Selamat Tinggal Sahabat ku

1911 Kata
POV : Cristi Tttiiiiiiinnnnnnn......... Bbrrruuuuaaakkkkkk....... Darah seketika langsung menggenang memenuhi jalan raya. Tapi tunggu....aku tidak asing dengan baju korban yang terlindas bus. Astaga,,, itu ...itu seperti FARA... Aku pun langsung berlari mendekati kerumunan. Seketika jalanan manjadi macet. Orang-orang langsung ikut mendekat ke tempat kejadian. Pikiran ku kacau,,Dilla juga menyusul ku mendekat ke arah korban yang terlindas bus. Semoga saja itu bukan Fara dan kebetulan bajunya persis dengan baju Fara. Sebelum aku mendekati korban yang masih berada di kolong bus,,aku melihat ada satu korban yang tergeletak di pinggir trotoar. Alangkah terkejutnya aku,,ternyata dia kak Wily,,kekasih Fara. Sontak aku dan Dilla menangis histeris memanggil nama Fara. Kami berdua pun berlari menerjang kerumunan orang untuk melihat jasad Fara. Alangkah terkejutnya kami berdua,,jasad Fara yang sudah berhasil di angkat dari kolong bus sangat mengenaskan. Wajah ayu Fara sudah tak berbentuk lagi. Wajahnya hancur karena terlindas di kepala. Selain itu juga batok kepala Fara pecah. Otaknya tercecer di jalan raya. Dilla langsung pingsan ditempat. Aku shock dan seperti orang linglung. Beberapa warga menolong Dilla yang pingsan dan yang lain menenangkan ku dengan memberi ku minum. " Sebelumnya maaf ya dek,, sampeyan kenal sama korban kecelakaan tadi?" tanya seorang ibu-ibu penjual buah di depan kampus yang menolong ku. Aku belum bisa mengeluarkan kata-kata. Leherku seperti tercekat. Aku hanya mengangguk tanda meng iya kan. Masih terbayang kondisi Fara yang sangat mengenaskan. Rasanya baru saja kami masih mengobrol di kantin. Aku jadi teringat kata-kata terakhir Fara. Ia meminta maaf pada ku dan juga Dilla. Sepertinya dia sudah memiliki firasat akan meninggalkan kami berdua. Polisi pun datang ketempat kejadian,,sebagian orang membawa kak Willy ke rumah sakit terdekat dan membawa serta jasad Fara ke rumah sakit untuk di otopsi. Dilla sudah siuman dari pingsannya. Tetapi dia masih sangat syok,,di hanya menangis lirih sambil memegang tangan ku erat. Aku tak ubahnya seperti Dilla,,duniaku saat ini seperti di jungkir balik. Sahabat ku selama mengenyam bangku kuliah meninggal di depan mata. Aku dan Dilla ikut serta ke rumah sakit untuk menunggu kedatangan keluarga Fara dari luar kota. tak terbayangkan bagaimana hancurnya hati orang tua Fara. Anak perempuan satu-satunya telah pergi dengan keadaan yang sangat tragis. Padahal tadi saat kami tiba di kost bareng,,Fara bercerita bahwa keluarganya akan datang ke Jogja nanti sore. Tapi saat aku tanya mengapa tidak bareng saja Fara beralasan akan mengambil toga dan perlengkapan untuk wisuda. Ternyata Fara tidak pernah merasakan diwisuda. ****************************** POV : ALDILLA Perasaan ku sudah tak tenang sejak melihat Fara di amati makhluk besar berbulu atau biasa di sebut genderuwo. Aku juga melihat Fara sejak tiba di kost semakin pendiam. Tidak seperti biasanya yang periang dan amat cerewet. Fara sangat berubah,,aku kira mungkin karena kecapekan abis perjalanan jauh selama kurang lebih 5 jam. Tapi entah mengapa aku merasa sangat khawatir dengan sahabat ku itu. Apalagi Cristi juga merasakan hal yang sama dengan ku. Mungkin karena Cristi anak indigo,,jadi lebih sensitif dengan hal-hal yang berbau mistis. Rasa khawatir ku semakin menjadi setelah melihat Fara ditempeli sesosok makhluk halus yang sangat mengerikan. Aku merasa Fara dalam bahaya. Tetapi Fara bukan lah orang yang mudah percaya pada hal yang bersifat mistis. Dia lebih berfikir secara logika. Aku dan Cristi tak bisa membicarakan hal-hal mistis dengan Fara. Awalnya aku merasa jin yang menempeli Fara hanya jin iseng yang sedang bermain. Tetapi saat aku dan Cristi mendekati Fara,,jin itu tidak menempel lagi tetapi masih mengawasi Fara dari atas pohon sukun dekat kantin kampus. Aku melihat darah nya menetes dari kepalanya yang hancur sebagian. Mahkluk itu seperti memperhatikan kami bertiga, khususnya Fara. Wajahnya yang hancur sebagian itu memperlihatkan gurat kesedihan yang dalam. Aku merasakan hawa dingin yang aneh dari mahkluk itu. Ada rasa sangat sedih dan sakit yang entah dari mana datangnya kala aku melihatnya. Sebenarnya aku merasa sangat mual karen tampilan jin yang sedang memperhatikan Fara. Tapi bagaimana lagi,,Cristi sudah memesankan ku makanan. Cristi juga membisiki telinga ku agar tak menghiraukan mahkluk itu. 'Cuekin saja lah' katanya. Tetapi hatiku merasa tidak tenang. Saat sedang menikmati soto yang dipesankan Cristi,, tiba-tiba Fara bilang kalau dia tidak bisa pulang bareng,,katanya mau dijemput pacarnya ,kak Willy. Saat aku dan Cristi mengajaknya untuk makeup bareng,, Fara malah terlihat sedih,bahkan menangis. Aku dan Cristi meminta maaf karena sedikit menggodanya tadi,,bahkan meninggalkannya terlalu lama di kantin. Aku merasa semakin tak tenang. Apalagi ucapan Fara seperti sebuah perpisahan. " Kalian gak ada salah apa-apa sama aku. Justru aku yang banyak salah sama kalian selama ini. Maafin aku ya teman-teman. Aku selama bareng sama kalian pasti banyak salah. Jangan pernah lupain aku ya. Kalian jaga persahabatan ini,, jangan saling menjatuhkan. Aku gak tau besok bisa ikut rias apa gak.Jangan lupain aku ya teman-teman. " Aku langsung memeluk Fara,,aku merasa akan kehilangan sahabat ku yang paling cerewet dan baik ini. Cristi juga bergabung dan kami bertiga pun berpelukan bertiga. Aku melihat juga ada gurat kesedihan di wajah Cristi. Aku tidak ingin kehilangan mereka berdua. Kami sudah melewati masa-masa indah bangku kuliah bersama-sama. Setelah itu kami pun berpisah,,karen Fara sudah di jemput kekasihnya. Aku dan Cristi tidak langsung pulang. Seperti rencana awal,kami akan mampir dulu ke salon 'RITA'. Salon di dekat perempatan kampus. Setelah kami berpamitan pada mbak Rita,,aku melihat ada insiden kecelakaan di jalan dekat salon. Suara yang memekakkan telinga dan tabrakan antara dua kendaraan membuatku sangat shock. Baru kali ini aku melihat kecelakaan di depan mata. Apalagi saat kejadian si pembonceng terlempar dan terlindas Bus angkutan kota. Aku seketika menjerit histeris. Aku merasa sangat kenal dengan pengendara motor dan yang memboncengnya. Aku kenal dengan motor dan baju itu. Itu adalah Fara dan kekasihnya. Ya Allah semoga dugaan ku salah. Semoga itu hanya kebetulan saja motor dan baju mereka sama. Karena penasaran akhirnya aku ikut mendekat ke arah kerumunan orang-orang bersama Cristi. Saat melihat korban kecelakaan itu aku sangat kaget dan seketika pingsan. Ternyata korban kecelakaan yang terlindas Bus itu adalah sahabat ku Fara. Sungguh sangat tragis. Aku jadi teringat dengan keadaan Fara saat itu hampir sama dengan jin yang menempeli tubuhnya. Darahnya mengucur deras dari kepala. Apakah mungkin jin tadi menggambarkan nasib Fara? Tidak....tidak,itu tidak mungkin. Ini hanya kebetulan. Kenapa nasib Fara seperti ini? Bahkan dia belum merasakan wisuda. Disaat yang lain sedang bersuka cita menanti hari wisuda besok, aku dan Cristi malah kehilangan sahabat terbaik. Aku jadi ingat, sebelumnya memang Fara tidak pernah mau membahas tentang wisuda. Setiap aku dan Cristi membahas tentang wisuda,,Fara pasti mengalihkan pembicaraan. Ia seperti malas membahas itu. Ternyata Fara tidak merasakan wisuda,,atau mungkin Fara merasakan firasat kalau dia tidak akan pernah wisuda. ********** Setiba di rumah sakit aku dan Cristi menunggu di ruang tunggu dekat kamar jenazah. Kami menunggu kedatangan keluarga Fara. Sedangkan teman-teman kak Willy langsung menyusul ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Cristi. Fara dan kak Willy sudah berpacaran semenjak mereka duduk di bangku SMA. Kebetulan mereka berasal dari daerah yang sama. Kak Willy masih kuliah dan sedang mengajukan skripsi. Karena setelah lulus SMA dia tidak langsung kuliah,maka kelulusan kak Willy dan Fara lebih cepat Fara. Keadaan kak Willy juga sangat parah,,kepalanya terbentur pinggir trotoar. Semoga dia cepat pulih. Tak bisa ku bayangkan bagaimana perasaan kak Willy apabila dia siuman nanti. Apalagi mendapat kabar kalau kekasihnya telah tiada. Apalagi keluarga Fara. Pasti sangat hancur hatinya kalau mengetahui putrinya telah tiada. Tadi setelah sampai di rumah sakit Cristi langsung menghubungi orang tua Fara. Aku tak sanggup apabila harus berbicara dengan ibu Fara. Kami berdua memang sudah sangat dekat dengan orang tua Fara. Karena apabila libur kami secara bergantian saling berkunjung ke kota masing-masing. Cristi tidak langsung bilang kalau Fara sudah tiada. Dia hanya mengabari kalau Fara kecelakaan. Baru mendengar Fara kecelakaan saja ibunya sudah panik,, apalagi kalau tau Fara sudah tiada? Aaahhkkk....aku tak bisa membayangkan bagaimana nantinya. Air mataku tak bisa berhenti mengalir. Aku harap ini hanya mimpi saja. Tapi kenapa aku tak bangun-bangun juga dari mimpi buruk ini? Aku dan Cristi selalu beepegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Kami bingung harus bilang apa ke orang tua Fara. Beberapa jam kemudian keluarga Fara tiba di rumah sakit. Tampak gurat kebingungan dari mereka,,kenapa ada banyak polisi bahkan wartawan. Yang lebih membuat mereka heran adalah kenapa mereka digiring menuju kamar jenazah? Ibu Fara langsung menghampiri kami berdua. Rasa penasaran bercampur khawatir sangat nampak di wajah ayunya. " Nduk...mana Fara? Di kamar nomor berapa? bangsal mana? kok malah pada kumpul di dekat kamar jenazah gini?" tanya ibu Fara dengan wajah lesu dan mata merah pasti habis menangis selama perjalanan. Kami berdua tidak bisa menjawab. Malah air mata kami yang keluar terlebih dahulu dari pada jawaban kami. " Lho...kok malah pada nangis to? udah ndak usah nangis terus,,doain aja Fara cepat sehat. Ibu dan bapak cuma penasaran Fara ada dimana? dan bagaiman keadaannya?" bapak Fara mendekat menanyakan putrinya kembali. Wajahnya keheranan karena kami bukannya menjawab malah menangis. Saat orang tua Fara sedang menanyai kami,,ada seorang bapak polisi mendekat ke arah kami. " Selamat siang,,apakah betul ini keluarga saudari Fara?" tanya pak polisi tegas. " I - iya pak saya bapak dan ini ibunya Fara? Ada apa ya pak ?" jawab bapak Fara sedikit gugup. " Begini pak,,putri bapak menjadi salah satu korban kecelakaan di perempatan jalan G****** tadi siang. Dan jenazah sudah selesai di otopsi. Silahkan apabila bapak dan ibu ingin melihat jenazah putri bapak ibu,,saya antar ke dalam." jawab pak polisi langsung tanpa basa-basi. Seketika ibu Fara menjerit dan menangis histeri sambil memanggil Fara " Astaghfirullah Fara putriku nduk....tidak mungkin huhuhu....." " Yang benar pak? Kata temannya Fara hanya kecelakaan. Kenapa bapak bilang putri saya sudah meninggal?" Bapak Fara masih tak percaya kalau Fara sudah tiada. " Agar lebih jelas mari saya antar bapak dan ibu ke dalam." Pak polisi mengajak orang tua Fara ke dalam ruang Jenazah. Aku dan Cristi hanya bisa melihat dari depan pintu saja " TIDAAAK ... ITU BUKAAN FARRAAA" Ibu Fara menjerit histeris diikuti dengan tangisan pilu yang menyayat hati dan seketika pingsan di pelukan suaminya. Petugas medis segera menolong ibu Fara untuk ditangani agar cepat siuman "FARAAA...KENAPA JADI BEGINI NDUUKKK?? KENAPA KAMU TEGA TINGGALIN BAPAK?? HUHUHU....." Bapak Fara juga menangis melihat jenazah putrinya yang sangat memprihatinkan. Mereka langsung bisa mengenali Fara dari kalung yang masih utuh di leher Fara. Suasana di sekitar ruang jenazah berubah menjadi sangat kelam. Sungguh hari ini menjadi hari yang sangat menyedihkan. Aku dan Cristi kembali menangis kencang dan saling berpelukan. Sungguh hancur rasanya hati ini melihat pemandangan yang sangat pilu ini. Buat ku dan Cristi Fara tidak hanya sahabat,,tetapi lebih seperti keluarga sendiri. Betapa sakit dan hancurnya melihat sepasang orang tua yang menangis pilu meratapi jenazah sang putri. Apalagi keadaan jenazah yang sangat memprihatinkan. Siapa pun tak akan tega melihatnya. Bahkan tenaga medis dan pegawai rumah sakit serta orang-orang yang ada di sana ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Para wartawan pun yang semula bersemangat mencari berita seperti ikut larut dalam kesedihan saat ini. Saat aku dan Cristi sedang saling menguatkan aku seperti melihat sesosok perempuan di antara Bapak dan ibu Fara yang sudah mulai siuman. Aku melihat sosok Fara yang tersenyum tetapi dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Apakah mungkin itu Fara? atau jin qorin yang menjaga Fara. Sosok itu melihat orang tua Fara dengan sedih tetapi ada sedikit senyuman. Saat sosok itu melihat ku dan Cristi,,ia kembali tersenyum dan seperti mengangguk,, tetapi masih dengan air mata yang berlinang. Fara sahabatku,,ternyata Allah lebih sayang kamu. Allah lebih dulu mengambil kamu,,miliknya. Kebersamaan kita sudah cukup sampai disini. Tenang disana Fara,,kamu sahabat terbaik ku. Aku tak akan pernah lupa dengan kebersamaan kita. Semua nasihatmu agar tak pernah menunda ibadah tak akan pernah ku lupakan. Selamat tinggal sahabat ku. Aku akan selalu mendoakan mu. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN