Diba mendorong ku perlahan untuk masuk ke dalam. Pikiran ku gak karuan,,apa yang harus aku katakan pada ibu nanti? Padahal ibu gak suka banget sama mas Eka. Haah....pikir nanti saja lah. Saat aku sudah duduk di bangku ku aku melihat Cristi melambaikan tangan padaku. Kami terpaut 4 bangku karena tempat duduk kami disesuaikan dengan urutan IPK masing-masing. Cristi seperti menunjuk sesuatu sambil berbisik. Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang akan di tunjukkan Cristi? Saat aku menoleh ke arah Cristi menunjuk aku melihat ada bapak Fira duduk di bangku yang tertera nomor urut untuk Fira. Ternyata bapak Fira datang menggantikan putrinya di wisuda. Aku juga melihat seperti bayangan Fira berdiri di belakang bapaknya. Yang anehnya aku melihat Fira masih dengan baju yang kemarin ia pakai sewaktu kejadian kecelakaan. Masih dengan wajah sedih,,sedikit senyum tapi mengalir airmata darah dari kedua matanya. Aneh,,tadi kata mbak Diba sosok qorin Fira sanyat menyeramkan. Tapi yang kulihat tidak semenyeramkan itu. Hanya air mata darah yang terus mengalir dari kedua matanya.Degh... Rasanya hati ini tiba-tiba saja terasa nyeri kembali. Teringat kejadian kemarin. Kejadian paling tragis yang tak mungkin terlupakan. Sekarang saatnya peserta wisuda dipanggil satu persatu ke atas panggung. Setalah Cristi,,aku dan kemudian nama Fira pun dipanggil. Sungguh pemandangan yang menyayat hati. Tak ada yang tidak menangis melihat pemandangan pada saat itu. Sewaktu nama Fira dipanggil,,yang maju kedepan bukanlah gadis lemah lembut nan baik hati,,tapi sang ayah yang mewakili putrinya untuk menerima ijasah dari rektor. Bapak Fira maju kedepan dengan membawa foto Fira yang berukuran 10R. Peristiwa ini disaksikan oleh selurauh peserta wisuda dan keluarga. Semua menotikkan air mata saat bapak Fira maju untuk menerima ijasah dan ucapan selamat dari dewan universitas. Bahkan ada pula beberapa wartawan dari TV swasta yang mengabadikan momen ini. Moment yang sangat menyayat hati. Tak lupa bapak Rektor memberi sambutan dan mewakili universitas untuk berbela sungkawa atas kematian salah mahasiswinya. Bapak Fira hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk pada saat pak Rektor memberi sambutan. Semua yang hadir menangis,,ruangan seakan banjir air mata. Seakan-akan ada awan mendung nan gelap menyelimuti acara wisuda hari ini. Mungkin wisuda angkatan ku ini akan menjadi wisuda yang paling dikenang siapa saja yang ada disana. Bahkan sempat disiarkan di beberapa televisi swasta. Setelah mendapatkan apa yang seharusnya Fira terima,,bapak Fira pamit untuk kembali ke rumah sakit dan pulang untuk mengebumikan jenazah Fira. Tangis kembali pecah,,tetapi beberapa saat kemudian kami kembali tenang dan proses wisuda pun berjalan dengan lancar. Setelah proses wisuda selesai aku pun bergabung dengan keluarga ku. Sebelum kembali ke kost untuk mengambil barang-barang ku dan pulang, kami menyempatkan untuk makan terlebih dahulu. Sudah kebiasaan ibu kalau pergi kemana-mana pasti membawa bekal. Kami makan di taman kampus. Ternyata tak hanya kami saja yang wisuda seperti piknik,,keluarga yang lain juga. Cristi sudah aku ajak bergabung, tapi ia tak mau. Bapak Cristi tiba-tiba kritis dan harus masuk ICU. Kasihan sekali Cristi,,sudah wisuda hanya dengan kakak,,sekarang harus mendapat kabar kalau orang tuanya kritis. Hari ini sungguh kelabu. Aku jadi tak begitu selera untuk makan. Masih terbayang tadi sewaktu bapak Fira mewakili putrinya di wisuda. Sekarang malah mendengar bapak Cristi masuk ICU. Makanan yang sudah ada dimulut ku seperti enggan untuk ditelan. Saat aku termenung tiba-tiba ibu berbicara padaku. Nada bicara ibu kali ini sungguh membuat hatiku semakin tak karuan. " Dilla,, sebaiknya secepatnya kamu putuskan hubungan mu dengan Eka. Ibu tak suka. Lebih baik kamu sama Yoyon saja. Kami sudak mengatur pertemuan antara keluarga. Rencana sepulang dari Jogja kita akan membahas itu lagi." "Tapi bu aku ......" "Gak ada tapi-tapian pokoknya ibu gak suka kamu berhubungan sama Eka yang gak jelas masa depannya. Apalagi dia cuma anak seorang janda." Kata-kata ibu sungguh menyayat hati. Apalagi saat ibu berkata demikan ternyata mas Eka berada tepat di belakang kami. Mas Eka hanya tersenyum kecut dan meninggalkan ku begitu saja tanpa pamit. Ada rasa kecewa yang amat besar tergurat di wajahnya. Bunga yang ia bawa terjatuh begitu saja. Ketika ku pungut bunga itu dan berniat untuk menyusulnya, ibu sudah keburu mencegah ku. Kejadian itu tak disaksikan anggota keluarga yang lain hanya bapak yang ada disana saat itu. Tapi bapak hanya cuek saja tak mau tau. Harusnya hari dimana aku bahagia merayakan kelulusan ku aku harus dirundung pilu. Kehilangan sahabat terbaik dan harus meninggalkan kekasih terbaik juga. ****************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN